
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
“Saaah!”
Bukan hanya saksi resmi dari akad nikah Rudi Handrak kepada Bulan Adinda yang berteriak “sah”, tetapi hampir semua orang yang menyaksikan pengucapan janji suci itu berteriak kencang, sehingga terdengar begitu ramai di pagi hari menjelang siang itu.
“Hahaha!” Tertawalah mereka semua. Meski itu acara yang sangat sakral, tetapi suasananya membawa kebahagiaan yang semi-semi lucu.
Ya. Rudi Handrak secara resmi telah mengucapkan ijab kabul pernikahannya dalam jabatan tangan Rozaq Ahmad. Pengakuan semua orang membuat Rudi sah menjadi suami Bulan Adinda.
Setelah pekik “sah” dari saksi dan semua yang menyaksikan, pak ustaz dari KUA segera memimpin doa keberkahan yang diamini oleh semua orang yang turut berbahagia.
Pada acara akad nikah yang dilaksanakan di ruang tamu yang dilapangkan, Rudi mengenakan pakaian adat bugis warna merah terang dengan songko bugisnya. Dia di-make up menjadi lebih ganteng. Rudi tetap duduk di kursi roda dengan kaki dan tangan kanan yang masih sakit.
Rumah itu penuh membludak karena tingginya animo warga untuk menyaksikan prosesi akad nikah. Di teras penuh oleh orang yang berdesakan berusaha melongokkan wajahnya di pintu dan jendela. Suasana bahagia dan indah itu menjadi cukup terganggu oleh suhu panas yang tercipta dan membuat semua kegerahan. Kaum emak-emak, janda dan gadis sibuk berkipas-kipas agar maskara, bedak dan lipstik mereka tidak turut meleleh bersama keringat.
Di situ tidak terlihat keberadaan pengantin perempuan karena Bulan sedang ada di kamar pengantin mengenakan pakaian adat Lampung warna merah pula. Pakaian adatnya dikombinasikan dengan busana muslimahnya. Bulan yang sedang duduk di atas kasur bertabur bunga mawar harum semerbak, tersenyum-senyum sendiri sambil menunduk. Pekikan “sah” yang begitu semarak membuat hatinya terlalu bahagia.
Ingin rasanya dia berteriak bahagia, bernyanyi, berjoged-joged saat itu juga, tetapi semua itu harus dia tahan dalam keterdiaman. Yang pasti, hatinya saat itu sedang bernyanyi dan menari-nari. Bayangan malam pertama jelas-jelas sudah terlukis di dalam benaknya, membuatnya tertawa-tawa kecil sendiri.
“Sabar, Sayang. Masih harus duduk di pelaminan dulu. Hihihi!” ucap Bulan di dalam hati. “Kok berdebar begini ya?”
Bulan memang dilanda rasa berdebar, lebih berdebar dibandingkan ketika menjelang ayahnya menikahkan dan mengawinkan Rudi kepadanya. Rasa berdebar itu bukan seperti berdebar hendak berpidato perdana di depan publik, tapi rasa berdebar yang memberi kebahagiaan. Entah rasa berdebar jenis apa namanya?
“Ketemu bini! Ketemu bini!”
Tiba-tiba terdengar teriakan beberapa suara anak remaja.
“Belah kelapa! Belah kelapa!” Ada pula teriakan seperti itu.
“Hei! Jangan sembarangan! Ini masih pagi!” hardik Sandro kepada anak-anak.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa orang kebanyakan.
Saat itu, Rudi Handrak sedang didorong menuju ke kamar pengantin perempuan dalam rangka prosesi mappasikarawa yang berarti bersentuhan. Ibu tercinta yang menjadi pendorong kursi rodanya.
Di sisi lain, orang-orang yang memenuhi rumah diminta untuk melakukan tugasnya masing-masing, apakah di bagian konsumsi, penyambut tamu, penata kursi tamu, atau yang bertugas tukang makan saja. Hanya lingkaran kerabat saja yang diperkenankan melihat acara sentuhan pengantin lelaki kepada pengantin perempuan.
Kedatangan Rudi ke kamar pengantin perempuan disambut oleh kedua orangtua Bulan Adinda. Rudi pun menyalami keduanya untuk meminta restu dan minta izin untuk menemui istri barunya, karena memang baru.
Semua kerabat yang melihat adegan jelang pertemuan itu tersenyum-senyum hingga tertawa bahagia, sebagai bukti bahwa kebahagiaan kedua mempelai menular ke orang-orang sekitar.
Rudi kemudian didorong mendekati ranjang yang juga telah berhias indah, karena kamar itu nanti akan menjadi kamar pengantin dan kamar malam pertama.
Bulan Adinda yang didandani laksana bidadari bumi, terus menunduk seraya tersenyum malu-malu, tapi tidak membuat malu. Dia tidak berani mengangkat wajahnya, bukan malu kepada tatapan suami barunya, tapi lebih kepada malu terhadap tatapan orang banyak.
“Coba pengantin perempuannya bergeser lebih mendekat ke suami!” kata Haji Daeng Marakka, untuk mempermudahkan daya jangkau Rudi, maklum dia tidak bisa bebas bergerak.
Bulan Adinda pun bergeser lebih mendekat kepada Rudi.
Ada saja yang memberi teriakan godaan ketika Bulan mendekati suaminya yang sudah berdiri, maksudnya berdiri sungguhan dengan bertopang pada satu kaki yang sehat. Hal itu membuat kedua pengantin tertawa kecil.
“Pegang dulu ubun-ubunnya dan didoakan,” kata Muttaqin, ayahnya Barada. Saat itu Barada tidak ada di sana, dia belum kembali dari kepergiannya tadi malam.
Maka Rudi pun melakukan sentuhan pertama kepada istrinya pada bagian ubun-ubun dulu, jangan bagian yang lain dulu, kan masih disaksikan banyak orang. Ia menyentuh dengan tangan kanan yang dibantu oleh tangan kiri agar bisa mencapai ubun-ubun sang istri yang bergerak mendekat. Memang tangan kanan Rudi masih terbatas gerakannya karena masih ada balutan perban.
Bulan Adinda merasakan setruman aliran bahagia di dalam aliran darahnya, ketika tangan kanan Rudi menyentuh ubun-ubunnya yang berhias. Sentuhan itu seolah-olah menjadi sentuhan yang begitu memberi rasa bahagia, sentuhan yang selama tiga tahun dia dambakan dan impikan dari lelaki yang dia taksir sejak awal berkenalan.
Hal yang sama dirasakan oleh Rudi. Meski dia mantan tukang obok-obok badan pacarnya, tetapi setelah tangannya tobat selama tiga tahun, sentuhan pertama kepada Bulan Adinda seolah-olah menyentuh sesuatu yang sangat mengandung rasa cinta. Sampai-sampai ada aliran berdenyut yang mengalir di pusat rasanya. Namun, dia harus mengabaikan itu. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk berpikir tentang denyutan itu.
Kembali kepada sentuhan di ubun-ubun sang istri. Dalam budaya Bugis, itu diyakini sebagai simbol yang bermakna agar suami tidak di pandang rendah dan di remehkan oleh istri. Sementara dari sisi agama, pada sentuhan itulah seorang suami membaca doa kepada Allah yang meminta kebaikan dari sang istri dan dilindungi dari watak buruk sang istri.
“Sekarang sentuh dadanya,” kata Muttaqin.
“Hah?” kejut Rudi sambil menengok kepada pamannya.
__ADS_1
“Hahaha!” Tertawalah para kerabat melihat reaksi Rudi.
“Dada atas, Nak!” tandas Muttaqin yang melihat keluguan si pengantin baru.
“Hahaha!” tawa Rudi akhirnya. Sementara Bulan masih menunduk, tapi tersenyum lebar.
“Sentuhan di dada bermakna, semoga kelak pasangan ini akan diberi rezeki banyak ibarat gunung yang tinggi dan besar,” kata Muttaqin.
“Hahaha!” tawa sebagian orang yang baru tahu makna tradisi tersebut. Mereka tertawa karena pikirannya langsung tertuju kepada gunung yang bukan gunung.
“Kemudian peganglah tangannya,” kata Muttaqin lagi.
Rudi pun beralih memegang tangan lembut yang berhias pacar nan indah dan cincin pernikahan mereka. Bulan pun menggenggam erat tangan suaminya untuk pertama kalinya.
Saling genggam yang erat dan saling tatap yang penuh cinta itu, seolah-olah memberi kode tanpa suara dan tulisan bahwa keduanya sudah saling meminta, sudah saling tidak sabar. Keduanya sudah sama-sama dewasa dan keduanya bukanlah orang yang lugu tentang permasalahan cinta dan asmara.
“Sabar,” bisik Rudi sangat pelan, yang hanya didengar oleh Bulan seorang.
Mendeliklah Bulan, seolah-olah dia seorang yang tidak sabaran. Diam-diam dia pun mencubit kecil telapak tangan Rudi. Suami itu jadi mendelik pula kepada Bulan.
“Hahaha!” Tertawa kecillah sepasang suami istri itu kemudian.
“Hahaha!” tawa para kerabat yang melihat kemesraan tersebut.
“Cium! Cium! Cium!” sorak anak-anak yang merupakan para keponakan.
“Heeeh! Anak-anak, pikirannya sudah cium-cium!” hardik Haji Daeng Marakka. “Semuanya ke pesta, sebentar lagi pengantin akan ke pelaminan!”
Namun kemudian, Rudi mengecup mesra dan lembut kening Bulan Adinda. Kecupan perdana yang rasanya baru bisa hilang setelah mendapat kecupan perdana di bibir. Kecupan bibir mungkin baru bisa didapat oleh Bulan nanti malam. (RH)
*********
Kunjungi karya paling baru Om Rudi, novel kolosal "Alma3 Ratu Siluman"
__ADS_1