Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 42: Daeng Ambo Upe


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


“Assalamu ‘alaikum!” salam Haji Suharja sambil menaiki rumah panggung tradisional yang semua unsurnya terbuat dari kayu pilihan, kecuali bagian atapnya yang terbuat dari seng.


Mungkin itulah rumah panggung tertinggi di desa nelayan ini. Jika Suharja berdiri di bawahnya, dia masih bisa meluruskan tangan ke atas untuk menyentuh langit-langit lantainya.


Karena melihat pintu rumah tersebut terbuka, maka Suharja langsung naik saja ke terasnya yang semodel balkon sederhana, yang biasa dipakai untuk duduk-duduk bersantai atau menerima tamu satu dua orang saja.


“Wa ‘alaikumussalam!” jawab seorang lelaki tua berambut putih gondrong sebahu sambil menengok ke belakang.


Lelaki berusia 67 tahun itu lebih tua dari Suharja. Dia yang saat itu hanya mengenakan kaos singlet putih, sedang duduk di kursi yang menghadap kepada sebuah televisi model tabung. Lelaki berbadan kurus itu sedang menonton acara Gosip Sip Asik yang tayang siang.


“Eh, masuk, Ji!” seru lelaki yang bernama Daeng Ambo Upe tersebut. Dia segera berdiri setelah mengenali siapa tamunya yang muncul di depan ambang pintu, menghalangi cahaya dari luar rumah.


Ketika Daeng Ambo berdiri, maka terlihatlah sejumlah asesoris pada tubuh berkulit hitam itu. Dia juga termasuk seorang nelayan veteran yang melautnya hanya sesekali saja. Bagang miliknya dipakaikan kepada orang lain yang nantinya akan berbagi hasil 70:30. Dia dapat 30 persen.


Daeng Ambo Upe mengenakan kalung tasbih warna putih yang jika gelap akan bercahaya seperti fosfor. Pada pergelangan tangan kanannya ada dua gelang akar bahar naga, yang satu warna hitam dan yang satu warna merah gelap. Ada lima cincin batu akik di jari tuanya yang berurat besar. Dua cincin hiasan di tangan kanan dan tiga cincin bertuah di tangan kiri.


Daeng Ambo Upe yang saat itu bersarung corak kotak-kotak merah, tidak langsung menyongsong tamunya, tapi mengambil baju kemeja besar hitamnya dan mengenakannya tanpa mengancing kancingnya.


Inilah pertama kali Suharja datang meminta tolong kepada Daeng Ambo Upe, yaitu ketika meminta tolong untuk berbuat sesuatu kepada Dendi Gunadi, yang telah menghilang bebas tanpa dihukum atas “perkosaan” terhadap Vina.


Singkat cerita.


Daeng Ambo Upe sudah duduk berhadapan dengan Suharja di lantai papan yang dilapisi karpet plastik di depan tv yang sudah padam. Pintu rumah dan jendela ditutup, hanya mengandalkan penerangan bohlam warna kuning 15 watt.


Di tengah-tengah kedua lelaki tua itu ada sebuah gentong tanah liat kecil setinggi perut-perut mereka, sehingga tidak perlu berdiri untuk melihat isinya. Isinya adalah air bercampur daun mawar dan melati saja, bukan tujuh rupa atau buruk rupa. Ada pula gayung batok kepala. Entah kepala siapa yang menjadi korban untuk dijadikan gayung.


Di sisi kiri gentong ada nampan kaleng yang di atasnya ada tungku kecil berarang panas yang membakar kemenyan, sehingga aromanya memenuhi seluruh ruang rumah, hingga ke dapur. Di sisi kanan gentong ada asbak yang sudah memiliki beberapa sisa puntung rokok. Juga tiga tumpuk kotak rokok, yang mana kotak paling atas baru saja dibuka. Sebatang rokok yang masih aktif menyala terjepit di antara jari manis dan kelingking Daeng Ambo Upe.


“Ada fotonya?” tanya Daeng Ambo Upe.


“Ada. Saya ambil dari PT Udang Garuda tempat dia kerja,” jawab Suharja sambil mengeluarkan selembar foto kecil dari saku bajunya.


Sebelumnya, Suharja sudah dibekali informasi oleh orang dekat agar membawa foto, rokok tiga bungkus, uang dan kepercayaan. Orang yang datang ke Daeng Ambo Upe wajib percaya penuh bahwa jalan gaib adalah senyata dunia nyata.


Daeng Ambo Upe menerima foto tersebut dan memandangi foto Dendi ukuran 4x6 di jarinya. Pada intro pertemuan tadi, Suharja sudah menceritakan permasalahannya.

__ADS_1


Bibir Daeng Ambo Upe komat kamit tanpa suara. Sepertinya dia suka keheningan. Buktinya, saat itu dia hanya sendirian di rumah. Istri dan anak lelaki bungsunya sedang berjualan di warung soto makassar yang buka di pinggir jalan raya.


Sebentar kemudian, foto Dendi Gunadi diletakkan di permukaan air gentong. Lelaki berkumis putih lalu mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, kemudian dicelupkan ke dalam air gentong tanpa melepasnya. Si rokok ditarik lagi keluar, tapi anehnya, rokok itu tidak basah. Rupanya Daeng Ambo Upe bisa main sulap.


Rokok yang sudah dicelupkan lalu diberikan kepada Suharja. Ayahnya Vina yang awalnya menduga bahwa rokok pasti basah, hanya terkejut di dalam hati. Sebab, jarinya pun tidak merasakan bahwa rokok tersebut basah. Tidak sedikit pun.


“Silakan diisap, Ji. Enggak usah dibakar,” kata Daeng Ambo Upe.


Dengan memendam kebingungan, Suharja menerima rokok tersebut.


“Bagaimana merokoknya kalau tidak dibakar?” tanya Suharja, tapi hanya di dalam hati. Meski badannya besar, tetapi dia tidak berani bertanya langsung, khawatir ada yang tersinggung.


“Rokok ini sebagai hadiah dari Haji ke jin yang saya kirim untuk mencari si Dendi ini. Anggaplah sebagai tanda terima kasih. Diisap saja, Ji,” kata Daeng Ambo Upe.


“Iya.”


Maka, Suharja pun mengisap rokok yang tidak dibakar itu. Suharja hanya bisa mendelik ketika dia mengisap pangkal rokok di jarinya, ujung rokok mendadak menyala membara merah. Terasa pula ada asap yang tersedot ke dalam mulut.


Daeng Ambo Upe tidak mempedulikan keheranan Suharja. Dia fokus mengaduk air dalam gentong dengan gayung batok kepala. Mulutnya komat kamit dengan tatapan tajam ke dalam gentong. Sebentar tangan kirinya mengambil kemenyan dan ditaburkan di atas bara api.


“Saya sudah terawang. Si Dendi ini sudah ada di luar Pulau Sumatera. Jadi, Haji bisa pulang dulu. Nanti malam saya kerjain ritualnya. Haji tunggu kabar saja dalam beberapa hari,” ujar Daeng Ambo Upe.


“Haji sudah bawa tiga bungkus rokok. Ada tiga paket harga. Paket pertama, harga satu bungkus rokok dikalikan seratus. Paket kedua, harga dua bungkus dikalikan seratus. Paket ketiga, harga tiga bungkus dikalikan seratus. Uang ini bukan untuk saya, tapi sebagai kendaraan dan sarana bagi jin yang saya utus. Semakin bagus kendaraannya, semakin bagus dan maksimal kerja jin yang saya utus. Saya sendiri hanya ambil rokok dan buat kopi saja pas lagi ritual tengah malam. Bagitu, Ji,” jelas Daeng Ambo Upe.


“Saya ambil paket tiga, Daeng,” kata Suharja.


“Baik. Nanti kalau sudah ada kabar tentang anak itu, kasih tahu saya,” pesan Daeng Ambo Upe.


“Iya, Daeng.”


Seperti itulah awal Suharja berurusan dengan Daeng Ambo Upe. Dia menempuh jalur itu atas saran dari Obba Gantra, adik Suharja dari lain ibu.


Ternyata benar kata Daeng Ambo Upe. Lima hari setelah kunjungannya, ada kabar rahasia dari seseorang.


“Assalamu ‘alaikum, Ji!” salam seorang pemuda yang datang ke rumah Suharja dengan mengendarai sepeda motor matic.


“Wa ‘alaikum salam!” jawab Suharja yang sedang santai bersama istrinya di teras rumah.


Suami istri itu kenal dengan si pemuda yang bernama Suardi, yang kerja sebagai penjaga loket di Stadion Rajabasa, tempat Ferdy Seraja biasa bertanding.

__ADS_1


“Ada apa, Sur?” tanya Suharja.


“Ada titipan foto dari seseorang, Ji,” ujar Suardi santun.


“Titipan foto?” sebut ulang Suharja tidak paham.


“Iya, Ji. Tapi mohon maaf, berdasarkan amanat, saya enggak boleh kasih tahu siapa orangnya,” kata Suardi lagi.


“Kok begitu?” tanya Suharja dengan wajah berkerut tebal.


“Tidak tahu, Ji. Saya hanya menjalankan amanat,” jawab pemuda itu tetap santun.


“Coba lihat, foto apa!” pinta Suharja.


Suardi lalu membuka dokumen gambar di dalam hp-nya dan menunjukkannya lima foto kepada Suharja dan Sunirah.


Ternyata, foto-foto itu menunjukkan keberadaan seorang pemuda yang berwajah bengkak biru-biru, bahkan bibirnya jontor dan pecah, sedang mendekam di dalam sebuah penjara.


“Ini foto siapa?” tanya Suharja tidak mengenali orang di dalam foto.


“Dendi yang pernah mengontrak di kontrakan Haji,” jawab Suardi.


“Oh!” pekik Suharja terkejut, tapi tidak lebay.


Suharja lalu membandingkan gambar di foto itu dengan wajah Dendi Gunadi yang masih sangat membekas di dalam ingatannya.


“Iya, ini Dendi,” ucap Suharja lirih sambil menengok memandang kepada istrinya. Lalu katanya cepat kepada istrinya, “Cepat ambil hp, biar fotonya dikirim ke nomor kita!”


“Iya,” jawab Sunirah, lalu berbalik pergi masuk ke rumah.


“Tapi ini di penjara mana?” tanya Suharja penasaran.


“Katanya di kota Jawa Barat. Tidak disebutkan nama kotanya. Hanya itu informasi pesannya, Ji,” jawab Suardi.


“Kamu enggak mau kasih tahu siapa yang suruh kamu?” desak Suharja.


“Enggak, Ji.”


Informasi rahasia itu membuat Suharja mengakui kehebatan Daeng Ambo Upe. Karena itulah, ketika terjadi kasus hilangnya Vina tiga tahun kemudian, Suharja kembali mengandalkan jasa Daeng Ambo Upe. (RH)

__ADS_1


__ADS_2