Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 51: Petunjuk untuk Suharja


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Malam itu, Barada sedang makan bubur kacang ijo madura sendirian. Tidak ada pelanggan lain yang makan di tempat selain dirinya.


Barada tampil dengan busana Muslimah warna biru muda dan celana model linen highwaist yang warnanya senada dengan hijabnya.


Tidak lama, seorang wanita cantik muncul dari balik spanduk dagangan dan duduk di kursi plastik di sisi kanan Barada.


Gadis itu mengenakan baju kemeja putih lengan panjang model perempuan, dengan kancing atas dilepas dua buah. Hal itu membuat pedagang bubur yang adalah seorang lelaki berusia empat puluhan itu, mencuri-curi lirik kepada sembulan yang fitrahnya terbelah indah.


“Satu!” pesan si gadis yang baru datang kepada penjual bubur. Tatapannya tampak sinis kepada pedagang bubur karena memergoki matanya sedang memandang ke dadanya.


“Iya, Mbak,” jawab si abang bubur.


“Sudah punya banyak susu kalengan, masih juga melirik susu gua. Dagang yang benar, atau gua aduin elu ke Bos. Elu pasti enggak tahu siapa yang dari tadi makan bubur di sini?” omel gadis itu.


“Hahaha!” tawa Barada tiba-tiba sambil memandang kepada penjual bubur yang terlihat terkejut.


Penjual bubur itu jadi bingung. Namun kemudian, dia buru-buru membuatkan semangkok bubur hangat. Setelah selesai, dia menyodorkan.


Gadis berkemeja putih hendak menerima mangkok itu, tetapi dia kecele karena si penjual justru menyodorkan ke depan Barada, membuat gadis berkemeja putih melotot gusar.


“Mohon saya jangan dipindahkan, Jenderal,” ucap si pedagang pelan dan begitu takzim kepada Barada, sambil menyodorkan bubur itu.


“Hahaha!” tawa Barada melihat tindakan si penjual yang sebenarnya adalah seorang agen yang dipasang di depan Masjid Agung Banten untuk waktu malam. “Sogokanmu diterima. Sekarang buatkan Komandan dua mangkok, susunya diperbanyak!”


Pedagang bubur itu sebentar tengak kanan tengok kiri.

__ADS_1


“Siap, Jenderal!” ucap pedagang bubur itu setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar.


“Awas kalau bubur elu enggak sesuai selera gua. Gua rekomendasiin elu buat kursus masak lagi!” ancam gadis berkemeja putih.


“Siap, Ndan!” jawab pedagang bubur yang fisiknya sangat tidak berbau militer.


“Bagaimana laporanmu, Nita?” tanya Barada kepada anak buahnya yang bukan bernama Junita, tetapi Nita Talia. Dia bukan penyanyi dangdut yang menyamar.


“Kami menemukan dua orang mencurigakan, tapi tindakannya belum begitu ganjil. Kami sudah mengetahui di mana mereka tinggal. Selain kamera CCTV, kita sudah memasang kamera di setiap sudut hingga di tempat wudu,” kata Nita seperti sedang mengobrol biasa.


“Besok pas acara, semua personel pengawal Buya Syamsuddin yang dari panitia, harus sudah jelas bahwa tidak ada orang penyusup. Orang-orang kita tetap harus berada di sekitar Buya Syamsuddin dengan posisi sekali gerak bisa melumpuhkan penyusup,” kata Barada.


Plililit …!


Tiba-tiba nada dering sebuah ponsel berbunyi. Itu berasal dari dalam tas tangan milik Barada.


“Sebentar, Nit,” ucap Barada.


“Assalamu ‘alaikum! Oh, Kumbang Mesum sudah diciduk? Bagus. Di sangkar karat mana dia dititipkan?” kata Barada kepada seorang anak buahnya di ujung sambungan.


Barada diam sejenak untuk mendengar.


“Oke. Kerja bagus. Kirimkan saja foto-fotonya!” perintah Barada. Dia lalu mengakhiri pembicaraan singkatnya dengan salam, “Assalamu ‘alaikum!”


Setelah menutup sambungan teleponnya, terdengar nada pesan masuk yang beruntun.


Pong pong pong …!


Barada melihat ada sejumlah pesan gambar masuk ke hp-nya. Ia buka. Ternyata foto seorang pemuda yang wajahnya babak belur dan berada di balik jeruji besi. Ada sebanyak lima gambar. Barada lalu membandingkan foto-foto baru itu dengan sebuah foto yang sudah ada sepekan di hp-nya. Ternyata foto lama itu adalah foto Dendi Gunadi yang masih ganteng tanpa luka atau bengkak sedikit pun.

__ADS_1


“Assalamu ‘alaikum, Rudi!” salam Barada yang kemudian menelepon seseorang, yaitu Rudi Handrak.


Saat itu Rudi belum menjadi seorang ustaz, dia masih dalam tahapan bangkit dari keterpurukan dan baru mulai belajar agama kepada Ustaz Barzanji.


“Dendi sudah dipenjara di penjara kepolisian Sukabumi Jawa Barat. Nanti saya kirim lima foto Dendi terbaru. Kamu tunjukkan saja foto itu kepada orangtua Vina agar tenang dan lega. Tapi jangan kamu yang memberi tahu. Kirim lewat orang yang kamu percaya saja. Jangan sampai orangtua Vina tahu bahwa foto itu dari kamu. Nanti bisa panjang urusannya,” kata Barada kepada Rudi.


Itulah rahasia yang disimpan oleh Rudi yang hanya ia ceritakan kepada Aziz dan Sandro.


Setelah mendapat lima foto Dendi Gunadi yang telah dianggap memperkosa Vina Seruni hampir dua bulan yang lalu, Rudi menemui Suardi yang dia percaya untuk menjadi perantara.


Suardi kemudian pergi ke rumah Vina untuk menemui Haji Suharja dan menunjukkan foto-foto Dendi di dalam penjara. Itu lima hari setelah Suharja pergi meminta bantuan Daeng Ambo Upe, sandro (dukun) di desa nelayan pesisir Kecamatan Kalianda.


Kabar dari foto-foto misterius itu diyakini oleh Suharja adalah buah dari kerja hebat kesaktian Daeng Ambo Upe.


Namun, untuk perkara hilangnya Vina, Daeng Ambo Upe hanya memberi petunjuk yang sulit untuk dibuktikan. Bahkan ujung-ujungnya dukun itupun menyuruh Suharja minta bantuan kepolisian.


Sudah setengah bulan lamanya, kabar Vina tidak kunjung ada titik terangnya. Dari pihak kepolisian hanya mengatakan kepada Suharja bahwa mereka masih terus berusaha. Polisi bahkan mengatakan sudah meminta bantuan kepada kepolisian daerah Banten hingga Ibu Kota DKI Jakarta.


“Kami harap Bapak bisa bersabar menunggu. Anggota kami tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk menemukan putri Bapak.”


Itu kalimat pamungkas dari kepolisian setiap kali Suharja datang bertanya perkembangan kasus putrinya.


Hingga akhirnya, ketika Suharja sedang salat tahajud sebagai jalan akhir dari usahanya, terilham sesuatu di dalam pikirannya.


“Suardi. Jika orang yang memberi foto itu bisa menemukan Dendi yang hilang, mungkin orang itu juga bisa menemukan Vina yang hilang. Saya harus memaksa Suardi untuk memberi tahu siapa yang menyuruhnya mengirim foto-foto Dendi tiga tahun lalu,” pikir Suharja dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa terharu kepada Allah bahwa akhirnya ada jalan baru yang ditunjukkan setelah dia memohon penuh pengharapan.


Malam itu sudah pukul tiga pagi. Suharja buru-buru bangkit dan mengambil hp-nya. Tanpa pikir panjang dan pertimbangan, dia mencari nomor Suardi yang tidak pernah diteleponnya selama tiga tahun.


Setelah menunggu sebentar, ternyata nomor hp yang dihubungi oleh Suharja dijawab oleh suara perempuan. Itu bukan suara istri Suardi, bukan juga suara ibunya atau kuntilanak, tetapi itu suara operator yang mengatakan, “Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembali nomor tujuan Anda!”

__ADS_1


“Nomor tujuan saya ke Hongkong!” gerutu Suharja kesal.


Mau tidak mau, dia harus menahan diri dan bersabar. Tidak mungkin jam tiga pagi dia pergi ke rumah Suardi. Suharja tidak tahu persis rumah Suardi, tetapi Ferdy pasti tahu karena putranya pesepak bola dan Suardi penjaga loket di stadion. (RH)


__ADS_2