
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Grandbo Budisakro keluar dari hotel dengan dikawal oleh dua orang pengawal. Pintunya saja terbuka lebih dulu sebelum dia menabrak pintu kaca otomatis tersebut.
Di depan pintu lobi, Grandbo dan kedua pengawalnya yang berjas hitam itu berdiri menunggu. Mereka berdiri bukan menunggu antrean, tetapi menunggu mobil datang dari parkiran.
Ada dua mobil hitam mewah yang kemudian datang ke depan lobi hotel. Pengawal botak berbadan besar yang bermana Dery segera mendatangi pintu tengah mobil yang depan dan membukanya. Dery membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya.
Namun, sebelum Grandbo berjalan ke mobil untuk masuk, tiba-tiba ....
“Tolooong! Tolongin guaaa! Aaa!” teriak seorang wanita sambil berlari dari arah depan hotel menuju depan lobi itu. Dia menjerit ketakutan sesuai dengan ekspresi wajahnya.
Wanita berambut ikal berbaju warna kuning telur asin itu berlari kencang dengan membawa tas tangan di tangan kanan dan dua sepatu berhak tinggi di tangan kiri. Jadi dia berlari tanpa alas kaki.
“Jangan lari, Parni!” teriak seorang lelaki kurus berwajah hitam khas provinsi timur. Entah apakah model wajah orang Ambon, atau Nusa Tenggara, atau juga Papua. Lelaki berpakaian jaket dan celana jeans itu bergaya preman. Bisa dilihat dari beberapa asesorisnya, seperti kalung anjing di lehernya dan cincin batu akik di jarinya.
Di belakang lelaki kurus yang berlari mengejar si wanita muda bermulut monyong itu, ada pula seorang lelaki besar berperut gendut yang juga berlari. Penampilannya juga model preman gang sempit yang suka memalak anak sekolahan yang sedang main lato-lato.
Agak jauh di belakang kedua preman itu ada dua satpam berseragam yang berlari mengejar pula. Entah mereka mengejar siapa.
Grandbo dan kedua pengawalnya diam memerhatikan aksi kejar-kejaran itu.
“Tolooong! Tolooong selamatkan kesucian guaaa!” teriak wanita yang dipanggil Parni tadi oleh si preman. Jarak dia dengan pengejar terdepan sekitar dua puluh meter.
“Setan! Kenapa preman jalanan bisa masuk ke area hotel?” maki Grandbo dengan tetap berdiri di tempatnya.
Parni yang memang bertubuh aduhai, meski bergigi tonggos yang memaksa bibir merahnya monyong, berlari lewat di depan mobil hendak masuk ke lobi hotel.
Parni yang awalnya hendak berlari ke pintu kaca lobi, mendadak berhenti dan menengok kepada Grandbo.
“Abang Ganteng, tolongin gua!” pekik Parni sambil tiba-tiba mendatangi Grandbo yang berdiri bebas, karena satu pengawalnya sedang memegang pintu yang terbuka dan yang satu lagi sedang berdiri di sisi mobil kedua.
“Eh, apa-apaan ini?” pekik Grandbo meronta melepaskan tangannya dari pegangan Parni yang panik, mungkin si pemuda takut terkena virus COVOD.
“Aaa! Tolooong!” jerit Parni lagi sambil berlari masuk ke dalam mobil yang terbuka, saat dua preman yang mengejarnya sudah tiba di dekatnya. Di dalam mobil mewah itu Parni duduk meringkuk seperti orang benar-benar ketakutan.
__ADS_1
Meski Parni tidak berpenampilan dekil, tetapi Grandbo menjadi kesal karena tempat duduk mewahnya diduduki oleh wanita dari planet lain.
“Eh eh eh! Keluar, Parni!” teriak lelaki kurus dengan logat ketimurannya yang kental, sekental gula dawet ayu. Dia tidak peduli dengan keberadaan Grandbo dan Dery di tempat itu.
“Jangan sentuh mobil gua!” teriak Grandbo kepada si preman kurus.
Teriakan Grandbo itu membuat Dery cepat bertindak mencegah si preman agar tidak memasukkan kepalanya ke dalam mobil untuk mencomot Parni yang tidak berhenti menjerit-jerit. Dery mendorong dada preman kurus sehingga dia jatuh terjengkang. Untung dia bercelana, tidak memakai rok seperti Parni.
“Hei!” teriak preman yang kedua sambil datang mendorong bahu Dery dari belakang.
Badan Dery yang masih lebih besar hanya terdorong sedikit, lalu berbalik dan menendang.
Tap!
Rupanya preman gendut punya isi juga, dia bisa cekatan melompat mundur sambil menangkis kaki Dery dengan telapak tangannya.
Si Beny yang berdiri di samping mobil kedua segera berlari maju untuk membantu Dery. Dua pintu mobil di belakang terbuka dan segera keluar dua lelaki berseragam jas seperti Dery dan Beny. Mereka juga segera ke titik keributan.
“Hei, jangan buat keributan di sini!” teriak satpam penjaga pintu lobi yang juga segera maju.
Dua satpam dari pos pintu masuk mobil juga sudah sampai membawa pentungan yang khas bentuknya. Jangan ditanya bentuknya seperti apa.
“Hei! Hei! Jangan ikut campur! Jangan ikut campur!” teriak preman gendut dengan mata melotot dan hidung mengembang kencang, memperbesar dua lubang pernapasannya. Dia menunjuk-nunjuk kepada Grandbo, pengawalnya dan para sekuriti hotel.
“Setan kentut!” maki Grandbo yang tipikalnya memang gampang emosi. Dia sangat tidak suka ketika wajah gantengnya ditunjuk oleh preman gendut.
Ingin rasanya Parni tertawa mendengar makian Grandbo, tetapi dia sedang kondisi ketakutan. Aktingnya harus sempurna.
Grandbo maju selangkah dan melakukan tendangan lurus ke depan yang mengincar perut gendut si preman yang memang berwajah sangar dan legam, ketahuan kalau mainnya selalu di jalanan.
Pak!
“Eh! Jangan macam- macam, lu. Di sini kawasan kita!” bentak preman gendut sambil menangkis lagi tendangan untuknya.
“Ini hotel gua. Kalau elu berdua mau cari selamat, cepat pergi!” ancam Grandbo.
Dua satpam pos depan segera mencoba mencekal kedua lengan si preman.
__ADS_1
“Heit! Jangan pegang-pegang, gua santet baru tahu rasa, lu!” bentak preman gendut sambil menengok kepada dua satpan yang badannya lebih kecil. “Gua mau pergi bawa perempuan itu!”
“Hei! Keluar dari mobil gua!” perintah Grandbo kepada Parni.
“Enggak mau. Gua mau diperkosa!” teriak Parni bergeming di dalam mobil.
“Dia itu punya utang yang sudah nunggak tiga bulan!” kata preman kurus.
“Setiap kita tagih, dia mengakunya mau diperkosa. Siapa juga yang mau perkosa bebek kayak gitu!” kata preman gendut.
“Pokoknya elu berdua pergi dari sini atau benar-benar gua bikin bonyok!” ancam Grandbo.
“Serahkan perempuan itu dulu!” tegas preman gendut tidak gentar.
“Hajar!” perintah Grandbo.
Maka empat orang pengawal Grandbo segera bergerak menonjok dan menendang kedua preman. Preman kurus tidak bisa melawan, karena dia lebih dulu dikunci lengannya oleh pengawal Grandbo dari belakang. Tiga tinju keras menghajar perut dan wajah si preman kurus.
Sementara preman gendut masih mencoba melawan. Dia bisa mengelak dan menangkis beberapa serangan dari Dery dan Beny. Namun, ujung-ujungnya juga kena hantam tinju dan tendangan.
“Ampun, ampun, ampun!” teriak preman kurus yang sudah meringkuk di lantai depan lobi sambil berusaha menutupi wajahnya dengan kedua batang tangannya.
Kondisi preman gendut pun sudah seperti kecoa terbalik. Dia kelabakan untuk menangkis tendangan bertubi-tubi dari Dery dan Beny.
“Berhenti! Berhenti!” teriak preman gendut sambil meringis kesakitan.
“Berhenti!” perintah Grandbo.
Para anak buah Grandbo menghentikan penghakimannya. Sementara ketiga sekuriti hanya diam menonton. Maklum, Grandbo anak yang punya hotel, jadi mereka tidak mau ikut campur.
Kedua preman itu akhirnya memilih kabur dengan berlari terhuyung-huyung, bahkan yang kurus masih ketagihan sakit dengan cara jatuh tersungkur.
Dua sekuriti pos depan segera mengejar kedua preman itu, sebagai alasan agar bisa pergi dari depan Grandbo supaya tidak dimarahi. Demikian pula satpam penjaga pintu lobi, dia segera kembali ke posnya.
“Elu keluar dari mobil gua!” perintah Grandbo sambil menunjuk kepada Parni.
Parni yang masih menunjukkan wajah ketakutan, sejenak memandang jauh ke arah kepergian dua preman yang mengejarnya tadi.
__ADS_1
“Cepat keluar! Jangan-jangan elu ngompol!” bentak Grandbo.
“Ih, Abang,” ucap Parni dengan wajah merengut malu dituding mengompol. (RH)