
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Rudi dan Bulan serta para orangtua keduanya sudah sepakat bahwa akad nikah dan resepsi diadakan di rumah mempelai lelaki.
Sebagai seorang ustaz atau orang yang mengerti sedikit banyaknya ajaran agama, Rudi memutuskan mengusung tema adat Bugis moderen, yang hanya mengadopsi pernikahan adat Bugis hanya sedikit persen. Dalam arti, ritual-ritual yang tidak bergesekan dengan hukum agama, itulah yang Rudi ambil.
Seperti satu hari menjelang akad nikah, ada acara mapanre temme. Mappanre artinya memberi makan dan temme artinya tamat atau khatam, yaitu memberi makan atan penghargaan kepada orang yang telah khatam bacaan Al-Qurannya.
Biasanya, pada acara ini, sang pengantin akan menyimak bacaan Al-Quran yang dibacakan oleh imam atau ustaz. Namun, membacanya bukan satu Al-Quran penuh, tetapi sekedar simbolisasi. Imam atau ustaz yang membaca Al-Quran di depan pengantin, hanya akan membaca dari Surat Ash-Dhuha di juz 30 hingga tamat.
Namun, Rudi mencoba memodifikasi acara tersebut agar lebih meriah. Anak-anak usia remaja di desa nelayan itu yang sudah khatam Al-Quran diundang untuk membaca Al-Quran sepuluh surat terakhir secara berjemaah.
Acaranya berlangsung pada sore hari karena pada malamnya ada acara yang namanya mappacci, yaitu pemberian inai ke tangan kedua calon mempelai oleh kerabat sekaligus memberi doa.
Pada budaya masyarakat, biasanya pada malam menjelang hari pernikahan, keluarga hajat akan mengadakan lomba gaple. Namun, Rudi memandang negatif lomba yang menggunakan perlengkapan judi itu, meski perlombaan itu tidak masuk kategori judi. Jadi, Rudi memutuskan mengadakan lomba main gangsing kayu dengan peserta lelaki dewasa, dari muda hingga tua.
Usai salat asar, beramai-ramai orang datang ke rumah Rudi yang kini sudah semakin meriah dengan berbagai dekorasi, baik itu tenda yang besar nan indah atau pita warna-warni hingga kertas-kertas emas yang memperhias rumah laksana istana.
Anak-anak remaja yang akan menjadi tamu kehormatan bagi rumah Rudi datang berkelompok-kelompok. Tamu-tamu undangan orang dewasa juga datang dengan berpakaian bagus. Selain memang karena mereka diundang secara umum, setidaknya mereka bisa turut makan kue-kue.
Ada juga para kaum bapak yang tidak hadir karena memilih menyiapkan gangsing dan berlatih sebelum bertanding. Maklum, usia dewasa membuat mereka sudah lama tidak memainkan permainan tradisional tersebut.
Anak-anak lelaki dan perempuan sudah duduk di atas karpet yang digelar di halaman di bawah tenda. Mereka membentuk formasi lingkaran panjang. Setiap anak di depannya di beri bantal yang di atasnya ada kitab suci Al-Quran.
Ada sekitar 20 anak yang akan membaca Al-Quran yang nantinya dipandu oleh Kulsum.
__ADS_1
Acara itu belum dimulai karena mereka menunggu kedatangan calon mempelai wanita, yaitu Bulan Adinda dan keluarganya.
Namun, mereka tidak lama menunggu karena tiga buah mobil mewah baru saja tiba. Kerabat dari calon mempelai lelaki segera turun menyambut kedatangan rombongan.
Tampak pula di teras, Rudi yang duduk di kursi rodanya sudah begitu ganteng dalam balutan baju koko dan songko Bugis. Kondisi kakinya yang masih berbalut perban membuatnya harus memakai sarung berwarna hitam berhias sulaman benang emas.
Ada Barada yang berdiri memegangi belakang kursi roda.
Rudi, Barada dan orang-orang yang mengenal dekat Bulan Adinda jadi tersenyum, ketika mereka melihat calon mempelai perempuan turun dari mobilnya dengan busana muslimah warna serba putih cemerlang. Dia mengenakan jilbab putih yang indah dengan hiasan bros emas.
Bulan Adinda tampil begitu cantik lengkap dengan make-up yang sederhana saja. Balutan hijab membuatnya semakin anggun dan sejuk dilihat.
Bulan Adinda datang bersama kedua orangtuanya, ketiga adiknya, keluarga besarnya, Linda dan tim make-up yang semuanya perempuan.
Kamsiah dan Manta Sukasih menjadi penyambut tamu wanita, sementara Muttaqin dan Haji Daeng Marakka menyambut ayahnya Bulan dan para lelaki dari keluarga tamu.
Tamu pun diiringi masuk ke dalam rumah. Rudi pun menemui calon mertuanya dan menyalaminya.
Sandro yang merasa memiliki dosa kepada Linda, memilih untuk bersembunyi dengan dalih pergi buang air kecil. Untung tindakan Sandro itu tidak tertangkap mata oleh Linda. Jika dia terlihat terkesan menghindar, mungkin justru akan menyakiti hati Linda untuk kedua kalinya.
Karena orang yang ditunggu sudah hadir, maka acara mappanre temme pun dimulai.
Rudi dan Bulan didudukkan berdampingan. Masing-masing ada sebuah bantal yang diletakkan di atas meja di hadapan mereka. Di atas bantal itu diletakkan Al-Quran besar yang sudah terbuka. Di hadapan Rudi telah duduk Ustaz Barzanji dan di depan Bulan duduk Ustaz Muttaqin.
Selaku bukan orang Bugis, sebelum dimulai, Bulan lebih dulu mendapat panduan dari Ustaz Barzanji. Setelah itu dimulailah ritual mappanre temme.
__ADS_1
Maka kedua ustaz sebaya itu mulai membaca Al-Quran dari Surah Adh-Dhuha. Sementara Rudi dan Bulan menyimak dengan cara menunjuk menggunakan tunjukan apa yang sedang dibaca oleh kedua ustaz.
Sebagai dua orang ustaz, tentunya kedua pembaca membaca dengan fasih dan tartil. Kedua ustaz membaca memakai mic masing-masing, sehingga apa yang mereka baca di dalam ruang tamu terdengar dan tersimak oleh para hadirin yang juga duduk dengan kusyuk di luar, baik mereka yang duduk di lantai ataupun duduk di kursi.
Anak-anak yang akan membaca Al-Quran berjemaah untuk sementara menunggu sampai kedua ustaz selesai mengaji.
Saat itu, hadir pula Ferdy dan ibunya tanpa kehadiran Haji Suharja. Hadir pula Junita yang mengenakan busana muslimah pemberian Sandro dua malam lalu. Dia hadir bersama kedua orangtuanya.
Setelah kedua ustaz menyelesaikan tugasnya dan mendoakan kedua calon mempelai, barulah acara dilanjutkan dengan pembacaan Al-Quran secara berjemaah oleh anak-anak yang mereka semua telah khatam mengajinya. Pembacaan itu dipimpin oleh Kulsum dengan membaca Ummul Kitab, yang dilanjutkan membaca Surah Al-Fil hingga Surah An-Naas.
Dibaca oleh lebih dari dua puluh orang dia halaman rumah membuat sore itu terdengar ramai oleh bacaan Kitab Suci.
Rudi dan Bulan menyaksikan dan menyimak dari teras. Kursi keduanya berdampingan, tetapi tidak begitu rapat. Maklum belum sah.
Mereka yang tidak membaca juga mendengarkan dengan kusyuk tanpa ada yang diperkenankan berbincang sendiri. Jika ada urusan konsumsi yang harus didistribusikan, perintahnya dengan bahasa isyarat atau dengan bisikan tidak pakai cinta.
Berbagai macam penganan enak-enak, terutama kue-kue khas suku Bugis semisal kue bugis (doko-doko cangkuning), barongko, sikaporo, jalangkote, bolu cukke, apang bugis dan banyak lagi, sudah disuguhkan di depan para tamu. Namun, sebelum pembacaan Al-Quran selesai, akan malu jika jamuan dimakan lebih dulu.
Maka, tepat setelah pembacaan Al-Quran selesai, tim konsumsi segera mengalirkan hidangan ke tengah-tengah para pembaca Al-Quran. Seiring itu, bantal-bantal dan Al-Quran dipinggirkan dan diamankan ke dalam rumah.
Pesta makan pun dimulai dengan meriah. Bahkan ada tamu-tamu yang baru datang dan disambut hangat.
“Sambil dimakan, ya. Adik-adik yang tadi membaca Al-Quran, jika sudah selesai makannya, jangan langsung pulang, tapi salim dulu kepada Pak Ustaz dan calon istrinya, karena kalian akan mendapat hadiah!” kata Kulsum kepada anak-anak pembaca Al-Quran menggunakan mic.
“Iya, Ummiii!” sahut anak-anak ramai dan semangat.
__ADS_1
Ketika anak-anak khataman itu selesai dan hendak pulang, mereka satu per satu pergi salim kepada Rudi dan Bulan dengan tertib. Ternyata, mereka mendapat amplop satu per satu yang pastinya berisi uang. Jangan ditanya berapa isinya. (RH)