Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 13: Ayah Penyabar


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Pak pak pak!


Pak pak pak!


Suara pukulan berulang-ulang pada daun pintu rumah itu, lama kelamaan membangunkan Kamsiah. Dilihatnya jam dinding, ternyata jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Ada sekelumit rasa takut yang melintas di pikiran dan hati Kamsiah.


Dia lalu merapikan rambutnya yang berantakan. Dia ikat dengan selingkar ikat rambut.


Pak pak pak!


Suara tepakan pada pintu itu membuat Kamsiah memutuskan membangunkan suaminya.


“Daeng, Daeng, bangun, Daeng!” kata Kamsiah sambil menepak-nepak halus lengan suaminya yang masih terlelap di sisinya. Meski sudah tua, mereka tetap setia satu ranjang.


“Hmm,” gumam Daeng Tanri tanpa membuka matanya.


“Bangun, Daeng. Ada yang pukul-pukul pintu rumah,” adu Kamsiah.


Kali ini perkataan Kamsiah membuat Daeng Tanri membuka mata.


Pak pak pak!


Suara tepakan pada daun pintu rumah itu terdengar kembali. Daeng Tanri juga mendengarnya. Daeng Tanri menengok jam di dinding.


“Itu Rudi yang pulang mabuk lagi,” ucap Daeng Tanri enteng.


Dia lalu bangun sambil membersihkan matanya dengan gosokan jari telunjuk.


“Bagaimana ini, Daeng? Rudi sudah seminggu lebih mabuk-mabukan terus,” kata Kamsiah sedih dan dengan cepat meneteskan air mata.


Daeng Tanri bergerak turun dari ranjang dan memperkuat balutan sarungnya di pinggang.


“Sabar-sabari dulu. Kita berdoa kepada Allah supaya Rudi ditolong. Daeng enggak mau juga mengurung anak kita itu seperti mengurung orang gila,” kata Daeng Tanri.


Daeng Tanri yang tidak berbaju lebih dulu berjalan ke pintu, istrinya segera menyusul. Mereka langsung menuju ke pintu depan.


Pak pak pak!


Kembali terdengar tiga kali tepakan pada daun pintu sisi luar.


Ketika pintu depan dibuka, pasangan suami istri itu melihat Rudi sedang tengkurap di tangga yang hanya memiliki lima undakan. Sementara kepalanya tenggelam seperti orang tidur, tangan kanan Rudi terulur bergerak menepak-nepak pintu. Namun, yang ditepak kini justru kaki ayahnya.


Tampak di halaman, sepeda motor Rudi terparkir. Bukan Rudi yang mengendarai sepeda motor biru itu pulang, tetapi biasanya Aziz. Kalau sepeda motornya tidak ada di saat Rudi pulang, kemungkinan sengaja ditinggal di Londo Cafe.


“Rudiii!” sebut Kamsiah yang menangis melihat kondisi anaknya yang mabuk berat.


Dengan gerakan yang lemah, Rudi menggerakkan kepalanya mendongak untuk melihat siapa yang menyebut nama kerennya.


“Hehehe! Eh, Vinoekh!”


Setelah cengengesan dan hendak menyebut nama Vina, Rudi justru muntah di tangga.


“Ayo, biar Puang bantu,” kata Daeng Tanri sambil mencekal lengan putranya.


“Eit, sebentar, Mas. Pendekar Mabuk mau muntah dul hoekh!” kata Rudi melantur yang diakhiri dengan muntahan lagi, membuat tangga tercemari.


Setelah itu, barulah Rudi dibantu untuk masuk ke dalam rumah.


Sambil menangis tanpa suara, Kamsiah bekerja membersihkan muntahan putranya di tangga.


Biasanya, Aziz yang menurunkan Rudi di depan rumah tanpa membangunkan orang rumah. Memang, jika Rudi tidak pulang, maka tinggallah Daeng Tanri dan Kamsiah yang ada di rumah. Putra sulung mereka yang bernama Herman Saddila sudah menikah dan tidak tinggal di daerah itu, tetapi di kabupaten lain bersama istri dan anaknya.


Di malam yang berbeda.

__ADS_1


“Setop setop setop!” teriak Rudi dengan aksen yang kental sebagai orang mabuk.


“Kita belum sampai, Pendekar Mabuk,” kata Aziz.


“Turun!” perintah Rudi sambil memukuli kepala belakang Aziz.


“Iya iya iya!” teriak Aziz kesal karena kepalanya dipukul seperti gendang.


Aziz lalu buru-buru membuka simpul ikatan tali pada badannya. Dengan demikian, Rudi bisa melepas diri darinya.


“Adduh!” aduh Rudi yang terjatuh dari atas jok motor. “Beraninya kamu, Sandro!”


“Saya Aziz, bukan Sandro!” ralat Aziz. Malam itu Aziz seaorang diri menjemput Rudi di Londo Cafe.


“Oooh! Aziz yang makannya kaya babi itu? Hahahak!” kata Rudi yang jadi ingat.


“Beeeh! Kalau bukan sahabat, sudah dari kemarin-kemarin saya buang kamu ke lubang belut!” gerutu Aziz.


“Eh! Memangnya kamu punya lubang belut, Sandro? Hahaha! Mana ada lelaki punya lubang belut. Hahaha! Beleng-beleng (bego-bego)! Hahaha!” ledek Rudi.


“Hahaha! Alemu labeleng (Dirimu si bodoh)!” balas Aziz yang jadi ikut tertawa. Dia mendorong jidat Rudi dengan jari tangannya.


“Hei!” teriak satu suara perempuan tiba-tiba.


Aziz lebih dulu menengok karena terkejut. Sementara Rudi bergerak pelan untuk melihat ke sumber suara yang ternyata berasal dari sebuah jendela rumah panggung. Mereka melihat seraut wajah perempuan separuh baya.


“Apakah kalian enggak lihat jam, hah?! Sudah jam dua malam! Kalau mau mabuk, pergi ke tengah laut sana, biar mati sekalian!” teriak ibu yang rumahnya paling dekat dengan posisi kedua pemuda itu.


“Eeh, Nenek Sisir!” teriak Rudi membalas sambil menunjuk ke jendela rumah. “Saya sisir kamu jadi Vina! Hahaha!”


Rudi kemudian memungut sebuah batu lalu dia lempar ke arah jendela rumah itu. Buru-buru perempuan itu menutup jendelanya. Dia takut kalau-kalau Rudi masih jago melempar meski sedang mabuk.


Tak!


Batu tidak terlempar jauh, tetapi jatuh di jalan itu juga.


Sambil tertawa-tawa yang menimbulkan kebisingan bagi warga terdekat yang sedang tidur, Rudi berjalan sempoyongan seperti orang mabuk.


“Rudi, mau ke mana kamu?” tanya Aziz sambil menyambar pergelangan tangan kiri Rudi.


“Jangan pegang-pegang Pendekar Mabuk, Babi Kaki Dua!” bentak Rudi tiba-tiba marah.


Deg!


Seperti hati yang dihantam palu petir, tidak seperti itu rasa sakit yang dirasakan oleh perasaan Aziz ketika sahabatnya menyebutnya “Babi Kaki Dua”, tetapi tetap sangat sakit.


“Tega sekali kamu sebut saya seperti itu, Sahabat,” ucap Aziz dengan mimik sedih, seolah-olah ingin menangis. Meski dia tahu bahwa Rudi sedang hilang akal, tetapi sebutan itu terlalu sakit baginya.


“Bodo buanget!” teriak Rudi sambil mendelik dengan mata merah kepada Aziz. Cahaya lampu depan rumah warga masih bisa memperlihatkan mata Rudi yang merah.


Sambil menahan rasa sakit di hati, Aziz memutuskan menaiki motornya dan kemudian pergi meninggalkan Rudi begitu saja.


“Pergilah kamu, Asu Calabai!” teriak Rudi sambil melempar batu ke arah kepergian Aziz. Namun, batunya lagi-lagi jatuh serong ke kanan dan mengenai tiang listrik.


Rudi melanjutkan perjalanannya sebagai Pendekar Mabuk yang tidak tahu jurus mabuk.


Rupanya, kesadaran Rudi masih ada yang tersisa di dalam kepalanya. Buktinya, dia berhenti di depan pintu pagar rumah Suharja.


Ckrak!


Sambil sempoyongan, Rudi mendorong pintu teralis itu. Ternyata terkunci oleh gembok besar.


Ckrak ckrak ckrak!


Akhirnya Rudi memainkan pintu pagar itu dengan mendorongnya berulang-ulang, menimbulkan suara berisik yang terdengar jelas di keheningan malam itu.


“Vina bencikuuu, saya rinduuu!” ucap Rudi. Meski tidak berteriak, tetapi suaranya terdengar jelas hingga ke dalam rumah Suharja dan rumah para tetangga.

__ADS_1


Ckrak ckrak ckrak!


“Vina bencikuuu, saya rinduuu!”


Suara berisik yang dibuat Rudi pada tengah malam itu membuat beberapa orang tetangga Haji Suharja keluar dan membuka jendela untuk melihat siapa yang membuat kebisingan. Setelah melihatnya, mereka hanya geleng-geleng kepala tanda perihatin.


Haji Suharja dan istrinya juga keluar ke teras rumah untuk melihat siapa yang mebuat bising. Satu wajah anak remaja lelaki juga muncul di jendela kamar. Dia adalah Ferdi Seraja, adik lelaki Vina yang saat itu berusia 15 tahun.


“Vina bencikuuu, saya rinduuu!” ucap Rudi.


“Ya Allah Rudi,” ucap Sunirah lirih. Dia sedih melihat kondisi Rudi seperti itu. Apalagi Rudi selalu menyebut nama Vina.


“Ambilkan kunci sama bajuku, biar saya bawa pulang ke rumahnya!” perintah Suharja kepada istrinya. Memang, saat itu Suharja hanya berkaos kutang. Kutang lelaki, bukan perempuan.


Sunirah segera masuk untuk mengambilkan baju. Tidak pakai L, Sunirah kembali keluar membawa baju kaos oblong.


Suharja segera mengenakannya. Saat itu dia hanya mengenakan celana boxer. Tidak lupa dia membawa kunci gembok pagar.


Namun, ketika Suharja berjalan menuju pintu pagar, dari ujung jalan muncul Daeng Tanri yang setengah berlari tanpa berbaju dan hanya bersarung saja.


Sekedar bocoran. Ketika meninggalkan Rudi, Aziz pergi ke rumah Daeng Tanri untuk memberi tahu posisi Rudi. Karena itulah, Daeng Tanri bergegas pergi mencari anaknya.


“Maafkan saya, Ji! Maafkan saya!” ucap Daeng Tanri setengah berteriak kepada Suharja dan warga lain yang menampakkan diri di rumah-rumahnya, padahal lelaki kurus itu belum berhenti berjalan.


“Vina bencikuuu, saya rinduuu!” celoteh Rudi yang tidak terpengaruh dengan kondisi di sekitarnya.


“Baru saja saya mau antar pulang, Puang,” ujar Suharja dari balik pintu pagar.


“Biar saya saja, Ji,” kata Daeng Tanri seraya tersenyum kecut.


Masih di bawah pengamatan mata-mata warga, Daeng Tanri mendekati Rudi. Ayahnya itu tidak langsung menyentuh Rudi. Berdasarkan pengalaman ketika Rudi baru-barunya mabuk, dia suka marah kalau langsung disentuh.


“Rudi, ini Puang,” sapa Daeng Tanri lembut.


“Oh, Puang ya? Bapaknya Rudi, kan?” ucap Rudi.


“Iya. Puang gendong ya? Kita pulang tidur, biar kamu bisa mimpi ketemu Vina,” bujuk Daeng Tanri yang memang berkarakter lembut, meski perawakannya terlihat tegas dan keras.


“Iya iya iya. Hahaha! Lebih baik mimpi ketemu Vina,” celoteh Rudi.


Daeng Tanri lalu memberikan punggung alotnya untuk dinaiki oleh Rudi.


Sambil tertawa-tawa, Rudi memeluk leher ayahnya. Daeng Tanri mulai berdiri dengan sedikit membungkuk karena bebannya tidak ringan.


“Hea hea hea! Kudaku lari kencang seperti Dendi!” teriak Rudi sambil menggenjot-genjot tubuhnya dalam gendongan, sementara tangannya memukul-mukul kepala ayahnya.


Terkejut semua orang melihat tingkah mabuk Rudi. Namun, dengan keteguhan hati, Daeng Tanri berusaha sabar, meski hati kecilnya menangis. Tingginya kasih sayangnya kepada sang anak, membuatnya ikhlas diperlakukan seperti itu di muka umum.


Dug!


Akibat dari ulah Rudi, Daeng Tanri jatuh terlutut di jalan semen cor itu dan nyaris tersungkur ditindih beban tubuh Rudi yang hanya tertawa-tawa.


“Puang Haji!” pekik Suharja terkejut. Dia buru-buru membuka gembok pagar dan keluar untuk membantu tokoh keturunan raja Bugis itu.


Di sisi lain, Sunirah menangis melihat kejadian itu. Di sini mereka bisa melihat betapa sabarnya Daeng Tanri sebagai seorang ayah dan betapa durhakanya Rudi sebagai seorang anak.


Sementara di kejauhan, Aziz menangis deras melihat kondisi ayah dan anak itu. Rupanya dia masih memantau dari kejauhan. Dia tidak mau mendekat lagi karena hatinya kadung tersakiti tadi.


Namun kemudian, Aziz mengabaikan rasa tersinggungnya. Dia seka air matanya, lalu pergi membawa motornya mendekat ke lokasi.


“Naikkan ke motorku, Puang Haji,” kata Aziz yang tiba.


Sambil agak terpincang karena lututnya berdarah, Daeng Tanri dan Suharja mengangkat Rudi agar naik ke belakang Aziz. Daeng Tanri lalu naik di belakang Rudi, memegangi agar tidak jatuh.


“Terima kasih, Ji,” ucap Daeng Tanri kepada Suharja.


“Iye (iya), Puang,” ucap Suharja. (RH)

__ADS_1


__ADS_2