
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Sunirah sedang duduk di dapur sambil memotong-motong bawang merah. Di depannya duduk Murni yang sedang memotongi daun kangkung.
Suharja yang tidak pergi ke pelelangan hari ini datang masuk untuk mengambil batu asahan, sepertinya dia mau mengasah golok panjangnya lagi.
“Kenapa menangis lagi, Rah?” tegur Suharja yang melihat istrinya menyeka matanya dengan punggung tangan kanannya.
Sunirah terlihat semakin kurus, terbukti bajunya kian longgar dan dadanya semakin tipis.
“Sudah, enggak usah ditangisi terus anakmu itu. Semua orang terus berusaha mencari, termasuk saya,” kata Suharja setengah bernada mengomel.
“Saya menangis karena perih bawang merah,” jawab Sunirah yang kondisinya sudah lebih baik setelah sakit dua minggu lebih.
“Oooh,” desah Suharja.
“Bagaimana? Katanya tadi ke rumah Suardi penjaga loket stadion itu?” tanya Murni.
“Iya. Suardi mau menanyakan dulu ke orang yang pernah kasih foto. Tetap enggak mau memberi tahu siapa orang itu,” jawab Suharja.
“Paaak, telepon tuh!” teriak Ferdy dari depan rumah.
Suharja segera berbalik dan membawa batu asahan ke depan.
Klinong klinong …!
Suharja segera meraih hp pamungkasnya yang masih punya nada dering seperti tiga tahun yang lalu. Ia berharap itu adalah Suardi yang menelepon. Nomor si penelepon tidak terdaftar sehingga bukan nama yang muncul, tetapi hanya rentetan angka.
“Hallo!” ucap Suharja setelah membuka sambungan. Dia letakkan batu asahan di meja. “Wa ‘alaikum salam!”
Suharja menjawab salam dari ujung sambungan.
“Iya, iya, iya. Bagaimana, Sur?” ucap Suharja dengan wajah tegang, tapi nadanya antusias.
Ferdy yang sedang berolahraga seorang diri di halaman, segera datang mendekati ayahnya saat mendengar panggilan Suardi disebut.
“Oh begitu. Iya, iya, iya. Tapi kapan kabar berikutnya?” tanya Suharja kepada Suardi di dalam telepon.
__ADS_1
Suharja diam sebentar.
“Baiklah kalau begitu. Mudah-mudahan saja nanti ada kabar baik,” ucap Suharja. “Terima kasih ya, Sur. Assalamu ‘alaikum!”
“Apa katanya, Pak?” tanya Ferdy setelah bapaknya menutup sambungan teleponnya.
“Di dalam saja, biar saya enggak dua kali cerita,” kata Suharja sambil berjalan masuk ke dapur, menemui dua perempuan yang sedang bekerja.
Mau tidak mau Ferdy ikut masuk. Ia juga ingin tahu apa yang kabarkan oleh Suardi, yang tadi pagi mereka santroni.
“Sunirah, barusan Suardi telepon kasih kabar,” kata Suharja sambil duduk di lantai pula.
Sunirah dan Murni jadi menghentikan kerja tangannya. Mereka serius memandang kepada kepala keluarga itu.
“Tadi Suardi bilang. Orang yang dia rahasiakan namanya itu mau membantu. Tapi orang itu harus bertanya dulu kepada temannya yang dulu menangkap dan menghajar Dendi. Apakah bisa atau tidak. Kita berdoa saja supaya orang yang menangkap Dendi itu bisa mengusahakan mencari keberadaan Vina. Jadi, kita masih harus nunggu kabar lagi, tapi tidak tahu bakal cepat atau lama,” tutur Suharja.
“Alhamdulillah. Setidaknya kita ada harapan, Pak,” ucap Sunirah penuh sukur, meski kabarnya belum final. Lalu ucapnya kepada putrinya yang hilang, “Ya Allah Vina. Bagaimana kabarmu, Nak?”
Ujung-ujungnya Sunirah menangis lagi tanpa isakan.
“Kalau seandainya orang itu bisa, sedangkan polisi saja sampai sekarang enggak ada kabar sedikit pun, berarti orang itu lebih hebat dari polisi, Pak,” kata Ferdy yang agak-agak pintar walaupun dia tidak lulus SMA, tetapi lulus Akademi Sepak Bola Kalianda.
“Tapi saya curiga, orang yang dirahasiakan Suardi itu orang di desa ini juga, Pak,” kata Ferdy.
“Kalau orang yang bisa menangkap Dendi itu levelnya di atas polisi, mungkin tentara, Fer. Saya sih curiganya sama Pak Dodi. Sebagai purnawirawan, pasti dia masih punya hubungan sama orang-orang militer,” duga Suharja.
“Bisa jadi, Pak.”
“Fer, lusa kamu wakilin saya saja hadir di acara mappanre temme di nikahannya Rudi. Malas saya ke sana,” kata Suharja, merujuk pada salah satu acara adat Bugis menjelang akad nikah calon pengantin, yaitu memberi makan atau penghargaan bagi orang-orang yang sudah tamat membaca Al-Quran.
“Iya, Pak.”
“Kalau ditanya, bilang saja lagi sibuk nyari informasi tentang Vina,” kata Suharja lagi.
“Tapi pas akad, lebih baik Bapak hadir. Sebagai tokoh di desa ini, Bapak harus hadir. Apalagi Daeng Kamsiah yang datang langsung mengundang,” kata Sunirah yang kembali mencoba untuk tidak sedih lagi. “Nanti sore saya juga mau ke sana untuk bantu-bantu. Apalagi kita belum pernah menjenguk Rudi.”
Mendengar perkataan istrinya, terdiamlah Suharja sambil menarik napas panjang.
__ADS_1
Bagi Suharja, pernikahan Rudi dengan gadis lain selain Vina adalah hal yang menyakitkan, meskipun dia pernah menyatakan bahwa ikhlas jika Rudi memilih wanita lain.
Sementara itu, aktivitas di rumah calon pengantin lelaki sudah terlihat ramai. Di halaman sudah dipasang tenda. Ibu-ibu dari pihak kerabat Rudi dan tetangga terdekat sudah mulai masak-masak. Aziz dan Sandro serta sahabat-sahabat Rudi yang lain, termasuk gadis-gadis dari kalangan kerabat mulai membuat dekorasi-dekorasi untuk memperindah rumah.
Anak-anak pun ramai bermain di sekitar rumah. Mereka suka mengambil sampah-sampah sisa dekorasi untuk dijadikan mainan.
Khusus anak-anak dibuatkan pohon telur dua batang. Pohon itu terbuat dari kedebong pisang yang dilapisi oleh kertas manila warna-warni. Pohon itu lalu ditancapi lidi-lidi bambu yang pada ujungnya ditancapi telur ayam rebus. Lidinya dililit dengan pita kertas krep dan telurnya dicat warna-warni.
Dua pohon indah yang membuat anak-anak dan orang dewasa tertarik itu, dipajang di depan teras sejak pagi. Barulah sore hari anak-anak diizinkan mengambil satu-satu sampai telurnya habis. Besok paginya akan dipasang telur-telur baru yang juga warna-warni. Itu salah satu cara Rudi untuk membuat anak-anak senang di hari-hari menjelang akad nikahnya dengan Bulan.
Tidak lama setelah waktu salat asar berlalu, sebuah mobil mewah warna ungu memasuki desa nelayan itu. Kedatangan si mobil mewah yang harganya mungkin miliaran rupiah itu menarik perhatian warga.
Menjelang masuk desa, kaca pintu sudah dibuka separuh agar Barada dan kedua orangtuanya bisa menikmati udara laut dengan nyaman, meski selama di kapal fery penyeberangan mereka sudah kenyang oleh angin laut.
Terbukanya kaca pintu membuat warga bisa melihat bahwa mobil mewah ungu itu disetiri oleh seorang Muslimah yang sangat cantik berkacamata hitam. Begitu memukau mata lelaki dan wanita, muda dan tua.
Banyak warga yang teringat dengan Vina yang pulang ke desa itu dengan mobil mewah dan berkacamata hitam, hanya bedanya pada model pakaian. Warga juga bisa melihat keberadaan Muttaqin dan Latifah.
Bagi warga desa yang tergolong senior alias usia di atas setengah abad, mungkin pernah melihat wajah Muttaqin sebagai adik dari almarhum Haji Daeng Tanri.
“Assalamu ‘alaikum, Ustaz!” salam seorang lelaki tiba-tiba di pinggir jalan desa, saat mengenali wajah Muttaqin di dalam mobil yang berjalan pelan.
“Wa ‘alaikum salam, Ustaz!” balas Muttaqin sambil melambaikan tangan kepada Ustaz Barzanji yang dikenalnya akrab.
Namun, Barada tidak menghentikan mobilnya. Dia terus menjalankan mobilnya.
“Ke rumah, Ustaz!” teriak Muttaqin sambil melongokkan kepalanya keluar.
“Insyaallah nanti malam saja!” sahut Ustaz Barzanji yang baru pulang dari Masjid Al-Fatah.
“Kamu kok enggak berhenti sebentar, Badar?” tegur Latifah kepada putrinya.
“Nanti kalau berhenti bisa lama lagi sampainya, Ummi. Apalagi saya lagi nahan pipis,” jawab Barada.
Kedatangan mobil mewah itu semakin banyak yang memerhatikan ketika tiba di depan rumah Rudi, karena memang di sana banyak orang.
“Aziz! Bidadari dari Jakarta datang!” teriak Sandro kepada Aziz. Dia begitu senang melihat kedatangan Barada, bukan kedatangan Muttaqin atau Latifah.
__ADS_1
Sandro buru-buru turun tanpa pakai sandal lagi dan pergi menemui Barada. Maksud dia adalah siapa tahu ada barang yang perlu diturunkan dari mobil, bukan karena kangen. (RH)