
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Kegiatan belajar dan mengejar mengaji akhirnya berakhir di tengah kondisi lingkungan yang heboh. Sebab, sejumlah warga terlihat berjalan tergesa-gesa melintas di depan rumah Rudi menuju ke sisi desa di mana posisi rumah Vina berada.
Ibu-ibu yang menunggu anaknya, bersikap buru-buru mengajak anaknya pulang. Sebenarnya bukan pulang, tapi ingin pergi ke sumber kehebohan yang terjadi, yaitu di rumah Vina.
Berbeda dengan Alexa, ternyata dia tidak kepo dan bersikap lebih cuek. Namun, dia tidak langsung pulang, tetapi menunggu anak-anak semua pulang, kecuali putrinya Candaria Flexy. Kalau anaknya sudah pulang duluan, tentunya bisa repot.
Melihat si janda mungil cantik masih memilih bertahan daripada pergi sebelum diusir, Rudi pun menghampiri dan bertanya, bukan untuk memegang tangannya.
“Ada apa, Bu?” tanya Rudi dengan senyum ramahnya.
“Begini, Ustaz. Hari Senin itu hari ulang tahun Flexy. Ustaz bisa hadir untuk pembacaan doa?” ujar Alexa sembari tersenyum begitu manis, tapi tidak dimanis-maniskan karena memang di wajahnya ada pabrik gula.
“Pagi, siang atau sore, Bu?” tanya Rudi.
“Sore, Ustaz. Jam empat bakda asar,” jawab Alexa lembut, selembut gula halus.
“Oh, iya, inyaallah,” jawab Rudi.
“Terima kasih, Ustaz.”
“Iya, Bu. Hati-hati.”
“Ayo salim, Nak!” kata Alexa kepada putrinya.
“Tapi ibunya jangan salim juga,” kata Rudi mengingatkan.
“Hihihi …!”
Perkataan Rudi itu membuat Alexa tertawa kencang dan menahan malu karena mengingat ulahnya pada awal dia datang.
Maka Flexy pun menyalami tangan Rudi. Sang ibu tidak ikut salim.
“Assalamu ‘alaikum, Ustaz!” ucap Alexa akhirnya.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Rudi.
Alexa pun pulang dengan perasaan bahagia.
“Ustaz, saya pamit ya!” izin Kulsum yang datang dari belakang.
“Tidak mau ngopi bareng dulu?” tanya Rudi seraya tersenyum.
__ADS_1
“Hihihi! Terima kasih, Ustaz,” ucap Kulsum yang didahului dengan tawa mendengar gurauan sang pemuda.
“Senin sore Flexy ulang tahun. Kamu enggak bisa hadir ya?” tanya Rudi.
“Iya, tadi Bu Alexa mengundang juga, tapi saya kuliah,” jawab Kulsum. “Ada apa sih ramai-ramai, Ustaz?”
“Tidak tahu. Coba Kulsum pergi lihat saja. Sepertinya ada kejadian,” jawab Rudi. “Oh iya, insyaallah besok siang kita ada acara makan-makan bareng Bulan, Aziz dan Sandro. Bisa datang?”
“Eee, insyaallah, Ustaz,” jawab Kulsum setelah berpikir sekedipan mata, tapi bukan berarti dia mengedipkan mata kepada Rudi.
“Alhamdulillah,” ucap Rudi seraya tersenyum lebar. “Tapi saya konfirmasi dulu ke Bulan. Pasti jadinya atau enggak, nanti saya kabari.”
“Iya. Ya sudah, Ustaz. Assalamu ‘alaikum!” pamit Kulsum seraya tersenyum pula.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Rudi.
Pasangan pengajar itupun berpisah dengan saling tukar senyum tanpa bibirnya tertukar. Kulsum membawa sepeda motor. Mungkin dia pun tertarik untuk melihat apa yang terjadi di sisi lain dari desa nelayan itu.
Rudi lalu merapikan perlengkapan mengaji yang masih belum dibereskan. Untuk kelas anak perempuan sudah rapi.
Usai membereskan, Rudi pergi ke kamarnya.
“Ada apa ramai-ramai, Di?” tanya Kamsiah yang sempat melihat pergerakan warga yang tidak wajar.
“Tidak tahu, Daeng. Tunggu saja beritanya, nanti juga sampai,” jawab Rudi.
Rudi yang sudah di dalam kamar, meraih hp-nya. Dia nyalakan layarnya. Terlihat angka-angka yang cukup banyak pada fitur aplikasi chat dan panggilan telepon biasa.
Rudi lebih dulu membuka fitur panggilan telepon biasa untuk melihat siapa yang meneleponnya sampai sepuluh kali. Rudi sudah bisa menduga dan ternyata benar. Vina telah meneleponnya berkali-kali. Ia dan Vina memang tadi sudah bertukar nomor hp.
Setelah itu, Rudi membuka aplikasi chat. Pada aplikasi itu, ada angka tiga pada pesan dari nomor Vina dan angka sepuluh pada simbol telepon, menunjukkan Vina juga menelepon sebanyak sepuluh kali lewat aplikasi tersebut.
Perlu diketahui, Rudi suka mematikan nada dering hp-nya di waktu jam salat dan mengaji. Dia tidak suka diganggu oleh telepon pada dua waktu ibadah tersebut. Kebiasaan itu terkadang membuat Rudi lupa menyalakan kembali nada deringnya. Jadi, dia suka tidak mendengar atau mengangkat panggilan telepon.
Yang jelas, Rudi tidak tertarik untuk menelepon balik ke nomor Vina, karena dia tidak mau ikut campur masalah lamaran orang lain. Memang, dia pun belum memiliki keputusan tentang tawaran Haji Suharja karena dia belum bicara kepada ibunya. Rencananya sih baru akan dia bicarakan nanti agak larut malam, setelah acara tadarusan dengan kedua sahabatnya.
Rudi kemudian membuka tiga pesan dari nomor Vina.
“Assalamu ‘alaikum, Pak Ustaz. Boleh telepon, gak?” bunyi pesan pertama dengan emoji senyum bermata love-love.
Pesan pertama itu dikirim satu jam sebelum salat asar, lama sebelum tamu Jakarta datang.
Vina tidak mengirim pesan susulan dalam waktu berdekatan karena mengetahui bahwa pesannya belum dibuka-buka oleh Rudi.
“Rudi tolong cepat kamu ke sini tolongin saya. Saya didatangin mantan pacar saya yang dari Jakarta!”
__ADS_1
Itulah bunyi pesan kedua yang dikirim setengah jam lalu.
Lima menit kemudian, pesan ketiga dari Vina masuk yang berbunyi, “Rudiii Bapak ribut sama mantan pacar saya. Tolong cepat ke sini!”
Rudi terdiam. Pikirannya berkelahi karena memikirkan isi pesan-pesan itu.
“Vina jelas-jelas sangat minta tolong,” ucap Rudi di dalam hati.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk menelepon Vina.
Tuuut! Tuuut! Tuuut …!
Panggilan telepon itu masuk, tetapi tidak diangkat-angkat sampai batas limit. Rudi kembali mengeklik gambar telepon.
Ternyata, hingga tiga kali panggilan, Vina tidak mengangkat teleponnya. Itu karena Vina sedang ditanya-tanya oleh ayahnya, Pak RW, Pak RT, dan beberapa tokoh masyarakat tentang siapa adanya Grandbo. Sementara hp Vina ada di kamar.
Rudi menghempaskan napas. Pikiran buruk jadi hinggap di pikirannya dan tidak langsung terbang lagi. Daripada tersiksa oleh duga-menduga, Rudi memutuskan keluar pada waktu menjelang magrib tersebut.
“Daeng, saya ke rumah Vina dulu!” izin Rudi kepada ibunya yang sedang berbincang serius dengan Lastri, tetangganya.
“Daeng ikut, Di!” kata sang ibu sambil buru-buru menghampiri putranya yang berdiri di depan teras.
“Enggak usah, Daeng. Nanti rumah kosong. Nanti saya cerita saja,” cegah Rudi.
Kamsiah dengan ekspresi kecewa akhirnya mengangguk.
“Hati-hati,” pesan sang ibu.
“Iya.”
Rudi pergi dan Kamsiah kembali menghampiri Lastri di pinggir pagar rumah. Ngobrol dengan dipisahkan pagar sudah biasa kedua wanita itu lakukan.
Ternyata, ketika Rudi mendekati rumah Vina, suasana sudah tidak seramai ketika kejadian, tetapi masih ada beberapa warga yang berkumpul dalam jumlah kecil sekedar saling berbincang, tentunya topik utama kabar petangnya adalah tentang lamaran angkuh yang berujung bentrok dan tembakan pistol.
“Di! Rudi!” panggil seorang lelaki dari samping.
Ketika Rudi menengok, ternyata itu Sandro yang di belakangnya berjalan Aziz dan istrinya yang menggendong bayi.
“Di, mendingan kamu enggak usah ikut campur,” kata Sandro.
“Iya, Di,” kata Aziz pula.
Ketiga sahabat itu lalu berbincang di pinggir jalan dengan serius. Aziz dan Sandro bergantian menceritakan apa yang telah terjadi di halaman rumah Haji Suharja berdasarkan apa yang mereka lihat dari luar pagar.
Pada intinya, kedua sahabat itu melarang Rudi datang ke rumah Vina karena sudah ada Pak RW, Pak RT, dan Kepala Satlinmas yang datang belakangan. Bahkan seorang warga yang purnawirawan TNI juga diundang hadir.
__ADS_1
Akhirnya Rudi pun memutuskan tidak melanjutkan niatnya, terlebih hari semakin senja menuju waktu magrib. Ia memilih pulang dengan membawa buah bibir, bukan buah tangan. (RH)