
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
“Itu dua ratus juta, Pak,” kata Grandbo kepada kedua orangtua Vina yang masih dilanda keterkejutan.
“Apa ini?” tanya Suharja dengan nada yang meninggi.
Meski itu uang yang sangat banyak dan menjadi kebutuhan dasar manusia zaman sekarang, tetapi tidak membuat Suharja, istri dan adiknya tersenyum.
“Ini uang pengganti dari segala urusan yang seharusnya gua lakukan, tapi tidak gua lakukan. Gua tidak bicara lebih dulu ke Bapak, maka inilah gantinya. Di dalam mobil gua masih ada lima ratus juta. Kalau Bapak dan Ibu menerima lamaran gua sekarang ini, uang itu akan gua kasih ke Bapak. Dan, kalau Vina sudah ijab kabul sama gua di Jakarta, gua akan transfer ke rekening Bapak sebanyak dua miliar,” kata Grandbo.
Namun, pemuda itu segera menengok karena sudut pandangnya menangkap pergerakan seorang perempuan dari sisi garasi menuju ke luar halaman. Setelah memastikan bahwa perempuan itu bukanlah Vina, Grandbo kembali memandang kepada Suharja.
Perempuan itu adalah Junita yang bermaksud pergi memberi tahu Rudi.
“Bagaimana, Pak?” tanya Grandbo yang yakin bahwa Suharja akan tergiur. Dia menduga bahwa ekspresi Suharja hanyalah sikap jaga image.
Dengan tatapan yang tajam, Suharja menutup koper uang tersebut. Dia lalu memberikan koper di tangannya dengan agak kasar ke badan pemuda sombong di depannya.
Grandbo terkejut dan cepat menangkap bagian lain koper itu degan kedua tangannya.
“Bembe asu (kambing anjing)!” maki Suharja marah. Sambil menuding wajah pemuda di depannya, Suharja bertanya, “Apakah kamu lihat saya butuh duit? Apakah kamu lihat saya minta duit, hah? Bembe asu tidak tahu adat! Datang-datang menganggap saya dan keluarga saya pengemis dunia!”
Suara Suharja menggelegar marah, terdengar jelas oleh para tetangga. Ternyata kemarahan Suharja mengundang beberapa lelaki tetangga datang masuk ke halaman.
Melihat kemarahan Suharja dan berdatangannya beberapa tetangga sekitar, Grandbo segera menahan diri.
Para pengawal Grandbo segera mengambil posisi untuk melindungi majikannya agar tidak didekati oleh siapa pun. Dua sopir yang awalnya hanya duduk di belakang setir, segera ikut keluar dari mobil.
“Tenang, Pak. Jangan emosi seperti itu. Semua bisa diselesaikan dengan baik-baik,” kata Grandbo sambil tersenyum kecil, tetap bersikap enteng. Dia tidak peduli dengan warga yang datang mendekat karena ada para pengawalnya yang bertubuh besar-besar.
Suasana berubah tegang.
Sementara di dalam kamarnya, Vina sedang berusaha menelepon seseorang.
“Ayo dong angkat, Rudi!” desis Vina kesal karena sudah beberapa kali dia menelepon Rudi, tetapi tidak kunjung diangkat. Padahal berdasarkan nadanya, hp Rudi aktif, hanya tidak diangkat.
“Jadi, Bapak dan Ibu maunya bagaimana supaya gua bisa melamar Vina?” tanya Grandbo tenang.
“Murni, ambilkan golok saya di bawah ranjang!” Suharja justru memberi perintah kepada adiknya.
Terkejutlah Sunirah dan Murni, tetapi Murni segera menurut. Dia segera berlari kecil ke dalam rumah.
“Saya minta kalian pergi sekarang juga dari rumah saya!” teriak Suharja mengusir dengan wajah dan sepasang mata yang memerah. Dia banting rokoknya ke lantai halaman.
“Tenang dulu, Pak. Gua akan berikan uang dua ratus juta ini kalau gua diizinkan bicara dengan Vina,” tawar Grandbo.
“Enggak!” teriak Suharja membahana.
__ADS_1
“Hei! Kalau sudah diusir, sudah pergi sana. Jangan macam-macam di kampung orang!” teriak Zainuddin, salah satu tetangga Suharja sambil menunjuk-nunjuk Grandbo dari samping, tetapi dia juga didorong-dorong oleh salah satu pengawal.
“Hei! Elu jangan ikut campur!” bentak Grandbo yang balas menunjuk Zainuddin. Kemarahannya terpancing.
Dari dalam Murni muncul berlari dengan membawa sebilah golok panjang, lebih panjang dan berat dibanding samurai.
“Ini, Kak,” ucap Murni sambil memberikan golok yang diambilnya.
“Paaak! Jangan bacok orang!” teriak Sunirah histeris sambil memegangi lengan kanan suaminya dengan kuat.
“Pergi sekarang juga! Atau ada darah tumpah saat ini juga!” teriak Suharja mengancam.
Mendengar jeritan ibunya dan teriakan ayahnya, Vina segera berlari keluar dari kamarnya. Saat itu dia sudah berbaju kaos melapisi kaos kutangnya.
“Bapak, jangan!” teriak Vina histeris sambil berlari ikut memegangi lengan kanan bapaknya.
“Vinaaa!” teriak Grandbo dengan wajah sumringah yang tersenyum.
“Grandbo, saya minta kamu pergi dari sini. Kita sudah enggak ada hubungan apa-apa!” teriak Vina dengan wajah yang marah.
“Vina, elu tinggal bilang mau menikah sama gua, maka semuanya beres. Dalam sehari saja keluarga elu bisa jadi orang terkaya se-Lampung,” kata Grandbo, masih berusaha membujuk.
“Enggak. Saya tidak akan pernah mau punya pacar, apalagi suami orang kayak kamu. Pergilah. Jangan ganggu keluarga saya!” tegas Vina.
“Woi! Kalian sudah diusir! Pergi!” teriak Zainuddin yang juga sudah sangat kesal melihat lagak Grandbo. Setelah tadi hanya sekedar dorong-dorongan, dia kini menyerang keras pengawal yang sejak tadi menghalanginya.
Tap! Buk!
“Hukh!” keluh Zainuddin sambil terbungkuk memegangi perutnya.
“Jangan berantem! Berhenti!” teriak Sunirah histeris.
Bentrok antara pengawal dengan Zainuddin membuat empat lelaki lain tetangga Suharja jadi terpancing.
“Hei, Orang Kampung! Ambil golok-golokmu!” teriak salah satu tetangga kepada warga secara umum, tentunya kepada kaum lelakinya.
Maka ramailah warga berteriak-teriak. Ada yang berlari naik atau masuk ke rumahnya untuk mengambil senjata. Sementara warga wanita hanya bisa panik dan terkejut dengan perkembangan keadaan.
“Mati kamu!” teriak Suharja yang semakin terprovokasi oleh keadaan.
Suharja mendorong lengan kanannya dengan kuat ke belakang, membuat istri dan anaknya terdorong jatuh ke lantai. Pegangan mereka pada sang ayah juga lepas.
“Aaa …!” jerit Sunirah dan Vina melihat ayahnya mengayunkan golok panjangnya dari atas kepada Grandbo.
Buk!
Ternyata, Grandbo adalah orang yang terbiasa menghadapi situasi berbahaya seperti itu. Terbukti bahwa dia bisa dengan cepat melesatkan tendangan ke perut gendut Suharja sebelum golok mengayun turun.
Bdagk!
__ADS_1
“Akk!” erang Suharja yang terjengkang keras ke lantai teras.
“Paaak!” jerit Sunirah dan Vina lagi melihat Suharja jatuh keras.
Pada saat itu juga, para lelaki yang sudah di halaman itu bergerak menyerang para pengawal dengan tangan kosong, karena para lelaki yang bersenjata masih dalam proses berlari datang.
Para pengawal yang terlatih melawan para lelaki desa yang berbekal emosi dan otot. Itulah yang terjadi saat itu. Para pengawal itu dengan mudah menjatuhkan para lelaki setempat dengan tangan kosong.
Ketika ada enam lelaki datang masuk ke halaman dengan golok di tangan masing-masing, tiba-tiba ….
Dor!
“Aaak!” jerit serentak sebagian besar orang, terutama kaum perempuan saat tiba-tiba ada ledakan keras di udara.
Ledakan dari sebuah pistol itu terdengar sampai ke luar kampung. Bahkan Rudi yang sedang mengajar mengaji dan semua orang yang ada di rumahnya, mendengar suara yang mereka tidak bisa pastikan apa itu. Namun, Rudi tetap memilih melanjutkan kegiatan mengajarnya. Jangan sampai hanya karena ledakan ban truk dari jalan raya membuat pengajiannya bubar.
Junita yang baru saja keluar dari halaman rumah Rudi, segera berlari untuk kembali ke rumah Vina.
Sebagian orang bahkan turun merunduk, termasuk para lelaki yang berlari datang membawa golok dan badik.
Alangkah terkejutnya Suharja dan semua orang. Tamu desa yang tidak diundang itu ternyata memiliki senjata api.
Dery yang melakukan penembakan di udara itu segera kembali menyembunyikan pistolnya di balik jasnya.
Semakin ramai halaman dan depan rumah Suharja oleh warga yang berkerumun ingin melihat dan tahu apa yang sedang terjadi. Terlebih sudah ada suara tembakan.
“Tenaaang! Tenaaang!” teriak Pak RT Jaruddin yang datang dengan berjalan cepat.
Suharja dan kedua wanitanya sudah berdiri kembali. Suharja masih menggenggam kuat golok panjangnya dengan wajah yang begitu marah. Para wanita keluarga itu dilanda ketakutan.
“Baik, gua akan pergi!” teriak Grandbo lantang kepada semua orang, tanpa mempedulikan Pak RT yang mendekat.
Sementara Pak RW yang jarang muncul, memilih memantau dari belakang keramaian.
“Biarkan gua pergi. Tapi kalau ada yang sampai menyerang lagi, jangan salahkan kalau ada yang ditembak!” teriak Grandbo keras.
Grandbo menatap Vina dengan tajam sejenak, lalu berujung dengan senyuman setan. Senyuman itu membuat jantung Vina terhentak kaget, membuatnya lemas. Seolah-olah itu senyuman yang memberi pesan tersembunyi.
Grandbo berbalik dan memberikan koper uang di tangannya kepada Beny. Pengawal yang lain segera membukakan pintu untuk Grandbo. Pengawal lain tetap waspada dengan satu tangan menyelinap ke balik jas pada bagian pinggang, seolah-olah mereka memegang pistol tapi tidak mau ditampakkan. Para pengawal itu mewaspadai kamera ponsel yang kini di mana-mana selalu ada orang yang merekam.
“Jangan menyerang! Biarkan mereka pergi!” teriak Pak RT.
Semua lelaki berkacamata itu akhirnya sudah masuk ke dalam mobilnya.
“Beri jalan! Beri jalan!” teriak Pak RT lagi demi mencegah terjadinya kerusuhan.
Warga yang berkerumun di pintu pagar segera bergeser membuka jalan. Jika tidak ada ancaman pistol, mungkin akan lain ceritanya.
Grandbo dan para pengawalnya akhirnya bisa keluar dari desa nelayan tersebut dengan selamat.
__ADS_1
Kejadian itu jelas menciptakan kehebohan baru di desa tersebut. Lagi-lagi terkait dengan Vina. (RH)