
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Sebelum magrib, Bulan Adinda sudah pulang dari rumah Rudi. Besok lusa dia akan datang bersama kedua orangtua dan adik-adiknya. Sebelum hari akad nikah, pada malam harinya Bulan akan mengikuti acara memberi makan atau memberi penghargaan kepada anak-anak yang sudah khatam bacaan Al-Quran.
Berdasarkan kesepakatan, akad dan pesta pernikahan diadakan di rumah mempelai lelaki karena alasan darurat. Jadi, pada malam sebelum akad, pengantin wanita akan bermalam di rumah calon suaminya. Tentunya pisah kamar, bukan satu kamar sebelum sah.
Sore itu, di kamar Rudi masih ada Barada, Aziz dan Sandro. Dengan kepulangan Bulan, topik pembicaraan mereka beralih ke perkara yang penting dan rahasia.
Namun sebelumnya, Barada menerima telepon dari Merpati Putih alias Nita Talia.
“Lapor, Jenderal. Semua ruang, kendaraan dan perangkat pribadi Biawak Perak sudah ditanam mata dan telinga. Semua operasi berjalan aman dan sukses, Jenderal. Tinggal memantau, apakah ada jejak dari Burung Emas. Pemantauan berlaku selama satu minggu,” lapor Nita Talia dari Jakarta.
“Kerja bagus, Merpati. Bagaimana dengan kekuatan Biawak Perak?” tanya Barada.
“Biawak Perak punya pengawal profesional. Jika mau battle, lebih baik terjunkan Tim King Kong Merah,” kata Nita.
“Oke. Saya pertimbangkan. Lanjutkan tugas kalian. Assalamu ‘alaikum!” ucap Barada.
“Baik, Jenderal. Wa ‘alaikum salam.”
Sekedar informasi. Barada disebut “Jenderal Kilat” bukanlah karena pangkat kemiliterannya. Julukan itu melekat karena dialah orang tercepat dalam karirnya di Tentara Ilusi, sehingga bisa menduduki kursi pemimpin nomor dua di bawah Kumbang Langit, yang kini berstatus sebagai Penasihat Tunggal Tentara Ilusi.
“Bisnis biawak kamu, Badar?” tanya Aziz setelah Barada menutup teleponnya.
“Hahaha!” tawa Barada. “Ini biawak mahal, nyawa taruhannya kalau mau menangkapnya.”
“Ada biawak seberbahaya itu?” tanya Sandro serius.
“Hahaha!” tawa Barada lagi. Lalu katanya kepada Rudi, “Anak buah saya sedang mencari informasi yang dimulai dari Grandbo ....”
“Eh eh eh! Sedang membicarakan tentang apa ini?” tanya Aziz memotong karena Barada menyebut nama Grandbo yang dia ketahui adalah mantan pacar Vina yang pernah datang bikin ribut di rumah Haji Suharja.
“Saya sedang usahakan untuk mencari kabar tentang Vina,” jawab Barada.
“Hah!” kejut Aziz dan Sandro.
“Saya yang minta Badar bantu coba carikan Vina yang hilang. Ini sepertinya sudah masalah nyawa,” kata Rudi kepada kedua sahabatnya.
“Iya juga ya. Dendi yang kabur bebas saja bisa ketemu sama Badar. Kenapa pas urusan Vina hilang enggak kepikiran langsung minta tolong ke Badar, bukan ke Daeng Ambo Upe?” Aziz baru terpikirkan.
“Kalau memang Grandbo itu terlibat dalam hilangnya Vina, insyaallah tidak akan lama. Tapi, kalau ternyata Grandbo bersih, maka bisa memakan waktu yang jauh lebih lama dari harapan. Anak buah saya mematok waktu satu minggu untuk mencari tahu apakah Grandbo pelakunya atau bukan,” ujar Barada.
“Badar, sebenarnya pekerjaan kamu apa sih? Tentara ya?” tanya Sandro.
“Hahaha! Kita sudah sepakat, itu rahasia,” jawab Barada yang didahului dengan tawanya.
“Iya deh,” ucap Aziz yang sebenarnya juga penasaran dengan pekerjaan Barada. Apalagi Barada mengatakan memiliki anak buah.
__ADS_1
Bagaimana tidak membuat takjub jika Barada yang masih berusia muda sudah menjadi seorang pemimpin.
“Jadi, belum bisa dikatakan bahwa ada petunjuk ya?” tanya Rudi.
“Iya. Jika dalam seminggu tim saya tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Vina, maka akan saya upayakan cara lain untuk mencarinya. Jadi saat ini saya tidak bisa memberi janji waktu,” kata Barada.
“Allahuakbar allahuakbar!”
Suara azan dari masjid terdengar yang memanggil seluruh kaum lelaki muslim untuk salat berjemaah di masjid. Namun, meski waktu magrib adalah waktu salat favorit, tetapi tetap saja yang hadir salat tidak sampai 30% dari jumlah lelaki di desa nelayan tersebut.
“Badar, mau salat di mana?” tanya Muttaqin kepada putrinya. Dia muncul di ambang pintu kamar Rudi.
“Di masjid saja, Puang,” jawab Barada.
“Minta mukena ke Daeng, Badar,” kata Rudi yang selama sakit hanya pada salat jumat dia ke masjid. Dia biasanya didorong oleh Aziz atau Sandro ke masjid.
“Ada mukena di mobil,” kata Barada.
“Ayo, Pak Ustaz, kita ke masjid!” ajak Aziz.
“Mari,” ucap Muttaqin.
Maka ditinggallah Rudi seorang diri di kamarnya. Pada waktu itu, rumah yang sudah memiliki banyak hiasan dekorasi tersebut terlihat cukup sepi karena orang-orang pulang ke rumah masing-masing. Rumah Rudi terlihat begitu bercahaya dan terang karena telah dipasang beberapa lampu tambahan.
Di saat Aziz bersama Haji Daeng Marakka, Muttaqin dan Barada pergi ke masjid, Sandro sepertinya memiliki agenda lain.
“Dari mana sampai ketinggalan satu rakaat, Dro?” tanya Aziz yang heran karena melihat Sandro bangkit berdiri saat imam salam mengakhiri salatnya.
“Ganti baju. Menghadap Allah itu harus ganteng,” jawab Sandro.
“Oooh. Kamu mau balik lagi ke rumah Rudi?” tanya Aziz.
“Mungkin habis isya. Saya ada sedikit urusan.”
“Saya juga habis isya baru ke situ lagi,” kata Aziz.
Maka kedua sahabat itu berpisah untuk sementara. Di sisi lain, Muttaqin dan Barada pulang bersama Ustaz Barzanji ke rumah Rudi.
Sandro kembali pulang ke rumahnya hanya untuk mengambil sebuah kantong plastik berisi sesuatu. Setelah itu dia pergi dengan penampilan yang begitu alim, bersarung Samarinda, berbaju koko putih bersih dan berpeci hitam seperti seorang menteri di hari pelantikan.
Sandro pergi ke sebuah rumah yang pada waktu petang itu terlihat sepi.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Sandro di depan pintu rumah yang tidak punya halaman.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab satu suara lelaki dari dalam rumah.
Berdebar jantung hati Sandro mendengar suara lelaki itu.
__ADS_1
“Mudah-mudahan tidak ada pertumpahan darah. Ah, kenapa tadi tidak saya ambilkan juga buat bapaknya?” pikir Sandro.
Detik berikutnya, pintu pun dibuka dari dalam. Muncullah sosok dan wajah seorang lelaki berkumis tebal. Sorot matanya langsung tajam kepada Sandro dan ekspresinya kaku sebeku es cokelat.
“Eee ....”
“Cari siapa, Dro?” tanya lelaki berkaos oblong datar memotong dengungan kalimat awal Sandro.
Ketika lelaki berkumis itu membuka pintu, beberapa orang yang sedang duduk menonton di ruang tamu juga menengok untuk tahu siapa tamunya.
“Anu, Daeng. Saya mau ketemu sama Juni,” jawab Sandro sambil tersenyum getir menghadapi suasana tidak bersahabat itu.
“Kalau cuma mau buat anak saya menangis, baliklah, Dro,” kata lelaki itu, masih dengan wajah yang datar seperti wajah ibu singa.
Melihat ayahnya hanya berdiri di ambang pintu dan mendengar suara yang sepertinya kenal, Junita yang sedang menonton televisi di ruang tamu segera bangkit dan muncul di belakang ayahnya.
“Sandro?” sebut Junita terkejut dan heran.
Sandro tersenyum kikuk ketika Junita yang masih muda itu menampakkan wajahnya. Jantungnya kian berdebar.
“Saya mau bicara empat mata, Jun,” ujar Sandro.
“Biarin, Pak. Biar saya yang bicara,” kata Junita kepada ayahnya.
Tanpa kata, sang ayah mundur dan berjalan masuk.
Tinggallah Junita dan Sandro di depan pintu. Junita tidak menunjukkan senyum sedikit pun. Sepertinya perceraian yang terjadi setahun lalu itu masih sangat membekas.
“Masuk, Dro!” ajak Junita.
“Tidak usah, di sini saja,” tolak Sandro sambil agak bergeser agar tidak benar-benar di depan pintu rumah.
Junita lalu menutup pintu dan dia ikut bergeser. Rumah itu tidak memiliki teras, jadi tidak ada kursi untuk diduduki. Yang ada hanya deretan tanaman hias.
“Ini buat kamu, Jun,” ucap Sandro sambil mengulurkan kantong plastik bawaannya.
“Apaan ini?” tanya Junita tanpa melihat isi kantong plastik yang diterimanya.
“Itu hadiah dari saya,” jawab Sandro.
Meski menunjukkan wajah dingin, tetapi hati Junita terkejut dan ada sepercik rasa bahagia.
“Itu juga ... sebagai tanda permohonan maaf saya karena ... selama ini saya sudah menyakiti perasaan kamu, Jun,” tambah Sandro agak terputus-putus seperti sinyal TV digital.
“Yes! Akhirnya kamu minta maaf ke saya, Sandro!” sorak Junita merasa menang, tapi itu hanya di dalam hati.
Faktanya, Junita hanya tersenyum kikir kepada Sandro. (RH)
__ADS_1