Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 49: Dua Hati yang Terluka


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Sore itu, Kulsum keluar dari kamar perawatan dengan perasaan terluka.


Memang, wajah cantik berhijab itu datar-datar saja, bahkan tersenyum ketika pamit kepada Rudi dan Bulan di dalam kamar. Namun, di dalam dadanya, Kulsum merasa sakit dan menangis.


Sepulang kuliah, Kulsum langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Rudi. Dia termasuk terlambat dalam menjenguk, karena sudah berlalu beberapa hari sejak Rudi masuk rumah sakit.


Ketika Kulsum datang, yang ada di dalam kamar tinggallah Rudi yang ditemani oleh Bulan. Tidak ada Kamsiah atau Aziz atau yang lainnya, karena mereka semua sudah pulang. Aziz mengantar Kamsiah pulang ke rumah sebentar. Sementara Sandro harus turun melaut. Kedua orangtua Bulan sudah pulang juga bersama Linda.


Saat Kulsum datang, Rudi sedang disuapi makan oleh Bulan.


“Saya sudah melamar Bulan, Kul. Bulan sekarang adalah tunangan saya,” kata Rudi kepada Kulsum, agar tidak ada fitnah di antara mereka.


“Oh. Alhamdulillah kalau begitu,” ucap Kulsum sembari tersenyum, meski pada saat yang bersamaan, hatinya seperti ditusuk-tusuk jarum santet. Sakit yang tidak berdarah.


Setelah basa-basi, Kulsum pun izin pamit. Tidak kuat rasanya jika lama-lama melihat kemesraan Rudi dan Bulan, meski hanya menyuapi Rudi, bukan suap-suapan atau sogok-sogokan.


Ketika sedang berjalan di koridor rumah sakit sisi luar, Kulsum berhenti karena melihat keberadaan seorang wanita yang sepertinya dia kenal. Wanita berpakaian kuning dan berjilbab kuning itu duduk di pinggiran lantai koridor dengan kepala ditelungkupkan pada kedua lututnya. Sementara ada seorang bocah perempuan berusia sepuluh tahun sedang menonton hp.


“Flexy!” panggil Kulsum yang seketika melupakan kesedihannya.


Panggilan itu membuat Flexy menengok dan Alexa yang duduk di dekatnya mengangkat kepala karena terkejut.


“Ummi!” sebut Flexy girang saat mengenali wanita yang memanggilnya. Ia segera menyalim tangan sang ustazah.


Sementara Alex terlihat seperti sedang menyeka air mata di wajahnya.


“Kenapa, Bu?” tanya Kulsum heran dari belakang.


“Eh, enggak apa-apa, Mi,” jawab Alexa lalu menengok pada Kulsum seraya tersenyum dipaksakan.


Namun, sangat jelas bahwa ada sisa tangisan di sepasang mata yang memerah.


“Ibu kalau ada masalah berat, bisa cerita ke saya,” ujar Kulsum sambil duduk di sisi Alexa. Dia meraih tangan Alexa dan memegangnya.


“Hati saya hancur, Mi. Ustaz Rudi sudah melamar Bulan sebagai calon istri. Padalah Ustaz Rudi adalah calon bapak barunya Flexy. Hiks!” ucap Alexa lalu ujung-ujungnya kembali menangis.


“Iya, Bu. Ustaz Rudi calon bapak baruku, kan?” sahut Flexy sambil menengok sebentar kepada ibunya, lalu fokus menonton hp lagi.


“Sabar. Mungkin memang belum jodoh. Kalau jodoh, insyaallah tidak akan ke mana,” kata Kulsum mencoba menghibur Alexa.


Tidak disangka, ternyata Kulsum memiliki teman senasib, sama-sama berduka oleh kabar gembira Rudi dan Bulan.


“Memangnya, selama ini tidak ada calon lain yang cocok buat Ibu?” tanya Kulsum.


“Di mata saya, lelaki bermasa depan dunia akhirat itu hanya Ustaz Rudi, Mi,” jawab Alexa.

__ADS_1


“Memang, cinta itu tidak bisa dipaksakan, Bu,” kata Kulsum yang terdengar lebih bisa menerima.


“Iya sih. Tapi kan … namanya juga usaha, Mi,” ucap Alexa sambil menyeka kembali air matanya.


Kulsum lalu memberikan tisu kepada Alexa.


“Sepertinya bakal tambah lama saya menduda,” ucap Alexa.


“Menjanda, Bu,” ralat Kulsum.


“Kalau menjanda kedengarannya enggak enak di perasaan. Menduda lebih halus, Mi,” kilah Alexa.


“Hihihi. Iya juga sih,” kata Kulsum yang tertawa karena Alexa masih bisa-bisanya bercanda padahal muknya sedang tergerus banjir bandang. “Pulang yuk! Kan sudah menjenguk Ustaz Rudi. Tambah sore loh.”


“Ummi saja duluan, saya sebentar lagi,” kata Alexa.


“Ya sudah. Jangan sedih lagi. Insyaallah nanti ada gantinya. Ikhlasin aja,” kata Kulsum.


“Iya, insyaallah saya ikhlas. Hanya sedih saja,” kata Alexa.


“Flexy, Ummi pulang duluan ya,” kata Kulsum kepada Flexy.


“Iya, Ummi,” ucap Flexy.


“Ayo salim sama Ummi!” suruh Alexa kepada putrinya.


Flexy pun menyalim tangan Kulsum.


“Wa ‘alaikum salam!” ucap ibu dan anak itu.


Kulsum pun beranjak meninggalkan ibu dan anak itu.


“Flexy, kita beli es krim dulu yuk, biar hati Ibu jadi manis lagi!” ajak Alexa.


“Ayuk!” jawab Flexy semangat.


Ibu dan anak itu lalu meninggalkan posisinya untuk menuju ke kedai es krim yang ada di seberang rumah sakit. Jadi, Alexa harus pergi ke parkiran dulu untuk mengambil sepeda motor. Dia datang ke rumah sakit memang mengendarai sepeda motor.


Ternyata menikmati es krim bersama si buah hati cukup ampuh untuk melembutkan hati agar bisa menerima kenyataan cinta yang pahit.


Setelah puas menjilat-jilat, mengemut-****, dan mencelemotkan bibir, ibu anak itu lalu memutuskan pulang sebelum benar-benar senja.


Dalam perjalanan pulang, tidak lupa Alexa mampir ke toko mainan untuk membelikan sang anak tersayang mainan, agar perjalanannya tidak pulang dengan tangan kosong.


Namun, ketika dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Alexa mendapat masalah, yakni sepeda motornya mendadak mati.


“Kok berhenti, Bu?” tanya Flexy.


“Ibu enggak berhenti, tetapi motornya yang berhenti,” jawab Alexa. Ia segera mendorong motornya ke pinggir agar tidak mengganggu pengendara lain.

__ADS_1


Dengan perasaan cemas, Alexa mencoba menyalakan sepeda motornya kembali dengan cara menstarternya, tetapi tidak kunjung menyala lagi.


“Coba turun dulu, Nak!” suruh sang ibu.


Flexy lalu turun dari sepeda motor. Alexa lalu menstandarduakan sepeda motornya agar ia bisa menyela kendaraan tersebut.


Alexa lalu mengengkol sepeda motornya, tetapi tidak kunjung ada niat baik dari si sepeda motor tersebut. Sampai kaki Alexa terasa lelah melakukan itu.


“Enggak bisa hidup ya, Bu? Kita nginep di jalanan?” tanya Flexy.


“Ayo. Ibu dorong saja cari bengkel. Flexy ikut jalan ya,” kata Alexa.


“Iya, Bu.”


Baru saja Alexa mendorong, sebuah sepeda motor jenis yang sama menepi tepat di depan jalan Alexa. Pengendara sepeda motor itu adalah seorang lelaki, tapi tidak jelas siapa.


“Bu Alexa!”


Namun, ketika lelaki itu menengok dan menyebut nama si wanita, Alexa segera mengenalinya.


“Abdussalam?” terka Alexa belum seratus persen yakin bahwa itu adalah kakak dari Kulsum.


“Kenapa, Bu?” tanya Abdussalam sambil turun dari sepeda motornya.


“Enggak tahu, Bang. Mendadak mati,” jawab Alexa. Dalam hati dia merasa senang, karena ada penolong. Urusan bisa menolong atau tidak, masalah belakangan.


“Sini saya coba dulu,” kata Abdussalam.


Pemuda berjaket hitam itu lalu mengambil alih pegangan pada sepeda motor Alexa. Ia mencoba sama halnya yang sebelumnya dilakukan oleh Alexa.


“Sayang, saya juga kurang begitu paham masalah motor,” kata Abdussalam. Memang, untuk urusan otomotif Abdussalam kurang minat, tetapi kalau urusan berkelahi, dia pasti jagonya karena dia guru silat.


“Terus bagaimana dong, Bang?” tanya Alexa.


“Begini saja, Bu. Bagaimana kalau Ibu dan Flexy pulang memakai motor saya. Biar saya yang bawa motor Ibu ke bengkel,” usul Abdussalam.


“Eh, jangan, Bang. Kalau bisa motor saya distut aja sampai bengkel yang masih buka,” kata Alexa.


“Ya sudah. Saya dorong dari belakang. Flexy ikut Om ya,” kata Abdussalam.


“Iya,” jawab Flexy.


Bahagia perasaan Alexa saat itu karena masalahnya menjadi lebih ringan, meski Abdussalam hanya bisa membantu stut, setidaknya keberadaan seorang lelaki bisa membuat perasaan lebih tenang.


Waktu yang menjelang magrib membuat banyak bengkel sudah tutup. Namun akhirnya, mereka menemukan sebuah bengkel yang hingga saat itu masih sibuk mengerjakan dua buah sepeda motor.


Abdussalam memutuskan untuk menemani Alexa hingga sepeda motor itu selesai diperbaiki. Bujang dan janda itupun mengisi waktu tunggu dengan banyak berbincang. Sementara Flexy tetap tenang dengan menonton ponsel.


Eh, ternyata punya ternyata, Alexa berinisiatif mengajak Abdussalam mampir makan tongseng karena memang waktu sudah malam. Ini adalah pertama kali keduanya makan bersama.

__ADS_1


Sebagai lelaki dan janda, keduanya happy-happy saja. (RH)


__ADS_2