Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 48: Melamar Bulan


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


Berita tentang Ustaz Rudi Handrak yang kecelakaan segera menjadi berita utama di desa nelayan, menggeser berita hilangnya Vina dari puncak trending. Kerabat dan orang-orang dekat segera menjenguk Rudi di rumah sakit. Gelombang kunjungan datang sili berganti.


Kamar VIP yang memiliki ruang tamu membuat kunjungan besuk berlangsung lebih nyaman, meskipun jumlah orangnya cukup banyak.


Dua hari setelah itu, Rudi mendapat besukan istimewa dari kedua orangtua Bulan Aninda. Jelasnya mereka didampingi oleh Bulan. Linda pun ternyata ikut.


Ayah dari Bulan Adinda adalah seorang lelaki berkulit putih, bermata agak sipit seperti sang putri. Rupanya model mata Bulan yang indah menurun ke ayahnya, karena sepasang mata sang ibu tidak sipit. Ayahnya Bulan bernama Rozaq Ahmad, seorang pejabat pemerintahan di tingkat kabupaten. Tidak jelas apa jabatannya, tapi pokoknya dia pejabat.


Ibunya Bulan berusia lebih muda dari Kamsiah karena memang Bulan adalah anak tertua dari empat bersaudara. Ia bernama Risma Yumunata, wanita yang masih memiliki 25 persen darah Jepang karena ibunya berdarah Jepang-Lampung. Saat itu Risma mengenakan jilbab berwarna kopi tapi tidak bau susu. Risma juga seorang wanita karir. Selain memiliki saham di perusahaan putrinya, dia juga memiliki perusahaan di industri tekstil.


“Perkenalkan, ini Bang Ustaz Rudi dan ini ibunya Bang Ustaz,” ucap Bulan kepada kedua orangtuanya saat pertama bertemu dengan Rudi dan ibunya di kamar pasien.


Mereka pun saling bersalaman sambil menyebutkan nama masih-masing. Rudi tidak bersalaman karena tangan kanannya tidak dapat digunakan.


Pada momentum itu, hadir pula Aziz dan Sandro. Mereka berdualah yang mendapat tugas khusus dari Rudi.


Sehari sebelumnya, Bulan telah menelepon Rudi bahwa hari itu kedua orangtuanya akan datang menjenguk, sekaligus akan menerima lamaran dari Rudi.


“Saya dengar, Nak Rudi kecelakaan karena menghayalkan Bulan, ya?” Itu pertanyaan pertama yang dilontarkan Rozaq kepada Rudi.


Terkejutlah Kamsiah, Aziz, Sandro dan Linda mengetahui hal itu, terutama Rudi karena hal itu jelas membuatnya malu. Rudi pun hanya bisa tertawa kecil malu, tapi bukan malu karena kecil.


“Hehehe! Iya, Pak. Mohon maaf, pikiran saya masih suka kurang ajar,” ucap Rudi mengaku malu.


“Hahaha!” tawa Rozaq dan Risma.


“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Ustaz juga manusia, kan?” kata Rozaq berseloroh.


“Hahaha!” Mereka pun tertawa rendah bersama.


“Tapi, bagaimana perkembangannya, Nak?” tanya Risma yang bersama suaminya berdiri di sisi ranjang.


“Alhamdulillah, Bu. Prediksi dokter, insyaallah rawat inap sekitar seminggu, setelah itu boleh pulang. Kalau lancar, sekitar dua atau tiga bulan bisa sembuh,” jawab Rudi. “Terima kasih sudah datang menjenguk, Pak, Bu.”


“Bapak dan Ibu sebenarnya sudah lama ingin ketemu kamu, Nak. Bulan ini, sedikit-sedikit cerita tentang kamu. Karena ceritanya sedikit-sedikit, jadi ceritanya keseringan. Bulan ini sangat terbuka dengan kami, jadi kami tahu sejak dia pertama kenalan sama kamu karena permintaan Aziz,” kata Rozaq.


Bulan hanya tersenyum lebar diceritakan tentang dirinya di depan hidungnya.


“Alhamdulillah jika demikian. Jadi, saya mau minta izin kepada Bapak dan Ibu untuk melamar Bulan Adinda sebagai calon istri saya, Pak,” ujar Rudi.


Alangkah bahagianya Bulan saat mendengar itu, walaupun dia sudah tahu bahwa Rudi akan menyampaikannya. Namun, yang membuat penyampaian itu begitu berbeda karena disampaikan langsung kepada kedua orangtuanya. Bahagia, lega dan penuh harap, itulah rasa yang kini bersemayam di hati Bulan dan Rudi.


Rozaq lalu meraih telapak tangan kiri Rudi dan membiarkan dalam pegangannya.

__ADS_1


“Alhamdulillah akhirnya Nak Rudi menyampaikannya kepada kami berdua. Sebelumnya Bulan sudah menyampaikan kepada kami. Kami berdua sebagai orangtua Bulan sudah sepakat yang didasari dengan pertimbangan matang. Kami sepakat menerima lamaran Nak Rudi sebagai calon suami putri kami Bulan Adinda. Tentunya dengan segala kekurangan putri kami,” kata Rozaq dengan tetap memegang tangan Rudi.


“Alhamdulillahi rabbil ‘alamiiin!” ucap yang lainnya serentak seraya tersenyum lebar.


“Barakallahu!” ucap Aziz.


“Alhamdulillah. Jazakallhu khairan katsiiran, Pak, Bu,” ucap Rudi terharu dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.


Sebelumnya, meski Rudi begitu optimis dan yakin bahwa peluang lamarannya diterima sebesar 80 persen, tetapi ada 20 persen rasa takut bahwa lamarannya akan ditolak, apalagi kondisinya seperti itu saat ini.


Dengan diterimanya lamaran itu oleh orangtua Bulan, otomatis pintu bagi gadis lain sudah tertutup untuk membidik Rudi sebagai calon suami.


“Saya ingin memberikan sesuatu kepada Bulan,” ujar Rudi.


Rozaq dan Risma segera mundur agar putrinya bisa lebih mendekat kepada Rudi.


Rudi mengambil sesuatu di bawah bantalnya dengan tangan kiri. Ternyata sebuah kotak kecil berwarna pink. Dari besar kotaknya, mereka bisa menerka bahwa itu kotak cincin. Yang jadi pertanyaan, apakah ada isinya atau tidak.


Dengan menggunakan jari-jarinya, Rudi membuka kotak kecil itu.


Tersenyum lebarlah Bulan, tapi tidak selebar-lebarnya, ketika melihat keberadaan sebuah cincin emas yang beratnya kira-kira 2 gram. Keberadaan cincin itu membuat jantung Bulan berdetak kencang, seolah-olah ingin menjebol dinding rongga dadanya karena begitu bahagianya. Seandainya boleh, ingin rasanya dia memeluk dan mencium Rudi saat itu, tapi itu pasti akan membuat Rudi menang banyak.


“Mohon maaf, pakai tangan kiri,” ucap Rudi sambil menyodorkan kotak berisi cincin berdiri.


“Tidak apa-apa,” ucap Bulan lirih sembari tersenyum malu.


“Pegang kotaknya,” kata Rudi.


Bulan pun memegang kotaknya. Tangan kiri Rudi lalu mengambil cincin tersebut, kemudian dipindahkan ke jari tangan kanannya.


“Kemarikan jarimu, Sayang!” pinta Rudi dengan berani menyebut “Sayang” kepada Bulan.


Rasa bahagia itu memiliki 1.099 level. Panggilan “Sayang” membuat Bulan merasakan rasa bahagia level 801. Jangan ditanya apa saja konduktor level bahagia lainnya.


Bulan pun mendekatkan jari manisnya ke jari tangan kanan Rudi yang tidak bisa bergerak bebas karena terkungkung gips dan balutan. Jadi, tekhnisnya adalah Bulan yang memasuki, bukan Rudi yang memasukkan.


Semakin naiklah level kebahagiaan yang dirasakan oleh Bulan. Sementara Rudi pun merasa menjadi lelaki perkasa karena telah sah melamar Bulan sebagai calon istrinya, meskipun pada saat itu dia tidak bisa perkasa.


“Alhamdulillah. Saaah!” pekik Sandro keras, mengejutkan semua orang.


“Hahaha!” tawa mereka pada akhirnya.


“Sah sebagai apa, Bang?” tanya Linda iseng.


“Sebagai tunangan dong,” jawab Sandro.

__ADS_1


“Saya kira sebagai istri,” kata Linda.


“Hahaha!” tawa mereka lagi.


“Mohon maaf jika cincinnya kurang sesuai selera, maklum yang beli Aziz dan Sandro,” ucap Rudi yang membuat kedua sahabatnya terbeliak.


“Eh, memangnya pilihan kita enggak bagus?” protes Aziz.


“Bagus koook,” ucap Bulan cepat untuk menutup potensi pertikaian antarsahabat.


Rudi dan yang lainnya hanya tertawa.


“Lalu, kapan hari nikahnya?” tanya Risma yang sontak membuat semuanya terdiam.


Mereka jadi saling pandang, seolah saling bertanya.


“Aziz, kamu yang sudah sukses nikahnya. Kira-kira berapa lama persiapan untuk pernikahan?” tanya Rudi.


“Iya, saya mah enggak sukses,” celetuk Sandro dengan bibir dimajukan, sedih.


Namun, yang lain tidak peduli dengan kesedihan Sandro, kecuali Linda.


“Sabar, Bang. Kesuksesannya hanya tertunda kok,” ucap Linda menghibur dengan senyuman yang membuat Sandro berbunga-bunga hatinya, meski di dalam hatinya tidak ada jambangan.


“Assalamu ‘alaikum!” salam seorang perempuan tiba-tiba dari pintu kamar yang dibuka dari luar.


Wanita itu memasukkan lebih dulu kepalanya untuk memantau situasi. Oh, ternyata wajah cantik jelita Alexa.


“Wa ‘alaikum salam!” jawab Rudi dan yang lainnya sambil memindahkan pandangannya ke arah pintu.


“Apakah saya mengganggu?” tanya Alexa ragu, tapi sambil tersenyum.


“Oh, Bu Alexa. Silakan masuk, Bu!” jawab Rudi agak keras. “Enggak apa-apa, silakan masuk!”


Maka masuklah Alexa dengan membawa sekantung besar bawaan yang terlihat berat dan dia bersama putrinya, Flexy.


Sandro buru-buru bergerak menyambut Alexa dan mengulurkan tangan untuk mengambil alih bawaan janda mungil tersebut.


“Eh Flexy, datang juga ya jenguk Pak Ustaz?” sapa Rudi kepada Flexy.


“Iya, Pak Ustaz. Ibu ngajakin jenguk calon ayah baru,” jawab Flexy polos, tapi membuat mereka terkejut, terutama Rudi dan Alexa.


“Sepertinya ada acara?” tanya Alexa berbisik kepada Sandro. Dia curiga melihat suasananya, terlebih melihat ada kotak kecil seperti kotak cincin.


“Ustaz Rudi melamar Bulan,” jawab Sandro pula dengan berbisik.

__ADS_1


Jleger!


Laksana ada petir meledak di dalam ruangan itu bagi Alexa, ketika mendengar berita tersebut. (RH)


__ADS_2