
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Dendi Gunadi duduk di bangku kayu yang ada di bengkel tambal ban itu. Ban belakang sepeda motornya bocor oleh paku. Tukang tambal bannya sedang bekerja membongkar ban dalam sepeda motor itu.
Tidak berapa lama, seorang wanita berhelm yang mengenakan tas ransel warna hijau melon datang pula ke bengkel tersebut. Wanita itu datang dengan cara mendorong sepeda motornya yang bisa terlihat bahwa ban belakangnya tanpa angin.
Tukang tambal ban yang bertubuh gemuk berlemak ekstrem dan hanya bersinglet kotor, menengok kepada si wanita yang ternyata muda dan cantik.
“Tambal, Bang,” ujar si gadis yang memang terlihat masih muda.
“Parkirin saja dulu, Neng,” kata si abang tambal ban.
“Iya.”
Setelah memarkirkan sepeda motornya, si gadis yang tetap mengenakan helmnya itu lalu bergerak ke bangku kayu panjang, di mana Dendi sedang duduk. Dendi pun sejak tadi memerhatikan gadis cantik berambut sepunggung itu.
“Permisi, Mas,” ucap si gadis sembari tersenyum manis kepada Dendi.
“Silakan, silakan,” ucap Dendi sambil bergeser sedikit, memberi ruang yang lebih lapang bagi bokong si gadis.
Keduanya duduk bersebelahan sambil memerhatikan abang tukang tambal ban bekerja. Bodi yang gemuk dan celana yang longgar, membuat kedua pelanggan bisa melihat jelas selokan kering pada bokong penambal ban yang berjongkok dalam kondisi tertekan.
“Kena paku, Mas?” tanya si gadis, untuk mengalihkan perhatian dari selokan hitam di bokong penambal ban.
“Iya,” jawab Dendi seraya tersenyum santun dan mengangguk sekali.
“Sama. Ban motorku juga kena paku. Padahal jalanannya aspal melulu,” kata si gadis.
“Mau ke mana, Dek?” tanya Dendi.
“Mau servis laptop di mall,” jawab si gadis.
“Apanya yang rusak?” tanya Dendi antusias, karena mengobati laptop adalah keahliannya.
“Ada suara berisik di dalam mesinnya. Bikin ngeri aja. Takut tahu-tahu rusak,” kata si gadis.
“Oooh,” desah Dendi paham.
“Memang Mas ngerti penyakit laptop?” tanya si gadis.
“Ngerti banget. Kalau mau, saya bisa benarin kok. Pastinya lebih murah daripada servis di toko,” kata Dendi.
“Oh, gitu ya.”
“Iya. Di toko mah biasanya suka diakalin, jadi biayanya bengkak dari yang semestinya,” kata Dendi.
“Iya juga sih. Pernah dengar begitu. Habis aku bingung, mau minta tolong siapa. Teman enggak ada yang ngerti banget,” kata si gadis.
“Kalau Adek mau, kontrakan saya dua gang lagi dari sini. Nanti bisa saya cek laptopnya,” kata Dendi.
“Oh, boleh. Iya, pas aku juga lagi ngirit-ngirit, Mas. Hihihi!” kata si gadis lalu tertawa sendiri.
__ADS_1
Dendi mengimbangi dengan senyum lebar.
“Nama Adek siapa? Nama saya Dendi Gunadi,” kata Dendi sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan.
“Sulis,” ucap si gadis sambil menjabat tangan Dendi.
Perkenalan antara Dendi dan Sulis dilanjutkan dengan kepergian mereka berdua ke kontrakan Dendi, setelah sepeda motor mereka berdua usai ditambal.
Singkat cerita.
Sulis kini duduk di lantai kontrakan Dendi yang sempit. Selembar karpet warna biru menjadi alas. Ada sejumlah barang-barang elektronik yang berkaitan dengan komputer di ruangan tersebut.
“Mas Dendi ngontrak sama siapa di sini?” tanya Sulis.
“Sendiri. Sendiri itu lebih bebas,” jawab Dendi sembari tersenyum.
“Oh, berarti belum menikah ya?” terka Sulis.
“Iya. Kelihatan banget ya?”
“Hihihi!” Sulis hanya tertawa.
“Mana laptopnya?” pinta Dendi.
Sulis lalu mengeluarkan laptop dari tas ranselnya dan memberikannya kepada Dendi. Pemuda yang kini berada di Sukabumi itu lalu membuka laptop dan menyalakannya.
Singkat cerita lagi.
“Biayanya berapa ya, Mas?” tanya Sulis.
“Nanti malam saya cek total. Kalau memang ada yang perlu diganti, saya kabari. Kasih saja nomor hp Sulis. Tapi, biasanya sih enggak ada yang diganti, hanya perlu dibersihkan,” kata Dendi.
Maka, Sulis pun bertukar nomor hp, bukan nomor sepatu.
Menjelang waktu magrib, Sulis pergi meninggalkan kontrakan Dendi yang lokasinya agak masuk ke dalam sebuah gang.
Ketika keluar dari gang dan hendak masuk ke jalan raya besar, Sulis memberi tanda jempol tangan kanan kepada sebuah mobil hitam yang parkir di seberang jalan. Seolah-olah dia mengenal orang yang ada di dalam mobil.
Setelah itu, Sulis menarik gas dan melaju pergi menjauh.
Tidak sampai satu menit kemudian, dua sepeda motor, yang masing-masing dinaiki oleh dua lelaki berjaket hitam semua dan berhelm hitam semua, datang dan masuk ke gang.
Seolah-olah sudah hafal, kedua sepeda motor tersebut berhenti tepat di dapan teras kontrakan Dendi.
Mendengar ada suara sepeda motor lebih dari satu berhenti di depan kontrakannya, Dendi yang baru mau ke kamar mandi memutuskan untuk ke pintu dan melihat siapa yang datang.
Namun, Dendi tidak mengenal keempat orang yang turun dari sepeda motor dan menaikkan kaca hitam helmnya.
“Selamat sore!” salam satu lelaki muda yang sepertinya sebagai pemimpin dari keempat orang tersebut.
“Selamat sore!” ucap Dendi dengan pandangan curiga.
Saat itu Dendi langsung menerka bahwa keempat lelaki berpakaian serba hitam itu adalah polisi. Dia paling tidak suka berurusan dengan polisi. Jika dia lari, pasti akan tertangkap pula. Jika mau lari, alasannya apa. Dia saat itu merasa tidak memiliki kasus kriminal. Dia saat ini hidup wajar-wajar saja. Intinya untuk apa takut jika tidak salah?
__ADS_1
Sementara itu, sejumlah warga memantau dari jarak aman. Hanya ingin tahu siapa yang datang, bukan untuk memberi dukungan massa kepada Dendi yang mereka kenal.
“Kami dari kepolisian. Apakah benar Anda yang bernama Dendi Gunadi?” tanya tamu itu datar.
“Benar, Pak. Ada apa ….”
Buk! Bdak!
Satu tendangan sepatu militer tiba-tiba menghantam keras perut Dendi yang belum selesai berkata-kata.
Dendi langsung terdorong keras menabrak daun pintu kontrakannya dan terjengkang di lantai.
Dalam kondisi kesakitan dan ketakutan, Dendi berusaha cepat bangun. Namun, pemuda berbadan besar itu lebih dulu menonjok wajah Dendi dengan telak.
“Ayo keluar!” teriak pemuda yang menghajar Dendi hingga tidak berdaya.
Dendi yang tidak berkutik ditarik keluar.
Warga sekitar yang terkejut melihat kejadian itu jadi memilih lebih menjauh. Tidak ada yang berani turut campur karena mereka menduga kuat bahwa keempat orang itu adalah aparat kepolisian.
Mereka bisa melihat wajah Dendi telah berlumuran darah.
“Periksa!” perintah pemimpin orang asing itu sambil memborgol kedua tangan Dendi di belakang badannya.
Dua orang dari mereka segera masuk ke dalam kontrakan Dendi dan melakukan penggeledahan.
Satu dari dua orang yang masuk kembali keluar dengan membawa sebuah benda. Benda yang berupa beberapa plastik klip bening berisi serbuk putih bersih diunjukkan ke depan wajah Dendi.
“Ini dapat dari mana?” tanya si lelaki kedua dengan mata mendelik.
“Ti-tidak tahu, Pak!” jawab Dendi bingung bercampur takut. Jujur, barang itu bukan miliknya.
Plak!
Lelaki kedua menampar keras wajah Dendi yang sudah begitu mengibakan.
“Enggak tahu tahi tikus! Kalau bukan punya kamu, kenapa ada di bawah karpet?!” bentak lelaki kedua keras.
“Benar, Pak. Ampun! Itu bukan barang saya. Saya enggak tahu, saya enggak pakai!” jawab Dendi dengan menjerit menangis.
Lelaki ketiga keluar dari kontrakan dengan membawa dua buah laptop dan dua buah ponsel. Satu laptop milik Dendi dan satu lagi laptop milik Sulis. Dua ponsel milik Dendi semua.
“Ayo jalan!” perintah lelaki pertama sambil mendorong punggung Dendi yang wajahnya punya bengkak dan kulit yang robek.
Dua lelaki itu membawa sepeda motor dan dua lagi menggiring Dendi untuk berjalan ke jalan raya.
Warga sekitar hanya bisa memandangi Dendi diperlakukan demikian. Melihat benda yang tadi ditunjukkan, warga langsung menyimpulkan bahwa Dendi kasus narkoba.
Ternyata, di depan gang sudah menunggu sebuah mobil boks warna serba hitam. Dendi pun di naikkan ke dalam mobil boks yang dibuka pintu belakangnya. Di dalam boks itu ada beberapa orang berseragam militer warna hitam-hitam.
“Ini dia orang ganteng yang memperkosa di Lampung kabur ke Sukabumi,” ucap salah satu personel militer di dalam mobil sambil mencengkeram tengkuk Dendi.
Menyaksikan orang-orang itu, yang ada dipikiran Dendi adalah penyiksaan. Dia masih berharap untuk tidak dibunuh. (RH)
__ADS_1