
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
“Sebentar lagi azan. Tidak mungkin menghindari Vina terus,” pikir Rudi yang sebenarnya sejak tadi hanya pura-pura salat duha. Entah apa itu hukumnya?
Ditengoknya jam dinding. Beberapa menit lagi akan masuk waktu zuhur.
“Tenang Rudi, tenang. Vina itu bukan boomsex, yang kalau dilihat langsung mikirnya mesum. Cuekin kenangan nakal kamu. Kalau enggak bisa dicuekin, langsung nikahi saja. Tapi … masa iya saya nikah sama Vina yang masih begitu? Ya Allah, tolonglah hamba-Mu. Jangan buat Hamba bingung …,” batin Rudi.
Rudi lalu mengganti baju dan celananya dengan baju koko dan sarung yang bagus. Ia rapikan songkok bugisnya dan kemudian mematut diri sebentar di cermin lemari, bahkan sempat menaikturunkan alisnya menggoda dirinya sendiri.
“Bismillahirrahmanirrahiiim!” ucapnya lirih setelah menarik napas panjang dan memantapkan hati. Dia masih mendengar ibunya dan Vina berbincang di ruang tamu.
Rudi membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar. Ketika dia menyibak tirai nomor satu, karena memang tirainya hanya ada satu, ….
“Rudiii!” pekik Vina begitu gembira dan langsung bangkit dari duduknya, lalu menghamburkan diri dengan kedua tangan terentang hendak memeluk Rudi.
“Eh eh eh! Jangan peluk!” seru Rudi cepat sambil ujung telunjuknya maju menempel ke dahi Vina, menahannya agar berhenti.
Dengan keceriaan dan kegembiraan yang mendadak raib terusir oleh teriakan Rudi, Vina langsung berhenti dengan wajah cemberut jengkel.
“Saya punya wudu,” kata Rudi lagi.
“Punya wudu, tapi kok pegang jidad saya?” tanya Vina yang tidak terima alasan Rudi. Tanpa pertimbangan apa pun lagi, Vina langsung memeluk Rudi dengan kencang.
“Daeng, tolong! Masa ustaz dipeluk-peluk begini?” teriak Rudi yang kelabakan disergap kencang seperti itu.
Kamsiah pun segera memberi P3U (Pertolongan Pertama Pada Ustaz).
“Nak, jangan peluk Rudi. Bisa jadi fitnah kalau ada yang lihat,” kata Kamsiah lembut sambil membelai kepala gadis itu, yang lagi-lagi terasa aneh karena warnanya yang kuning.
“Hiks hiks hiks …!”
Vina mau segera melepaskan pelukannya, tapi sambil menangis dan beralih memeluk Kamsiah.
“Saya sudah enggak bisa peluk Rudi lagi. Hiks hiks hiks!” ratap Vina.
“Ya sabar, nanti kan bisa kalau sudah jadi istri,” kata Kamsiah menenangkan.
“Rudi mau menikah sama saya, Daeng?” tanya Vina cepat seperti mendengar bahwa dirinya mendapat dorprize. Ia cepat menarik wajahnya dari balik leher Kamsiah.
“Kalau Allah memang menjodohkan kalian,” jawab Kamsiah pilih aman.
Allaahuakbar Allaahuakbar!
Akhirnya suara azan waktu salat zuhur terdengar berkumandang dari Masjid Al-Fatah.
__ADS_1
“Ah, sudah azan,” kata Rudi kepada Vina sambil menunjuk ke arah luar. Seolah-olah menemukan cahaya di ujung lorong.
“Tapi saya mau bicara sama kamu, Rudiii!” rengek Vina dengan wajah mengiba dan masih basah oleh air mata.
“Yuk, kita salat dulu!” ajak Rudi. “Habis itu kita makan siang sama Daeng.”
“Benar nih? Enggak rencana menghindar lagi?” Vina kurang yakin dengan tawaran baik Rudi. Jika memang hadiahnya makan bareng, salat pun akan dia jalani. Toh, dia belum lupa tata cara salat meski dia salat hanya dua kali dalam setahun, yakni salat Idul Fitri dan Idul Adha.
“Ya enggak dong. Kamu kan tahu rumahku ada di mana. Malah tahu kamarku ada di mana,” kata Rudi setengah berseloroh. Sepertinya dia sudah berani menghadapi gadis cantik itu. Mungkin karena pelukan Vina tadi menjadi penawar ampuh baginya. Namun sebenarnya, Rudi tidak tega melihat Vina menangis.
“Iya, makan siang di sini saja,” kata Kamsiah pula.
“Iya, Daeng,” jawab Vina yang perasaannya mulai terhibur.
“Pakai mukena Daeng saja,” kata Rudi.
“Iya. Tapi tungguin!” rajuk Vina lagi, seperti gadis manja.
“Iya. Buruan. Nanti keburu qomat!” suruh Rudi.
“Iya. Jadi ustaz kok enggak sabaran sih!” rutuk Vina merengut.
Kamsiah hanya tersenyum melihat cekcok kecil itu.
“Enggak salat di rumah saja sama Daeng?” tanya Kamsiah kepada Vina sambil masuk untuk mengambilkan mukena.
Vina lalu pergi ke belakang untuk berwudu.
Singkat cerita. Vina kini sudah mengenakan mukena putih lengkap atas bawah, bahkan rambut bulenya tertutupi semua. Vina saat itu benar-benar tampil seperti Muslimah ahli surga. Dia begitu cantik.
“Masyaallah!” sebut Rudi terpana sambil memberi jempol dan senyuman kepada Vina. “Ayo, nanti keburu ketinggalan satu rakaat!”
Maka, muda dan mudi itu keluar dari rumah bersama. Bahagia perasaan Vina saat itu.
“Kita seperti pasangan calon ahli surga ya, Di?” kata Vina yang berjalan di sisi Rudi, cukup dekat.
“Aamiin!” ucap Rudi seraya tersenyum. “Tapi, kamu jangan jalan di sebelah saya. Jalan di belakang.”
“Kenapa?” tanya Vina keberatan.
“Nanti orang menyangka kamu istri saya,” jawab Rudi sambil terus berjalan.
“Ya enggak apa-apa, kita kan calon,” debat Vina.
“Kita belum sah, nanti jadi fitnah,” tandas Rudi.
Memang, ketika mereka berjalan berdampingan seperti itu, apalagi jaraknya cukup rapat, warga yang sama-sama menuju masjid atau tetap sibuk dengan aktivitasnya, memandangi mereka dengan durasi yang agak lama.
__ADS_1
Sambil merengut, Vina pun berhenti sejenak dan kembali berjalan di belakang Rudi.
“Rudi, kenapa Daeng ditinggal di belakang?” seru seorang lelaki dari sisi belakang mereka berdua, menyangka Vina adalah Kamsiah.
Rudi dan Vina menengok kepada lelaki tersebut. Mereka melihat seorang Sandro yang kini lebih ganteng dan lebih rapi dengan busana muslimnya. Kini ia memelihara cambang model Elvis Presley yang bukan ratu dangdut itu.
“Eh, siapa bidadari ini?!” kejut Sandro saat melihat wajah indah Vina. Ia murni terkejut dan tidak mengenali bahwa itu adalah Vina.
Tersipu malu Vina disebut “bidadari”, yang pastinya itu pengakuan yang tidak dibuat-buat oleh Sandro.
“Kamu pikir itu siapa?” tanya Rudi lalu melanjutkan langkahnya menuju gerbang masjid yang sudah ramai orang tiba untuk melaksanakan salat.
Sandro sampai mengerutkan kening untuk mengingat-ingat milik siapa wajah cantik itu.
“Vina?” terka Sandro dengan ekspresi mengerenyit, seolah tidak gembira mengetahui bahwa gadis itu adalah Vina.
“Iya, saya Vina,” jawab Vina seraya tersenyum.
Namun, jawaban Vina itu justru membuat Sandro memandang gadis tersebut dengan tatapan tidak suka, membuat Vina jadi heran dan tidak enak hati. Senyumnya kembali raib.
“Sudah minta maafkah kamu sama Rudi?” tanya Sandro sinis.
Terkejut Vina mendapat pertanyaan dan ekspresi seperti itu dari Sandro, orang yang juga sangat dekat dengannya dulu.
“Lebih baik kamu enggak usah pulang ke sini lagi kalau cuma nantinya mengganggu kehidupan Rudi!” kata Sandro yang mengandung unsur cabai setan level emaknya setan.
Sek!
Meski hanya sebaris kalimat, tetapi kata-kata Sandro menusuk seperti pisau dapur ke hati Vina. Bagitu sakit. Sepasang matanya seketika memerah dan berair.
Sementara Sandro sudah berjalan pergi meninggalkan Vina dengan membawa kemarahannya.
“Hiks!” Tersentak tubuh Vina menahan tangis.
Gadis itu akhirnya berlari pergi membawa tangisnya. Dia bukan ke arah masjid, tetapi ke arah lain, yaitu menuju pulang.
Rudi yang melihat itu, jadi terkejut, tapi dia tidak memanggil. Dia cepat mendatangi Sandro sebelum masuk ke dalam masjid.
“Sandro, kamu bicara apa ke Vina?” tanya Rudi.
“Cuma tanya ke dia, sudah minta maaf belum ke kamu,” jawab Sandro.
Rudi hanya menarik napas panjang, lalu pergi ke tempat wudu.
Sementara itu, Haji Suharja yang baru keluar dari rumah membawa sajadah serta Sunirah dan Murni, hanya diliputi keheranan melihat putrinya pulang dengan menangis lagi. Anehnya, Vina pulang dengan bermukena lengkap.
Vina hanya melintas masuk ke rumah, tanpa mau diwawancarai lebih dulu. (RH)
__ADS_1