
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Tiga malam sudah Rudi lalui dengan salat istikharah. Sebelum azan subuh terdengar dari Masjid Al-Fatah, Rudi berbincang serius dengan ibunya tentang tawaran Haji Suharja agar Rudi melamar Vina.
“Daeng itu sukanya ke dua orang, Di. Kulsum dan Bulan. Kalau dari sisi agama, Kulsum yang lebih kuat. Dia pasti jadi istri salehah dan putri dari seorang ustaz juga. Tapi, Kulsum masih kuliah beberapa tahun lagi. Kalau kamu tunggu lagi, fitnah di masyarakat bisa terus-terusan ada. Kalau Bulan, Daeng sangat ingat pengorbanannya di saat kamu ada di titik hampir gila. Dia selalu datang menghibur kamu, membawakan macam-macam makanan, hadiah. Dari situ Daeng bisa yakin bahwa Bulan bisa mendampingi kamu, bukan hanya di saat baik seperti ini, tapi juga di saat kamu ambruk. Kalau masalah pakai hijab, pasti dia mau kalau kamu yang minta. Selama ini kamu sudah pernah menyuruh dia pakai jilbab?” kata Kamsiah lembut kepada putranya.
“Belum pernah, Daeng,” jawab Rudi.
“Coba saja suatu saat nanti. Daeng itu kalau melihatnya salat di rumah, sudah kayak bidadari. Pengen sekali punya menantu kayak dia,” kata Kamsiah. “Tapi terserah kamu, Di. Daeng sih enggak masalah siapa saja. Yang penting baik sama Daeng dan kamu bahagia. Jangan sampai Daeng maunya Bulan, terus kamu menurut, tapi ternyata cintamu ke Kulsum.”
“Hahaha! Iya, Daeng,” tawa Rudi.
Allahuakbar allahuakbar!
Azan subuh terdengar berkumandang.
“Ya sudah, Daeng. Nanti saya bicara ke Pak Haji tentang tawaran lamaran itu,” kata Rudi kepada ibunya.
Ketika salat subuh, Rudi melihat Haji Suharja ada. Ia pun berencana akan menemuinya pascasalat.
Singkat salat.
“Assalamu ‘alaikum, Daeng,” ucap Rudi sembari menghampiri Suharja yang baru hendak keluar dari masjid.
“Eh, Nak. Wa ‘alaikum salam,” jawab Suharja tanpa senyum.
“Bagaimana kabarnya Vina, Daeng?” tanya Rudi lembut. Sebab, melihat raut wajah lelaki gemuk itu, sepertinya suasana hatinya tidak baik.
Suharja mengembuskan napas panjang yang terdengar berat. Sepasang matanya sedikit berkaca-kaca, seolah hatinya sedang menahan rasa sedih.
“Belum ada kabar sama sekali, Nak. Polisi belum dapat informasi apa-apa. Adik saya di Jakarta juga enggak punya informasi,” jawab Suharja sedih. “Begini saja, Nak. Kalau untuk permintaan saya ke kamu supaya melamar Vina, lupakan saja. Saya sudah enggak pikirkan itu. Yang saya pikirkan sekarang itu, bagaimana supaya Vina bisa ada kabarnya dan bisa pulang. Emaknya sampai sakit mikirin dia.”
“Baik, Daeng,” ucap Rudi tanpa mau mengutarakan maksudnya karena Suharja sudah bicara lebih dulu. Ia khawatir, jika dia mengungkapkan penolakannya juga, justru nanti akan memberi sakit pada hati Suharja.
Maka, sepulang dari salat subuh, Rudi sudah final dalam keputusannya.
“Daeng, siang ini atau besok-besok, kita silaturahmi ke rumah Bulan, ya. Melamar,” ajak Rudi kepada ibunya, sebelum dia berangkat ke pelelangan.
__ADS_1
“Alhamdulillah. Iya,” jawab Kamsiah antusias dan senang.
Dengan perasaan yang menggebu-gebu seperti jiwa Satria Baja Emas sedang naik motor di pantai berpasir, Rudi menggeber sepeda motornya dengan santai. Hayalan-hayalan indah di masa depan bersama Bulan pun langsung tervisual di dalam kepalanya.
Teeet!
“Allahuakbar!” pekik Rudi terkejut bukan main.
Bruakr! Brak!
Kelalaian Rudi dalam berkendara membuatnya agak ke tengah dalam menikung di tikungan. Bahkan dia telat menyadari adanya sorotan lampu dari balik tikungan meski mobil dari arah yang berlawanan belum terlihat.
Maka, terlambatlah Rudi meminggirkan posisi sepeda motornya ke pinggir. Seiring jeritan klakson mobil yang muncul dari tikungan, sepeda motor Rudi terhantam keras oleh samping depan mobil mikrolet.
Rudi dan sepeda motornya terpental lalu menghantam tembok rumah warga. Posisi tikungan itu memang diapit oleh rumah-rumah permukiman.
“Astaghfirullah! Astaghfirullah!” ucap sopir angkutan umum itu terkejut dan panik. Dia membawa dua orang penumpang, seorang ibu pedagang sayur dan seorang lelaki separuh baya berjaket kulit cokelat.
Sopir segera menghentikan mikroletnya. Dengan tangan gemetar karena kaget, sopir yang adalah lelaki separuh baya berkumis itu membuka pintu mobilnya.
Suara ribut yang sangat khas jenis suaranya, membuat beberapa warga penghuni rumah keluar untuk melihat
“Aakk!” erang Rudi yang tergeletak rapat di tembok pagar rumah warga. “Allah, Allah, Allah!”
Rudi hanya bisa menyebut nama Allah sebagai ganti dari erangannya. Dia sangat kesakitan.
Rudi menderita bocor di kepala dan pelipisnya tergesek aspal. Ia memang tidak mengenakan helm, tapi peci. Ternyata pecinya tidak bisa melindungi kepalanya jika jatuh.
Selain itu, dia merasakan sakit sekali pada kaki kanan dan tangan kanannya. Sepeda motornya lebih buruk nasibnya.
“Kayaknya tulangnya patah. Ayo, angkat pelan-pelan!” kata seorang warga yang sudah memegangi tubuh Rudi.
“Pak, putar balik mobilnya. Langsung antar ke rumah sakit!” teriak warga yang lain kepada sopir mikrolet.
“I-iya, Pak!” sahut si sopir yang jantungnya berdebar-debar.
Tawwa yang bawa mobil pick-up dari rumah Rudi menuju pelelangan, memutuskan berhenti karena melihat keramaian di depan. Dia bisa menduga bahwa ada kecelakaan.
__ADS_1
“Siapa yang kecelakaan? Siapa tahu tetanggaku,” ucap Tawwa.
Dia lalu segera turun dan berlari ke pusat kerumunan.
“Ya Allah, Pak Ustaz!” pekik Tawwa terkejut bukan main saat melihat sepeda motor dan pemiliknya.
Rudi sedang digotong hendak di masukkan ke dalam mikrolet.
“Tahan, Pak. Itu bos saya. Tolong naikkan di mobil saya!” seru Tawwa cepat, sebelum Rudi keburu dimasukkan ke dalam mikrolet.
“Ayo, bawa ke mobil sana!” komando warga setempat.
“Ini siapa yang nabrak? Siapa?” tanya Tawwa.
“Saya, Pak,” jawab sopir mikrolet terima salah, sambil turut mengangkat.
“Bapak harus tanggung jawab! Jangan coba-coba kabur!” bentak Tawwa, jiwa pelelangannya muncul.
“Tawwa!” panggil Rudi sambil mengerenyit menahan sakit.
“Iya, Pak Ustaz!” sahut Tawwa bernada tinggi, dia masih terbawa emosi kepada sopir angkutan umum.
“Bawa saya ke rumah sakit. Biarkan mobil itu pergi, saya yang salah. Aaak! Terus, jangan kabari Daeng dulu ya!” perintah Rudi.
“Iya, Pak Ustaz,” jawab Tawwa sambil berjalan di sisi gotongan. “Tapi itu sopir harus tanggung jawab!”
“Jangan buat orang susah. Ini salah saya motornya jalan di tengah,” tandas Rudi dengan suara lemah.
“Baiklah, Pak Ustaz!” ucap Tawwa dengan berat hati.
Maka, berkat kebaikan hati Rudi, permasalahan kecelakaan itu selesai sebatas itu. Rudi ikhlas menerima kesalahannya sendiri.
Ia pun dibawa ke rumah sakit dalam kondisi berdarah-darah. Namun ternyata, sebagai bentuk tanggung jawabnya, si sopir mukrolet memutuskan mendampingi Rudi. Penumpangnya dia turunkan di jalan itu dan mobilnya dia titipkan di depan rumah warga.
Si sopir membantu membalut luka di kepala Rudi dengan cara yang sederhana sekali agar darah tidak begitu banyak keluar. Darah juga keluar dari luka di kaki dan tangan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Rudi hanya berzikir terus-terusan sembari menahan rasa sakitnya. (RH)
__ADS_1