
Pelelangan Sinar Nelayan akan selalu ramai di kala pagi, terlebih pasca salat subuh. Menjelang terbitnya sang surya, maka akan bertambah ramai. Justru setelah terbitnya matahari, pelelangan itu akan berangsur berkurang populasinya mengikuti perjalanan waktu.
Pelelangan Sinar Nelayan menjadi pusat perputaran uang paling deras di wilayah pesisir di kaki Gunung Rajabasa tersebut. Selain menjadi pusat transaksi hasil laut dan segala hal yang berkaitan dengan nelayan, pelelangan itu juga menjadi pasar pagi yang menjual sayur-sayuran, buah, pakaian, hingga berbagai kuliner. Itu semua bisa terjadi karena pelelangan tersebut memiliki area yang cukup luas.
Sudah menjadi keyakinan di masyarakat bahwa siapa pun yang memiliki lapak di pelelangan itu, pasti akan kaya. Maka wajar saja jika harga sewa lapak di pelelangan itu tinggi. Namun, ada juga sebagian lapak adalah milik pribadi. Biasanya lapak pribadi adalah milik orang-orang yang keluarga besarnya sudah lebih lima puluh tahun tinggal di daerah pesisir tersebut. Orang-orang pemilik lapak model ini memiliki sebutan Juragan Lelang.
Salah satu Juragan Lelang adalah Haji Suharja Gendara. Dia bahkan memiliki tiga lapak. Satu lapak menjual ikan, satu lapak lagi menjual udang, dan sisanya toko perlengkapan nelayan. Bagaimana tidak kaya jika punya tiga kran yang mengucurkan duit.
Semua lapak itu dijalankan oleh karyawan. Suharja tinggal duduk di belakang meja dengan buku catatan tebal di depannya. Dia selalu membekali dirinya dengan dua pena. Satu terjepit di jari tangan kanannya, satu lagi terjepit di telinganya. Sementara di jari tangan kiri terjepit sebatang rokok yang menyala, rokok yang habisnya lebih banyak oleh angin daripada oleh isapannya.
Klinong klinong …!
Suharja mendengar suara hp-nya berbunyi di dalam laci mejanya.
“Berapa kilo, Mbo?” tanya Suharja kepada pegawainya yang sedang melayani pembeli udang skala besar.
“Tujuh belas kilo, Ji!” sahut pemuda yang bernama Ambo Dalle sambil menciduk udang dari baskom besar dimasukkan ke kotak gabus.
Suharja segera mencatatnya di buku. Ia mengabaikan panggilan telepon di hp-nya hingga nada deringnya berhenti.
Klinong klinong …!
Namun, tidak berapa lama, hp itu memanggil kembali. Barulah Suharja menarik laci di depan perutnya dan meraih hp jadulnya yang berwarna putih polos. Dilihatnya nama si penelepon, ternyata “Bolu Manis” yang tafsirnya adalah Sunirah, istrinya.
“Hallo? Kena ….”
“Hiks hiks hiks! Bapaaak …!”
Terputus kata-kata Suharja karena di seberang panggilan ia mendengar suara tangis anak kecilnya, Vivi.
“Eh eh, kenapa menangis, Vivi?” tanya Suharja heran dan penasaran. Sebab, baru kali ini anaknya itu menelepon pada jam sibuk pelelangan, pakai acara menangis pula.
Pertanyaan Suharja yang agak keras membuat Ambo dan karyawan lainnya di lapak udang itu jadi menengok memandang kepada juragannya.
“Kakak Vina diperkosa, Paaak! Huuu …!”
__ADS_1
“Hah?! Apa?!” pekik Suharja bukan main.
Kemarahan seketika muncul di muka tegas Suharja. Sepasang matanya langsung memerah dengan sorot yang menyeramkan. Dia berdiri dari duduknya, tapi bukan untuk berubah wujud menjadi siluman.
Tak!
Pena digenggamnya kencang hingga patah.
Bukan hanya karyawan lapak yang kini serius memandang kepada Suharja, tapi juga pelanggan dan orang sekitar lapak. Karyawan di dua lapaknya yang lain segera datang karena mendengar suara kencangnya yang bernuansa marah.
“Siapa lelaki itu? Rudi yang berbuat?!” tanya Suharja marah kepada Vivi di seberang sambungan. Dia langsung menduga seseorang karena setahu dia, Vina berpacaran dengan Rudi, anak Haji Daeng Tanri.
“Bukan, Pak. Kakak diperkosa Bang Dendi. Huuu …!” jawab Vivi yang menelepon sambil menangis.
“Anak monyet setan!” maki Suharja marah.
Prak!
Suharja melepas telepon dari telinganya dan tangan kirinya langsung menyambar gelas kopi dan dibantingnya ke lantai sebagai pelampiasan amarahnya. Tanpa bersedih, sang gelas pun hancur terkeping-keping.
Terkejutlah banyak orang melihat kemarahan tiba-tiba Suharja. Lelaki bertubuh agak gemuk itu lalu mencabut goloknya yang terselip di dinding lapak.
Suharja lalu berjalan cepat ke depan lapaknya dan menengok ke sana dan ke sini dengan golok terhunus. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang memandanginya dengan wajah bertanya. Saat itu, tidak ada yang berani mendekati Suharja.
“Kenapa, Ji?” tanya Ambo Dalle dengan gestur menunjukkan kehati-hatian, sebab majikannya sudah seperti harimau sumatera yang sedang terluka. Dia adalah orang yang paling dekat dengan majikannya.
“Ambo, Tahang, semuanya, langsung pulang ke rumah saya!” perintah Suharja kepada seluruh karyawannya di tiga lapak.
Para karyawan itu tidak langsung bergerak karena mereka bingung dan tidak tahu apa maksud bosnya.
“Tini, tutup semuanya!” perintah Suharja kepada salah satu karyawan perempuannya. Lalu perintahnya lagi kepada Ambo Dalle, “Semuanya bawa golok. Cari dan tangkap Dendi yang ngontrak di kontrakan saya. Ayo cepat, pinjam motor!”
“I-i-iya, Ji,” jawab Ambo Dalle tergagap karena terbawa terkejut. Jika semuanya diperintahkan membawa golok, jelas ini urusan nyawa orang.
Ambo Dalle cepat pergi ke mobil bak yang diparkir di depan lapak.
__ADS_1
“Jangan pakai mobil! Pinjam motor siapa saja!” sergah Suharja yang kesal melihat ketidakmengertian Ambo Dalle.
“Iya, Ji,” sahut Ambo Dalle. Lalu teriaknya kepada rekan-rekannya, “Tahang, Rusli, ambil golok. Pinjam motor, cepat!”
“Siap!” teriak Tahang yang terbilang masih remaja. Dia sebenarnya tegang juga.
Para karyawan lelaki Suharja segera mengambil golok, bahkan ada yang meminjam golok di lapak sebelah. Setelah itu, Ambo Dalle, Tahang dan Rusli pergi meminjam motor kenalan mereka. Karena mereka memegang golok yang terhunus, maka motor pun dengan mudah dipinjamkan.
Keributan yang menegangkan itu semakin menjadi perhatian banyak orang, sehingga mereka berkerumun. Karyawan wanita terlihat ingin menangis melihat kondisi tegang main golok tersebut. Mereka jelas terbayang sesuatu yang mengerikan, yang berdarah-darah, akan terjadi ke depannya.
“Ji, ada apa ini?” tanya seorang lelaki kurus tinggi berkulit hitam. Dia berpeci khas orang Bugis. Dia adalah Haji Daeng Tanri, ayah dari Rudi Handrak. Dia juga seorang Juragan Lelang, tapi hanya memiliki dua lapak.
“Anak dari bumi yang tidak jelas martabatnya, terlalu berani merusak anak gadisku,” jawab Suharja dengan seringai yang bengis.
Setelah berkata seperti itu kepada ayahnya Rudi, Suharja segera naik ke boncengan sepeda motor yang dibawa Ambo ke depan bosnya. Di sisi lain, Tahang sudah siap dengan motornya sendiri. Orang yang naik di belakangnya adalah Obba Gantra, adik Suharja dari satu ayah lain ibu. Dia juga sudah berbekal golok panjang.
Rusli pun siap bersama karyawan lainnya.
“Minggir! Kasih jalan!” teriak Ambo Dalle yang segera menjalankan motornya hendak menerobos kerumunan.
Orang banyak segera membuka jalan kepada orang-orang yang sedang marah dan berbekal golok itu.
“Kalian berdua cari Dendi. Saya langsung ke rumah!” perintah Suharja kepada Tahang dan Rusli.
“Iya, Ji!” sahut Rusli, lelaki berkulit hitam yang berbadan besar karena otot dan lemak.
Maka keenam orang itu pergi meninggalkan usahanya, bahkan pelanggannya begitu saja. Memang masih ada Tini, tapi dia seorang diri. Bahkan Suharja tidak mengingat lagi uang yang banyak di dalam laci meja.
Mereka yang pergi dengan membawa senjata tajam jelas membuat ngeri banyak orang.
“Tawwa! Ambil motor!” perintah Daeng Tanri kepada seorang karyawannya. Dia pergi mengambil golok pula, tapi masih bersama sarungnya.
“Iya, Ji,” jawab seorang pemuda berjidat lebar berambut keriting.
Daeng Tanri ingin ikut menyusul Suharja.
__ADS_1
Seketika itu, hebohlan masyarakat pelelangan, terlebih yang masih satu desa nelayan dengan Suharja. Namun, mereka belum tahu jelas apa yang sebenarnya membuat Suharja begitu marah sehingga harus main golok.
Bagi mereka yang sempat mendengar kata-kata Suharja sebelumnya, hanya bisa menduga-duga. Salah satu dugaan adalah anak Suharja diperkosa orang. Namun, itu baru dugaan, masih perlu pembuktian dan saksi. Apalagi jaksa belum menuntut dan hakim belum memutuskan. (RH)