Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 14: Sujud yang Lama


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


“Daeng, motor saya mana?” tanya Rudi kepada ibunya dengan wajah mengerenyit menahan sisa rasa pusing di kepalanya.


Dia berdiri di ambang pintu rumahnya dengan wajah kusut yang belum disetrika. Dia baru bangun menjelang zuhur. Badan pun masih bau alkohol dan muntahan.


“Nak, berhentilah minum-minuman seperti itu. Kasihan Puangmu yang menjadi omongan di sana sini,” kata Kamsiah sambil mengelus rambut belakang Rudi.


“Biarkan saja orang gibah tentang saya dan Puang, Daeng. Toh itu tidak memberi bahaya ke kita, Daeng,” kata Rudi sambil menghindari belaian ibunya.


Ia merasa tidak nyaman, padahal dulu dia seperti kucing, suka dibelai kepalanya oleh sang ibu dan tentunya oleh Vina.


“Kata Ustaz Barzanji, semua keburukan itu tidak akan terjadi tanpa izin Allah, Daeng. Paling juga saya minum beberapa hari lagi. Anggap saja masa berkabung 14 hari. Saya janji bakal berhenti minum kalau sudah 14 hari. Kalau saya enggak berhenti, suruh Aziz sama Sandro gantung saya di pohon, biar enggak ke mana-mana,” kata Rudi. Lalu tanyanya dengan nada agak tinggi, “Tapi motor saya di mana, Daeng?”


“Kata Aziz, motormu ditinggal di kafe,” jawab Kamsiah.


“Oh, Aziz yang jemput saya. Kalau ditinggal begitu, biasanya Aziz sendirian jemput saya. Dia memang sahabat enggak ada kembarannya, kalau ada mau saya jual satu.”


“Mandi dulu sana, Di. Sebentar lagi zuhur, salatlah dulu. Kalau kamu salat, setidaknya tidak terlalu jelek orang menilaimu,” kata Kamsiah.


“Riya itu maksudnya, Daeng. Enggak boleh itu. Biarlah enggak salat dulu, biar satu paket sama dosa mabukku,” ketus Rudi seenaknya, lalu berjalan masuk. Langkahnya masih gontai.


“Mau ke mana kamu, Di?” tanya Kamsiah.


“Mandi, Daeng. Motor harus saya ambil,” jawab Rudi sambil terus berjalan masuk.


“Assalamu alaikum!” salam Daeng Tanri sambil berjalan agak pincang, sepertinya luka di lututnya lumayan memberi rasa. Dia datang dengan tas selempangan jenis crossbody bag warna hitam. Biarpun muka model lawas, tetapi tas buat simpan duit harus merek ternama.


“Wa ‘alaikum salam,” jawab Kamsiah.


“Rudi sudah bangun?” tanya Daeng Tanri.


“Baru mau mandi,” jawab Kamsiah. “Tapi masih mabuk sedikit. Saya suruh salat, tapi ngomongnya malah biar satu paket sama dosa mabuknya.”


Daeng Tanri lalu menyerahkan tas duitnya kepada istrinya, kemudian dia berjalan masuk. Dia berhenti di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Terdengar suara derasnya kran air yang mengucur.


Tok tok tok!


“Rudi!” panggil Daeng Tanri.

__ADS_1


Terdengar bahwa kran dimatikan.


“Iye, Puang?” sahut Rudi dari dalam kamar mandi.


“Habis mandi pergilah ke masjid salat zuhur, Nak!”


“Habis mandi pakai baju dulu, Puang!” sahut Rudi, masih bisa berguyon.


“Pokoknya kamu salat zuhur di masjid, Nak! Biar kalau ajalmu datang sesudah zuhur, kamu masih punya bekal satu salat,” kata Daeng Tanri lagi.


“Iye, Puang!” sahut Rudi.


Setelah tidak mendengar suara ayahnya lagi, Rudi kembali menyalakan kran air dengan pool.


Ternyata, jika Rudi masih bisa berkelit ketika disuruh ibunya, maka tidak jika ayahnya yang memberi perintah. Terbukti, keduanya pergi bersama ke masjid untuk melaksanakan salat zuhur.


Daeng Tanri tahu bahwa sebenarnya Rudi masih dalam pengaruh alkohol.


Kemunculan Rudi jelas menarik perhatian para jemaah yang jumlahnya tidak lebih dari dua puluh orang.


“Puang Haji,” sapa seorang tetangga saat berjumpa di pintu pagar Masjid Al-Fatah. Kepada Daeng Tanri dia tersenyum, tetapi tidak kepada Rudi yang berwajah dingin.


Bersyukur Daeng Tanri, tidak ada hal-hal aneh yang terjadi atau dilakukan oleh Rudi, kecuali satu, yaitu pada sujud terakhir di rakaat terakhir, Rudi sujud lama. Ketika semua jemaah salat zuhur bangun dari sujudnya, Rudi tidak bangun-bangun, membuat kekusyuan makmun di kanan dan kirinya jadi terganggu. Barulah menjelang salam, Rudi bangun dan tasyahud akhir.


Namun, tidak ada yang berkomentar, tetapi jemaah yang terganggu hanya mendumel dan mengeluh di belakang. Masih untung, saat itu Daeng Tanri ada di saf pertama, sedangkan Rudi di saf kedua bersama empat jemaah lain. Jadi, Daeng Tanri tidak perlu tahu tindakan aneh putranya di belakang.


Setelah pulang dari masjid, Rudi langsung pamit pergi ke Londo Cafe untuk mengambil sepeda motornya. Dia memilih naik ojek lokal untuk sampai ke kafe.


Saat siang biasanya Aziz sibuk dengan orderannya. Sementara Sandro “tidak kenal” masjid dan salat, sehingga dia bisa tidur sepulang melaut sampai waktu sebelum asar. Sebagai nelayan yang masih jomblo, Sandro bisa melaut semaunya dia. Kalau butuh uang ya melaut, kalau dompet lagi tebal yang libur dahulu.


Lagipula Rudi memang tidak mau ditemani.


“Pagi sekali datangnya,” tegur sekuriti yang berjaga siang di kafe yang belum buka.


“Mau ambil motor, Bang,” jawab Rudi lalu berjalan menuju parkiran yang hanya ditempati oleh beberapa sepeda motor, salah satunya adalah miliknya.


Namun, belum sampai Rudi ke parkiran, pemuda tampan itu berbalik dan berjalan ke pos jaga yang luasnya sesempit sangkar burung.


“Bang, bisa beli bir, gak?” tanya Rudi.

__ADS_1


“Jangan terlalu banyak minum. Tiap malam minum banyak. Masih untung belum keracunan alkohol kamu,” kata si satpam yang berbadan besar tapi berperut gendut. Selain mengenakan celana cokelat gelap seperti celana aparat, dia mengenakan kaos oblong warna hijau yang akrab dengan warna tentara.


“Enggaklah, saya masih sehat. Lumayanlah buat uang tambahan Abang. Saya juga mengerti aturannya kalau beli siang,” kata Rudi.


“Kamu yakin mau minum siang-siang?” tanya si satpam yang beralih tertarik dengan tawaran Rudi.


“Dua kaleng saja cukup. Saya enggak akan mabuk,” kata Rudi.


“Dua kaleng. Kalau kamu mabuk, saya enggak tanggung jawab,” kata si satpam.


“Bereslah itu,” kata Rudi santai.


“Tunggu sebentar di sini,” kata si satpam.


Sekuriti itu lalu berjalan meninggalkan pos dan Rudi. Dia pergi ke pintu belakang kafe. Di sisi lain, ada seorang lelaki sedang mengepel lantai dengan peralatannya.


Tidak pakai L, si satpam yang tidak mau disebutkan namanya itu sudah keluar membawa dua kaleng bir. Jangan ditanya mereknya apa?


Transaksi pun dilakukan. Si satpam pun untung besar. Mengeluarkan uang untuk minum, sudah seperti mengeluarkan uang untuk hobi bagi Rudi. Ia pun minum dua kaleng bir di tempat.


“Nama kamu siapa?” tanya si satpam.


“Hahaha! Abang langsung jatuh cinta kepada saya ya?” goda Rudi yang sedikit beraksen mabuk. Wajahnya yang putih, sangat jelas terlihat mulai kemerahan.


“Anak Setan!” maki pelan si satpam karena ditertawakan.


“Enggak, Bang. Hanya gurauan beranak tawa, aku bercanda. Hahaha!” kata Rudi sambil angkat dua jari simbol “V”. “Nama saya Rudi, Bang.”


“Kamu kenal dengan cewek cantik berjilbab yang datang ke sini dua kali?” tanya si satpam.


“Ah, Abang halu tingkat pocong nih. Mana ada cewek berjilbab datang ke tempat jualan lubang seperti ini?” kata Rudi.


“Kamu enggak ingat? Cewek aparat yang pernah tendang kaki kamu, pas kamu lagi mabuk,” kata si satpam.


“Mana ingatlah, Bang. Kalau saya lagi mabuk seperti itu, jumlah jari tangan ada berapa pun saya enggak ingat,” kata Rudi, lalu menenggak kembali minumannya. “Tapi, memangnya ada, Bang? Ada cewek berjilbab datang main ke sini? Terus, yang dicari apa? Bukannya di sini enggak ada yang jualan pisang? Hahaha!”


“Hahaha!” tawa si satpan juga. “Ada. Cantik banget. Biar aparat, tapi ramah. Kayaknya datang ke sini lagi ada misi pencarian. Cewek itu sempat bilang ke saya tentang kamu, ‘Tolong awasi. Itu masih kerabat saya.’ Begitu katanya.”


“Hah! Kerabat? Saya memang punya banyak saudara perempuan yang pakai jilbab, tetapi enggak ada yang kerjanya jadi polisi,” bantah Rudi. (RH)

__ADS_1


__ADS_2