Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 56: Muslimah Jepang


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


“Assalamu ‘alaikum!” salam Barada kepada orang-orang yang berkumpul di rumah Rudi Handrak. Dia lalu melakukan gerakan membungkuk 30 derajat seperti budaya ojigi orang Jepang.


“Wa ‘alaikum salam. Hahaha!” jawab mereka lalu tertawa rendah melihat gaya Barada.


Setelah itu, Barada yang didampingi oleh Sandro yang bangga, berjalan masuk dan menemui ibu-ibu di dalam rumah, menyusul ayah dan ibunya.


“Assalamu ‘alaikum!” salam Barada lagi kepada ibu-ibu lalu melakukan ojigi kembali 30 derajat.


“Wa ‘alaikum salam! Hahaha!” jawab ibu-ibu yang juga tertawa melihat adab Barada.


Barada lalu menyalami para ibu satu per satu.


“Awweee, cantik sekali kamu, Badar!” puji Kamsiah lalu memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Barada.


“Berkah dari puangku, Daeng,” jawab Barada.


“Ya Allah, Badar. Sudah seperti artis kamu ya. Cantik sekali. Hihihi!” puji Manta Sukasih, sang bibi. “Kapan menikah?”


“Hahaha!” tawa Barada agak keras. Dia memang kebiasaan tertawa seperti itu, meski terkadang tidak ada yang lucu bagi khalayak. “Masih meniti karir dulu, Daeng.”


“Kerja apa sih? Tante tidak pernah tahu,” tanya istri Haji Daeng Marakka itu.


“Di bidang jasa keamanan, Daeng,” jawab Barada.


“Oooh, pantas mobilnya mewah terus setiap ke sini. Gede rupanya gajinya,” kata Manta Sukasih sok tahu.


“Abang Sandro, bawa ke sini ole-olenya!” panggil Barada sambil memandang ke ruang tengah.


“Assiaap, Komandan!” sahut Sandro penuh semangat. Memang, dialah yang paling bersuara saat mengetahui kedatangan Barada.


Tidak berapa lama, masuklah Sandro yang membawa kardus yang cukup besar ke dalam.


“Eh, apa ini, Nak?” tanya Kamsiah seraya tersenyum senang, karena yang pastinya itu adalah barang geratisan. Tidak mungkinlah Barada datang hanya untuk jualan di rumah pesta orang.


“Ole-ole dari Tanah Abang. Hihihi!” Yang menjawab adalah Latifah, ibu Barada.


“Badar, buat lelaki ada toh?” tanya Sandro.


“Hahaha! Pasti ada. Ada di kardus satunya. Tapi terlalu bagus jika dipakai melaut,” jawab Barada.


“Tidak apalah kalau turun melaut pakai baju baru.  Biar along. Hahaha!” kata Sandro.


Maka, segeralah terjadi pembongkaran paksa terhadap kardus besar yang dilakban dengan kuat.


Ada jilbab, mukena, baju, hingga sarung. Semuanya segera diraih oleh ibu-ibu, dilihat-lihat dan dicocok-cocokkan.


“Silakan dilihat, dipegang dan dicoba, Daeng. Ini tidak diobral dan juga tidak diperjualbelikan. Semuanya geratis, tetapi satu orang dapat satu, kecuali sahibul bait,” kata Barada seperti tukang obral kaki lima.


“Hahaha!” para ibu-ibu tertawa dan mulai ramai.


Ruang dalam yang awalnya tempat mengatur makanan, mendadak menjadi lapak pakaian geratis.

__ADS_1


“Saya izin, Daeng. Mau lihat Rudi,” ucap Barada.


“Iya. Masuk saja ke kamarnya. Ada calonnya juga di dalam,” kata Kamsiah.


Barada lalu beranjak meninggalkan kaum ibu. Sementara Sandro terus mengikuti Barada seperti buntut.


“Aziz!” panggil Sandro kepada Aziz.


Saat lelaki gemuk itu menengok, Sandro segera memanggil dengan gerakan tangan. Aziz pun bangkit dan masuk.


“Assalamu ‘alaikum, Pengantin Baru!” ucap Barada di ambang pintu kamar Rudi yang memang terbuka.


“Wa ‘alaikum salam, Badar!” jawab Rudi dan Bulan sembari tersenyum lebar.


Barada lalu kembali membungkuk ojigi yang membuat pasangan calon pengantin baru itu tertawa. Barada tidak perlu menunggu ada yang membalasnya untuk tegak kembali.


“Hahaha! Pantas kamu minta nikah cepat, Di,” kata Barada menertawakan. “Saya kira wajar-wajar saja, ternyata karena ada kecelakaan.”


“Tapi bukan kecelakaan itu, Badar. Ini murni kecelakaan lalu-lintas,” ralat Aziz.


“Hahaha!” tertawalah mereka bersama.


“Badar, perkenalkan dulu calon istri saya. Namanya Bulan Adinda,” kata Rudi.


Barada lalu bergerak mendatangi Bulan dan menyalami tangannya lalu cipika-cipiki, membuat Sandro senyam-senyum sendiri melihat kedua wanita cantik jelita itu saling menempel.


“Barada. Panggil saja Badar,” kata Barada.


“Panggil saja saya Bulan,” ucap Bulan pula.


Memang, kedua gadis cantik itu baru kali ini bertemu.


Bulan terbeliak meski tetap sipit matanya mendengar kata-kata Barada.


“Kok tahu banget?” tanya Bulan tidak bisa menutupi keheranannya.


“Hahaha!” tawa Rudi, Aziz dan Sandro. Mereka bertiga memang tahu sedikit tentang profesi Barada.


“Badar itu kalau kepo sama seseorang, pasti gitu, dicari tahu,” kata Rudi kepada tunangannya.


“Hahaha!” tawa Barada. “Kan ada di Mbah Kukel.”


“Iya. Kamu kan sudah masuk kuasa Mbah Gagel, Lan,” timpal Aziz.


“Eh, kalau mau masuk ke Mbah Gobel itu apakah kita harus sukses dulu? Saya kan termasuk nelayan sukses,” tanya Sandro pakai serius.


“Nanti saya ajarin kamu kalau mau masuk ke Mbah Gagel,” kata Aziz kepada Sandro.


“Wah, mau banget saya, Ziz,” kata Sandro antusias.


“Pernikahanmu yang seumur roti itu bagus untuk diceritakan. Terserah mau bentuk tulisan atau kesaksian video. Itu bisa viral nanti di Mbah Gagel,” kata Aziz.


“Bang Sandro sudah menikah rupanya. Tidak undang-undang saya. Mana istrinya?” kata Barada yang seketika membuat Sandro tersenyum kecut.


“Ceritakanlah kisahmu, Dro. Siapa tahu Badar ada solusi buatmu. Daripada hidupmu membujang seasson dua tidak kunjung tamat,” kata Rudi.

__ADS_1


“Begini ceritanya, Badar,” kata Sandro mulai berkisah dengan wajah yang tidak bersemangat.


Sandro pun menceritakan kisah cintanya hingga pernikahannya yang dilanda huru-hara.


“Demikianlah, Badar. Betapa kasihannya diriku,” kata Sandro menutup kisah pilunya.


“Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun!” ucap Barada seolah-olah mendengar berita kematian, membuat yang lain hanya tersenyum mendengarnya.


“Eh, seperti mendengar berita kematian saja,” komentar Sandro.


“Memangnya Abang Sandro tidak bertanya kepada Junita sebelum menikah tentang keperawanannya?” tanya Barada kepada Sandro.


“Tidak. Saya pikir dia masih ning nong,” jawab Sandro agak sewot.


“Tapi maafkan saya ya, Bang Sandro. Menurut saya, Junita tidak salah juga, Bang. Tidak mungkin dia membuka aib sendiri jika tidak ditanya. Sekarang Abang merasa begitu disakiti karena merasa dibohongi, lalu bagaimana dengan Junita? Dia mungkin jauh lebih sakit dan malu. Selain aibnya Abang bongkar, hatinya juga hancur karena harus menjanda di umur tiga hari pernikahan,” kata Barada.


Terdiamlah Sandro mendengar kata-kata Barada yang justru cenderung menyalahkannya.


“Pernikahan itu separuh agama, terlalu buruk jika dirusak dengan perceraian yang dibenci oleh Allah, apalagi baru beberapa hari,” tambah Barada yang benar-benar berisi nasihat.


“Tuh, dengarin, Dro,” kata Aziz.


“Eh, kenapa kamu jadi ikut menyalahkan saya, Ziz? Bukannya kamu selama ini mendukung saya?” protes Sandro.


“Junita sudah menikah lagi?” tanya Barada.


“Belum,” jawab Sandro singkat.


“Junita pernah cerita ke saya, kalau dia itu trauma. Takut kalau menikah lagi, hasilnya cerai lagi,” kata Aziz.


“Oooh,” desah Barada. Lalu dia pun beralih kepada Rudi, “Kenapa bisa kecelakaan parah seperti ini? Bukan karena mabuk kayak dulu, kan?”


“Hahaha!” tawa Rudi.


“Sekarang itu Rudi sudah jadi ustaz, Badar,” kata Aziz.


“Oh ya?” ucap Barada seakan tidak percaya. “Kabar gembira.”


“Saya itu kecelakaan karena menghayalkan Bulan pas lagi naik motor subuh-subuh. Saking bahagianya mau melamar di hari itu juga,” jawab Rudi singkat.


“Hmmm, kalau sudah suka menghayal seperti itu memang harus segera dinikahkan,” kata Barada.


“Hahaha!” tawa mereka bersama, tapi tidak bagi Sandro.


“Hahaha! Sandro jadi diam!” tawa Aziz sambil menunjuk Sandro.


“Tidak apa-apa. Sudah besar ini. Hahaha!” kata Barada santai, tanpa beban merasa bersalah karena telah mencubit hati pemuda berotot kencang itu.


“Saya jadi kepikiran ini,” kata Sandro.


“Kalau Abang Sandro merasa kata-kata saya benar, lebih baik Abang ambilkan satu set pakaian muslimah untuk Junita sebagai hadiah. Meminta maaf lebih dulu tidak harus menjadi yang tersalah,” kata Barada.


“Tapi, bagaimana dengan Linda?” tanya Sandro sambil memandang kepada Rudi dan Bulan, seolah-olah meminta pendapat.


“Nanti saya tanya ke Linda tentang status perasaannya kepada Abang,” kata Bulan seraya tersenyum.

__ADS_1


“Iya itu. Tolong bantu, Bulan. Saya sekarang sedang galau nih,” kata Sandro.


“Hahaha!” tertawalah mereka. (RH)


__ADS_2