Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 45: Ultah Flexy


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


Keesokan harinya, Suharja yang didampingi oleh putranya Ferdy, pergi melapor ke kantor polisi setelah mendapat beberapa masukan dari Pak RW Haji Rustam dan Andu Marokko, Kepala Satlinmas.


Setelah melakukan tahapan klarifikasi bahwa Vina Seruni benar adalah putri dari Suharja Gendara, kemudian pihak kepolisian memberi nasihat kepada Suharja untuk memastikan bahwa pihak keluarga sudah melakukan pencarian ke lingkungan sekitar, ke kerabat dan teman-teman Vina.


Setelah dipastikan bahwa itu semua sudah dilakukan, barulah pihak kepolisian mengirim tim ke rumah Suharja untuk memeriksa tempat dan melakukan pertanyaan-pertanyaan kepada kerabat dan sejumlah saksi.


Kejadian sehari sebelumnya yang melibatkan orang dari Jakarta pun diceritakan.


Termasuk petunjuk dari Daeng Ambo Upe bahwa Vina sudah ada di luar Pulau Sumatera, tetapi jelas itu tidak bisa dijadikan petunjuk oleh kepolisian yang perlu bukti, bukan dugaan semata.


Maka untuk sementara, kasus itu ditangani oleh kepolisian dan keluarga diminta bersabar dan menunggu.


Jika Suharja masih bisa menahan kesedihan, maka tidak bagi Sunirah, sang ibu. Wanita kurus itu terus menangis pada momen-momen tertentu.


Di sisi lain, sesuai dengan undangan, Rudi menghadiri acara Ultah Candaria Flexy. Senin sore.


Hiasan balon dan pita warna-warni bukan hanya ada di bagian dalam rumah, tetapi juga di pintu gerbang pagar halaman.


Begitu meriah. Anak-anak hadir dengan mengenakan pakaian terbaiknya yang warna-warni juga. Mereka datang dengan membawa kado masing-masing, dari kado mungil sampai ada yang bawa kado boneka panda yang lebih besar dari Flexy.


Mereka semua sudah memakai topi ulang tahun berbentuk kerucut berbagai warna. Dari anak balita sampai anak yang selevel dengan Flexy, paling banter usia tiga tahun lebih tua. Banyak anak-anak perempuan yang sudah dilipstiki bibirnya, bukan pipinya.


Bukan hanya anak-anak yang mengenakan topi ultah, tetapi juga para orang dewasa yang menjadi pengantar anak-anaknya. Hanya Ustaz Rudi yang tidak memakai topi kerucut karena dia mengenakan peci khas orang Bugis. Jika pecinya dicopot, khawatir titel ustaznya juga ikut copot.


Acara diadakan di halaman rumah, di bawah tenda besar yang atapnya penuh hiasan dan dekorasi meriah nan mewah.


Acara dipandu oleh seorang MC perempuan. Selain itu, ada dua orang badut dan seorang pesulap sebagai juru hibur, ditambah seorang pemain organ tunggal sebagai pemusik.


Di luar dari kue tar ultah yang belum dibakar dan dipotong, sudah tersaji kue dan minuman di meja. Nanti beda lagi dengan paket makanan utama yang akan dibagikan saat acara selesai.


Saat itu, Candaria Flexy tampil begitu cantik seperti boneka. Topi kerucutnya lebih bagus dan mahal daripada yang dipakai oleh tamu undangan. Gaun ulang tahunnya yang berok mekar seperti kurungan ayam berwarna kuning yang berpadu warna putih bersih.


Namun, bukan kecantikan Flexy yang dikagumi oleh Rudi, melainkan kecantikan mamanya yang tampil lebih cantik dan lebih dewasa. Dia juga mengenakan busana Muslimah berwarna putih bersih yang dihiasi corak mawar warna kuning. Untuk urusan make-up di wajah, tidak perlu diragukan lagi, Alexa dirias oleh perias komersil. Jadi, ibu dan anak itu benar-benar seperti dua bagian dari belahan telur rebus yang masih hangat. Begitu cantik.


Ada angan-angan yang bermain petak umpet di dalam pikiran Rudi ketika memandangi kecantikan Alexa. Sosok janda muda itu sangat pantas menjadi patung hiasan di dalam kamar agar kecantikannya tidak ternodai oleh debu.

__ADS_1


Rudi Handrak hanya tersenyum kuda di dalam hati jika memikirkan kecantikan Alexa. Namun, tentunya dia harus menjaga lukisan wajahnya, jangan sampai tergambar kegenitan saat memandang kepada ibu dari seorang yatim itu.


“Selanjutnya acara tiup lilin dan potong kue ulang tahuuun!” teriak pembawa acara setelah melalui sejumlah acara sambutan dari tuan rumah, yakni nenek dan ibu.


Anak-anak sudah berdiri membentuk formasi setengah melingkar melingkari meja ulang tahun. Sang mama dan sang nenek sudah berdiri di sisi kanan Flexy yang sudah berhadapan dengan kue ulang tahun yang berwarna biru, cokelat dan putih. Lilin angka sebelas sudah memiliki api kecil. Cukup dua api saja, agar tidak kerepotan meniupnya.


“Ustaz Rudi, mari sini. Mendampingi sebagai guru ngajinya!” panggil Alexa kepada Rudi yang duduk spesial di kursi yang empuk.


“Eh, saya di sini saja, Bu,” tolak Rudi seraya tetap tersenyum.


“Enggak apa-apa, Ustaz. Biar terlihat lengkap ada lelakinya!” terlihat salah satu ibu tamu undangan.


“Iya, Ustaz. Biar fotonya tidak gersang!” sahut fotografer yang juga berasal dari desa nelayan itu.


“Mari sini, Ustaz!” panggil Alexa seraya tersenyum semanis madu, seolah-olah ada sarang lebah di wajahnya.


“Ayo, Pak Ustaz! Ayo, Pak Ustaz!” ucap MC-nya mengajak anak-anak ikut berkata sambil tepuk tangan satu-satu.


“Ayo, Pak Ustaz! Ayo, Pak Ustaz!” ucap semua anak-anak yang terprovokasi.


“Hahaha!” tawa Rudi lalu bangkit berdiri. Dia harus menurut, daripada acara bahagia itu berubah rusuh oleh teriakan anak-anak tersebut.


“Sebelum meniup lilinnya, Flexy jangan lupa berdoa dulu di dalam hati. Minta kepada Allah apa yang sangat Flexy inginkan saat ini,” kata MC. “Flexy sudah siap berdoa?”


“Sudah!” sahut Flexy semangat dan mantap, membuat semua orang dewasa tersenyum.


“Berdoaaa, mulai!” MC menuntun Flexy.


Flexy pun menadahkan kedua tangannya, tapi bibirnya diam saja. Sebentar kemudian, Flexy mengusapkan kedua tangannya ke wajah.


“Aamiin!” ucapnya polos.


“Flexy minta apa kepada Allah?” tanya Rudi iseng, agar dia sedikit terlihat memiliki peran, bukan hanya menunggu acara usai untuk baca doa.


“Minta ayah baru, Pak Ustaz,” jawab Flexy.


“Hahaha!” tawa sebagian besar orang dewasa yang hadir. Entah, apanya yang mereka anggap lucu.

__ADS_1


Namun, jawaban Flexy yang tanpa setting-an itu membuat haru ibu dan neneknya, sehingga mata mereka berkaca-kaca. Rudi pun tersentuh hatinya dengan senyuman yang tulus. Ia pun mengusap kepala Flexy dan mencium rambut kepalanya.


“Aamiin. Allah pasti mengabulkan doa Flexy,” ucap Rudi.


“Aamiin!” ucap banyak orang.


“Yuk kita nyanyi dulu. Selamaaat ulang tahun, kami ucapkan ….”


MC pun mulai memandu anak-anak bernyanyi dengan iringan musik dari organ.


“Tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga ….”


Fuuu!


Akhirnya Flexy meniup lilinnya yang disambut tepuk tangan meriah.


“Potong bebeknya, potong bebeknya!” pandu MC dengan sengaja berkelakar.


“Bukaaan!” protes anak-anak sambil menertawai MC yang disangkanya bersalah.


“Potong kuenya, potong kuenya!” Anak-anak bernyanyi dengan semangat.


Flexy pun dibimbing untuk memotong kue yang kue pertamanya diserahkan kepada sang ibunda tersayang. Kue kedua diberikan kepada nenek tersayang yang belum begitu tua. Kue ketiga ternyata diberikan kepada Rudi atas arahan sang ibu.


“Kuenya kasih ke calon ayah!” celetuk seorang tamu yang disusul oleh tawa rendah mereka.


Rudi hanya senyum-senyum karena dijodoh-jodohkan oleh masyarakat umum. Di sisi lain, kebahagiaan tidak terkira bagi Alexa. Sambil terus tersenyum, dia tidak bosan memandangi wajah Rudi. Yang dia sayangkan, tidak ada acara penyuapan kue dari ustaz kepada ibu anak yang ulang tahun.


Setelah melalui semua acara, akhirnya berujunglah acara tersebut. Giliran Ustaz Rudi yang membacakan doa penutup, yang tentu saja ada request agar Flexy dan ibunya didoakan secara khusus.


“Bekal-bekalnya saya bawa, tapi amplopnya tidak usah, Bu. Jangan sampai doa saya enggak diijabah karena tersandung amplop. Ini wujud kasih sayang saya kepada Flexy yang yatim,” ucap Rudi ketika dia hendak diberi aplop oleh Alexa.


Alexa pun jadi tidak enak hati jika memaksa.


“Baiklah jika begitu, Pak Ustaz. Mudah-mudahan Pak Ustaz mau sering-sering main ke mari untuk mendoakan Flexy,” kata Alexa.


“Oh iya. Hahaha! Insyaallah, insyaallah!” jawab Rudi penuh semangat sambil tertawa.

__ADS_1


“Kalau begitu, bingkisannya ditambah ya, Ustaz. Mungkin ada tetangga yang mau dibagi. Di sini sisanya banyak kok,” kata Alexa.


Alasan Alexa ternyata diterima akal dan hati Rudi. Meski dia menolak bayaran, tetapi dia pulang dengan bingkisan dua kali lipat. (RH)


__ADS_2