
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Aziz dan Sandro benar-benar membawa Rudi ke pantai yang berpasir. Rudi dilepas begitu saja tengkurap di pasir.
“Puaaang …!”
Rudi masih saja memanggil ayahnya, padahal suaranya sudah mulai hilang power dan sudah sangat serak.
Di saat Rudi bergerak-gerak berusaha merayap, Aziz dan Sandro memilih tidur berbaring sambil menatap langit pagi yang cerah, seperti turis menjemur badan. Mereka membiarkan Rudi berbuat sesukanya. Mereka tidak khawatir Rudi akan kabur, karena memang pemuda tampan itu sedang tidak berdaya oleh mabuknya.
“Kenapa semuanya benci kepada Rudi?” tanya Sandro yang bisa menilai sikap para pelayat dari tatapan dan ekspresi wajahnya kepada Rudi.
“Cuma Puang Haji yang enggak pernah marah ke Rudi. Puang Haji begitu sayang sama Rudi,” kata Aziz yang berbicara sambil menyipitkan mata karena agak silau.
“Puaaang!” Kembali terdengar panggilan Rudi sambil terus menangis, tetapi air matanya belum juga terkuras habis.
Aziz dan Sandro membiarkannya saja tanpa menengok.
“Tapi … Puang meninggal bukan karena Rudi, Ziz,” kata Sandro. “Puang Haji meninggal karena jatuh di kamar mandi, jatuh sendiri. Enggak ada hubungannya sama Rudi.”
“Iya, saya juga tahu. Tapi, tetap saja semua mata menyalahkan Rudi, apalagi Haji Suharja. Ah, kenapa saya tiba-tiba jadi benci sama orang tua itu? Sejak dia menyiram Rudi tadi, saya jadi benci,” kata Aziz.
“Puaaang!”
“Saya juga begitu. Tapi lagi-lagi, Ziz. Rudi posisinya enggak bisa dibela. Saya kira semalam dia benaran pergi tidur,” kata Sandro. “Kayaknya saya mau bunuh orang!”
“Kamu pikir enak bunuh orang. Kamu dipenjara, mati karena kebosanan, emak bapak nangis terus, dan enggak bisa kawin,” kata Aziz.
“Eh, kenapa enggak bisa kawin?” tanya Sandro serius sambil setengah bangun memandang kepada Aziz.
Namun, tiba-tiba ….
“Ziz! Rudi, Ziz!” teriak Sandro bernada panik.
Aziz cepat bangun dan melihat kepada Rudi. Sandro sudah bangun dan buru-buru mendapatkan Rudi yang ternyata sudah masuk separuh badannya ke air pantai. Rudi meronta-ronta tanpa bisa mengeluarkan kepalanya dari air.
Sandro akhirnya mengangkat sendiri Rudi dari air dengan kepala dan baju kuyup.
“Uhhuk uhhuk! Hoekhr!” Rudi yang gelapan saat diangkat oleh Sandroa terbatuk-batuk karena meminum air asin pahit yang berujung muntah dan memuntahi Sandro.
“Hahaha!” Aziz malah tertawa.
“Gendut! Malah ketawa,” rutuk Sandro sambil kembali merebahkan Rudi di pasir tapi lebih jauh dari bibir air.
“Biar satu sama. Saya dimuntahi, kamu dimuntahi,” kata Aziz.
“Sampai kapan kita jaga Rudi di sini?” tanya Sandro sambil pergi membersihkan bajunya dengan air asin.
“Enggak tahu saya,” jawab Aziz.
“Eh, Ziz. Kenapa tadi Daeng Kamsiah enggak kelihatan?” tanya Sandro yang baru teringat.
“Jangan-jangan …,” ucap Aziz mengambang.
“Jangan-jangan apa?”
“Jangan-jangan Daeng Kamsiah juga meninggal,” kata Aziz tegang, lalu bibirnya kembali bercerai.
“Ah, asal kamu, Ziz!” hardik Sandro.
“Puaaang! Jangan pergiii!” teriak Rudi, kali ini kata-katanya bertambah.
“Tuh, sedikit sadar dia habis kepalanya direndam air laut,” kata Sandro. “Kita rendam lagi aja, Ziz.”
__ADS_1
“Jangan! Kalu nanti dia mati benaran bagaimana?” kata Aziz. “Sandro, kamu di sini dulu ya. Saya mau ketemu Daeng Kamsiah.”
“Iya, jangan lama-lama,” kata Sandro.
“Iya,” kata Aziz.
“Sama itu, Ziz. Mintakan nasi uduk sama Mak Uwo, lapar saya!”
“Iya.”
Breem!
Aziz lalu pergi dengan sepeda motornya meninggalkan dua sahabatnya di pantai itu. Namun, ketika Aziz melewati warung nasi uduk Mak Uwo yang tidak jauh dari pantai, dia dan kendaraannya lewat begitu saja. Entah, lupa atau sengaja.
Sementara itu sang surya sudah mulai menaikkan diri sebagai sang raja siang.
Di dalam desa, masih terlihat sejumlah warga yang berjalan berkelompok, terutama ibu-ibu yang khas dengan bersarung dan berkerudung, menuju rumah duka keluarga Daeng Tanri.
Di halaman rumah, kaum batangan masih eksis berkumpul sambil merokok dan berbincang mengusir suntuk. Hampir semua lelaki di desa nelayan adalah perokok.
Kedatangan Aziz kembali menjadi perhatian, tapi tidak ada yang bertanya. Setelah memarkir sepeda motornya di depan, Aziz berjalan langsung menuju rumah duka. Sejenak dia mencari orang yang dianggapnya enak untuk ditanya.
“Mak! Mak!” panggil Aziz dengan mode berbisik sambil tangannya juga memanggil ibunya di antara para pelayat wanita lain.
Sang ibu yang bernama Aliya segera bangkit dan mendatangi putranya di pintu.
“Emaknya Rudi di mana, Mak?” tanya Aziz saat ibunya sudah menghampirinya.
“Di rumah sakit,” jawab wanita yang segemuk putranya itu.
“Di rumah sakit?” sebut ulang Aziz terkejut.
“Jatuh juga. Pingsan tapi enggak bangun-bangun, jadi dibawa ke rumah sakit,” jawab Aliya. “Rudi bagaimana?”
“Di laut sama Sandro,” jawab Aziz.
“Herman sudah datang!” seorang lelaki di depan halaman berteriak.
Sebuah mobil minibus warna perak muncul mendekati depan rumah Daeng Tanri. Jalan yang terbatas hanya muat untuk satu mobil ukuran biasa, membuat mobil bergerak pelan.
“Dibuka saja pintu pagar yang di samping biar mobilnya bisa masuk!” teriak Daeng Marakka dari samping rumah, saat itu dia sedang ada di sana.
Memang, di halaman rumah Rudi ada dua pintu pagar, satu buat orang dan sepeda motor di arah depan rumah, satu lagi di samping buat masuknya mobil karena Daeng Tanri punya satu mobil operasional usaha di pelelangan.
Semua perhatian orang tertuju kepada mobil tersebut. Terlihat bahwa orang yang mengemudi adalah seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun, masih muda. Dia berkulit terang seperti Rudi yang mengikuti gen ibunya, bukan bapaknya yang hitam. Model wajahnya pun memiliki kemiripan dengan Rudi, tapi ini versi dewasa karena dia memang adalah kakak kandung Rudi. Namanya Herman Saddila.
Setelah mobil masuk ke halaman yang harus sedikit menggusur para pelayat, Herman langsung turun tanpa merapikan lagi posisi mobilnya, bahkan kunci mobil pun masih terpasang di lubangnya.
Herman berlari kecil menuju rumah. Dia meninggalkan istri dan satu anak kecilnya yang turun belakangan dari mobil.
“Puaaang!” pekik Herman langsung menangis ketika melihat sosok yang terbujur dalam tutupan kain panjang.
Herman Saddila langsung memeluk jasad yang tertutup, padahal dia belum membuka wajah sang jenazah.
Daeng Marakka segera datang ke sisi Herman lalu menepak-nepak halus bahu lelaki terkoko putih itu.
“Sabar, Man. Memang sudah waktunya puangmu dipanggil Allah,” kata Daeng Marakka lembut.
“Iye, Daeng. Tapi kenapa tidak ada tanda-tanda, biar saya bisa minta maaf dulu kepada Puang. Banyak dosaku sama Puang. Banyak durhakaku sama Puang,” ucap Herman dengan suara yang terbata-bata karena bercampur kesedihan, “Awweee! Sudah pergi orang baik ini. Sudah pergi orang yang enggak pernah marah ini. Kenapa tiba-tiba?”
Herman lalu bergerak menyingkap kain penutup wajah ayahnya. Terlihatlah wajah yang diam dan pucat tanpa darah. Bagian kepalanya ada balutan perban tebal untuk mencegah darah tidak keluar lagi dari kepala belakang yang pecah.
“Hiks hiks hiks …!”
Tangis Herman kembali pecah tidak terbendung. Bahkan dia berusaha menahan agar tangisnya tidak meledak dan meraung di saat dia masih di sisi jenazah ayahnya.
__ADS_1
“Ikhlaskan puangmu diambil oleh pemiliknya,” kata Daeng Marakka lagi sambil mengusap-usap punggung Herman.
“Iye, Daeng.”
Sementara itu, istri Herman yang bernama Nina Nuraini dan putranya yang bernama Ahwa, duduk turut menangis beberapa jengkal di sampingnya.
“Rudi di mana, Daeng Haji?” tanya Herman karena adiknya itu tidak mendatanginya atau terlihat di sekitar.
“Kita bicara di kamar daengmu saja,” ajak Daeng Marakka.
Perkara kondisi kedua orangtuanya, sebelumnya Herman telah dikabari lewat telepon. Namun, untuk kondisi Rudi, tidak diceritakan sama sekali.
Di dalam kamar orang tuanya, Daeng Marakka menceritakan kondisi Rudi selama dua pekan belakangan.
Terkejutlah Herman. Marahlah Herman.
Namun, Herman cukup banyak mewarisi karakter ayahnya sebagai seorang yang penyabar dan lembut. Karena itulah, dia tidak marah meluap-luap seperti Haji Suharja. Memang butuh seperempat menit untuk menguasai diri dan pikirannya sebab mendengar kelakuan adiknya, yang sampai-sampai pada hari kematian ayahnya masih mabuk berat.
Dan ketika Herman keluar dari kamar orangtuanya, sikapnya lebih tenang dalam menyikapi semua musibah itu. Dia adalah orang berpendidikan dan termasuk pelaksana agama yang baik, meski tidak saleh-saleh amat.
“Pak Ustaz, tidak apa-apa kan kalau Rudi dibawa ke sini? Dia berhak melihat wajah puangnya untuk yang terakhir kalinya,” tanya Herman kepada Ustaz Barzanji.
“Iya. Enggak apa-apa. Tapi jangan dilibatkan dalam pengurusan jenazah,” jawab Ustaz Barzanji.
“Lalu, siapa yang ditunggu lagi?” tanya RT Jaruddin.
“Ustaz Muttaqin, adik almarhum dari Jakarta,” jawab Daeng Marakka.
“Bisa lewat waktu zuhur kalau menunggu,” kata RT Jaruddin.
“Barusan saya telepon, sudah menuju ke sini. Mungkin enggak sampai setengah jam,” jawab Daeng Marakka.
“Hah! Cepat sekali? Memangnya naik apa bisa secepat itu?” kejut RT Jaruddin yang mewakili orang-orang yang bisa menduga-duga berapa lama perjalanan Jakarta-Lampung.
“Aziz, bawa Rudi pulang!” perintah Suharja yang juga masih bersama keluarga duka.
“Iye, Ji!” jawab Aziz penuh semangat.
Singkat cerita.
Aziz yang pergi kembali ke pantai telah pulang bersama Sandro dengan bawaan khusus, yaitu Rudi yang masih mabuk.
“Puaaang!” teriak Rudi sambil dipapah masuk ke rumah.
Herman dan istrinya, serta kaum ibu, tidak kuasa menahan air mata melihat kondisi Rudi yang tidak pernah berhenti memanggil ayahnya.
“Di laut pun Rudi terus memanggil puangnya,” kata Sandro kepada Herman.
Saat bisa mengenali wajah jenazah yang terbuka, menggilalah tangis Rudi. Dia menangis meraung-raung. Hanya “Puang” yang terucap oleh lidahnya.
Rudi diturunkan di sisi sang ayah, tetapi kedua lengannya dipegangi agar tidak memegang atau memeluk almarhum.
Para pelayat laki-laki terlihat berjubel di pintu depan untuk melihat adegan emosional penuh drama itu.
Setelah cukup lama membiarkan Rudi melihati dan menangisi jasad Daeng Tanri, akhirnya Herman menghampiri adik satu-satunya.
“Rudi! Rudi!” panggil Herman sambil menepuk-nepuk bahu Rudi.
Panggilan itu ternyata bisa membuat Rudi menengok dan memandang kakaknya.
“Kamu kenal saya, Ndik?” tanya Herman yang bisa membuang kemarahannya jauh-jauh.
Rudi terdiam beberapa saat sambil terisak. Dia mencoba mengenali wajah Herman.
“Daeeeng!” pekik Rudi akhirnya, setelah ratusan kali dia menyebut “Puaaang”.
__ADS_1
Sambil menangis halus, Herman memeluk tubuh adiknya yang basah oleh air laut dan air mata. (RH)