
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
“Hiks hiks hiks …!”
Menangis bercucuran air mata Vina mendengar cerita lengkap Aziz tentang hal yang menimpa Rudi selama dua pekan setelah kepergiannya ke Jakarta.
“Sungguh, Ziz, saya enggak sedikit pun menyangka Rudi akan segila itu mencintai saya. Hiks hiks hiks …!” kata Vina.
“Yang kami sesalkan itu, kenapa selama ini kamu enggak pernah kasih kabar atau setidaknya memberi nomor hp kamu ke kita, atau setidaknya ke Junita,” ujar Aziz yang sedang menggendong bayi usia satu tahunnya yang sudah terlelap.
“Bapakku yang mengancam, Ziz. Kalau sampai saya ketahuan ada kasih nomor hp ke adikku saja, saya bisa dibuang ke daerah yang lebih jauh. Bagaimana juga saya bisa kirim nomor hp atau email, saya juga enggak hafal satu pun,” kilah Vina yang memutuskan menemui Aziz lebih dulu di pagi itu. Pertimbangannya, Aziz lebih tahu tentang Rudi daripada sahabatnya Junita.
“Yaaa, mungkin Rudi memang bukan jodohmu, Vin. Kamu pasti sudah punya pengganti Rudi selama di Jakarta,” terka Aziz.
“Memang, tapi saya sudah putus lebih seminggu lalu. Makanya saya pulang ke sini, mau mengobati sakit hati. Kamu sudah menikah dan punya anak satu. Apakah Rudi juga sudah menikah, tapi saya belum dapat kabar?”
“Belum. Dia baru mau menikah kalau sudah siap.”
“Tapi … sudah punya calon?”
“Banyak yang ngantri. Sejak Rudi insaf, belajar ngaji ke Ustaz Barzanji, kemudian jadi guru ngaji anak-anak, mungkin hampir semua gadis naksir sama dia, kecuali istriku,” kata Aziz bermaksud membuat Vina cemburu.
Dan memang, terlihat muncul gurat kecewa dan cemburu pada wajah cantik berambut kuning itu.
“Menurut kamu, Rudi masih mau enggak menerima saya sebagai pacarnya?” tanya Vina.
“Kalau Rudi yang dulu, saya yakin masih akan menerima kamu. Dia cinta banget sama kamu. Tapi saya enggak tahu kalau Rudi yang sekarang. Sudah lama sekali dia enggak menyebut nama kamu, Vin,” kata Aziz.
Vina kembali bersedih yang kemudian kembali menangis. Aziz bangun dari kursinya dan pergi mengambilkan tisu yang ada di buffet.
“Ini,” ucap Aziz sambil menyodorkan kotak tisu, sementara satu tangannya menggendong bayinya. Terlihat bapak muda itu tampak repot.
__ADS_1
Vina menerima tisu tersebut dan menyeka air mata dan air hidungnya. Namun, setelah menyeka air matanya, pikiran Vina yang larut justru membuatnya kian menangis deras.
Aziz hanya diam berdiri sambil mengayun-ayun gendongannya karena bayinya bergerak mendengar suara tangisan Vina.
“Saya pulang, Ziz,” ucap Vina sambil beranjak dan berlari ke luar rumah membawa tangis kesedihannya yang sulit dia tahan.
Aziz hanya memandangi kepergian wanita yang sebenarnya masih dia benci itu. Dari samping rumah muncul seorang wanita muda berjilbab tapi berbaju lengan pendek dan bersarung. Ia menunjukkan wajah heran sambil memandangi kepergian Vina. Satu tangannya masih memegang pakaian lembab yang akan dijemurnya.
“Kenapa Vina sampai menangis seperti itu, Daeng?” tanya Rasti, istri Aziz.
“Dia baru tahu seberapa besar penderitaan Rudi waktu dia tinggal,” jawab Aziz. “Bahkan saya saja merasa sakit hati sama dia, Dek.”
Vina yang tampil cantik, mewah dan berambut emas berlari menangis, jelas membuat heran warga yang melihatnya dan mengenalnya. Hebohlah mereka.
Kepulangan Vina ke desa nelayan itu membuat semua orang yang mengenalnya jadi teringat dengan peristiwa tiga tahun lalu. Di mana cinta seorang Rudi berakhir dengan ketragisan penuh air mata.
Vina terus berlari dengan sepatu mahalnya. Ia memasuki halamannya dengan membuat heran dua wanita tua yang sedang mengolah bahan-bahan masakan yang cukup banyak. Dua wanita itu adalah Sunirah dan Murni.
Namun, Vina terus berlari masuk dan langsung menuju kamarnya. Apa yang dilakukan Vina juga membuat heran seorang pemuda berbadan atletis berambut gondrong basah. Dia hanya berhanduk dari perut hingga lututnya. Pemuda itu adalah Ferdy, adik Vina yang kini menjadi pesepak bola profesional Liga 3.
“Kenapa, Mak?” tanya Ferdy kepada ibunya yang muncul dari luar.
“Enggak tahu. Baru sehari di sini sudah main nangis saja,” jawab Sunirah.
Sunirah lalu menyusul masuk ke kamar Vina yang tidak dikunci.
“Huuu huuu …!”
Tangis Vina semakin menjadi dalam posisinya yang tengkurap di atas kasur.
“Kenapa, Nak?” tanya Sunirah sambil duduk di tepi ranjang dan mengusap kepala putrinya yang terasa aneh karena berambut kuning.
__ADS_1
Sementara Ferdy berdiri di ambang pintu kamar. Dia juga ingin tahu.
“Kenapa Bapak sama Emak enggak ada yang mengabari saya, kalau dulu Rudi menjadi pemabuk sejak saya tinggal, sampai-sampai Puang Haji meninggal?” tanya Vina dengan cukup emosi sambil menengok memandang kepada ibunya.
Sunirah dan Ferdy bisa menyimpulkan di dalam hati bahwa Vina telah mendapat cerita, entah dari Rudi langsung atau orang lain.
“Di Jakarta saya hidup gembira dengan dunia baru saya, sementara di sini Rudi tersiksa sampai kehilangan puangnya,” kata Vina sambil terisak.
Sunirah tidak bisa menjawab. Dia tidak mau beralasan karena memang ia merasa bahwa sebagai orangtua, seharus mereka tidak begitu saja memutus Vina dari cinta dan orang-orang yang dicintainya.
Akhirnya, Sunirah pun turut bersedih dan menitikkan air mata.
“Maafkan Emak sama Bapakmu, Vin,” ucap Sunirah yang mengerti tentang kesedihan Vina.
Vina lalu bangun dan memeluk ibunya. Ibu anak itupun berpelukan dan bertangisan.
“Langsung jodohkan saja Vina sama Rudi,” celetuk Ferdy tiba-tiba. Lalu katanya lagi, “Kak Vina pacaran lima tahun, berpisah tiga tahun. Masih banyak pacarannya. Kalau sudah nikah, semuanya langsung beres, tidak peduli masa lalu, tidak peduli urusan apa di Jakarta. Sekarang Rudi itu lelaki mahal, Mak. Biar nanti saya tanya ke Ustaz Rudi, mau enggak melamar Kakak.”
Sunirah tidak menanggapi perkataan putra lelakinya, tetapi itu masuk ke dalam pikirannya. Ferdy kemudian pergi ke kamarnya.
“Sebenarnya kamu masih cinta sama Rudi atau sudah punya pacar lain? Kata Bapakmu, seminggu yang lalu kamu dilamar sama anak pengusaha hotel dan restoran di Jakarta.”
“Saya masih cinta Rudi, Mak. Sedih sekali saya dengar nasib Rudi waktu ditinggal oleh saya. Sakit hati saya mendengar cerita bahwa Rudi banyak disukai perempuan. Memang, di Jakarta saya punya pacar, tapi sebentar doang. Orangnya berengsek sekali. Bibi Anti enggak tahu betapa berengseknya lelaki itu, jadi Bibi sama Om terima saja pas dia datang sama orangtuanya melamar. Saya kabur-kaburan selama beberapa hari. Akhirnya saya putusin pulang ke sini,” jealas Vina.
“Kenapa Bapakmu enggak cerita tentang itu ya?” tanya Sunirah yang sudah berhenti menangis bersama.
“Mungkin Bapak cuma diberi tahu kalau saya dilamar, tanpa diceritakan masalahnya,” kata Vina. “Benar juga kata Ferdy. Kalau Rudi mau melamar saya, urusan sama lelaki berengsek itu pasti langsung selesai.”
“Ya sudah, biar nanti Emak yang bicara ke Bapakmu,” kata Sunirah.
Vina hanya mengangguk. (RH)
__ADS_1