
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Sepulang salat isya, Rudi memeriksa hp-nya. Ternyata, ada notice panggilan telepon dari nomor hp Vina. Rudi menghempaskan napas masygul, ada secuil sesal di dalam hatinya.
Rudi memutuskan untuk menelepon Vina Seruni.
Di dalam kamarnya, Vina menengok ke hp-nya yang berdering. Namun, ekspresi wajah dan tatapannya menunjukkan bahwa suasana hatinya sedang tidak asik. Dia memilih men-silent-kan nada deringnya, lalu mengabaikan hp-nya.
Panggilan telepon biasa itu Rudi lakukan sebanyak tiga kali. Namun, Vina tidak kunjung mengangkat, seolah-olah dia ingin balas dendam kepada Rudi.
Sekali lagi Rudi menghempaskan napas masygul. Ia lalu memutuskan mengirim pesan yang berbunyi, “Assalamu ‘alaikum.”
Namun, hingga semenit lamanya Rudi memantengi pesan yang bertanda dua check list tersebut, tidak kunjung berubah warna menjadi biru.
“Mungkin Vina sedang jauh dari hp-nya,” pikir Rudi.
Rudi menduga-duga bahwa Vina mungkin sedang urusan kakus atau masih sibuk dengan urusan kejadian tadi sore.
“Assalamu ‘alaikum, Bulan?” salam Rudi yang kemudian menelepon Bulan.
“Wa ‘alaikum salam, Bang Ustaz,” jawab suara lembut seorang wanita yang sepertinya sambil tersenyum bahagia.
“Kamu ketawa?” tanya Rudi curiga.
“Enggak, hanya tersenyum,” sangkal Bulan, walaupun senyum dan tawa adalah kakak adik satu ibu satu ayah.
“Hahaha!” Akhirnya Rudi tertawa pendek mendengar jawaban pengusaha muda itu.
“Ih, malah ketawa,” hardik Bulan, yang itupun pakai lembut tanpa melotot.
“Mau tanya ….”
“Siap jawab, Ustaz,” sahut Bulan cepat, membuat Rudi tersenyum-senyum, sama halnya dengan si gadis setelah itu, tapi tidak dipamerkan saja.
“Acara Ahad siang di sini besok jadi?” tanya Rudi.
“Jadi dong, Bang. Biar semuanya saya yang belanja di lelang pagi-pagi. Jadi, jam sembilanan itu kita sudah mulai masak-masak. Pokoknya Abang-Abang mah terima beres dan terima makan. Jadi, selain Ibu, di sana perempuan yang ikut siapa saja?”
“Insyaallah ada Kulsum dan istrinya Aziz,” jawab Rudi.
“Oke. Eh, saya bawa teman cewek satu ya. Namanya Linda,” izin Bulan.
__ADS_1
“Oh, enggak masalah,” kata Rudi.
“Di, ayo makan!” panggil Kamsiah dari luar kamar.
“Iye, Daeng,” jawab Rudi sambil menjauhkan ponsel dari wajahnya. Lalu katanya di hp, “Sudah dulu ya.”
“Iya,” jawab Bulan.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Rudi.
“Wa ‘alaikum salam,” jawab Bulan dengan senyum lebar lantaran bunga-bunga mawar di hatinya bermekaran dan menebarkan aroma harumnya.
Rudi mengirim pesan kabar ke nomor Kulsum tentang kepastian acara makan-makan besok bersama Bulan. Setelah itu, tanpa menunggu ada jawaban dari putri Ustaz Barzanji itu, Rudi mengecek sebentar pesannya kepada Vina, tetapi masih sama kondisinya.
Rudi kemudian meninggalkan ponselnya di kasur untuk memenuhi panggilan ibunya.
Rudi selalu makan malam bareng ibunya jika tidak ada urusan lain. Saat makan, mereka berbincang ringan tentang kejadian di rumah Haji Suharja, tentang Vina dan juga tentang minat Rudi kepada Bunga dan Kulsum. Entah kenapa tentang Alexa tidak masuk dalam list pembahasan.
“Mau tidur cepat, Daeng. Biar bangunnya enggak ngantuk,” kata Rudi setelah selesai makan.
Kamsiah paham maksud putranya.
“Jangan langsung tidur, tunggu nasinya sampai ke tujuan,” kata Kamsiah mengingatkan.
“Sudah berapa hari kamu enggak ke toko sepatumu?” tanya Kamsiah.
“Baru dua hari. Toko sepatu insyaallah tetap terpantau. Sudah percaya kita sama Indra dan Yenni,” kata Rudi.
“Walaupun saudara sendiri, tetap harus sering-sering dicek langsung. Namanya godaan setan itu tidak kenal saudara atau bukan, tidak kenal sudah percaya atau enggak,” kata Kamsiah.
“Iye, Daeng. InsyaAllah besok siangan habis acara makan-makan saya pergi kontrol,” kata Rudi, walaupun operasi dan penjualan di toko sepatunya tiap hari ada laporannya yang dikirimkan oleh Indra, sepupunya yang lebih muda darinya.
Setelah dijanjikan seperti itu, Kamsiah pun berhenti membahas tentang toko sepatu dan sandal milik Rudi yang bekerja sama dengan perusahaan sepatu milik Bulan.
Rudi pergi masuk ke kamar, sedangkan Kamsiah membereskan hasil akhir makan malam mereka.
Di kamar, Rudi mengecek ponselnya. Diceknya pesan yang dia kirim kepada Vina, ternyata dua tanda check list-nya sudah berwarna biru, menunjukkan bahwa pesan itu sudah dibuka dan dibaca. Namun, pesan itu tidak memiliki balasan.
Rudi segera menelepon nomor Vina melalui aplikasi chat tersebut. Namun, Rudi kembali dilanda kecewa karena tidak diangkat, meski statusnya bahwa panggilan itu masuk.
“Saya sudah niat, tapi apa hendak dikata. Ya Allah, lindungi Vina,” ucap Rudi di dalam hati.
Ia kemudian pergi duduk di kursinya dan meletakkan kedua tangannya di meja. Dia raih buku tebalnya.
__ADS_1
Setiap malam Rudi memang memiliki tugas menyalin pembukuan yang sudah ditulis, tetapi masih tidak rapi. Dia mewarisi kerja ayahnya.
Tidak sampai setengah jam, urusan pembukuan selesai. Rudi pun pergi berwudu sebelum tidur, bukan untuk salat, tetapi berwudu untuk tidur. Tidak mau kalah dengan anak didiknya, ia pun tidak lupa membaca doa tidur.
Untuk antiipasi bangun tengah malam, alarm pun disetel.
Dalam tidurnya, ternyata Rudi mimpi indah yang sebagian orang berilmu justru menganggap mimpi indah semacam itu dari setan.
Rudi tidak memimpikan Vina, atau Kulsum, ataupun Bulan. Mimpi itu adalah Rudi hadir di acara ulang tahun Flexy yang sudah dilaksanakan, tetapi tidak terlihat keberadaan ibunya, melainkan neneknya.
Dalam mimpi itu, Rudi tidak menjadi pembaca doa seperti yang diundangkan oleh Alexa, tetapi justru menjadi pemandu hiburnya karena badutnya tidak datang. Rudi mengajak anak-anak bernyanyi Bang Toyib, walaupun niatnya ingin lagu-lagu anak islami.
Perjalanan mimpi menunjukkan Rudi ingin membuat sirup buah naga di dapur, karena melihat anak-anak yang hadir dalam pesta ulang tahun Felxy itu semuanya minum sirup buah naga, sampai banyak yang bersendawa.
Namun, ketika Rudi masuk ke dapur rumah, dia justru masuk ke kamar Alexa dan melihat janda mungil itu sedang bertelekan di ranjangnya yang berwarna kuning putih-putih. Alexa terlihat begitu cantik dalam balutan pakaian pengantin berhijab. Senyumnya sudah semanis madu hitam.
“Suamiku,” sebut Alexa begitu lembut dengan kedipan mata yang begitu manja dan genit.
Betapa berbahagialah hati Rudi menyaksikan itu. Dalam mimpi itu dia bahkan teringat slogan “janda wajib diselamatkan”.
Rudi mendekati ranjang dengan penuh rasa bahagia. Saat itu, dia benar-benar jatuh cinta kepada Alexa.
Namuin, ketika Rudi menggapai tangan kanan Alexa yang terulur kepadanya, tiba-tiba tangan bercincin indah itu berubah warna menjadi ungu bersisik. Wujud Alexa bukan berubah menjadi putri duyung, tetapi menjadi siluman ular warna ungu dengan kepala tetap wajah Alexa yang begitu cantik.
Namun, Rudi tidak terkejut sedikit pun, seolah-olah skenarionya mengatakan bahwa Rudi sudah tahu Alexa adalah Dewi Ular Ungu. Maka itu, Rudi tidak menolak ketika naik ke atas ranjang.
Kotek kotek kotek …!
Itu bukan suara Rudi sedang wik wik dengan Dewi Ular Ungu, tetapi itu suara alarm yang berbunyi cepat dan membangunkan Rudi dari tidur dan mimpinya.
“Astaghfirullah! Astaghfirullah!” sebut Rudi ketika sadar bahwa dia telah bermimpi tidak karuan.
Memang mimpi itu terbilang indah, tetapi meresahkan bagi Rudi. Untung mimpinya tidak berujung basah.
“Ini mimpi indah atau mimpi setan?” tanya Rudi lirih kepada dirinya sendiri.
Rudi lalu berdoa.
“Allhumma ini a’udzubika min … min … min …. Min apaan ya? Aduh lupa. Masih banyak dosa rupanya saya, jadi gampang lupa,” ucap Rudi kepada dirinya sendiri.
Ia lalu bangun dan tidak lupa membaca doa bangun tidur. Urusan doa mimpi di-skip dulu. Besok pagi baru dicek ulang hafalannya.
Tekad untuk salat istikharah membuat Rudi bangun dengan setengah semangat. Dia ingin salat dengan kusyuk dan ingin menangis di hadapan Allah. (RH)
__ADS_1