Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 20: Puaaang


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Masih untung, Rudi, Aziz dan Sandro jatuh di pinggir jalan yang areanya berumput. Beberapa warga sekitar yang sudah mulai beraktivitas segera mendatangi mereka untuk membantu, tetapi dapat bonus omelan.


“Bang, kalau mabuk jangan bawa motor, bahaya. Taruhannya nyawa. Saya yakin Abang enggak punya nyawa serep!” kata seorang pemuda mengomeli ketiganya, tapi sambil membantu.


“Bang, yang mabuk teman saya, bukan saya!” bantah Aziz sambil mengerenyit memegangi sikunya yang berdarah karena lecet.


Ning nong ning nong dong! Ning nong ning nong dong!


“Tuh Bang, hp-nya bunyi,” kata Aziz sambi menunjuk celana pemuda setempat itu. Dia kesal karena ditolong tapi juga diomeli.


“Suaranya dari celana Abang!” balas si pemuda sambil menunjuk titik yang sama. Maksudnya sama-sama yang lelaki punya.


“Eh, iya,” ucap Aziz malu.


Sementara itu, Sandro yang agak terpincang, mengangkat Rudi bersama warga yang lain ke atas motor yang sudah diberdirikan kembali. Motor hanya cedera pada kaca spion, tidak begitu buruk.


“Hah! Astaga naga! Eh, astaghfirullah!” pekik Aziz tiba-tiba yang mengejutkan Sandro dan warga yang menolong.


Aziz sedang menerima panggilan telepon.


“Iya, iya iya iya, Mak. Iya, Mak!” ucap Aziz manggut-manggut dengan wajah yang sedih ingin menangis.


“Kenapa, Ziz?” tanya Sandro.


“Iya, Mak. Ini, kita lagi jatuh dari motor. Nanti cepat kita sampai. Hiks hiks hiks!” kata Aziz sambil terisak menangis, tidak mengindahkan pertanyaan Sandro. “Iya, Mak.”


Sepertinya Aziz ditelepon oleh ibunya.


Sampai ketika Aziz mengantongi kembali hp-nya, dia masih menangis. Dia lalu menghampiri mereka yang di motor, lalu tiba-tiba memeluk Rudi sambil menangis tambah kencang.


“Haaa … haaa …!” tangis Aziz kencang, membuat warga pun dibuat bingung.


Sementara Rudi yang sudah didudukkan di jok motor, hanya tergerak-gerak lemas seperti boneka kain di dalam pelukan Aziz.


“Kenapa, Gendut?!” bentak Sandro sambil menepak kepala Aziz.


“Puang Haji meninggal, Sandrooo!” jawab Aziz sambil menangis seperti anak besar.


“Hah!” pekik Sandro terkejut bukan main.


Meski dalam kondisi mabuk, tetapi indera pendengaran Rudi masih berfungsi beberapa persen. Mendengar bahwa ayahnya meninggal, Rudi berusaha berontak dari pelukan Aziz.

__ADS_1


“Aaak!” teriak Rudi memberontak.


Rontaan Rudi itu membuat Aziz agak terdorong. Meski Sandro mencoba memegangit tubuh Rudi, tapi tetap saja Rudi merosot jatuh ke samping.


“Aaa! Fuaaang …!” teriak Rudi sambil menangis dan berusaha merangkak di tanah. Dia berteriak-teriak memanggil ayahnya bercampur tangisan, “Fuaaang …! Aaa …!”


Aziz kian menangis melihat Rudi. Sementara Sandro baru mulai menangis tanpa suara, tapi mata dan hidungnya langsung berair.


“Hei, Rudi! Mau ke mana kamu?!” bentak Sandro yang tidak bisa menahan emosi lagi.


“Fuaaang …!” teriak Rudi sambil berusaha merayap.


“Dasar Anak Bego!” maki Sandro marah sambil menepak keras kepala Rudi. “Kamu kira Puangmu yang sudah meninggal ada di depan sana? Ayo naik motor biar sampai ke rumah, Rudi. Puangmu sudah menunggu, Bego! Hiks hiks hiks!”


Akhirnya Sandro pun memperdengarkan suara tangisannya yang dicampur dengan amarah.


“Fuaang …!” ratap Rudi sambil merayap mendekat aspal.


“Ayo pulang, kita ke Puang Haji!” kata Sandro sambil meraih paksa tubuh Rudi, lalu mengangkatnya. Dia yang bertenaga besar sebagai seorang nelayan bisa melakukannya seorang diri. Apalagi dalam kondisi genting seperti itu, tenaga simpanan pun bisa keluar.


Aziz yang tangisnya sudah mereda, segera duduk di sepeda motor dan memegang stang dengan kuat.


Rudi kembali didudukkan di belakang Aziz, sementara Sandro duduk menghimpitnya dari belakang.


“Awas kalau kamu enggak mau diam di jalan, saya lempar kamu ke jalan, Di!” ancam Sandro masih marah. Lalu katanya pelan kepada warga yang hanya menonton, “Terima kasih, Bang, Pak.”


Sepeda motor yang kelebihan berat muatan itu kembali melaju dengan normal di jalan raya yang mulai terang, tetapi masih belum ramai kendaraan. Berbeda ketika mereka melewati depan Pelelangan Sinar Nelayan yang ramai. Setelah itu, jalanan yang menuju ke desa mereka kembali lengang.


Sedih sekali hati Aziz dan Sandro saat itu. Hawa dingin udara pantai campur udara gunung membuat kesedihan mereka kian mengharu biru.


“Fuaaang …!” ratap Rudi yang tidak berdaya. Entah bagaimana kondisi otaknya saat ini.


“Bagaimana bisa, Ziz? Jangan-jangan yang menyuruh kita jemput Rudi arwahnya Puang Haji,” tanya Sandro.


“Puang Haji jatuh di kamar mandi habis salat subuh. Jangan dihubung-hubungkan dengan hantu gentayangan, Sandro!” kata Aziz setengah berteriak, agar suaranya terdengar jelas oleh Sandro sebelum dibawa angin pagi.


“Fuaaang …!” raung Rudi menangis.


“Diam, Di! Di dengar orang banyak!” hardik Sandro di atas sepeda motor.


Ketika mereka memasuki desa nelayan, matahari baru mengintip dengan cahayanya dari punggung Gunung Rajabasa yang begitu dekat dengan daerah pantai yang merupakan kakinya itu.


Lewatnya sepeda motor yang membawa Rudi jelas menarik perhatian warga yang beraktivitas. Mereka semua jelas merasa perihatin dan menyayangkan kelakuan Rudi, bahkan ada yang marah jika melihat Rudi, meski hanya sebatas di dalam hati.


Kedatangan ketiga sahabat itu disambut oleh lambaian bendera kuning di atas pagar rumah. Motor hanya bisa sampai di depan pagar halaman.

__ADS_1


Halaman rumah Daeng Tanri sudah dipenuhi orang yang datang takziah, bahkan luber hingga keluar pagar. Banyak kursi plastik yang disediakan. Di dalam rumah lebih banyak kaum ibu.


Sebagian besar bapak-bapak duduk di kursi sambil mengobrol, merokok dan hanya diam. Sebagian lagi bekerja membuat papan nisan dan memotong-motong papan dan bambu. Area khusus untuk memandikan jenazah yang ditutupi oleh tabir kain dibuat di sisi rumah.


Dua orang warga lelaki segera menyambut Aziz dan dua sahabatnya, lalu ikut membantu menurunkan Rudi dari duduknya. Mereka memapah Rudi yang kakinya tidak bisa dipakai berpijak normal. Samar-samar melihat keramaian, Rudi tidak mengerti, tetapi dia masih memanggil ayahnya.


“Puaaang …!” Kali ini panggilannya sudah jelas.


Para pelayat hanya memandangi Rudi yang kondisinya mengenaskan, yakni mabuk para pada hari kematian ayahnya.


Kabar kepulangan Rudi segera sampai ke dalam rumah. Ibu-ibu yang ada di dalam segera berkeluaran untuk menyaksikan langsung kondisi Rudi.


“Rudi jangan dibawa masuk dulu!” seru Daeng Marakka dari teras rumah setelah memerhatikan sejenak kondisi Rudi. “Nanti dia hanya mengganggu di dalam. Biarkan saja di luar sana!”


Bingunglah Aziz dan Sandro. Sementara dua warga yang membantu memilih melepaskan Rudi jatuh terkulai dan tengkurap di tanah halaman antara deretan para pelayat.


“Yang penting dia sudah ada di sini dan ketahuan kondisinya,” kata Daeng Marakka.


“Coba disiram air biar lebih sadar!” teriak Suharja pula sambil berjalan mendekati Rudi.


“Ambil air, ambil air!” seru seorang warga kepada orang yang dekat dengan air.


“Puaaang …!” teriak Rudi dengan suara yang serak sambil berjuang untuk merayap menuju tangga teras.


Wajah Rudi yang merah, banjir oleh air mata, air ingus dan air ludah.


Cprac!


“Aaah! Aaah!” rontah Rudi gelagapan ketika setimba air mengguyur kepala dan menutupi pernapasannya sejenak.


Antara marah dan iba melihat kondisi Rudi yang sudah seperti binatang melata, itulah perasaan orang banyak. Merangkak pun dia sudah tidak sanggup lantaran begitu beratnya mabuk yang ia alami.


“Puaaafrrt!”


Teriakan Rudi jadi terganggu ketika satu gayung air kembali mengguyur kepalanya. Penyiraman itu dilakukan oleh Suharja.


Adegan itu benar-benar membuat banyak air mata kaum ibu mengalir. Meski mereka marah dengan kelakuan mabuk-mabukan Rudi, tapi ketika melihat anak itu seperti binatang yang disiksa, mereka tidak tega.


Daeng Marakka dan saudara yang lain tidak berusaha menghentikan Suharja. Pikir mereka, mungkin ada benarnya, dengan menyiram Rudi, kemabukannya bisa berkurang. Padahal faktanya tidak seperti itu.


Di depan sana, Aziz dan Sandro kembali menangis menyaksikan nasib sahabatnya. Sandro segera berlari mendekati Rudi.


“Cukup, Ji. Jangan siram lagi!” kata Sandro sambil berjongkok di sisi Rudi. Lalu katanya lagi sambil mendongak kepada Suharja, “Kalau di sini Rudi cuma untuk disiram di depan orang banyak, lebih baik saya bawa ke pinggir laut biar enggak berisik di sini.”


Sandro lalu berusaha membangunkan Rudi agar tubuhnya berdiri. Aziz cepat datang membantu di saat tidak ada orang lain yang membantu.

__ADS_1


“Ya sudah, tenangkan saja di laut,” kata Suharja.


“Puaaang …!” teriak Rudi lagi dengan kondisi tubuh yang pasrah dalam papahan Sandro dan Aziz kembali ke luar halaman. (RH)


__ADS_2