Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 68: Operasi Penyergapan Pulau


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


Barada duduk di sebuah kursi bersandaran empuk yang jauh lebih tinggi dari kepalanya. Di atas meja kaca tebal yang besar dan luas di depan Barada itu ada lima monitor komputer yang berderet melengkung.


Di dua monitor ada gambar wajah orang yang hidup. Satu gambar wajah cantik Nita Talia selaku Komandan Badak Cula Emas, satu gambar lagi seorang lelaki separuh baya. Leher dan bahu kekarnya masih tertangkap kamera. Dibocorkan saja, dia adalah Baskoro Rudyantoro, nama sandinya Harimau Gunung Batu. Dia Komandan Tim King Kong Merah.


Sementara tiga monitor yang lain berisi laporan hasil temuan Tim Badak Cula Emas.


Barada sendiri saat itu sedang mengenakan head set yang memiliki microfon.


“Harimau Gunung, siapkan orang-orangmu. Kirim pengintai terlebih dulu ke dekat Pulau Sebesi, setelah pasti, kirim tim penyergapan!” perintah Barada.


“Siap, Jenderal!” jawab Baskoro Rudyantoro sambil meletakkan tangan kanannya di sisi kening kanan.


“Ingat, orang-orang Biawak Perak adalah orang-orang pro,” kata Barada lagi.


“Siap. Itu bisa dilibas!” tandas Baskoro sesumbar.


“Mereka akan mengirim paket dua malam lagi, jangan sampai paket sampai ke Tanah Banten!” pesan Barada lagi. “Urusan perdagangan orang akan kita bongkar dan berantas lewat jalur Biawak Perak. Prioritas utama saat ini adalah menemukan dan membebaskan korban penculikan.”


“Siap, Jenderal!”


“Merpati Putih, tugas Tim Badak Cula Emas berakhir. Terima kasih atas kerja bagus kalian. Silakan liburan dan tunggu hadiah buat kalian!” kata Barada.


“Baik. Terima kasih, Jenderal!” ucap Nita Talia sambil menghormat.


Itulah pertemuan daring yang dilakukan oleh Barada kepada dua komandan tim di dalam Tentara Ilusi.


Seusai pertemuan daring dengan Jenderal Kilat alias Barada, Baskoro menekan sebuah tombol yang ada di atas meja kerjanya.


Iiiuuu ... iiiuuu ...!


Satu suara sirene tiba-tiba terdengar kencang. Suara sirene itu mengejutkan orang-orang berotot yang sedang melakukan berbagai aktivitas fitnes di tempat yang merupakan gym. Ruangan besar itu sarat dengan berbagai macam alat fitnes yang lengkap.

__ADS_1


Ada lebih dua puluh orang berotot yang datang mendekat ke ruang kantor Baskoro. Mereka semua berotot bagus, bahka ada yang terkesan ekstrem. Ternyata ada pula beberapa wanita yang hanya mengenakan tank top dua lapis dan juga basah oleh keringat.


Tanpa ada perintah lagi, mereka semua berdiri dalam barisan yang rapi dengan sikap siap sempurna di depan ruang kantor. Wajah mereka tegak dan pandangan lurus ke depan.


Baskoro sudah bangkit dari kursinya. Lelaki bertubuh besar berotot itu berjalan ke pintu dan keluar menemui pasukannya.


“King Kong Merah!” teriak Baskoro di depan pasukan itu.


“Gebuk, gebuk, ringkus!” teriak mereka kencang, serentak sambil menghentak-hentakkan kaki kanannya ke lantai.


“Tiga puluh menit berkumpul di ruangan briefing!” perintah Baskoro.


“Siap, Komandan!” teriak mereka serentak dan serius, seperti orang-orang yang bernar-benar takut salah.


“King Kong Imut, panggil semua anggota yang sedang ada di luar!” perintah Baskoro.


“Siap, Komandan!” pekik anggota wanita cantik bertubuh mungil yang punya nama sandi King Kong Imut. Wajah mungil berhidung mancung seperti gadis Asia agak ke selatan.       


Setelah mendapat arahan lengkap tapi singkat dan padat, pasukan yang bernama King Kong Merah itu segera bergerak dengan wilayah target operasi adalah Pulau Sebesi dan laut di sekitarnya.


Dalam hitungan jam, pada hari itu juga mereka pergi ke pantai, di mana divisi bagian kendaraan sudah menyiapkan beberapa speed boat hingga skoci karet. Mereka membawa persenjataan lengkap seperti pasukan khusus dengan pakaian hitam-hitam.


Untuk mendekatkan jarak sebelum penyergapan, Tim King Kong Merah yang dipimpin langsung oleh Baskoro Rudyantoro alias Harimau Gunung Batu itu membuat basis di Pulau Sebuku Kecil, itu jarak yang tidak begitu jauh dari Pulau Sebesi.


Langkah awalnya adalah mengirim dua agen pemantau yang menyamar sebagai pemancing. Agen itu datang mendekati Pulau Sebesi dengan perahu motor kayu biasa. Perahu itu tidak merapat ke pantai atau dermaga pulau, tetapi hanya bergerak mengelilingi pulau bergunung tersebut.


Saat mereka melihat sebuah bangunan batu di salah satu pinggir laut dan terlihat memiliki satu dua orang penjaga, perahu nelayan berhenti di spot yang berjarak sekitar 500 meter dari pantai.


Dari spot itu, kedua agen berpura-pura menurunkan pancing, tetapi secara diam-diam mereka mengeker untuk melihat dengan jelas suasana bangunan cukup besar itu. Ternyata kedua agen itu tidak memiliki bodi yang kekar-kekar seperti personel King Kong Merah, salah satunya bahkan berperut gendut alami.


Meski mereka menghadap membelakangi pulau, tetapi ternyata ada alat pengeker yang diselipkan di ketiak dan menghadap ke pulau. Sementara keduanya menonton gambar yang tampil di sebuah layar laptop.


Gambar yang terekam terlihat begitu dekat di tampilan monitor laptop yang dipayungi dari sinar matahari.

__ADS_1


“Benk! Ibenk!” panggil seorang lelaki berbadan besar yang sering melihat-lihat ke laut lepas.


Dari teras bangunan berpagar sepinggang itu datang berjalan orang yang bernama Ibenk, anak buah Grandbo yang memimpin urusan di pulau itu.


“Kenapa?” tanya Ibenk kepada rekannya.


“Ada pemancing di sana,” lapor penjaga itu, meski mereka sama-sama melihat keberadaan perahu motor tersebut.


“Usir saja. Kalau ngeyel, tembak!” perintah Ibenk.


Ya itulah. Pengawal itu kemudian keluar pagar dan pergi ke tanggul.


“Woooi!” teriak si penjaga kepada dua orang yang terlihat sedang memancing.


Singkat cerita, kedua agen itu memilih angkat tangan dan pergi dari spotnya, setelah si penjaga mengangkat senjata apinya.


“Gambar dan koordinat target sudah dikirim!” lapor agen yang menyamar menggunakan sebuah alat komunikasi berukuran kecil. Itu laporan ke Baskoro.


Maka, pada malam harinya, pasukan King Kong Merah melakukan penyergapan. Perahu-perahu mereka rapatkan agak jauh dari spot target, agar suara mesin perahu mereka tidak terdengar oleh target.


Dari tempat mereka turun di tempat yang gelap, pasukan itu pergi menyergap bangunan dari dua sisi.


Penyergapan pasukan bersenjata lengkap yang tiba-tiba, jelas membuat Ibenk dan kesepeuluh rekannya tidak bisa banyak melawan. Meski mereka juga dibekali senjata api dan keahlian dalam berkelahi, tetap saja mereka kalah model senjata dan keahlian bela diri. Bahkan besar otot pun kalah.


 Dor!


“Akk!” jerit Ibenk yang mencoba melawan dengan cara cow boy. Namun, kecepatan tangannya tidak seperti cow boy adu tembak. Dia dilumpuhkan dengan tembakan di dada.


Setelah melumpuhkan orang-orangnya Grandbo, Tim King Kong Merah kemudian menemukan sebanyak lima belas perempuan di beberapa kamar.


Kondisi kelima belas wanita muda itu mengenaskan, dalam kondisi semua terikat, bahkan sebagian dalam kondisi basah. Itu karena mereka pipis di celana lalu oleh anak buah Grandbo disemprot air selang.


Namun, ada yang lebih mengenaskan, lima wanita ditemukan dalan kondisi wajahnya rusak oleh luka sayatan. Salah satu wanita yang rusak wajahnya oleh sayatan benda tajam adalah Vina Seruni. (RH) 

__ADS_1


__ADS_2