Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 8: Memburu Dendi


__ADS_3

Seperti pawai geng motor, meski hanya tiga motor dengan hitungan orang berjumlah enam kepala. Yang membuat ngeri bagi orang yang melihatnya adalah golok-golok terhunus yang mereka genggam.


Warga desa nelayan yang belum tahu atau mendengar ada kejadian buruk yang membuat marah, jelas jadi terkejut dan bertanya-tanya. Ketika warga desa nelayan mengenali bahwa pembawa golok itu adalah Haji Suharja dan para karyawannya, maka mereka segera mengikuti dengan berlari, karena kemungkinan besar tujuannya adalah rumah Haji Suharja.


Jika Tahang dan Rusli langsung menuju ke kontrakan yang disewa Dendi di mana dia melecehkan Vina Seruni, maka Suharja Gendara dan Ambo Dalle langsung menuju ke rumahnya.


Di rumah besar itu ternyata sudah ramai orang berkerumun di pintu dan teras. Bagi warga yang tidak mendapat slot di ambang pintu, maka mereka melihat ke dalam rumah lewat jendela kaca.


Suara motor yang datang membuat orang banyak segera menengok untuk mengetahui siapa yang datang.


“Bubar semua! Bubar!” teriak Suharja sambil mengangkat goloknya, memberi ancaman kepada warga yang kebanyakan wanita dan anak-anak.


“Aaa! Aaa! Aaa!” jerit warga ketakutan karena melihat Suharja seperti setan yang sedang kesetanan.


Dalam waktu singkat, teras rumah itu bersih dari warga. Mereka bergeser berkumpul di halaman karena menjaga jarak. Mereka khawatir jika Suharja tiba-tiba mengejar mereka tanpa alasan yang jelas.


Sementara itu, suara tangis terdengar di dalam rumah. Mereka yang ada di dalam adalah keluarga dan kerabat dekat saja.


“Mana Vina? Mana?!” teriak Suharja marah sambil berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Ketika dia masuk, dia sudah bisa melihat Vina yang habis menangis di dalam pelukan ibunya yang masih menangis.


“Benar Dendi perkosa kamu, hah?!” tanya Suharja sangar sambil datang dan mencengkeram kepala putrinya, agar sang putri fokus menatapnya.


Cara datang Suharja yang menghunus golok jelas membuat was-was keluarga yang kebanyakan adalah wanita.


Melihat ayahnya datang seperti orang gila marah, membuat Vivi Milenia semakin takut dan menangis kejer.


“Bapaaak! Bapaaak! Huuu …!” jerit Vivi histeris di dekat pintu dapur.


Melihat itu, Marawe cepat berlari dan memeluk Vivi untuk menenangkannya.


“Suharja! Jangan bikin takut anakmu!” hardik Marawe.


“Jawab, Vina! Benar, kamu diperkosa Dendi?!” bentak Suharja sambil mengguncangkan kepala Vina yang masih dalam genggamannya. Ia tidak mengindahkan hardikan saudaranya.


“Iya, Pak,” jawab Vina lirih sambil mengangguk pelan.


Suharja mendorong lepas kepala Vina, membuat gadis itu kemudian menangis lagi.


“Cari anak binatang itu! Potong tongkolnya kalau tertangkap!” teriak Suharja marah sambil berjalan garang kembali keluar ke teras.

__ADS_1


“Bapak! Jangan bunuh orang!” teriak Sunirah histeris sambil terus menangis. Sejak tadi dia sudah lemas dan hanya bisa meratapi nasib anaknya.


Suharja berhenti sejenak sambil menatap tajam dengan mata yang merah kepada warga yang berkerumun di halaman rumahnya hingga di luar pagar.


“Kalian senang melihat ke-malu-an keluargaku?!” teriak Suharja kepada warga. Lalu teriaknya sambil mengacungkan goloknya, “Bubar semua! Bubar kalian!”


Ancaman dari orang yang mungkin sedang gelap mata jelas adalah perkara berbahaya. Maka itu, warga segera membubarkan diri karena takut.


Sebuah sepeda motor yang membonceng Haji Daeng Tanri tiba dan langsung masuk ke halaman.


Suharja segera maju menghampiri ayah dari pacar putrinya itu.


“Hancur kehormatanku, Daeng. Sudah tidak pantas anakku mengikat hati dengan Keluarga Tanri. Sudah hitam mukaku. Lebih baik Daeng tidak melihat aib di rumah ini,” kata Suharja yang tampak menghormati Daeng Tanri.


“Jangan langsung ambil keputusan besar di waktu kamu marah, Ji. Bisa kita bicarakan di saat kepala kita sudah dingin,” kata Daeng Tanri lembut dengan suara bass-nya. Ia memang lebih tua daripada Suharja.


“Saya harus tangkap Dendi, Daeng,” kata Suharja lalu pergi naik di boncengan sepeda motor Ambo Dalle. Mereka bergegas pergi menuju ke kontrakan.


Sementara Daeng Tanri berjalan menuju ke rumah.


“Daeng Haji!” pekik Vina sambil bangkit dan berlari memeluk kaki Daeng Tanri. Sambil menangis yang kembali meledak, ia berkata, “Maafkan Vina, Daeng Haji. Huuu …!”


“Jangan begitu, Nak,” sergah Daeng Haji sambil menuntun Vina agar berdiri dan tidak memeluk kakinya.


“Saya sudah mengkhianati Daeng Haji dan Rudi. Maafkan Vinaaa. Huuu …!”


“Iya, iya, Daeng maafkan. Bangun dulu, tenangkan perasaanmu, Nak,” kata Daeng Tanri.


Sunirah datang kepada anaknya dengan turut menangis pula.


“Sudah, Nak. Ayo bangun!” bujuk Sunirah pula sambil berusaha mengangkat lengan putrinya.


“Tenangkan dirimu. Istighfar, Nak. Rudi pasti akan memaafkan kamu,” kata Daeng Tanri.


Vina sangat dekat dan hormat kepada ayah kekasihnya itu. Ia bahkan lebih akrab dengan Daeng Tanri dibandingkan ayahnya sendiri, Suharja. Maka, ketika dia melihat sosok Daeng Tanri, rasa bersalah yang sangat dalam seketika merasuki dirinya.


Namun, dia yakin bahwa Rudi tidak akan memaafkannya. Ketika dia sekedar teleponan dengan Jamal saja Rudi sudah cemburu buta, bagaimana jadinya jika Rudi tahu bahwa Dendi telah menggagahi dirinya.


Sementara itu di sisi lain.


Ketika Tahang, Rusli, Obba Gantra tiba di kontrakan, di sana mereka mendapati Aziz dan beberapa warga lelaki sedang mengeluarkan semua barang-barang milik Dendi yang ada di dalam kontrakan. Bahkan komputer dan beberapa alat elektronik sudah berserakan di depan kontrakan dalam kondisi telah rusak.

__ADS_1


“Mana Dendi? Mana orang brengsek itu?” tanya Obba Gantra sambil turun dari sepeda motor dengan menghunus golok.


“Sudah kabur. Tidak tahu ke mana,” jawab Zainuddin.


Memang, Aziz dan beberapa lelaki yang marah mencoba mencari Dendi di kontrakan dan sekitarnya, tetapi Dendi tidak ditemukan.


“Aziz, kamu punya nomor hp-nya, kan?” tanya Tahang kepada Aziz.


“Punya,” jawab Aziz.


“Coba telepon!” suruh Tahang.


Aziz lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon.


“Biar saya yang coba cari di PT-nya,” kata Rusli kepada Tahang.


“Iya,” ucap Tahang seraya mengangguk.


Rusli segera memutar sepeda motornya dan pergi bersama Obba.


“Hp-nya dimatikan,” kata Aziz.


“Kurang ajar sekali anak setan itu!” maki Tahang sok gede, padahal usianya jauh lebih muda dibandingkan Dendi.


Dari arah depan datang motor yang dikendarai oleh Ambo Dalle dan Suharja.


“Belum ketemu anak bajingan itu, Tahang?” tanya Suharja sebelum motor benar-benar berhenti di dekat mereka.


“Belum, Ji. Rusli sama Daeng Obba sedang pergi mencari ke PT-nya,” jawab Tahang.


“Bakar semua barang Dendi!” perintah Suharja.


Sejumlah lelaki yang telah berkumpul di tempat itu, segera bergerak mengeluarkan barang-barang milik Dendi yang masih ada di dalam kontrakannya.


Suharja lalu berteriak kepada orang banyak, “Siapa yang bisa membawa Dendi ke depan saya, saya beri uang dua juta!”


Maka riuhlah warga mendengar sayembara dadakan tersebut.


Maka hari itu, banyak orang yang terlibat dalam pencarian terhadap Dendi. Suharja juga meminta bantuan Pak RT mengerahkan warga untuk mencari keberadaan Dendi. Namun, Dendi seperti hilang ditelan bumi. Yang membuat heran, padahal Dendi tidak memiliki sepeda motor untuk kabur jauh.


Namun, setelah dicari-cari ke berbagai tempat dan ditanya-tanya ke banyak orang, akhirnya didapati satu kejelasan dari seorang teman dekat Dendi yang bernama Limbong.

__ADS_1


“Tadi sebelum ramai-ramai, Dendi datang ke rumah saya pinjam motor. Katanya ada urusan darurat. Ya saya kasih pinjam. Tapi sampai sekarang motor saya belum dipulangkan. Hilang sudah motor saya,” kata Limbong lemas karena sudah yakin bahwa motornya dibawa kabur. (RH)


__ADS_2