
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Selain menderita luka benturan di kepala dan pengikisan kulit wajah di sekitar pelipis kanan, Rudi juga menderita patah tulang pada kaki kanan dan tangan kanan.
Orang yang pertama Tawwa kabari adalah Haji Daeng Marakka, Aziz dan Bulan. Namun, yang pertama datang ke rumah sakit adalah Bulan.
Melihat kondisi pemuda yang selama ini dicintainya dalam diam, artinya tidak pernah diutarakan, Bulan pun menangis.
Bulan yang segera mengurus administrasi Rudi di rumah sakit, hingga tidak lama kemudian, Haji Daeng Marakka dan istrinya yang bernama Manta Sukasih tiba. Setelahnya Aziz pun datang.
Kehadiran Daeng Marakka membuat operasi tulang kaki dan tangan Rudi bisa segera dilaksanakan. Biaya pun tidak perlu dipikirkan karena Bulan sudah menanggung seratus persen.
Kamsiah sendiri baru dikabari setelah Rudi dalam kondisi sudah melalui penanganan dan berbaring di ranjang pasien dalam kondisi kepala, tangan kanan dan kaki kanan diperban. Kaki dan tangan dipasang gips. Untuk tulang pergelangan tangan kanan harus dipasang pen.
Menangiskencanglah Kamsiah ketika melihat kondisi putranya yang begitu mengibakan. Sampai-sampai Bulan harus menenangkan Kamsiah.
“Sabar, Bu. Insyaallah Rudi enggak apa-apa. Hanya butuh waktu untuk perawatan dan akan sembuh lagi,” kata Bulan menghibur sambil memeluk bahu Kamsiah.
“Iya, Daeng. Ini semua dari Allah. Mungkin ini caranya Allah untuk membersihkan dosa-dosa saya,” ucap Rudi lembut, sambil tangan kirinya memegang tangan ibunya yang berdiri di sisi ranjang.
“Padahal Rudi hari ini sudah berencana pergi melamar kamu, Lan,” kata Kamsiah sambil menangis.
Terkejutlah Bulan, Aziz, Daeng Marakka dan istrinya.
Muncul rasa bahagia di dalam kesedihan Bulan Adinda, ternyata Rudi sudah memilihnya dan sudah berniat untuk melamarnya. Namun kemudian, muncul pula tanda tanya. Kenapa pada hari dirinya hendak dilamar, Rudi justru tertimpa kecelakaan berat.
“Ah enggak, saya harus berbaik sangka kepada Allah,” pikir Bulan.
“Iya, tapi terpaksa ditunda,” kata Rudi seraya tersenyum irit, karena memang dia masih merasakan sakit, terutama nyeri pascaoperasi.
“Kenapa enggak kamu lamar saja sekarang, Di?” celetuk Manta Sukasih.
Rudi justru terkejut.
“Ya enggak sekaranglah, Daeng. Kondisi saya sekarang seperti ini, tidak bisa berbuat apa-apa. Enggak tepatlah kalau melamar hanya untuk membuat Bulan merawat orang sakit,” kata Rudi.
__ADS_1
“Ya itu maksud Daeng, Di. Kamu itu butuh ada yang merawat. Enggak mungkinlah kalau Aziz yang kamu panggil untuk urusan-urusan kecil. Pasti lumayan lama ini baru sembuhnya,” kata Manta Sukasih.
“Biar saya yang merawat Rudi, Ndi. Rudi harus tampil sebagai lelaki sempurna kalau mau melamar calonnya,” kata Kamsiah dengan suara serak. Tangisnya sudah mereda.
“Bu, enggak apa-apa. Kalau Rudi mau melamar saya dalam kondisi sakit, saya juga enggak keberatan. Sejak awal-awal kenal, sebenarnya saya sudah siap merawat Abang Ustaz. Tentunya sekarang juga saya siap dan ikhlas kalau memang harus merawat Abang Ustaz. Lebih cepat saya dan Abang Ustaz disahkan, saya rasa itu lebih baik,” kata Bulan dengan tutur kata yang lembut, di mana semuanya terdiam hening mendengar kata-kata penting itu.
“Alhamdulillah. Inilah kenapa saya dulu ngotot memperkenalkan kamu dengan Bulan, Di. Memang Allah memberkahi,” kata Aziz bernada syukur.
“Biar hari ini saya bicara ke Bapak dan Ibu di rumah. Nanti saya kabari jika ada tanggapan positif atau negatif dari Bapak Ibu. Tapi, Bapak Ibu sudah kenal baik dengan Abang Ustaz meski belum pernah bertemu,” ujar Bunga yang sudah terbuka, seolah-olah Rudi memang sudah menjadi kekasihnya.
“Tuh, Di. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Udah, lamar Bulan sekarang!” desak Aziz.
“Iya, saya mau melamar kamu, Bulan. Tapi saya mau lamaran saya ini langsung saya sampaikan kepada orangtua kamu. Begitu ya, Daeng?” kata Rudi, lalu bertanya kepada Kamsiah.
“Iya. Tadi Daeng khawatir kalau Bulan berat jika kamu melamarnya sedangkan kondisi kamu masih begini. Kita juga enggak enak sama orangtua Bulan dan keluarga besarnya,” kata Kamsiah.
“Enggak apa-apa, Bu. Enggak usah sungkan sama keluarga saya. Bapak Ibu di rumah sudah menganggap keluarga Abang Ustaz sebagai keluarga kedua saya selama ini,” kata Bulan seraya tersenyum.
“Oh iya, kalau begitu, saya sama Manta izin pulang dulu, Daeng,” ucap Daeng Marakka sebagai adik dari Kamsiah.
Daeng Marakka dan istrinya lalu bersalaman pamit.
“Lalu siapa yang jaga di sini?” tanya Aziz.
“Ya daengkulah,” jawab Rudi.
“Yang ngambilin kamu baju ganti?” tanya Aziz lagi.
“Biar kamu saja yang ambil baju di kamarku,” kata Rudi.
“Ah, kita memang sahabat, tapi kalau sampai otak atik isi lemari, apalagi sampai pegang-pegang segitigamu, mana berani saya,” kata Aziz yang membuat mereka berempat tertawa kecil.
“Biar Bang Aziz antar Ibu untuk ambil pakaian ganti buat Bang Ustaz. Biar saya yang jaga sampai Ibu balik lagi ke sini,” kata Bulan memberi solusi.
“Setuju. Ayo, Daeng!” Aziz langsung mengajak Kamsiah.
Sementara Rudi tidak bisa berkomentar apa-apa karena sepertinya memang itulah solusi terbaiknya.
__ADS_1
Singkat cerita, tinggallah Rudi dan Bulan di kamar rawat itu. Memang, demi kenyamanan, Bulan meminta kamar VIP untuk Rudi di mana satu kamar hanya ada satu tempat tidur dengan kelengkapan tv, AC, kulkas hingga ada ruang tamu untuk orang yang menjenguk dan keluarga.
“Bulan, jazakallahu khairan ya. Kamu banyak sekali membantu,” ucap Rudi tulus kepada Bulan.
“Iya, Bang Ustaz. Mudah-mudahan baik-baik saja ke depannya.”
“Aamiin,” ucap Rudi. “Bulan, kamu benar, bahagia kalau saya lamar?”
“Banget,” ucap Bulan singkat sembari tersenyum malu.
Sudahlah tinggal berdua di kamar itu, ditanya lagi tentang perasaan. Pastilah Bulan tersenyum malu-malu, tapi hatinya berbunga-bunga, laksana kombinasi perasaan kopi, susu yang dimadu.
“Jikalau pun Abang Ustaz tidak kunjung-kunjung melamar saya, maka selama itu pula saya akan bertahan di sisi Abang. Sampai hari lamaran itu tiba,” kata Bulan sambil tersenyum-senyum, tanpa berani untuk memandang kepada wajah Rudi yang berhias perban.
Tatapan Rudi yang awet kepadanya, membuat Bulan merasa begitu malu jika harus sering-sering bertemu pandang.
“Saya kupaskan buah pir ya, Bang?” tawar Bulan untuk mengusir rasa kikuk dan grogi.
“Boleh,” jawab Rudi.
Sebelum saat ini, Bulan memang sudah sering dan terbiasa melayani Rudi untuk urusan makan. Apakah ketika mereka sedang makan bersama di rumah, makan di warung padang, atau di restoran. Tentunya bukan hanya berdua saja, tetapi bersama orang ketiga atau orang keempat.
Bulan sering mentraktir ketiga pemuda bersahabat itu makan di rumah makan padang atau di restoran. Setahun sekali mereka bahkan membawa anak-anak pengajian pergi main ke wahana hiburan dan restoran menjelang bulan suci Ramadan, tetapi itu baru berjalan satu tahun terakhir.
“Saya sudah tidak meragukan keikhlasan kamu ke saya, Lan. Tapi, saya mau tanyak sekali lagi, apakah kamu ikhlas merawat saya yang kondisinya tidak berdaya seperti ini?” tanya Rudi.
“Iya. Sangat ikhlas,” jawab Bulan tanpa ragu. Untuk kali ini, dia wajib memandang kepada mata Rudi. Bahkan aktivitas mengupasnya berhenti sejenak.
“Alhamdulillaaah!” ucap Rudi penuh sukur. “Waktu saya ditabrak mobil itu, sebenarnya saya sedang menghayalkan kamu. Saking bahagianya saya mau melamar kamu, saya jadi menghayal. Saya enggak sadar posisi motor ke tengah. Pas tikungan, saya dihantam mobil.”
“Ya Allah, Abang Ustaz,” ucap Bulan sambil geleng-geleng kepala, sementara Rudi hanya tersenyum sapi. “Tenang saja, sebagai penanggung jawab karena sudah buat Abang Ustaz kecelakaan, saya siap merawat Abang Ustaz secara maksimal dan totalitas, tapi setelah kita menikah.”
“Hahaha!” tertawa rendahlah mereka berdua, tapi bahagia. Benar-benar bahagia.
“Aduh, saya mau pipis, Lan,” keluh Rudi.
Terkejutlah Bulan mendengar itu. Seketika ia pun bingung bersikap. (RH)
__ADS_1