Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 55: Operasi Tanam Mata Telinga


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Akhirnya, sambil tersenyam-senyum Parni keluar dari mobil Grandbo dengan tangan yang ditarik keluar oleh Dery. Grandbo sendiri menunjukkan wajah yang marah kepada Parni.


“Tank eperi mac, Abang Ganteng! Hihihi!” ucap Parni dengan bahasa planetnya sambil tiba-tiba memeluk pinggang Grandbo dengan kencang dan menenggelamkan wajahnya ke dalam kekekaran tubuh yang harum semerbak.


“Dasar perempuan kaki lima!” maki Grandbo sambil dengan kasar mencekal kedua tangan Parni dan melepaskan dari tubuhnya. Maksudnya lepas dari tubuh Grandbo, bukan dari tubuh Parni.


“Akk!” pekik Parni saat bahunya didorong keras, membuatnya jatuh terjengkang di lantai depan lobi.


Untung Parni memakai celana hotpants warna merah, sehingga ketika terjengkang, tidak ada yang tahu bahwa dia memakai celana segitiga bermuda warna kuning telur puyuh.


Dengan kesalnya, Grandbo membuka jasnya dan melemparkannya ke wajah Beny yang hanya bisa terkejut.


“Jual saja di tukang loak!” perintah Grandbo tanpa menjelaskan alasannya. Dia memilih langsung masuk ke dalam mobilnya.


“Siap, Bos!” ucap Beny telat, karena pintu mobil sudah ditutup.


Anak buah Grandbo segera bermasukan ke dalam mobil. Dery masuk ke samping sopir mobil bosnya. Beny dan dua lainnya masuk ke mobil kedua di belakang.


“Tank eperi mac, Abang Ganteng! Tank eperi mac!” ucap Parni yang sudah berdiri kembali dari jatuhnya. Dia tersenyum-senyum senang.


Tidak ada tanggapan dari Grandbo dan anak buahnya. Kedua mobil itu bergerak meninggalkan depan lobi.


“Ngomong apa perempuan setan itu?” tanya Grandbo kepada anak buahnya.


“Tidak tahu, Bos. Sepertinya bahasa kulon,” jawab Dery.


Sementara itu, Parni kembali mengenakan sepatu di kaki mulusnya yang aslinya memang mulus. Setelah itu, dia membuka tas tangannya dan mengambil sebuah ponsel. Ketika dia menyalakan monitornya, terlihat ada beberapa rangkaian nomor seperti nomor hp dan memiliki keterangan 100%. Setelah Parni men-scroll layar hp-nya, ada sebanyak sepuluh nomor yang tertera.


Setelah itu, Parni melakukan panggilan telepon kepada seseorang.


“Angsa Centil melapor,” ucap Parni sambil melihat ke sekitarnya untuk memastikan tidak ada orang di dekatnya. “Nomor hp Biawak Perak sukses tersadap. GPS sudah dipasang dimobilnya. Tinggal memasang mata dan telinga di ruangan Biawak Perak.”


Setelah berkata seperti itu, sebentar kemudian Parni menutup panggilannya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Parni lalu berbalik dan berjalan menuju pintu lobi. Namun, satpam penjaga pintu segera menghadang.


“Eit! Parni mau ke mana?” tanya si satpam dengan mata mendelik sambil memegang alat handheld metal detector.

__ADS_1


“Eh, kok Pak Satpam tahu nama gua?” tanya Parni pura-pura terkejut.


“Tadi, preman-preman itu manggil elu Parni,” jawab si satpam.


“Hihihi!” Parni tertawa cekikikan sok malu-malu sambil menutupi gigi tonggosnya dengan telapak tangannya.


“Elu mau ke mana?” tanya si satpam lagi.


“Ke dalam, Pak. Open BO,” jawab Parni berbisik dengan wajah dan tubuh maju merapat kepada si satpam.


Si satpam terkejut, bukan karena tersengat setruman biologis atau teracuni oleh wangi tubuh si wanita muda, tapi karena tangannya tahu-tahu disalami dan dia merasakan ada kertas yang diberikan oleh Parni. Ketika dia melirik tangannya, ternyata sudah terpegang selembar uang warna merah.


“Iya, iya, iya. Silakan masuk, Parni,” ucap si satpam sambil bergeser ke samping, memberi jalan bagi Parni, bahkan tidak memeriksanya menggunakan alat pendeteksi logamnya.


Sambil tersenyum, Parni berjalan kepada pintu lobi yang terbuka otomatis. Setelah itu, dia melenggang dengan bebas menuju tempat yang dia tuju.


Di hotel itu ada lift buat umum dan lift khusus untuk karyawan hotel.


Ternyata Parni pergi ke depan pintu lift khusus untuk karyawan. Bersamaan dengan itu, dari arah lain muncul seorang pemuda berpakaian seragam oranye yang mendorong troli kebersihan yang lengkap dengan sapu, pel, ember, dan tong sampah plastiknya.


Pemuda itu berhenti dan berdiri di sisi Parni yang hanya melirik sekali. Dia lalu menekan tombol buka dan pintu lift langsung terbuka. Dia masuk bersama trolinya, demikian pula Parni.


“CCTV sudah dimanipulasi?” tanya Parni datar kepada pemuda itu tanpa memandangnya.


Namun, keduanya belum menekan satu tombol angka pun.


Kondisi itu, buru-buru dimanfaatkan oleh Parni untuk mencopot gigi palsunya yang tonggos dan dilemparkan ke dalam tong sampah. Adegan menariknya adalah tanpa sungkan Parni membuka baju dan celananya.


Si pemuda kebersihan hanya memandangi tubuh indah Parni yang kini berwajah lumayan cantik sejak giginya dicabut.


Pluk!


Melihat si pemuda hanya diam memandanginya, Parni melempar pakaiannya ke wajah si pemuda.


“Gua sudah hampir telanjang, elu masih ngelihatin gua. Mana seragamnya, Kutu?” omel Parni dengan menyebut nama sandi si pemuda, yaitu Kutu Elektrik.


“Wadduh, gua lupa, Centil,” ucap Kutu Elektrik dengan menyebut nama sandi Parni, yakni Angsa Centil.


“Jangan sampai gua hajar jadi kutu busuk, lu!” ancam Parni mendelik emosi.


“Hahaha!” tawa Kutu Elektrik sambil buru-buru merogoh ke dalam ember dan mengambil keluar lipatan pakaian kering yang warnanya sama dengan apa yang dipakainya.

__ADS_1


“Rugi besar gua harus buka baju di depan elu!” rutuk Parni sambil bergerak cepat merebut baju dari tangan Kutu Elektrik dan memakainya dengan cekatan.


Parni menggulung rambutnya dan menggunakan topi warna oranye. Ia segera menutupi celana intranya dengan celana panjang. Sepatunya dia pun ganti. Tentunya sudah disiapkan yang sesuai ukuran. Hpnya dia ambil dan kantongi, sedangkan tas tangannya dia masukkan ke dalam tong sampah.


Setelah Parni sudah berpakaian lengkap sebagai seorang petugas kebersihan gadungan, barulah Kutu Elektrik menekan angka lantai tujuan di hotel berlantai delapan tersebut.


Setibanya di lantai delapan, lift terbuka. Ketika mereka keluar dan menengok ke kanan, pandangan mereka segera tertumpu pada seorang pemuda berseragam satpam yang duduk di belakang sebuah meja jaga.


Parni dan Kutu Elektrik belok kanan dan berjalan menuju koridor di mana meja sekuriti berada.


Belum lagi Parni dan Kutu Elektrik tiba di depannya, satpam yang berwajah mirip Wijoyo si ojol itu mengangguk sekali kepada keduanya, seolah memberi kode cinta.


“Kuncinya sudah gua buka,” ucap satpam yang memang adalah Wijoyo.


Parni dan rekannya hanya mengangguk lalu berbelok. Mereka sudah tahu di mana posisi pintu ruang kerja Grandbo.


Bukan hanya Wijoyo, Parni dan Kutu Elektrik yang melakukan operasi yang bernama Operasi Tanam Mata Telinga, tetapi ada puluhan anggota Tentara Ilusi yang terlibat dan mereka tergabung dalam Tim Badak Cula Emas pimpinan Nita Talia.


Di kediaman Grandbo sendiri, ada seorang pengantar paket yang datang. Dengan mengandalkan keahlian hipnotis, pengirim paket tersebut mengendalikan satpam satu per satu hanya dengan menepuk bahu.


Setelah berhasil mengendalikan kesadaran para sekuriti rumah mewah tersebut, empat lelaki lain datang dan masuk ke rumah dengan leluasa. Tidak hanya para keamanan, pelayan dan majikan semuanya dihipnotis.


Semua sekuriti dikumpulkan di satu tempat dan dijaga oleh satu orang, pelayan dan majikan dikumpulkan di satu ruangan dan dijaga oleh satu orang untuk mengantisipasi jika ada yang bisa sadar dari pengaruh hipnotis tingkat tinggi. Sementara tiga orang lainnya bekerja cepat di kamar pribadi Grandbo dan orangtuanya memasang alat sadap dan kamera canggih tersembunyi.


Setelah pekerjaan ketiga agen dalam memasang alat sadap selesai dan rekaman CCTV di rumah semua dimanipulasi, mereka pun pergi dan kembali menyadarkan para penghuni rumah.


“Setelah jentikan jari saya, lima menit kemudian kesadaran kalian kembali dan seolah-olah baru selesai briefing,” kata salah satu agen kepada majikan dan lima orang pelayan. Dia mengulangi kalimatnya sekali lagi baru menjentikkan jarinya.


Setelah itu, dia keluar menyusul rekan-rekannya. Sementara majikan dan para pembantu itu tetap berdiri menatap kosong. Barulah nanti lima menit kemudian, pengaruh hipnotis itu hilang.


Hal yang sama dilakukan pada sekelompok sekuriti di depan rumah. Hingga ketika empat agen pergi dan menghilang dengan kendaraannya, tinggallah agen yang menyamar menjadi pengantar paket seorang diri.


“Eh ada apa ini?” tanya salah satu satpam ketika ia dan rekan-rekannya tersadar dari hipnotis.


“Mohon maaf, Pak. Ternyata alamatnya beda nomor,” ucap agen yang kini seorang diri.


“Coba lihat,” kata satpam yang lain sambil meraih kotak paket dan memeriksa alamat yang tertera. “Oh iya. Ini salah. Coba blok sebelah.”


“Terima kasih, Pak,” ucap agen tersebut dengan penuh keramahan. Dia pun kembali ke sepeda motornya.


Saambil menjalankan kendaraannya, dia menelepon.

__ADS_1


“Merpati Putih, Kuda Blaster melapor. Pemasangan mata dan telinga di rumah Biawak Perak sukses!” (RH)


__ADS_2