
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Haji Daeng Tanri sedang menghitung-hitung hasil usahanya hari ini di Pelelangan Sinar Nelayan, sekalian merapikan pembukuannya. Meski tidak pernah sekolah atau belajar ilmu akuntansi, tetapi Daeng Tanri memiliki metode sendiri dalam pembukuannya.
Rudi Handrak muncul dari luar. Malam ini dia pulang lebih cepat dari biasanya. Baru jam tujuh malam, azan isya pun belum berkumandang di masjid. Biasanya anak kedua Daeng Tanri itu pulang di kisaran jam sebelas malam ke atas.
“Puang,” sebut Rudi sambil duduk di kursi lain, yang tidak jauh dari kursi dan meja ayahnya.
“Kenapa, Di?” tanya sang ayah sambil memandang datar putra keduanya itu.
“Minta uang, Puang,” jawab Rudi dengan menyebut panggilan kehormatan bagi ayahnya yang masih memiliki nasab darah bangsawan Bugis.
“Buat apa?” tanya sang ayah.
“Beli hp buat Vina. Tadi saya marah sama Vina, lalu buang hp-nya ke laut,” jawab Rudi lengkap dengan alasannya.
“Berapa?” tanya Daeng Tanri tanpa ada tanda akan menolak.
“Lima juta.”
“Sebentar.”
Pria kurus tinggi itu lalu beranjak dari kursi kayu jatinya. Ia pergi masuk ke kamar. Rudi menunggu ayahnya keluar, tetapi yang keluar justru ibunya dulu yang bernama Kamsiya. Wanita berkulit putih bersih itu adalah wanita yang cukup gemuk, tapi tidak kategori gendut.
“Kenapa kamu buang hp Vina ke laut, Di?” tanya Kamsiya. Sepertinya wanita itu barusan mendapat cerita terusan dari suaminya.
“Saya marah, Daeng. Saya cemburu buta,” jawab Rudi yang menyebut ibunya dengan sebutan kehormatan “Daeng”. Itu juga menunjukkan bahwa ibunya masih memiliki nasab bangsawan.
“Rudiii ... Rudi. Masih untung hanya kalian berdua yang bertengkar. Apa jadinya kalau kamu sudah main badik?” kata Kamsiya.
Daeng Tanri keluar membawa segepok uang di tangannya.
“Belikan yang bagus buat Vina,” kata Daeng Tanri sambil mengulurkan tangannya yang memegang uang kepada putranya.
“Beres, Puang,” kata Rudi sambil bangkit dan tersenyum lebar.
Rudi menerima uang itu. Ia langsung pamit setelah uang sudah di tangan.
Ternyata Rudi bersama Sandro yang menunggu di luar.
Ceritanya disingkat. Rudi pergi ke toko hp terbesar yang ada di Kalianda. Dia belikan hp untuk Vina yang sesuai anggaran, kisaran Rp5 juta pas. Kotak hp- nya bahkan minta dipitakan seperti kado. Ada kartu ucapannya berwarna empink-empink sayang.
Kado hp baru yang lebih bagus dan mahal dari hp Vina yang dilempar ke laut itu, diinapkan semalam dalam pelukan Rudi, sehingga sedikit ternodai oleh air liur. Maklum, pembelian itu membuat perasaan dan pikiran Rudi cukup tenang, jadi tidurnya juga bisa dibilang nyenyak setengah.
Namun, noda air malam itu tidak merusak tampilan kotak kado.
__ADS_1
Pukul enam pagi kurang satu menit Rudi mandi dengan gembira. Semua sisi dan sudut pada tubuhnya harus wangi dengan sabun batangan. Dia merasa lebih afdhol jika memakai sabun batangan daripada sabun cair.
Di saat dia sedang berkaca di depan cermin yang retak satu garis dan kemudian menyemprotkan parfum harum lelaki romantis pada pet copetnya, tiba-tiba ….
“Assalamu ‘alaikum! Rudiii!” teriak seorang wanita di pintu rumah.
Rudi terdiam seperti ayam mendengar siksa kubur. Ia sering mendengar jenis suara itu, tetapi dia lupa milik siapa. Setelah diam sejenak Rudi pun keluar.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Kamsiya yang keluar lebih dulu ke depan. “Kenapa Junita?”
“Rudi ada, Daeng?” tanya tamu yang ternyata adalah Junita, sahabat Vina.
“Kenapa, Jun?” tanya Rudi yang muncul di belakang ibunya, bukan tiba-tiba loh, tapi pakai alur.
“Rud, buruan, Vina kena musibah!” ujar Junita dengan mimik serius tapi panik.
Agak terkejut ibu dan anak itu. Pikiran mereka langsung menghayalkan yang buruk-buruk seputar kecelakaan.
“Cepat pergi lihat Vina, Di!” suruh Kamsiya cepat dengan ekspresi cemas pula.
“Iya, iya. Sebentar, Jun,” kata Rudi lalu buru-buru berlari masuk.
Tujuh, delapan, sembilan, pada hitungan ke sepuluh Rudi kembali muncul dengan pet copet warna kuning di kepala dan tangan kanan membawa sekotak kado berpita dan kartu berwarna empink-empink romantis.
“Saya pergi dulu, Daeng,” ucap Rudi lalu langsung keluar.
Kamsiya hanya mengangguk.
“Assalamu ‘alaikum!” ucap Junita.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Kamsiya. Dia kini sendiri di rumah karena suaminya sedang ada di Pelelangan Sinar Nelayan.
“Vina kenapa sih, Jun?” tanya Rudi yang ikut berjalan cepat mengikuti Junita yang berjalan cepat.
“Saya baru dengar dari tetangga, tapi mendingan kamu ke rumah Vina langsung biar lebih jelas apa yang terjadi. Sampai Haji Suharja sama Ambo Dalle pulang bawa golok. Saya sih enggak lihat, tapi kata tetangga saya. Katanya sih ada hubungannya sama Dendi yang ngontrak di kontrakannya Vina,” jawab Junita.
“Kenapa sih kamu enggak kasih tahu langsung masalah pokoknya?” desak Rudi.
“Nanti kalau saya salah ngomong, repot tetangga saya,” jawab Junita keukeuh. “Kamu bawa apa itu, Di?”
“Hp baru buat ganti hp Vina. Semalam saya beli.”
“Harga berapa?” tanya Junita.
“Empat juta tujuh ratus.”
“Weh, lebih mahal dari hp Vina yang dulu,” kata Junita. “Kamu mau minta maaf ya ke Vina? Sudah saya tebak dari lusa kemarin.”
__ADS_1
Ketika Rudi dan Junita mendekati rumah Vina, beberapa warga yang mereka lewati jadi memandangi keduanya, terutama kepada Rudi.
“Hancur sudah pacarmu, Rudi!” sahut seorang lelaki yang lebih tua dari mereka, yang duduk-duduk di balai-balai bawah rumahnya.
Rudi dan Junita menengok kepada lelaki yang mereka kenal bernama Zainuddin. Namun, mereka tidak menanggapi. Rudi dan Junita terus berjalan hingga mereka tiba di pintu pagar rumah Haji Suharja.
Namun, ketika keduanya mendatangi teras, mereka dihadang oleh Ambo Dalle, Tahang dan Rusli.
“Eh, enggak boleh masuk,” kata Ambo Dalle.
Dihadang seperti itu, emosilah Rudi. Tanpa berkata, dengan kuat dia mendorong dada Ambo Dalle, membuat lelaki kekar itu terdorong nyaris jatuh. Ambo Dalle hanya mendelik memandangi Rudi yang berlalu tanpa mempedulikannya lagi.
Rudi mempercepat langkahnya, karena dia mendengar Haji Suaharja berteriak keras dan Vina juga berteriak, tapi sambil menangis keras.
Rudi pergi ke ambang pintu, di mana di sana berdiri Obba Gantra. Obba membiarkan Rudi sampai ke pintu.
“Bagaimana saya bisa percaya kalau saksi dan bukti tidak menunjukkan kamu diperkosa Dendi, tapi lebih kepada hubungan hina suka sama suka?” kata Suharja berteriak kepada Vina.
Terkejut sangat Rudi mendengar kata-kata Suharja. Saat itu juga, jantungnya seperti disergap kehancuran yang memberi rasa sakit nan begitu pedih. Emosinya yang sejak tadi terpancing di jalan dan sikap Ambo Dalle, memudahkan kepalanya jadi panas dan wajahnya memerah dengan mata yang juga memerah dan berair.
“Kalau Bapak enggak mau percaya bahwa saya belum dimasuki Dendi, saya bisa buktikan dengan Rudi malam ini juga. Biar Rudi membuktikan bahwa saya sampai saat ini masih perawan. Saya yang merasakan kalau seandainya keperawanan saya rusak!” kata Vina berteriak-teriak, mencoba melawan tuduhan ayahnya.
“Vina!” sebut Rudi yang seketika mengejutkan Vina.
Vina dan semua orang cepat memandang ke ambang pintu. Mereka melihat Rudi berdiri dengan wajah sedihnya yang bercampur marah.
“Ru-rudi,” ucap Vina lirih dan terbata. Ia saat itu merasa istana impiannya telah hancur berkeping-keping.
Saat itu juga Vina merasa telah menjadi seonggok kotoran yang begitu hina di depan mata pemuda tampan berkulit putih itu.
Rudi Handrak geleng-geleng lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan teras.
“Rudiii!” teriak Vina histeris sambil cepat berlari ke pintu. Entah kenapa, saat itu dia merasa Rudi adalah masih miliknya, meski selama dua hari terakhir dia bersikap masa bodoh dengan Rudi.
“Tahan, Obba!” teriak Suharja cepat.
Obba pun segera menangkap Vina dan menahannya agar tidak berlari keluar mengejar Rudi.
“Rudiii …! Huuu …!” teriak Vina panjang sekencang-kencangnya, sampai terdengar ke telinga para tetangga yang masih membahas tema “Vina Diperkosa Dendi”.
Rudi bergeming. Sebenarnya dia tidak tega mendengar tangisan kekasihnya itu. Namun, rasa amarah dan sakit dihatinya lebih mendominasi.
Dak!
Sambil berjalan, dengan keras dia membanting kotak kado yang dibawanya ke tanah halaman.
Warga yang termasuk dari para tetangga, kembali bermunculan di luar pagar. Mereka penasaran dengan kerasnya teriakan dan tangis Vina.
__ADS_1
Junita segera memungut kotak yang dibuang Rudi. Sementara Rudi terus pergi keluar dari halaman dan menuju arah pulang. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan masyarakat kepadanya. (RH)