Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 38: Vina Disidang


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Tidak ada yang tahu tentang Grandbo yang baru saja memancing kemarahan Haji Suharja dan orang desa nelayan itu, kecuali Vina. Karena itulah, Vina wajib menjelaskan kepada keluarganya, otoritas setempat dan masyarakat yang diwakili oleh sejumlah tokoh.


Saat itu, ruang tamu rumah Suharja penuh oleh orang, bahkan sebagian duduk dan berdiri di teras untuk mendengar langsung penjelasan Vina.


Orang yang di dalam adalah Haji Suharja, Pak RW Haji Rustam, Pak RT Jaruddin, Haji Goli, Obba Gantra, Kepala Satlinmas Andu Marokko, dan seorang purnawirawan TNI berusia 70 tahun bernama Dodi Sudaka.


Sementara sejumlah warga membentuk kelompok-kelompok kecil di luar sana yang membicarakan ketegangan tadi yang nyaris saja terjadi pertumpahan darah.


“Grandbo itu anak pengusaha hotel dan restoran di Jakarta. Saya dan Grandbo memang pernah pacaran. Tapi saya langsung memilih putus setelah tahu bahwa dia suka main sama banyak perempuan. Dia orangnya kejam. Dia juga selingkuh sama sahabat saya di Jakarta, tapi kemudian sahabat saya itu dipukuli sampai masuk rumah sakit karena bikin dia marah. Sejak itu, saya enggak mau ketemu lagi sama Grandbo. Tapi seminggu lalu dia tiba-tiba datang ke rumah bibi dan melamar saya. Bibi Anti yang enggak begitu kenal sifatnya ya menerima, padahal waktu itu saya sudah kabur dari rumah Bibi ….”


“Tapi bibimu enggak pernah cerita di telepon kalau kamu kabur,” potong Suharja dengan ekspresi gusar.


“Saya enggak tahu kenapa Bibi enggak cerita ke Bapak,” kata Vina yang ceritanya dipotong. “Grandbo memang selalu dikawal sama dua orang pengawalnya. Tapi saya enggak pernah tahu kalau pengawalnya punya tembakan seperti itu. Saya enggak menyangka kalau dia sampai datang ke sini. Pikir saya, dia akan melepas saya jika saya menghilang dan dia akan mencari pacar baru, karena dia gampang buat dapat pacar.”


“Saya benar-benar dihina oleh bembe asu (kambing anjing) itu. Dikira sebagai orang yang banyak duit, dia bisa membayar semua urusan. Untuk sekedar mendapatkan izin saya, dia mau bayar saya dua ratus juta tanpa peduli saya setuju atau enggak sama hubungan Vina dengan dia. Anak gila!” kata Suharja masih terbawa emosi.


“Begini saja. Jelasnya kita semua tidak mau orang-orang itu datang lagi ke sini. Kita semua sudah kenal mobil dan ciri-cirinya. Jadi, jika dia datang lagi, segera laporkan ke Salinmas atau ke Pak Haji Rustam, atau ke RT,” kata Dodi Sudaka yang masih suka memakai celana corak ABRI walau bukan celana seragam tentara. Bahkan kadang-kadang baju koko dia pasangkan dengan celana loreng.


“Benar itu, Komandan,” kata Pak RW Haji Rustam. Memang, orang-orang suka menyebut sang purnawirawan itu dengan sebutan “Komandan”.


“Kalau dia datang lagi, kita bisa kerahkan semua lelaki desa ini!” kata Andu Marokko yang memiliki badan besar tapi rada gendut.


“Saya rasa dia tidak akan datang lagi. Kalau sampai datang, itu sama saja cari penyakit sendiri,” kata Dodi Sudaka.


Sunirah dan Murni datang membawakan banyak teh panas. Bukan hanya untuk mereka yang duduk di dalam ruang tamu, tapi juga untuk mereka yang ada di teras.


“Berarti kamu enggak mau ke Jakarta lagi, Vina?” tanya Suharja kepada putrinya.


“Tetap harus, Pak. Kalau perusahaanku terus saya tinggal, bisa kacau,” jawab Vina.


“Bagaimana kalau kamu bertemu dengan orang itu lagi?” tanya Suharja.

__ADS_1


“Nanti saya coba pikirkan bagaimana caranya,” jawab Vina lagi.


“Lebih baik cepat nikahkan saja Vina. Sama orang-orang dekat saja, enggak usah sama orang jauh. Memang bahaya kalau anak cantik dibiarkan bebas enggak ada ikatan, bukannya memberikan ketenangan bagi orangtua, tapi justru mendatangkan musibah,” kata Haji Goli selaku paman Suharja yang termasuk kakek bagi Vina juga.


“Iya, itu hari ini sudah saya pikirkan dan menunggu proses. Daeng Ambo Upe juga sudah menerawang masa depan Vina. Daeng Ambo Upe bilang, Vina harus dijodohkan dengan orang sekampung ….”


“Sekampung? Maksudnya satu kampung?” tanya RW Haji Rustam memotong kata-kata Suharja.


“Iya satu kampung, Pak RW. Tapi maksudnya, dinikahkan dengan lelaki yang tinggalnya sekampung sama keluarga Haji,” jelas RT Jaruddin dengan gestur merendah sebagai bawahan.


“Oooh. Hahaha!” tawa RW Haji Rustam yang agak lola otaknya.


“Hahaha!” tawa rendah sebagian orang, membuat suasana kian cair.


Di saat itu, makanan kue basah jenis puding juga harus keluar bersama piring-piring kecil. Beberapa bungkus rokok pun disuguhkan. Rokok menjadi salah satu menu utama bagi para lelaki di desa nelayan jika sedang kumpul-kumpul. Rata-rata mereka adalah perokok aktif yang kuat menghisap asap, meski tetap saja tidak kuat menghisap asap knalpot.


“Allahuakbar allahuakbar!”


Tiba-tiba suara azan magrib berkumandang. Namun, aktivitas di ruangan itu tetap berjalan. Piring-piring berisi puding terus diedarkan hingga ke teras. Lampu depan rumah pun sudah dinyalakan.


“Hahaha!” Sebagian orang mendukung tawa pemimpin lingkungan mereka.


“Kalau saya sudah mau mati. Saya takut, karena sudah tua sampai-sampai agar pun tidak bisa lewat di kerongkongan,” kata Haji Goli sambil bangkit dari kursi.


“Hahaha!” tawa beberapa orang.


Haji Goli yang berjalan terbungkuk tanpa tongkat, menerobos keramaian di teras.


Orang-orang pun segera bergeser memberi jalan.


Sementara yang lain, termasuk Suharja, bergeming. Hingga azan magrib pun usai, hanya Haji Goli dan tiga lelaki lain di teras yang pergi meninggalkan rumah tersebut.


“Pak, saya izin masuk mau salat,” izin Vina kepada ayahnya.


“Iya,” jawab Suharja seraya mengangguk.

__ADS_1


Vina pun beranjak meninggalkan kursinya dan masuk dengan perasaan sedikit lega, tapi hanya sedikit karena lebih banyak perasaannya masih menyimpan kekhawatiran mengenai Grandbo.


“Vin, kalau Grandbo sudah suka sama elu, elu enggak bakalan dilepas begitu saja. Dia lebih baik kehilangan banyak duit daripada enggak dapat incarannya,” kata Grice saat dijenguk oleh Vina di rumah sakit lebih sepekan yang lalu.


Grice adalah sahabat Vina yang diselingkuhi paksa oleh Grandbo. Orangnya memang cantik.


Dengan membawa kekalutan pikiran, Vina memasuki kamarnya. Ia pun masih memikirkan Rudi. Karena itulah, benda yang pertama diambilnya adalah hp.


Perasaannya sedikit gembira ketika melihat bahwa ada jejak panggilan nomor Rudi di hp-nya. Buru-buru Vina menelepon balik.


Tuuut tuuut …!


Namun, lagi-lagi hanya nada panggilan masuk tanpa diangkat, membuat perasaan Vina ingin menangis. Kemudian dia tersadar bahwa saat itu waktu salat.


“Oh iya, Rudi sedang salat magrib. Mungkin sehabis salat,” pikir Vina. “Saya harus salat juga. Ya Allah tolong saya dari Grandbo.”


Vina meletakkan hp-nya, lalu kembali keluar dari kamar untuk berwudu di belakang.


Di saat para lelaki masih sibuk berbincang-bincang di ruang tamu, Vina melaksanakan salat magrib di kamarnya bersama adiknya, Vivi. Sebelum magrib dia sudah pulang dari mengaji di rumah Rudi dan diamankan oleh bibinya yang bernama Marawe.


Meski lama tidak salat, bahkan gagal salat di waktu zuhur tadi, tapi kali ini Vina salat dengan sungguh-sungguh.


Namun, ketika usai salam, bukannya berdoa atau berzikir, hal pertama yang dia pikirkan adalah menelepon Rudi. Dia berharap Rudi sudah pulang dari salat.


Namun, hasilnya lagi-lagi sama seperti sebelumnya. Oke. Vina memilih menunggu beberapa menit lagi. Akhirnya, dia memilih menelepon sahabatnya yang di Jakarta untuk sekedar curhat, sambil menunggu Rudi kira-kira sudah pulang dari masjid.


“Iya, Grice. Dia datang bawa pengawal enam orang ke kampung saya. Hampir bacok-bacokan di sini. Grandbo selamatnya karena pengawalnya bawa senpi,” kata Vina di telepon dengan wajah yang tetap menunjukkan kecemasan.


“Sudah gua duga sih, Vin. Elu bakalan dikejar. Tapi elu enggak usah cemas begitu, elu kan ada di lingkungan keluarga elu. Pasti amanlah,” kata Grice di ujung sambungan telepon.


Setelah teleponan sekitar dua puluh menit dengan Grice, Vina kembali mencoba peruntungannya untuk menelepon Rudi. Namun, lagi-lagi hasilnya seperti itu. Rudi benar-benar menjengkelkan, seolah-olah sengaja menghindar dengan cara meninggalkan hp-nya.


Ingin rasanya Vina pergi ke rumah Rudi saat itu juga, tetapi ibunya sudah wanti-wanti agar dia jangan ke mana-mana, terlebih setelah kejadian tadi sore.


Dia akhirnya memilih menelepon Junita. Maka terkejutlah Vina ketika mendengar apa sikap Rudi dari bibir Junita. Ada rasa sakit di hatinya mendengar bahwa Rudi tidak mau ikut campur.

__ADS_1


Rasa sakit itu berujung dengan tangisan yang halus. Akhirnya dia pun tidak punya niat untuk bertemu Rudi malam itu, termasuk tidak mau menelepon lagi. (RH)


__ADS_2