Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 43: Ancaman untuk Rudi


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Setelah tiga tahun, Suharja kembali mendatangi Daeng Ambo Upe. Sebagai warga desa itu juga, tentunya Daeng Ambo Upe sudah mendengar kehebohan tentang hilangnya Vina.


Vina diduga kuat keluar dari rumah pada waktu antara tengah malam dan waktu subuh. Namun, tidak ada seorang pun saksi yang melihatnya pergi meninggalkan rumah atau sedang berada di luar rumah.


Kali ini, Suharja didampingi oleh Obba Gantra pergi menemui Daeng Ambo Upe.


Sama seperti waktu pertama datang, Suharja membawa foto, rokok tiga bungkus, uang dan kepercayaan.


Dalam proses ritual penerawangannya, Daeng Ambo Upe melakukan hal yang sama. Foto cantik Vina dicelupkan di dalam air gentong yang berbunga mawar dan melati. Di saat foto itu diaduk masuk ke dalam air menggunakan gayung batok kepala yang tanpa tengkorak wajah, Suharja bertugas mengisap sebatang rokok.


Dan hasilnya ….


“Anaknya sudah di luar Pulau Sumatera,” kata Daeng Ambo Upe dengan tatapan yang datar kepada Suharja dan Obba.


“Hah!” pekik kedua tamu itu bersamaan. Mereka sangat terkejut.


Jelas mereka sangat terkejut karena tidak akan masuk diakal jika Vina sudah berada di luar Pulau Sumatera.


“Tidak mungkin Vina tahu-tahu sudah ada di Pulau Jawa, Daeng. Mobil, tas, hp, sampai dompetnya ada ditinggal di rumah,” kata Suharja.


“Percaya,” ucap Daeng Ambo Upe satu kata hanya untuk mengingatkan Suharja. Ia lalu mengisap rokoknya sendiri.


Satu kata itu membuat Suharja terdiam karena menyadari kesalahannya.


“Kalau Haji tidak percaya, buat apa datang ke sini?” tanya Daeng Ambo Upe yang bermaksud menegur kesalahan tokoh desa itu.


“Iya, Daeng,” ucap Suharja tidak berdaya.


“Maaf, Daeng. Jadi bagaimana ini?” tanya Obba santun.


“Kalau sekedar mau tahu Vina ada di mana, saya sudah beri tahu. Tapi saya tidak bisa katakan secara detail anak itu ada di mana dan bagaimana nasibnya,” jawab Daeng Ambo Upe.


“Tapi bisakah anak saya itu dibawa pulang lagi?” tanya Suharja.

__ADS_1


“Kalau untuk membawa pulang raganya secara lengkap, saya tidak bisa. Tapi kalau disuruh mencelakai orang dari jauh, saya bisa. Yang Haji perlu cari tahu adalah menemukan Vina di luar Pulau Sumatera ini, setelah itu Haji lebih tahu cara memulangkannya. Saya sarankan supaya Haji meminta bantuan polisi untuk bisa mencari Vina,” ujar Daeng Ambo Upe. Kali ini dia jujur tentang keterbatasannya.


Ya, sebatas itulah bantuan Daeng Ambo Upe kali ini untuk Suharja. Jika dulu Suharja ambil paket tiga, maka yang ini tidak ada pilihan lain selain mengambil paket satu. Itu karena Daeng Ambo Upe tidak bisa membantu untuk membuat Vina bisa pulang.


Menangislah dan meraunglah Sunirah di rumahnya mendengar bahwa Vina sudah berada di luar Pulau Sumatera.


Berita yang bersumber dari Daeng Ambo Upe itu menambah kegemparan di desa nelayan tersebut. Ada yang percaya, tapi lebih banyak yang tidak percaya meski mereka belum memiliki dugaan alternatif.


Ujung-ujungnya, Suharja mau tidak mau melaporkan kehilangan anak ke kantor polisi sektor di kecamatan.


Hilangnya Vina juga menjadi topik utama perbincangan antara Rudi, Aziz dan Sandro, sambil mereka menunggu kaum bidadari selesai masak.


Di dapur, ada empat bidadari yang sedang sibuk memasak sambil berbincang-bincang, yaitu Bulan Adinda, Kulsum, Linda, dan Kamsiah. Sementara Rasti, istrinya Aziz, sibuk menyusui dan mengeloni bayinya di kamar Kamsiah.


“Silakan, Abang-Abang!” ucap Linda yang membawakan seteko es sirup, minuman yang begitu segar bagi para batangan yang usai turut serta sibuk dalam pencarian Vina.


Linda adalah seorang gadis yang seumuran dengan Bulan, meski tidak secantik Bulan, tetapi dia terkesan salehah dengan jilbab ungunya yang cantik, selaras dengan warna busana muslimahnya yang berwarna navy dengan corak gambar buah-buah anggur. Sebagai asisten Bulan di kantor, Linda juga memiliki kulit yang putih karena selalu terembus angin AC.


“Alhamdulillah!” ucap Sandro kencang, seolah-olah dialah yang paling berbahagia dengan datangnya minuman itu.


“Hei! Biasa saja alhamdulillahnya. Nanti anakku bangun dengar suaramu!” hardik Aziz.


Setibanya di dapur, Linda yang berkarakter gampang tertawa kembali tertawa. Bulan dan Kulsum hanya menertawakan Linda yang hari itu menjadi pemeran utama wanita di mata Sandro.


“Selain Ustaz Rudi, yang dua lainnya boleh kamu targetkan,” kata Bulan, seolah-olah memberi isyarat tidak langsung.


Para wanita itu hanya tertawa.


Meski ikut tertawa mendengar gurauan Bulan, tetapi Kulsum yang lebih muda dari Bulan jadi menyimpulkan di dalam hati.


“Sepertinya Kak Bulan sudah punya ikatan hati sama Ustaz Rudi,” pikir Kulsum sambil tertawa bersama.


“Jangan sentuh Aziz, istrinya bisa ngamuk nanti,” kata Kamsiah pula, bisa mengimbangi gurauan kaum muda itu.


“Siapa tahu saja istrinya model saleha tingkat dewi, mau dimadu. Hahaha!” celetuk Linda lalu tertawa.


“Hmmm! Ngomongin saya ya?” tanya Rasti yang muncul dari pintu kamar Kamsiah.

__ADS_1


Maka meledaklah tawa para wanita itu, termasuk Linda sendiri. Memang pada dasarnya hanya gurauan, jadi dia tidak merasa menjadi terdakwa.


“Haji Suharja kembali menjual akidahnya dengan datang ke guruku,” kata Sandro.


“Sudah Daeng Ambo itu menyimpang, tapi masih juga kamu akui sebagai guru,” kata Aziz.


“Yang namanya guru, meski kemudian berbeda jalan, tetap tidak boleh kita sebut bekas guru. Ingat pepatah yang mengatakan ‘jasa guru seluas samudera’,” kata Sandro.


“Lalu bagaimana dengan Vina, Di?” tanya Aziz kepada Rudi.


“Apa daya kita. Orang sedesa pun tidak berdaya. Kita tunggu saja kabarnya. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menjalani hari-hari kita seperti biasanya,” jawab Rudi. “Daeng Ambo Upe bisa kirim paket gaib, tapi tidak bisa kirim paket nyata seperti memulangkan orang, kecuali orang itu hilang disembunyikan oleh jin.”


“Sepertinya kamu percaya sama Daeng Ambo Upe juga, Di,” tukas Aziz.


“Saya tidak percaya sama Daeng Ambo Upe, tetapi saya percaya sama perkara gaib. Rasulullah saja pernah bersinggungan dengan jin, itu artinya memang jin memiliki kemampuan untuk bersinggungan dengan manusia dalam kasus-kasus tertentu,” jelas Rudi. “Saya tetap yakin, kalau urusan orang hilang, polisi ranahnya.”


“Yang saya khawatirkan juga, takutnya kehilangan Vina ini menyangkut keselamatan nyawanya juga,” kata Aziz.


“Siapa yang memanjat pohon jambu, dialah yang digigit semut,” kata Sandro. “Mengerti kan maksud saya?”


“Iya,” jawab Aziz. “Apa yang Vina alami pasti buah dari apa yang dia panjat.”


“Pintar sekali kamu, Ziz. Pantas kamu jadi muridku,” puji Sandro, tapi kemudian lebih menaikkan statusnya.


“Hahaha!” tawa Rudi mendengar kata-kata Sandro di saat Aziz justru mencibiri sahabat nelayannya itu.


“Kapan kamu siap menikah, Di?” tanya Sandro tiba-tiba, yang membuat Rudi terkejut sungguhan.


“Minum dulu, Dro, Ziz!” kata Rudi mengalihkan diri.


“Ah, pakai acara alih perhatian!” sergah Sandro sambil memandang kepada Rudi dengan cara melirik.


“Hahaha!” tawa Rudi.


“Waktu kamu jadi kanker, buru-buru kamu cari pasangan untuk pacaran saja. Sekarang sudah mapan dan jadi lelaki saleh, malah banyak pertimbangan. Apalagi yang mau ditimbang? Calom sudah ada, modal sudah lebih, kita berdua sudah nikah, Daeng suka kesepian enggak ada cucu di rumah, tunggu apa lagi? Jangan bilang kalau kamu menunggu Vina,” kata Sandro.


“Betul sekali, Dro!” kata Aziz pula. “Pintar sekali Sandro sekarang. Coba, Dro. Apa ancaman bagi orang yang sudah mapan, sudah ketemu jodoh, tapi belum mau menikah juga?”

__ADS_1


“Melanggar perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala!” jawab Sandro mantap.


“Hahaha!” tawa Rudi mendengar jawaban Sandro, tapi di dalam hatinya membenarkan sahabatnya itu. (RH)


__ADS_2