Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 19: Kabar Duka Mengejutkan


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


Suara jeritan Kamsiah yang kencang di pagi yang masih hening, sampai terdengar hingga ke rumah-rumah tetangga. Encum Suparti dan suaminya adalah dua orang pertama yang datang ke rumah Daeng Tanri merespon suara jeritan yang mereka dengar.


“Assalamu ‘alaikum, Puang!” salam Haikal yang rumahnya bersebelahan di sisi kanan rumah Rudi.


Tidak ada yang menjawab salam itu. Pasangan suami bini itu melongokkan kepalanya di ambang pintu.


“Assalamu ‘alaikum!” salam Haikal lebih kencang. Bahkan jikapun tuan rumah tidur, pasti akan terbangun oleh kencangnya si salam.


Namun, hening.


Wiwin dan Paria yang berstatus ibu-ibu tetangga, datang menyusul. Mereka berdua juga tadi mendengar teriakan Kamsiah. Hanya Encum Suparti yang suaminya setia pada saat itu.


“Kenapa?” tanya Paria kepada Encum dan Haikal.


“Tidak tahu. Ini kita baru mau cari tahu,” kata Encum yang berusia empat puluhan tahun.


“Assalamu ‘alaikum!” salam kencang Haikal lagi. Intonasinya naik lagi satu oktaf.


Tidak kunjung ada jawaban juga.


“Kalau salam sampai tiga kali enggak dijawab, ya kita pulang,” kata Haikal setengah bercanda sambi balik badan.


“Eee, Mas. Siapa tahu Puang Haji sama Daeng kenapa-kenapa,” kata Encum sambil mencekal tangan suaminya. Dia rada kesal kepada lelaki Jawa itu. Padahal dia juga wanita Jawa.


“Biar saya yang masuk,” kata Paria yang terbilang lebih akrab dengan Kamsiah.


Paria lalu berjalan masuk dengan pelan-pelan. Sementara yang lain tetap berkumpul di pintu depan.


“Daeeeng! Puang Haji!” panggil Paria.


Untuk sampai ke ruang dalam di mana terdapat dua kamar lalu ruang makan dan dapur, Paria harus melewati gorden yang menjadi pintu pembatas.


“Daeeeng! Puaaang!” panggil Paria lagi sambil menyibak gorden secukupnya untuk melihat ke dalam.


Wanita berusia lima puluh tahun itu menjadi berdebar jantungnya. Dia tidak melihat ada orang.


Ketiga orang di pintu pun ikut tegang, tapi tidak saling berpegangan.


“Assalamu ‘alaikum!” teriak seorang lelaki tiba-tiba di belakang ketiga orang yang berdiri di pintu depan.


“Tongkol masku, tongkol masku berkilau! Eh, tongkol!” latah Encum rada-rada menyerempet.


“Inna lillahi!” pekik Wiwin terkejut pula.


Paria yang sedang tegang di dalam, juga terkejut lalu mengerenyit sakit hati saat mendengar suara tawa Tawwa, pemuda berjidat lebar berambut keriting.


“Tawwa sialan!” maki Haikal yang juga terkejut.


“Nih anak enggak pernah disuapin beras mentah ya!” omel Wiwin.

__ADS_1


“Hahaha! Lagi pada ngapain, mau ngintip Puang Haji ya?” tanya Tawwa dengan suara tawa yang keras. Maklum karyawan Daeng Tanri, dia sudah biasa ceplas-ceplos. Dia datang untuk mengambil mobil. Biasanya dia berangkat ke pelelangan bersama Daeng Tanri.


“Aaa!” jerit Paria tiba-tiba dari dalam dapur. Dia memang sudah masuk sampai ke dapur.


Jeritan tertahan itu terjadi sebagai reaksi karena melihat sesosok makhluk putih tergeletak di depan kamar mandi. Dia melihat Kamsiah yang tergeletak dalam kondisi masih mengenakan mukena lengkap warna serba putih.


Tawwa yang awalnya tertawa-tawa jadi terkejut pula bersama yang lain.


“Kenapa, Paria?!” tanya Wiwin kencang sambil duluan berlari masuk, yang diikuti oleh lainnya.


Mereka melihat Paria berdiri tegang sambil memandang ke arah kamar mandi.


“Itu!” jawab Paria pelan sambil menunjuk ke kamar mandi dengan wajahnya.


Ketika yang lainnya masuk semua ke dapur, mereka langsung memandang ke arah depan kamar mandi. Sosok putih yang seperti penampakan itu sedikit membuat mereka terkejut.


“Ya Allah, Paria! Itu Daeng Kamsiah pingsan, kenapa enggak langsung kamu tolongin,” kata Wiwin setengah mengomel.


“Saya menunggu bantuan,” kilah Paria.


“Daeng!” sebut Tawwa pula selaku orang yang sangat akrab dengan nyonya bosnya.


“Daeng! Daeng, bangun!” Wiwin menggoncang-goncakan bahu Kamsiah. Lalu kepadanya yang lain, “Ayo, ayo, bantu!”


Ketika Wiwin, Paria dan Tawwa menggotong tubuh Kamsiah yang terbilang kelas menengah, Encum Suparti iseng mendorong kamar mandi. Dia penasaran seperti apa bagusnya kamar mandi orang kaya semodel Daeng Tanri.


Namun, karena terganjal, Encum penasaran lagi dan melongokkan wajahnya masuk ke dalam. Wajahnya yang tergolong mungil menjengkelkan, bisa leluasa masuk dan melihat kondisi di dalam.


Jeritan histeris Encum mengejutkan rekan-rekan sesama tamu. Sampai-sampai Paria terlepas pegangannya dari tubuh Kamsiah yang sedang digotong menuju kamar. Hampir saja tubuh Kamsiah terjatuh.


Haikal yang juga terkejut bukan kepalang, melihat istrinya terduduk dengan wajah pucat pasih dan gemetar.


“Kenapa, Sayang?” tanya Haikal sambil cepat memeluk istri tersayangnya.


“Di di di …,” Ucap Encum gemetar sambil menunjuk ke pintu kamar mandi. Terlihat jelas tangan Encum gemetar.


“Kenapa, Mbak Encum?” tanya Tawwa yang muncul kembali duluan.


Melihat Encum ketakutan dan menunjuk ke pintu, Tawwa segera ke pintu dan memeriksa isi kamar mandi.


“Allahuakbar innalillahiii!” ucap Tawwa mode lambat tapi kencang dan berujung panjang.


Setelah melongokkan kepalanya ke dalam, Tawwa yang terlihat terkejut sungguhan kembali menarik kepalanya dan menutup pintu kamar mandi. Sejenak dia menarik napas untuk menenangkan perasaannya.


“Mas Haikal, bawa Mbak Encum ke luar. Puang Haji sepertinya sudah meninggal di dalam, kepalanya pecah,” ujar Tawwa dengan suara agak bergetar.


“Hah!” kejut Paria dan Wiwin yang sudah berada di dapur itu lagi.


“Tolong lapor Pak RT dan beri tahu Ustaz Barzanji!” kata Tawwa lagi.


Haikal menuntun istrinya keluar. Wiwin memilih menjaga Kamsiah dan sibuk mencari minyak kayu putih. Sementara Paria pergi untuk memberi tahu Pak RT.

__ADS_1


Seiring itu, beberapa tetangga lain datang karena mereka tadi mendengar jeritan Encum yang kencang. Suasana berubah ramai oleh pertanyaan dari mereka yang datang belakangan dan jawaban dari mereka yang menjadi saksi pertama.


Berita via bibir pun menjalar cepat. Beberapa warga lelaki bersama Tawwa segera memeriksa kondisi Daeng Tanri di dalam kamar mandi. Kesimpulannya ….


“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, saudara kita yang tercinta, Haji Daeng Tanri bin Lamane ….”


Setelah dipastikan bahwa Daeng Tanri telah wafat, maka kabar duka itupun segera diumumkan di Masjid Al-Fatah.


Maka terkejutlah warga desa nelayan itu, terutama bagi kerabat dekat. Haji Suharja bahkan tidak percaya. Pasalnya, Daeng Tanri orang sehat yang tidak menunjukkan gejala sakit apa-apa. Tadi salat subuh bareng kok. Sampai-sampai Suharja keluar untuk bertanya lagi kepada orang.


Orang-orang yang tadi salat subuh bersama di masjid juga lebih terkejut. Sebab baru beberapa menit yang lalu mereka beribadah bersama, kenapa tiba-tiba “inna lillahi”?


Setelah pasti dengan kabar duka tersebut, Suharja bersama istri segera pergi ke rumah duka. Sambil berjalan, Suharja menelepon Ambo Dalle agar mengurus usaha di pelelangan.


“Kamu urus semua dulu di lelang. Saya enggak ke lelang pagi ini, saya di rumah Puang Haji Daeng,” kata Suharja bak seorang komandan besar.


Suara tangis dari kerabat dekat mulai terdengar di rumah duka.


Setelah mengetahui semua kondisi, yaitu Daeng Tanri yang wafat karena terjatuh keras di kamar mandi, istrinya yang tidak kunjung sadar dari pingsannya, dan Rudi yang tidak terlihat bola matanya, maka hebohlah seluruh warga desa nelayan dengan kabar yang merembet sangat cepat seperti api memeluki bensin.


“Di mana Rudi? Di mana Rudi?” tanya Suharja dengan sedikit berteriak kepada kerabat dekat yang sudah berkumpul.


“Sedang disusul sama Aziz dan Sandro ke Londo Cafe,” jawab ibunya Aziz.


“Astaghfirullaaah!” teriak Suharja begitu kesal mengetahui hal itu. Wajahnya berubah gusar.


Suara keras Suharja jelas menarik perhatian orang-orang yang mulai ramai di rumah duka itu, baik mereka yang sibuk mengurus jenazah, segala persiapan atau yang sekedar datang lalu duduk berkumpul dalam rangka melayat.


Meski tidak memiliki ikatan persaudaraan dari darah, tetapi Suharja dengan keluarga Daeng Tanri sudah sangat dekat. Itu terjadi sejak Rudi dan Vina menjalin hubungan pacaran.


“Sabar, Ji,” ucap Haji Daeng Marakka, kakak dari Kamsiah atau pamannya Rudi. Dia orang yang paling dekat memiliki tali persaudaraan dengan keluarga tersebut.


“Anak enggak tahu diri. Musibah besar kenai Puang Haji. Orangtua kena musibah, dia malah pergi mabuk,” gerutu Suharja.


“Iya, iya, sabar, Ji. Enggak enak didengar banyak orang,” kata Daeng Marakka lembut mencoba membujuk dan menenangkan tokoh yang terkenal gampang marah itu. “Lebih baik kita rundingkan baiknya bagaimana.”


Suharja memang bisa lebih meredakan emosinya.


“Tawwa! Coba tolong panggilkan Ayu anak Pak Ramli. Dia itu perawat di Rumah Sakit Kedaton!” teriak Daeng Marakka kepada Tawwa yang posisinya ada di halaman rumah sibuk mengatur kursi-kursi pelastik. Selain karena mereka kesulitan untuk mengatasi luka kepala pada jenazah Daeng Tanri, sampai saat ini Kamsiah pun belum bisa disadarkan dari pingsannya.


“Assiap, Ji!” sahut Tawwa lalu segera pergi meninggalkan pekerjaannya.


“Herman sudah ditelepon?” tanya Suharja, merujuk kepada putra sulung Daeng Tanri di kota lain.


“Sudah, Ji. Dalam perjalanan,” jawab Daeng Marakka yang sedang mengurusi jenazah besama Ustaz Barzanji di dapur.


“Adiknya Puang Haji yang di Jakarta juga sudah dikabari?” tanya Suharja lagi.


“InsyaAllah semua kerabat dekat yang ada di Jakarta, Kalimantan, Sulawesi sudah dikabari, Ji,” jelas Daeng Marakka yang usianya memang sedikit lebih muda dari Suharja. Posisi ketokohan pun lebih kuat Suharja.


“Coba telepon Aziz atau Sandro, sudah sampai di mana!” kata Ustaz Barzanji bersifat umum, maksudnya kepada siapa saja yang bisa menelepon kedua sahabat Rudi itu, sebab Rudi sendiri diketahui belum punya hp juga sejak berduka dengan cara loncat indah di laut. (RH)

__ADS_1


__ADS_2