
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
“Kalau kamu mau rujuk sama Junita, kenapa kamu minta ditanyakan ke Linda?” tanya Rudi yang lebih cenderung mengomeli Sandro.
Sandro telah bercerita tentang kebingungannya buah dari keteledorannya karena tidak kuat menahan diri. Mungkin efek dari lama sendiri.
“Jadi bagaimana ini, Di, Pak Ustaz?’ tanya Sandro bingung. “Saya sudah terlanjur mengajak Junita rujuk.”
“Jika kamu tidak mau menyakiti salah satu dari keduanya, jalan terbaiknya adalah mengambil keduanya,” kata Ustaz Barzanji dengan maksud menggoda Sandro.
“Hahaha!” tawa Rudi dan kedua orangtua yang bersamanya.
“Hebat itu, Dro. Langsung sunnah Rasul itu,” kata Rudi.
“Hehehe!” tawa cengengesan Sandro.
“Tapi risikonya, justru dua hati itu akan tersakiti, karena keduanya pasti belum siap untuk diduakan apalagi di madu. Mungkin justru mereka siap untuk diracun,” kata Ustaz Barzanji lagi.
“Jadi bagaimana, Ustaz?” tanya Sandro lagi, dia jelas masih bingung. “Keburu azan isya ini.”
“Karena kamu sudah keluar lisan kepada mantan istrimu, lebih baik tunaikan apa yang sudah kamu ucap. Jangan sampai kamu membunuh hati Junita dua kali. Entah penilaian saya benar atau salah, menurut saya Junita itu lebih butuh kamu sebagai mantan suaminya. Apalagi kamu punya utang sama Junita yang mungkin belum kamu tunaikan,” kata Ustaz Barzanji.
“Apa itu, Ustaz?” tanya Sandro semakin serius.
“Sewaktu kalian menikah dan juga apa yang tertuang di dalam buku nikah, pastinya kamu berjanji akan mencintai dan membahagiakan Junita. Jika usia rumah tangga kalian hanya tiga hari, itu artinya janji itu belum tertunaikan. Junita adalah hati yang terluka, wanita yang cintanya hanyut oleh banjir prahara, dia butuh seorang pemimpin dan pelindung. Saya lihat Junita belum begitu dekat sama agama, sedangkan saya lihat kamu semakin baik agamamu, Dro. Lelaki seperti kamu yang dibutuhkan oleh Junita untuk bisa diajak lebih dekat kepada Allah,” kata Ustaz Barzanji.
“Iya, Dro. Kalau Linda kan sudah berhijab dan masih segar, enggak terlalu sulit buat dapat yang baru,” kata Rudi.
“Tapi, tetap saja nanti dia akan sakit hati dan jadi membenci saya,” kata Sandro tetap berat hati.
“Daripada bapaknya Junita adu golok sama kamu karena merasa dihina dua kali,” kata Rudi yang masih betah duduk di kursi roda. “Nanti saya telepon Bulan supaya bicara kepada Linda dan memberinya pengertian agar memaklumi posisi kamu.”
“Tapi harus berhasil loh, Di,” kata Sandro.
“Insyaallah. Namanya juga diusahakan. Kalau ternyata Linda jadi dendam sama kamu, ya rezeki kamu itu,” kata Rudi.
“Lebih baik kita salat isya dulu. Kamu berdoa dulu supaya semuanya Allah mudahkan, Dro,” ajak Ustaz Barzanji. Dia tahu bahwa sekitar lima menit lagi akan azan isya.
“Sebentar, Ustaz!” tahan Muttaqin.
Muttaqin buru-buru beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam.
“Badar, buat Ustaz mana?” tanya Muttaqin kepada Barada yang sedang duduk membantu ibu-ibu membuat penganan untuk besok pagi.
“Itu, Puang. Di meja ruang tamu,” jawab Barada menunjuk. Namun kemudian, dia memutuskan untuk bangun dan pergi ke ruang tamu dan mengambil satu kantong plastik di antara beberapa kantong plastik yang sudah diikat.
__ADS_1
Muttaqin kembali ke luar dan memberikan kantong plastik itu kepada Ustaz Barzanji.
“Sedikit ole-ole dari Jakarta, Ustaz,” kata Muttaqin.
“Sedikit tapi banyak ini,” kata Ustaz Barzanji sambil tertawa kecil. “Jazakallahu khairan, Ustaz. Semoga berkah.”
“Aamiin, Ustaz,” ucap Muttaqin.
“Abang Sandro katanya mau dua, sepasang? Mau dibawa sekarang atau nanti?” tanya Barada yang muncul di ambang pintu.
“Nanti saja, Badar. Habis salat nanti saya ambil,” jawab Sandro.
“Saya izin tidak salat, Ustaz,” jawab Muttaqin berseloroh.
“Oh iya. Haahaha!” ucap Ustaz Barzanji yang paham maksud Muttaqin karena sahabatnya itu dalam status musafir.
Maka pamitlah Ustaz Barzanji untuk pergi ke masjid sekaligus tidak kembali lagi, atau akan langsung pulang setelah salat isya nanti.
Sandro pergi ikut bersama Ustaz Barzanji.
“Hahaha!” Meledaklah tawa Barada ketika Rudi meceritakan kondisi hati Sandro.
“Allahuakbar allahuakbar!”
Suara alunan azan nan merdu terdengar.
Setelah Rudi berada di kamarnya, Barada kembali bergabung dengan ibu-ibu untuk membuat kue.
“Assalamu ‘alaikum, Sayang,” ucap Rudi di telepon, tentunya kepada Bulan, bukan kepada sayang yang lain.
Terkejutlah Bulan mendengar cerita dari Rudi tentang Sandro.
“Yaaah, bagaimana sih Abang Sandro? Kan kasihan Linda,” keluh Bulan kecewa.
Rudi pun harus menambah penjelasannya agar Bulan bisa mengerti kondisi hati yang dialami oleh Sandro. Tentunya ditambah penjelasan tentang sejumlah pertimbangan.
“Ya sudah kalau begitu, ya mau diapakan pula. Nanti saya akan bicara baik-baik kepada Linda. Mudah-mudahan dia enggak sakit hati,” kata Bulan di telepon.
Ternyata, untuk memberi penjelasan kepada Linda, Bulan memutuskan untuk datang langsung ke rumah Linda, padahal dia dilarang banyak pergi-pergi menjelang hari pernikahannya.
Namun, sebagai sahabat dekat plus atasan Linda di lingkup kerja, tidak sulit bagi Bulan untuk menjelaskan dan memberi pengertian kepada Linda.
Beruntungnya Sandro, Linda menjawab, “Tidak apa-apa kok, Lan. Mungkin memang bukan jodoh saya.”
Meski demikian, ada tetes air mata yang mengucur di wajah gadis berjilbab itu.
__ADS_1
“Jangan bilang ke Bang Sandro kalau saya sempat menangis, ya,” pesan Linda kepada Bulan.
Bulan hanya memberikan pelukan kepada sahabatnya itu cukup lama di dalam kamarnya.
“Seharusnya kamu enggak perlu ke sini, cukup panggil saya ke rumah kamu,” kata Linda lagi.
“Tapi, kamu tetap datang kan ke pernikahan saya?” tanya Bulan.
“Pastilah. Kamu jelas lebih berharga daripada menghindari Bang Sandro,” jawab Linda.
Di sisi lain, di Masjid Al-Fatah.
Aziz menaruh curiga saat melihat Sandro berdoa lama setelah salat, bahkan sampai menangis-nangis. Aziz serius memerhatikan dari teras masjid.
Setelah Sandro selesai berdoa, dia tambah salat sunnah dua rakaat. Aziz lebih dulu keluar bukan lantaran dia tidak salat sunnah, tetapi zikir, doa dan salat sunnahnya berlaku cepat secara wajar.
Maka, setelah Sandro benar-benar selesai dan keluar, bahkan nyaris menjadi jemaah terakhir yang keluar, Aziz segera menghadang seperti begal.
“Hei! Punya ritual apa kamu sekarang, Dro?” todong Aziz.
“Ritual apaan? Sudah enggak main saya yang begituan,” bantah Sandro agak sewot.
“Terus, kenapa wirid dan doa kamu lama sekali? Pakai nangis-nangis pula,” cecar Aziz.
“Aduh, masa saya harus cerita lagi. Lelah saya harus mengulang cerita lagi,” keluh Sandro.
“Langsung kesimpulannya saja, Dro. Langsung intinya saja,” desak Aziz.
“Saya tadi pergi menemui Juni dan sepakat mau rujuk,” tandas Sandro.
“Appa?!” pekik Aziz benar-benar terkejut.
“Biasa saja kagetnya, nanti masuk mic masjid!” hardik Sandro sambil menepak kepala Aziz.
“Kalau kamu mau rujuk sama Junita, terus Linda bagaimana?” tanya Aziz.
“Nah itulah bodohnya sahabatmu ini,” kata Sandro sambil merangkul bahu Aziz dengan tangan kanannya dan mengajaknya berjalan bersama.
Sandro pun mau tidak mau harus bercerita detail kepada Aziz yang berujung kepada mengorbankan Linda, tapi bukan untuk Hari Raya Idhul Adha.
“Jadi temani saya ke rumah Junita, ketemu bapak emaknya,” kata Sandro akhirnya.
“Tapi pakai uang bensin dan uang waktu,” kata Aziz memberi syarat. Dia mau tidak mau harus mendukung pilihan Sandro, sahabatnya itu.
“Perhitungan sekali kamu. Nanti lemak di badanmu tidak berkah,” kata Sandro.
__ADS_1
“Anggap saja uang pereda emosi. Sebab, sebenarnya saya emosi sama kamu, tega-teganya mempermainkan perasaan seorang perempuan,” kata Aziz. (RH)