
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Setelah acara mappassikarawa atau suami menyentuh istrinya untuk pertama kali, maka kedua pengantin dibopong ke pelaminan.
Bulan Adinda tidak diperkenankan berjalan kaki. Dia digendong oleh ayahnya dengan cara mendudukkan pengantin perempuan di bahu kanan.
Sementara Rudi harus dibopong oleh Muttaqin tanpa kursi roda dan diturunkan langsung di kursi pelaminan, bukan diturunkan di terminal.
Sebelumnya, kedua pengantin dan kedua keluarga sepakat memadukan baju adat dua suku. Rudi berbaju pengantin adat Bugis, sementara Bulan berbaju pengantin adat Lampung.
Maka mulailah pesta pernikahan berlangsung dengan tamu undangan mulai berdatangan dan petugas pesta pun mulai sibuk.
Sejak awal, tamu undangan yang sudah hadir sejak pagi menyaksikan akad nikah, maka langsung menyerbu prasmanan.
Uniknya pernikahan ini, bukan orkes dangdut atau organ ganda yang disuguhkan sebagai hiburan bagi tamu, tapi ceramah agama. Jadi ini pesta pernikahan suasana pengajian.
Selain mengundang dai beken tingkat provonsi, Rudi dan Bulan ternyata mengundang Ustaz Khairul Sohib yang dikenal dengan julukan Ustaz Bo Bo Ho, karena dia dai dari etnis China yang berperawakan gemuk dan suka memakai kacamata ala Bo Bo Ho jika tampil berceramah. Ustaz Bo Bo Ho adalah dai yang sedang populer di Indonesia.
Kabar jadwal ceramah Ustaz Bo Bo Ho yang sebelumnya telah tersebar, jelas mengundang banyak jemaah yang kemudian menjadi tamu undangan, padahal banyak dari mereka yang tidak kenal dengan kedua pengantin, tapi kenal dengan Ustaz Bo Bo Ho.
Memang, untuk bisa menghadirkan dai kondang itu, Rudi dan Bulan harus merogoh kocek yang lumayan besar, karena mereka request dadakan. Awalnya mereka punya lima dai kondang sebagai pilihan calon penceramah di acara pernikahan. Empat dai tidak tembus, tapi alhamdulillah dapat Ustaz Bo Bo Ho.
Kehadiran Ustaz Bo Bo Ho sungguh membuat suasana pesta meledak. Meledak dalam jumlah tamu dan meledak karena sering tertawa. Ustaz Bo Bo Ho memang punya tipikal serius tapi lucu di dalam siarnya.
Namun, ketika jatah panggung Ustaz Bo Bo Ho berakhir, maka para jemaah pengajian pernikahan itu segera menyusut tajam. Apesnya bagi yang punya hajat, makanan cepat terkuras habis, padahal masih siang.
Bagian konsumsi segera memutar otak untuk mengakali supaya prasmanan selalu terisi nasi dan lauk-pauknya. Sampai-sampai untuk menutupi kekosongan dan menunggu lauk-pauk baru sedang dimasak, mereka harus beli ke tiga rumah makan padang terdekat.
Selaku ustaz andalan di desa nelayan itu, Ustaz Barzanji juga mendapat jatah ceramah. Dia memang termasuk ustaz yang kucing podium. Namun tidak bagi Muttaqin, dia tidak pakar dalam berceramah.
Rupanya, selain sejumlah ceramah agama, hiburan lainnya juga adalah stand up comedy. Jangan heran kalau ada sejumlah tamu yang jadi tersedak makanan karena tertawa tiba-tiba di saat sedang mengunyah.
Bakda asar, ternyata ada pertunjukan marawis. Barulah setelah isya ditutup dengan ceramah kondang tingkat provinsi.
Pesta itu benar-benar berlangsung meriah. Banyak sekali tamu. Semua warga desa nelayan datang. Para pengusaha di pelelangan juga hadir.
Tamu-tamu kenalan Bulan Adinda dan kenalan orangtuanya yang punya nama banyak yang hadir. Sebagai seorang wanita karir yang memiliki perusahaan, tentunya Bulan memiliki banyak kenalan. Ia bahkan mengundang semua karyawan perusahaannya.
Ayahnya, Rozaq Ahmad, sebagai pejabat kabupaten jelas mengundang semua pejabat kenalannya. Istimewanya, pada sore hari, Pak Bupati datang membawa rombongan. Itulah hebatnya jadi pejabat kabupaten.
Justru, tamu undangan lebih banyak dari luar desa nelayan. Mereka kebanyakan keluarga besar dan saudara-saudara Bulan Adinda dan dari jalur pengantin perempuan.
Ujung-ujungnya, setelah acara pesta berakhir, keluarga pengantin dan para kru pesta mengalami kehabisan nasi dan lauk pauk. Ujung-ujungnya pesan ke restoran.
__ADS_1
Bagi pengantin itu tidak masalah. Usai acara resepsi berakhir, pasangan pengantin masuk ke kamar. Istirahat.
Sesekali orang-orang yang masih ramai di rumah tersebut mendengar si pengantin baru tertawa bahagia dan cekikikan di dalam kamar, seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal masih sore, maksdunya belum tengah malam.
Satu per satu tenaga bantu pulang ke rumah dengan membawa bingkisan dari restoran. Kerabat yang punya rumah dekat pun pulang satu demi satu. Aziz dan Sandro pun pulang untuk istirahat, mereka tidak ingin mengambil waktu malam pertama sahabatnya.
Herman Saddila dan keluarganya memilih tidur di rumah Haji Daeng Marakka, demi mengurangi populasi di rumah pengantin. Kamsiah dan Latifah tidur di kamarnya Rudi, karena kamar Kamsiah yang disulap menjadi kamar pengantin. Sementara Muttaqin tidur di ruang tamu bergelar karpet dan ber-AC kipas angin.
Sejak masuk ke kamar pengantin usai acara, Rudi Handrak langsung menghabisi istrinya dengan ciuman AK-45. Bulan yang kegelian sering tidak bisa menahan tawa cekikikannya, di saat rumah masih ramai oleh orang.
Adegan panas pun langsung terjadi, tapi masih sebatas cium, sentuh, pegang, dan remas.
Rudi bertekad, sebelum melakukan pemompaan, atau pencelupan, atau apa pun itu namanya, mereka harus mandi lebih dulu, lalu salat dua rakaat dengan Rudi menjadi imamnya, kemudian barulah eksekusi.
Ternyata, barulah jam satu malam Rudi dan Bulan selesai melaksanakan salat.
Karena masih malu-malu, Bulan memilih untuk main di balik selimut. Rudi sepakat. Saat itu, Bulan belum berani buto, di saat Rudi sudah berani buto tanpa menghitung tangan dan kaki kanan yang masih diperban.
“Jadi bagaimana, Daeng?” tanya Bulan yang sudah memanggil Rudi dengan sebutan “daeng”.
“Seperti tadi dulu, cumi-cumian dulu biar gairahnya panas,” jawab Rudi.
“Dari mana dulu ya?” ucap Bulan sok berpikir segala, bermaksud menggoda suaminya.
“Aaak!” sergapan tiba-tiba itu membuat Bulan memekik kaget, karena titik sensitifnya langsung diselipi jari dan disusupi lidah.
“Aaak!” jerit kencang Rudi tiba-tiba, karena reaksi kejut Bulan membuat kaki kanannya tersenggol keras.
Jeritan keras Rudi bahkan terdengar jelas oleh Kamsiah, Latifah dan Muttaqin yang sudah tertidur.
Kamsiah buru-buru bangun dan berlari kecil ke luar kamar. Latifah dan Muttaqin hanya menyimak dari tempat tidurnya.
“Di! Rudi! Kenapa kamu, Nak?” tanya Kamsiah sambil mengetuk pintu kamar pengantin. Mungkin Kamsiah takut jika Bulan ternyata berubah menjadi siluman ular dan menggigit Rudi.
Terkejutlah Rudi dan Bulan mendapat ketukan dari Kamsiah. Rudi memang sudah berhenti menjerit.
“Enggak apa-apa, Daeng. Cuma kakiku yang kesenggol sama Bulan!” sahut Rudi jujur.
“Oh. Kalau belum bisa dipakai, jangan dipaksain, Di. Nanti malah tambah sakit!” kata Kamsiah.
Mendeliklah Rudi dan Bulan mendengar pesan ibunya. Bulan sampai tertawa tanpa suara dengan membekap mulutnya.
“Iye, Daeng!” jawab Rudi.
“Jangan lupa baca doa kalau mau bertamu!” pesan Kamsiah lagi, seolah-olah yakin bahwa putranya baru mau “bertamu”.
__ADS_1
“Iye, Daeng!” jawab Rudi lagi.
“Jangan terlalu ribut kalau bertamu, malu sama Puangmu,” kata Kamsiah lagi, merujuk kepada Muttaqin yang juga dipanggil “puang” oleh Rudi.
“Iye, Daeng!” sahut Rudi lagi dengan sabar.
Namun setelah itu, suara Kamsiah menghilang. Sepertianya dia sudah kembali ke kamarnya.
Rudi menghempaskan napas masygul yang disambut tawa cekikikan oleh Bulan.
“Bertamu, apa maksudnya Daeng itu?” tanya Rudi kepada Bulan.
“Mungkin maksudnya Daeng itu, yang ini ....” Bulan tiba-tiba menggenggam Rudi kecil di balik selimut, membuat Rudi besar terkejut tapi suka. “Bertamu ke lubang kunciku. Hihihi!”
Bulan menggeser pantatnya sehingga kewanitaannya bisa menempel di Rudi kecil, tetapi saat itu Bulan masih pakai segitiga pengaman.
“Hahaha!” tawa Rudi lalu meraih leher belakang istrinya dan menariknya untuk menciumi bibir indah itu.
“Terus bagaimana, Daeng?” tanya Bulan lagi setelah saling kunyah bibir itu kelar. “Bisa, tidak?”
“Kamu yang di atas, pelan-pelan saja. Pokoknya pelan-pelan, jangan sampai nekan kaki kanan,” jawab Rudi.
“Diusahakan,” kata Bulan sambil tersenyum manis penuh godaan, tapi godaan istri, bukan godaan setan.
“Kalau bisa sampai keluar ya,” pinta Rudi.
“Iya,” jawab Bulan dengan senyum yang kian lebar.
Maka dimulailah prosesi sakral yang berstatus ibadah itu dengan penuh kehati-hatian. Tidak berapa lama kemudian.
“Ak!” jerit Rudi tiba-tiba yang membuat Bulan sontak berhenti bergerak.
“Kena kaki ya, Daeng?” tanya Bulan khawatir.
“Bukan. Enak, terusin, jangan berhenti,” kata Rudi seraya tersenyum.
“Ih, Daeng. Bikin kaget, tahu!” rutuk Bulan sembari merengut dan mencubit perut Rudi.
“Hahaha!” Rudi hanya tertawa kecil.
Namun, ibadah mengasikkan itu kembali dilanjutkan dengan penuh kelembutan rasa kasih dan cinta. (RH)
*********
Kunjungi karya paling baru Om Rudi, novel kolosal "Alma3 Ratu Siluman"
__ADS_1