
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Setelah masuk ke dalam mobilnya, mengambil tindakan aman dari kemarahan keluarga Haji Suharja dan warga desa nelayan, Grandbo segera mengirim serlok ke nomor bernama Ibenk.
Setelah mengirim serlok desa nelayan itu, Grandbo mengirim pesan chat.
“Eksekusi nanti tengah malam bareng Beny.”
“Siap, Bos. Kita bawa ke mana, Bos?” balas nomor yang di-chat.
“Pulau Sebesi,” ketik Grandbo.
“Siap Bos,” jawab Ibenk.
Akhirnya mobil Grandbo dan mobil pengawalnya meninggalkan desa nelayan dengan aman.
“Bos, Vina mau dijual?” tanya Dery yang duduk di kursi samping sopir.
“Iya. Elu lihat aja penolakannya dan perlakukan bokapnya ke gua. Biar dia tahu kalau berani mempermainkan gua. Menyesal seumur hidup,” jawab Grandbo.
Grandbo lalu menelepon anak buahnya yang bernama Beny, yang ada di mobil belakang.
“Elu nanti turun di Bakau, enggak ikut nyeberang. Elu gabung sama Ibenk buat nyulik Vina. Ingat, jangan ada jejak, jangan ada saksi. Kalau ada saksi, lumpuhin sekalian!” perintah Grandbo kepada Beny yang menerima telepon di mobil belakang.
Singkat cerita, ketika tiba di Pelabuhan Bakauheni, Beny diturunkan dan ditinggal seperti anak hilang. Namun untung, dia sudah besar dan juga badannya besar, jadi tidak masalah ditinggal seorang diri di petang hari.
Beny segera menelepon Ibenk tentang rencana mereka. Hasilnya, Beny harus menunggu beberapa jam di pelabuhan. Tentunya Beny mengisi kekosongannya dengan makan enak dan buang hajat di toilet umum.
Barulah jam satu malam, sebuah speed boat merapat ke pelabuhan, di mana Beny sudah menunggu.
Ibenk datang membawa tiga orang teman. Jadi mereka berlima dengan ditambah Beny.
Dari pelabuhan itu, mereka pergi menuju pesisir Kalianda menembus kegelapan laut. Dengan berbekal serlok, mereka dengan mudah langsung menuju ke pantai Kalianda, tepatnya ke pantai desa nelayan yang dituju.
__ADS_1
Mereka bahkan melewati sejumlah bagang di tengah laut yang memiliki lampu-lampu yang berfungsi sebagai pengundang ikan.
Mereka tiba di pantai sekitar jam dua malam.
Dalam melakukan operasi, mereka berpakaian hitam-hitam dan penutup wajah. Beny harus menanggalkan pakaian kebesarannya sebagai pengawal. Dia pun berpakaian sama.
Mereka semua ternyata dibekali pistol yang diberi laras peredam suara. Selain itu, dua orang membawa tas ransel kecil yang pragmatis. Sementara satu orang menunggu di speed boat.
Dalam melakukan perjalanan dari pantai masuk ke desa nelayan, Beny yang memimpin, karena dia yang tahu letak rumah Vina. Mereka bergerak dengan penuh kewaspadaan dan tanpa berkata-kata. Sebagai orang-orang profesional, mereka cukup berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
Sepanjang perjalanan masuk ke desa nelayan, mereka tidak berjumpa dengan hansip karena memang tidak ada hansip di lingkungan itu. Tidak ada pula warga yang begadang menonton pertandingan sepak bola karena saat itu memang bukan musim bola, tetapi musim mangga.
Pokoknya perjalanan empat orang bertopeng itu ke rumah Vina berjalan lancar.
Ketika dihadapkan oleh pintu pagar yang terkunci, satu orang segera mengeluarkan sebuah alat. Entah apa nama alat itu. Yang jelas ketika ada bagian alat yang masuk ke lubang gembok, dengan mudah sekali gembok terbuka.
Dalam melepas gembok dan membuka pintu dilakukan dengan begitu senyap, tanpa suara benturan besi dengan gembok sedikit pun.
Meski mereka bersepatu, tetapi langkah mereka pun begitu senyap. Mereka juga mengenakan sepatu jenis khusus, sepatu yang tidak berbicara ketika berjalan di lantai keramik.
Pintu dibuka tanpa suara. Semuanya masuk dan pintu ditutup, tapi tidak benar-benar rapat. Satu orang berjaga di balik pintu. Tiga bergerak masuk. Ada empat pintu kamar yang mereka temukan.
Untuk mencari tahu di mana kamar Vina, satu orang mengeluarkan sebuah alat canggih berbentuk kotak pipih dan memiliki antena kecil yang lentur. Antena itu dimasukkan ke lubang kunci. Pada salah satu sisi lebar kotaknya kemudian menyala sebagai sebuah monitor. Pada layar kecil itu memperlihatkan suasana di dalam kamar yang menunjukkan Ferdy sedang tertidur tanpa baju dan hanya bercelana bola. Untung dia laki-laki.
Lelaki bertopeng itu menggeleng sebagai tanda bahwa itu bukan kamar Vina. Dia menarik alatnya dan bergeser ke pintu kamar lain.
Setelah melakukan mengintipan, terlihatlah sosok Vina yang sedang tertidur dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Lelaki itu mengangguk kepada dua rekannya.
Ia lalu memasukkan alat kameranya ke tas dan mengeluarkan kembali alat pembuka kuncinya. Sebelum memakai alat iut, dia mencoba membuka pintu lebih dulu. Ternyata tidak dikunci.
Secara perlahan, pintu kamar Vina dibuka. Dua orang bertopeng yang adalah Beny dan Ibenk bergerak masuk dengan tanpa suara. Ibenk mengeluarkan sebuah lipatan sapu tangan. Sementara Beny mengeluarkan sebuah suntikan.
Keduanya menghampiri Vina yang terlihat begitu menggiurkan di saat tidur terlentang seperti itu. Meski demikian, Ibenk dan Beny tidak akan merusak operasi penculikan mereka hanya karena tergiur melakukan pelecehan.
Ibenk berbicara kepada Beny dengan bahasa isyarat yang dibalas dengan anggukan.
__ADS_1
Ibenk lalu menghitung dengan gerakan jarinya. Pada hitungan ketiga, Ibenk langsung membekap mulut dan hidung Vina dengan tangan yang sudah memegang sapu tangan. Sementara tangan yang lain memegangi satu tangan Vina.
Sontak Vina terkejut dan melek, tetapi jeritannya teredam oleh pembekapan yang mengandung cairan bius. Sementara Beny memegangi kedua kaki mulus Vina.
Rontaan Vina yang tidak berkutik hanya berlangsung sebentar, karena cairan bius yang masuk lewat pernapasannya cepat membuatnya tidak sadar. Setelah Vina terdiam dengan sepasang mata yang kembali tertutup, Ibenk menghentikan bekapannya. Giliran Beny yang segera menyuntik pada leher samping si gadis.
Setelah itu, Beny yang berbadan besar mengangkat tubuh Vina apa adanya.
Mereka pun keluar dari rumah itu tetap dengan penuh waspada dan senyap. Mereka tidak perlu repot-repot kembali mengunci pintu rumah atau pagar. Hingga mereka tiba kembali di pantai, semuanya berjalan lancar.
Maka Vina pun dibawa pergi lewat laut meninggalkan Pulau Sumatera.
Dan ketika keesokan siangnya Vina tersadar, maka terkejut, bingung dan takutlah dia. Vina mendapati dirinya sudah dalam keadaan terikat di sebuah ruangan yang bersih, maksudnya bersih dari perangkat apa pun.
Kedua tangan Vina terikat kuat di belakang punggung. Kedua kaki pun terikat. Mulutnya penuh oleh sumpalan kain yang juga mengikat wajahnya. Sementara perutnya juga diikat dengan tali yang disambungkan kepada teralis jendela kecil yang ada di sisi atas. Jadi, meski terikat kedua tangan dan kakinya, Vina tidak bisa bergeser meninggalkan posisinya, karena badannya tertambat oleh tali.
Kondisi itu jelas membuat Vina ketakutan dan menjerit-jerit, juga berusaha memberontak dari ikatan. Namun, apa daya. Ikatan tali itu kuat, tidak seperti ikatan tali dalan adegan penyekapan di film-film atau sinetron-sinetron.
Dari kamar itu, Vina masih bisa mendengar suara ombak laut yang susul-menyusul. Itu menunjukkan bahwa dia berada di sebuah bangunan dekat pantai.
Barulah sore harinya, pintu kamar dibuka oleh seorang lelaki berbadan besar. Sesosok pria lain berjalan masuk. Pemuda ganteng yang mengenakan T-shirt bagus, memperlihatkan cetakan badannya yang berotot. Pemuda itu tidak lain adalah Grandbo.
“Apa kabar, Vina?” tanya Granbo seraya tersenyum manis kepada Vina yang kusut oleh air mata.
“Hmm hmm!” jerit Vina yang hanya sebatas mulutnya, sambil berusaha meronta dari ikatan, padahal saat itu badannya sudah sangat lemah karena dia tidak pernah diberi makan dan minum, bahkan dia harus pipis di celana.
“Tidak ada lagi cinta dan sayang di antara kita. Dan ... ini juga akhir dari kebahagiaan elu,” kata Grandbo sambil mendekati Vina.
Dia lalu mengambil sesuatu dari saku belakangnya. Ternyata sebuah pisau lipat.
Melihat itu, semakin ketakutanlah Vina. Benar-benar ketakutan. Yang ada di dalam benaknya adalah dia pasti akan dibunuh. (RH)
*********
Kunjungi karya paling baru Om Rudi, novel kolosal "Alma3 Ratu Siluman"
__ADS_1