Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 44: Tembakan Sandro


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Seusai salat zuhur, Sandro dan Aziz pulang ke rumah Rudi untuk makan siang enak. Kapan lagi mereka makan enak yang dilayani oleh ciwik-ciwik cantik, geratis pula.


“Haji Suharja tidak kelihatan salat di masjid, Di,” kata Sandro saat ketiga sahabat itu berjalan bersama menuju rumah Rudi.


“Mungkin salat di masjid lain. Kan lagi sibuk mencari Vina,” kata Rudi berbaik sangka.


Memang, ketika waktu zuhur tiba, Suharja masih sibuk pergi menyisir Kecamatan Kalianda. Saat itu dia belum ke rumah Daeng Ambo Upe. Suharja pergi ke rumah Daeng Ambo Upe sebelum waktu asar.


Jadi, hingga bakda zuhur itu, Rudi dan masyarakat belum tahu bahwa nantinya ada dugaan Vina berada di luar Pulau Sumatera.


“Kamu enggak merasa kehilangan Vina, Di?” tanya Aziz, ingin tahu perasaan sahabatnya itu.


“Saya sedih kalau sampai Vina kenapa-kenapa lagi. Tapi, saya hanya menduga, Vina itu pergi jalan kaki, tapi tidak ada yang tahu saja. Yaaa, saya juga doakan supaya Vina tidak apa-apa,” jawab Rudi.


“Kamu jangan mancing-mancing, Ziz. Kita lagi senang-senang mau makan bersama, jangan kamu rusak muk kita dengan pancingan kamu itu,” hardik Sandro.


“Apa itu muk?” tanya balik Aziz.


“Muuuk, selera makan,” tandas Sandro.


“Hahaha! Mood (muud) yang benar. Artinya suasana hati,” kata Rudi.


“Iya. Seperti itu saja dipermasalahkan,” kata Sandro menggerutu.


“Hei! Hahaha!” bentak Aziz kepada Sandro, tapi kemudian tertawa. Lalu katanya, “Kalau kamu salah sebut, mana mengerti orang sama ucapanmu. Coba kalau kamu salah sebut nama tongkol, hayo!”


“Kamu sudah gede, jangan suka ngomong jorok!” balas Sandro.


“Hahaha!” Mereka bertiga tertawa lepas.


Kegembiraan mereka terbawa hingga sampai ke rumah Rudi.


Ternyata di lantai ruang tengah sudah tersaji banyak hidangan, yakni nasi dan lauk pauk 4 sehat 6 sempurna. Satu sempurna tambahannya adalah wajah-wajah cantik para penyajinya. Makanan yang serba hangat membuat selera maka tambah tinggi.


Mereka semua duduk mengepung hidangan tersebut. Semua kebagian tempat. Para lelaki duduk satu blok, kaum wanita duduk di sisi lain.


“Ayo, Bang Ustaz! Insyaallah setelah makan, berat badan langsung bertambah beberapa kilo,” kata Bulan yang juga suka berseloroh.


“Hahaha!” tawa rendah Rudi dan yang lainnya.


Selaku tuan rumah, Rudi menyendok nasi lebih dulu ke piringnya.


“Tongkol bakar mau, Ustaz?” tawar Bulan kepada Rudi, karena memang tongkol bakar itu posisinya jauh dari jangkauan tangan Rudi. Bulan menawarkan sambil mengangkatkan piring wadah ikannya.


“Oh iya, boleh,” jawab Rudi seraya tersenyum.

__ADS_1


Layaknya seorang ibu rumah tangga, Bulan mengambilkan sepotong ikan tongkol bakar dan meletakkannya ke piring nasi Rudi yang diulurkan.


“Hahaha!” tawa Sandro tiba-tiba, seorang diri.


Tawa Sandro itu membuat yang lainnya heran, tidak ikut tertawa.


“Kenapa kamu tertawa mendadak begitu? Kayak orang kesurupan,” tanya Aziz.


“Saya ingat tantangan kamu tadi tentang menyebut nama tongkol. Hahaha!” jawab Sandro lalu tertawa.


“Hahaha!” Tertawalah Rudi dan Aziz pula.


Tinggallah kaum wanita yang hanya tersenyum dengan tatapan bertanya.


“Pasti pikirannya pada jorok,” terka Rasti, istri Aziz.


“Hahaha!” Semakin kencang Rudi dan dua sahabatnya tertawa, seolah-olah membenarkan dugaan itu.


Sandro kemudian tertawa sambil menunjuk istrinya Aziz.


“Beda buat yang sudah menikah, otaknya lebih peka kalau urusan itu. Hahaha!”


“Hahaha …!” maka meledaklah tawa kaum wanita dengan penjelasan Sandro tersebut.


Semua tidak bisa menahan tawanya, kecuali Aziz kecil. Maksudnya bayinya Aziz, bukan punya Aziz yang kecil.


“Iya, Bang Ustaz,” jawab Linda. Lalu katanya kepada Sanrdro, “Sini piringnya, Bang!”


“Oh, iya,” ucap Sandro seraya tersenyum lalu menyodorkan nasinya untuk diberikan sop.


Di saat Linda memberikan sayur sop pada nasi Sandro, Bulan juga dengan tanpa sungkan mengambilkan beberapa macam lauk ke piring di tangan Rudi, seolah-olah apa yang diberikannya kepada Rudi sudah menjadi lauk kesukaan pemuda alim itu. Dan Rudi sendiri tidak menolak sedikit pun lauk yang diberikan kepadanya.


Sambil menyendok nasi untuk dirinya, diam-diam Kulsum memerhatikan apa yang terjadi di depan matanya ketika yang lain tidak mempermasalahkan keanehan itu.


Setelah melayani kebutuhan lauk Rudi, Bulan ganti melayani Kamsiah. Kemudian dia yang terakhir melayani dirinya sendiri.


“Belum ada kabar tentang Vina, Di?” tanya Kamsiah tiba-tiba di tengah prosesi makan.


“Belum, Daeng. Semua sudah ikut mencari, tapi memang sangat penuh misteri. Kita serahkan saja kepada pihak berwenang,” jawab Rudi.


“Tapi ini enggak ada hubungannya dengan orang-orang yang dari Jakarta kemarin itu ya?” tanya Kulsum kepada umum.


“Bisa saja, karena hilangnya Vina setelah kedatangan orang itu. Bisa saja setelah kepergian orang kaya dari Jakarta itu, orang itu mengirim pesan kepada Vina yang memaksa Vina pergi dari rumah,” kata Aziz.


“Tapi sangat disayangkan, ujung-ujungnya ke guruku,” kata Sandro yang sudah tidak sejalan dengan Daeng Ambo Upe yang dia idolakan di masa jahiliyah.


“Coba kamu nasihati gurumu itu, kalau tidak mau tobat, jangan terima pasien,” kata Aziz.


“Mana berani saya. Bisa-bisa sebelum matahari terbit, mataku pindah ke kaki, lututku pindah ke jidad,” kata Sandro, yang membuat mereka tertawa rendah. “Hmm, enak sekali sambal manisnya.”

__ADS_1


“Itu ulekan Linda,” kata Kamsiah.


“Cie cieee, yang dapat penggemar sambal manis,” ucap Bulan menggoda sahabatnya itu.


Tersipu malulah Linda dengan senyum lebarnya, di saat yang lain menertawakan dalam suasana kekeluargaan.


“Hahaha!” Sandro hanya tertawa dengan godaan Bulan.


“Jangan goda-menggoda. Eh tahu-tahunya Linda sudah ada yang ikat,” celetuk Rasti.


“Yeee, menjatuhkan muk saja,” gerutu Sandro dengan lirikan yang asin.


“Mood (muud), bukan muk,” ralat Aziz.


“Iya, enggak usah dipermasalahkan,” kata Sandro karena Aziz bisa menjatuhkan pesonanya di depan Linda.


“Tenang saja, Linda mah steril dari tangan-tangan berkuman,” kata Bulan yang membuat lega dada Sandro dan membuat yang lainnya tertawa.


“Bulan, kan sudah lama ini. Kalau kamu dilamar sama Ustaz Rudi bagaimana?” tembak Sandro kepada Bulan.


“Uhhukr!”


Terkejut Bulan dan Rudi dengan pertanyaan Sandro yang tidak pakai acara permisi lebih dulu, karena pertanyaan itu menyangkut keduanya. Justru Aziz yang tersedak makanan, sehingga istrinya segera memberi air minum.


Selain Sandro sendiri, semuanya terkejut dengan pertanyaan frontal tersebut.


Bulan sendiri terpaksa tersenyum malu dan memerahlah wajahnya seperti merahnya jambu air.


Jika seandainya Sandro duduk di sisi Rudi, mungkin sudah disikut dia oleh Pak Ustaz. Namun, Rudi ganteng itupun tidak menunjukkan sikap oposisi.


Sementara Kulsum hanya tersenyum, meski ada rasa nyeri di balik dinding hatinya.


Di saat semuanya memandangi wajah Bulan yang jadi salah tingkah, tetapi berusaha terus tersenyum, Kamsiah pun berkata.


“Benar itu, Nak. Bagaimana kalau Rudi mau melamarmu?”


Maka fix, semua pun menunggu jawaban Bulan. Proses makan mereka sejenak terhenti.


“Saya punya bapak dan ibu di rumah,” jawab Bulan sambil tertunduk malu. Untuk menghilangkan ***********, dia memilih menyuap nasi ke mulutnya.


“Alhamdulillaaah!” pekik Sandro sangat bahagia, sampai-sampai dia mengangkat tangan kanannya dan memandang ke atas, seperti orang berdoa.


Yang lain pun jadi tersenyum, termasuk Kulsum yang saat itu merasa bahwa Rudi memang bukan jodohnya.


“Kenapa kamu yang senang banget?” tanya Aziz.


“Ini jawaban dari Allah. Di saat Vina menghilang tidak jelas rimbanya, Bulan justru membuka pintu hati. Hahahak! Saya senang banget hari ini!” jawab Sandro lalu tertawa gembira.


Setelah itu, Bulan jadi irit bicara. Meski hatinya begitu bahagia, tetapi dia juga memendam rasa malu, bahkan jadi tidak berani bercanda dengan Rudi untuk sisa waktu di hari itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2