
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Ternyata, tadarusan bakda magrib tidak hanya bertiga, tetapi berempat. Selain Rudi, Aziz dan Sandro, tentunya yang keempat bukan makhluk gaib, tetapi Kamsiah, ibu Rudi satu-satunya.
Malam ini Sandro tidak turun ke laut untuk mencari ikan. Itu ia lakukan hanya karena merasa penting membahas masalah sahabatnya itu terkait Vina. Sakit hati yang dia rasakan karena kawin dengan kucing di dalam karung, sangat dia jaga agar sahabatnya itu tidak juga merasakan sakit seperti itu.
Setelah bertadarus selama setengah jam di waktu antara magrib dan isya, mereka lanjutkan dengan obrolan serius. Rudi sengaja mengajak ibunya untuk nimbrung karena dia pun nanti berencana bicara serius dengan ibunya terkait tawaran Haji Suharja. Maksud Rudi adalah sekalian saja.
Rudi pun terbuka kepada kedua sahabatnya. Memang, persahabatan mereka bertiga patut diacungi empat jempol. Karena begitu dekatnya, Aziz dan Sandro pun sudah menganggap Kamsiah sebagai sahabat keempat, jika tidak mau disebut sebagai anak ketiga dan keempatnya Kamsiah.
Jadi, dengan kedekatan itu, mereka berempat bisa bicara dengan terbuka, ringan, tanpa sungkan ceplas-ceplos atau blak-blakan.
“Saya sudah menduga bahwa undangan Haji Suharja adalah untuk menjerat kamu balikan dengan Vina, Di,” kata Sandro yang menjadi penentang paling serius jika terjadi CLBK antara Rudi dan Vina. “Sudah, lupakan Vina. Vina adalah masa lalu dan enggak usah tengok spion lagi. Masa depanmu ada di depan. Oke?”
“Orang yang datang tadi ke rumah Vina bukan orang sembarangan dan pastinya bukan orang baik. Meski Vina mengakunya sudah putus atau enggak punya hubungan lagi sama orang itu, tapi kita enggak tahu latar belakang permasalahan antara Vina sama orang itu. Pengawalnya saja bisa punya pistol. Mendingan kamu jaga jarak dari Vina. Kita enggak tahu dia bawa masalah apa dari Jakarta, seperti apa wataknya setelah tiga tahun di kota, dan saya setuju dengan kekhawatiran Sandro. Jangan sampai kamu kawin sama biawak di dalam karung,” kata Aziz pula.
Untuk sementara, Kamsiah hanya menyimak serius pertemuan delapan mata itu.
“Begini, Daeng. Dalam undangan makan siang tadi, Haji Suharia meminta saya agar mau melamar Vina. Yaaa, Haji Suharja mengaku bahwa dari sisi agama, Vina masih banyak kekurangan, tapi menjamin bahwa Vina bisa dibimbing menjadi dekat kepada agama. Nah, bagaimana pendapat Daeng?” ujar Rudi kepada ibunya.
Dengan raut wajah yang menunjukkan bahwa sedang berpikir serius, Kamsiah yang saat itu bermukena hijau muda agar terlihat lebih muda, terdiam sebentar.
“Dulu …,” ucap Kamsiah pelan, lalu terputus sebentar untuk sekedar menarik napas. Ini bukan banyak gaya, tapi memang perkara yang sedang dipertimbangkannya terasa berat. “Dulu memang kita orangtua sama-sama berharap kamu sama Vina bisa sampai menikah, karena selain sudah lama pacaran, juga sudah menjadi omongan oleh semua orang desa. Tapi sekarang kondisinya sudah berbeda dan cara pandang kita juga sudah lain. Sebagai anak yang pernah dekat dengan kamu dan almarhum puangmu juga, Vina memang kita sayang. Namun, selama belakangan ini kita buta tentang Vina ….”
“Iya, Daeng. Tiga tahun lho, Di. Dia menghilang seperti diculik siluman. Sekarang dia tiba-tiba muncul tanpa kita tahu bagaimana hidupnya di Jakarta, bergaul sama siapa, apa saja kerjanya. Bagaimana kalau ternyata pulang-pulang sudah menjadi siluman ular. Mampuslah kamu kalau sampai menikah sama dia,” kata Sandro berapi-api memotong kata-kata Kamsiah.
Sebutan “siluman” dan “siluman ular” membuat yang lainnya jadi tertawa kecil.
“Yang jadi pertimbangan saya itu bahwa saya selama lima tahun pernah pacaran sama Vina. Kalian berdua tahulah, seperti apa yang namanya anak muda enggak kenal kelakuan agama kalau sudah pacaran,” kata Rudi kepada kedua sahabatnya, yang kurang dipahami maksudnya oleh Kamsiah.
“Tapi sejauh itu masih aman kan segitigamu?” tanya Aziz.
__ADS_1
“Hahaha! Alhamdulillah masih aman,” jawab Rudi yang didahului oleh tawanya.
“Segitiga apa?” tanya Kamsiah yang punya rasa penasaran tinggi. Ia bertanya serius karena pada bagian ini dia seperti tertinggal pelajaran, terutama tentang tema “segitiga”.
“Segitiga itu maksudnya kolor, Daeng,” jawab Aziz.
“Apa maksudnya sama kolor Rudi?” tanya Kamsiah lagi, butuh penjelasan yang jelas.
“Takutnya dulu waktu Rudi dan Vina pacaran, segitiganya sama-sama jebol. Maksudnya, khawatir Rudi Vina sudah kebablasan buka keperawanannya waktu pacaran tanpa kita tahu,” jelas Aziz.
“Hah!” pekik Kamsiah setelah mengerti.
“Hahaha! Enggak, Daeng. Semua aman kok. Enggak sampai saya ambil perawannya anak orang,” sangkal Rudi setelah dengan tertawa dia merangkul bahu ibunya dengan satu tangan.
“Benaran kamu enggak hamili Vina?” tanya Kamsiah dengan mata mendelik dan melirik kepada putranya itu.
“Enggak. Demi Allah, Daeng. Pokoknya amanlah! Hahaha!” bantah Rudi sambil tertawa melihat reaksi ibunya.
“Iya, Daeng,” ucap Rudi pelan karena jadi ikut sedih. Dia lebih mengencangkan pelukan satu tangannya pada bahu ibunya, agar wanita separuh baya itu lebih tenang perasaannya.
“Jadi bagaimana keputusanmu tentang tawaran Haji Suharja?” tanya Aziz, mengingat waktu batas obrolan mereka sempit.
“Iya, Di. Jangan takut sama Haji Suharja, dia mah hanya banyak emosi. Dikit-dikit main golok. Kita takutnya itu, kalau kamu menikahi Vina, kamu nanti diadu sama orang Jakarta itu,” kata Sandro.
“Janganlah kalau justru menimbulkan masalah, Di,” ucap Kamsiah yang pastinya tidak mau jika putranya menghadapi masalah pertikaian.
“Daeng pilih mana, Kulsum atau Bulan untuk calon menantu?” tanya Aziz seraya tersenyum kepada Kamsiah.
“Atau Alexa?” tanya Sandro pula.
“Kenapa bawa-bawa Bu Alexa juga?” protes Rudi.
“Eh, omongan orang sudah matang di bibir tentang Bu Alexa yang suka sama kamu. Apalagi kamu tahulah, Bu Alexa itu janda dan punya anak kecil. Janda perlu diselamatkan. Menjadi bapaknya anak yatim itu mulia sekali. Seperti itu kata Ustaz Barzanji,” kata Sandro.
__ADS_1
“Hahaha!” tertawalah mereka bersama mendengar keantusiasan Sandro.
“Kamu kan duda, Dro. Cocok kali kalau kamu sama Bu Alexa,” timpal Aziz dengan logat sengaja agak disumaterautarakan.
“Ah, saya mau merasakan rasanya perawan,” tandas Sandro.
“Hahaha!” mereka kembali tertawa.
“Bagaimana, Daeng?” tanya Rudi kepada ibunya.
“Masa lalu sudah berlalu di belakang, hanya bisa menjadi cerita dan diambil hikmahnya. Jika kita bisa memungut cahaya di depan, untuk apa kita menarik gelap dari belakang kita,” jawab Kamsiah. “Keputusan ada di tanganmu, karena kamulah yang menjalani dan menikmati hidupmu. Cuma Daeng berharap, kamu enggak salah pertimbangan dan juga enggak salah ambil keputusan.”
“Iya, Daeng. Nanti saya mau minta petunjuk lewat salat istikharah dulu,” kata Rudi.
“Sebenarnya tidak perlu lewat salat lagi, Di. Sebab sudah jelas mana baiknya dan mana jeleknya,” sergah Sandro.
“Enggak bisa begitu juga, Kawan. Tetap harus bertanya kepada Allah, apalagi untuk urusan hidup di masa depan sampai tua, sampai mati pula. Otak dan mata kita ini terbatas. Siapa tahu ada perkara yang memang benar-benar tidak kita tahu sama sekali dan membuat analisa kita salah total,” kata Rudi.
“Saya curiga kamu masih punya harapan ke Vina. Mungkin ada sepuluh persen harapan di hatimu bahwa Allah akan mengarahkan kamu ke Vina,” tukas Aziz.
“Hahaha!” Rudi malah tertawa. Lalu katanya, “Jadi kayak Sandro kamu, Ziz.”
“Memang kenapa saya?” tanya Sandro mendelik.
“Allahuakbar allahuakbar!”
Akhirnya kumandang azan salat isya terdengar keras.
“Allahuakbar allahuakbar!” ucap Rudi, Aziz dan Sandro lirih, mengikuti kalimat azan yang terdengar.
“Besok siang kita makan-makan bareng di sini sama Bulan dan Kulsum. Ajak keluargamu, Ziz,” kata Rudi di sela-sela kalimat azan.
“Iya.” (RH)
__ADS_1