Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 64: Petunjuk Lengkap


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Setelah sukses melakukan Operasi Tanam Mata Telinga, Tim Badak Cula Emas segera pergi berkumpul di markas. Jangan ditanya markasnya di mana, namanya juga organisasi keamanan rahasia.


Di markas itu, para pemimpin operasi duduk melingkari sebuah meja kayu besar berbentuk lingkaran. Mereka berjumlah sepuluh orang yang dipimpin oleh Nita Talia. Sebagian dari mereka bekerja dengan kecepatan jari-jarinya di keyboard laptop.


Sementara itu, di salah satu dinding ruangan ada sebuah layar monitor raksasa seukuran papan tulis kelas kuliahan, 2 X papan tulis normal. Pada layar itu terbagi pula lebih dua puluh monitor kecil-kecil sebesar 24 inci.


Puluhan monitor itu menunjukkan banyak gambar rekaman suatu tempat, ada ruang kamar tidur dari beberapa angel, ruang kantor, bahkan dalam mobil. Ada pula yang bukan gambar rekaman, tetapi sekedar gambar simbol telepon gagang dan memiliki tulisan keterangan, seperti “suara kamar Biawak Perak”, “suara kamar bapak biawak”, “suara kantor Biawak Perak”, “suara mobil Biawak Perak”, hingga “suara toilet Biawak Perak”.


Jika gambar rekaman hanya menyuguhkan gambar ruangan yang dipasang kamera pengintai tersembunyi, maka gambar telepon gagang menyadap suara apa pun di tempat alat penyadap dipasang, bahkan suara air kran di kamar mandi pun tersadap dengan jelas.


“Oke, semua memori hp Biawak Perak yang tidak dihapus sudah terurai,” kata Parni yang punya nama sandi Angsa Centil.


“Bikin empat layar!” perintah Nita Talia kepada Parni.


Parni segera mengetik di laptopnya lalu berujung tekan Enter.


Maka ada empat layar kecil yang menyatu menjadi satu layar besar. Layar itu tidak menunjukkan rekaman gambar, tetapi sederet daftar file yang banyak.


“Periksa setiap file dengan teliti, mungkin kita akan menemukan harta karun di hp Biawak Perak!” perintah Nita Talia.


“Baik,” sahut Parni.


“Kutu Elektrik, elu dan anak buah elu pantau 24 jam semua kamera, kemudian sortir semua gambar yang mencurigakan. Jangan hanya adegan ranjang yang elu prioritaskan!” perintah Nita.


“Baik, Ndan!” jawab si pemuda yang sebelumnya menyamar menjadi petugas kebersihan di hotel yang dipimpin oleh Grandbo.


“Penyadap suara juga dipantau penuh, jangan sampai ada yang terlewat, Ular Purba,” kata Nita lagi.


“Baik,” jawab Wijoyo yang ternyata punya nama sandi Ular Purba. Entah dinilai mirip dari anggota tubuh yang mana sehingga dia menamai dirinya “Ular Purba”.


“Oke, tiga jam lagi gua akan lihat hasilnya,” kata Nita.


“Baik!” jawab kesembilan orang lainnya.


“Selamat bekerja!” ucap Nita lalu bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk meninggalkan ruangan.


“Kutu, ingat, jangan hanya fokus memantau kamar tidur!” kata Wijoyo kepada Kutu Elektrik, itu setelah Nita keluar.


“Hahaha!” tawa yang lainnya.


Sementara Kutu Elektrik hanya tersenyum lebar.


Mereka lalu mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang hanya memantau rekaman kamera pengawas, ada yang berkerja dengan laptop sambil memakai headset untuk mendengarkan suara yang tertangkap oleh alat penyadap, tapi ada juga yang memakai headset sambil kepalanya berjoget-joget lantaran mendengarkan musik.


Satu jam hingga dua jam, pekerjaan mereka selesai. Tinggal menunggu satu jam lagi untuk pertemuan berikutnya. Waktu lowong jelas mereka manfaatkan untuk berbagai keperluan. Ada yang memilih pergi ke dapur umum untuk makan, ada yang pergi ke minimarket gratis yang Tentara Ilusi miliki, ada pula yang memilih berlatih menembak untuk durasi satu jam, atau pergi ke toilet dan berlama-lama ria di sana.


Hingga kemudian, Nita Talia kembali memasuki ruang rapat. Semua personel telah siap sedia di kursinya. Semuanya on time.  


“Oke, kita mulai dari kamera pengintai. Kutu Elektrik!” kata Nita Talia.


“Karena kamera-kamera yang dipasang belum sampai 24 jam, jadi tidak banyak gambar yang mencurigakan, kecuali dua gambar. Pertama gambar Biawak Perak sedang mantap-mantap di kamarnya tadi malam, yang kedua gambar dari kamera yang dipasang Angsa Centil di dalam mobil Biawak Perak. Mungkin audionya bisa diperjelas oleh Ular Purba,” papar Kutu Elektrik.

__ADS_1


“Gambar pertama tidak usah diperjelas di monitor. Perjelas gambar kedua!” perintah Nita Talia sambil memandang ke layar besar.


Dari laptopnya, Kutu Elektrik lalu memberi monitor besar di layar, gabungan dari sembilan monitor kecil. Pada monitor itu ditunjukkan gambar yang terekam di dalam mobil Grandbo.


Saat itu, mobil Grandbo sedang berhenti di sebuah tempat dengan kondisi pintu samping yang terbuka. Terlihat pengawalnya yang bernama Dery memberikan sebuah kotak karton sebesar kotak tisu kepada Grandbo.


“Apa nama merek di kotak itu?” tanya Nita.


Kutu Elektrik lalu men-zoom gambar kotak pada monitor. Pada kotak itu ada tulisan merek yang berbunyi Blussbee.


“Ada yang tahu Blussbee merek barang apa?” tanya Nita.


“Itu obat bius mahal punya,” jawab pemuda berkepala botak, bercelana loreng. Nama sandinya Belut Perkasa.


“Coba tampilkan audio adegan itu, Ular Purba!” perintah Nita.


“Baik, Ndan,” sahut Wijoyo.


Sebentar kemudian, rekaman gambar kembali diputar ulang, tapi kali ini lengkap dengan audionya. Semua pun menyimak.


“Paketnya, Bos,” kata pengawal Grandbo yang bernama Dery, sambil menyerahkan kotak kepada tuannya yang duduk tenang di dalam mobil.


Suara hening sejenak karena Grandbo memandangi kotak itu dengan seksama.


“Kamu kirim ke pulau supaya ketika perempuan-perempuan itu dikirim ke Tangerang dalam kondisi tidur!” perintah Grandbo sambil menyerahkan lagi kotak itu kepada Dery.


“Baik, Bos,” ucap Dery sambil menerima kotak.


“Kita mendapat tiga kata mencurigakan, yaitu pulau, perempuan-perempuan yang berarti lebih dari satu perempuan, dan Tangerang,” kata Nita. “Next, audio!”


“Selain audio di dalam mobil tadi, ada audio saat Biawak Perak menelepon saat berada di kamarnya, tapi lebih lengkapnya di rekaman Angsa Centil. Hanya ada satu audio yang gua anggap penting. Ini!” kata Wijoyo.


“Ah, ah, ah, yeees!”


Tiba-tiba terdengar suara lenguhan wanita dari rekaman audio itu. Lenguhan itu sangat identik dengan hal “kenikmatan” saat berpacu dalam melodi.


“Hahaha ...!” Meledaklah tawa sebagian besar dari mereka, kecuali Nita.


“Ular Purba! Kau tahu aku orang yang mudah terpancing, kenapa kau suguhkan suara seperti itu?!” bentak Nita.


“Jangan marah dulu, Ndan. Dengarkan dulu,” kata Wijoyo.


“Lebih kencang, Mirna!” teriak suara yang sudah dikenal adalah milik Grandbo.


“Aduh! Aaaah! Bagaimana, Sayang? Gua lebih hebat dari mantan elu, kan?” teriak suara wanita yang berteriak sambil menahan keenakan.


“Dia itu jual mahal, enggak suka digenjot, aaww! Gua lagi enak, elu jangan ngomongin perempuan setan itu, aduduh! Vina sebentar lagi bakal gua jual biar semua lelaki bisa pakai dia, akhr!” hardik suara Grandbo yang nadanya seperti orang panik karena sambil menahan rasa mantap-mantap.


“Cukup, cukup! Matikan!” perintah Nita seperti orang panik juga.


“Hahahak!”


Mereka kembali tertawa karena tahu bahwa hormon wik wik komandan mereka yang tinggi sedang terpancing. Jika Nita Talia tidak bisa menahan gairahnya, bisa repot karena di antara mereka tidak ada yang menjadi seleranya.


“Oke, bisa kita simpulkan bahwa Biawak Perak adalah orang yang menculik Burung Emas. Jika Burung Emas akan dijual, kemungkinan besar ini adalah perdagangan wanita. Tinggal mencari tahu, di mana Burung Emas disekap,” kata Nita menyimpulkan.

__ADS_1


“Jika dicocokkan dengan rekaman obat bius, mungkin Burung Emas disekap di sebuah pulau di Selat Sunda atau antara Lampung dan Banten,” kata Wijoyo.


“Gua punya jawabannya,” sahut Parni.


“Tunjukkan!” perintah Nita.


“Ini isi chat hp Biawak Perak tertanggal di hari kedatangan dia ke rumah Burung Emas,” kata Parni, setelah menampilkan satu gambar berisi pesan chat yang singkat kepada nomor hp bernama Ibenk.


Berikut isi chat di hp Grandbo:


Anda: Siapkan anggota untuk menculik lewat laut.


Ibenk: Siap Bos.


Anda: Kalau penculikan jadi, nanti gua serlok.


Ibenk: Siap Bos.


 


“Dua jam kemudian, Biawak Perak chating ke orang yang sama,” kata Parni, lalu menunjukkan pesan chat di hp Grandbo yang sudah diretas. Chat masih pada nomor atas nama Ibenk dengan jam yang berbeda.


Berikut isi chat di hp Grandbo:


Anda: (Gambar serlok yang menunjukkan peta Kecamatan Kalianda di pesisir Lampung Selatan.)


Anda: Eksekusi nanti tengah malam bareng Beny.


Ibenk: Siap, Bos. Kita bawa ke mana, Bos?


Anda: Pulau Sebesi.


Ibenk: Siap Bos.


 


“Jam 2.30 malam Ibenk laporan ke Biawak Perak,” kata Parni dengan tampilan yang sama tapi menunjukkan jam berbeda.


Berikut isi chat di hp Grandbo:


Ibenk: Lapor Bos. Vina sudah berhasil kita culik. Gak ada masalah. Sekarang menuju Sebesi.


Anda: Bagus. Besok gua ke sana.


“Itu chat yang jadi bukti bahwa Burung Emas diculik oleh anak buahnya Biawak Perak dan membawa Burung Emas ke Pulau Sebesi, enggak jauh dari Kalianda,” kata Parni. “Teleponan tadi malam yang gua rekam sebelum Biawak Perak wik wik, bisa jadi penjelasan akhir.”


Parni lalu mengganti tampilan layar dengan rekaman audio yang direkam dari hp Grandbo. Di hp Grandbo percakapan itu tidak terekam, tapi karena sudah diretas, Parni bisa merekamnya dari jarak jauh tanpa tersimpan di hp Grandbo.


Berikut penggalan isi percakapan telepon tersebut:


Suara Grandbo: Baik kalau begitu, Bos. Besok lusa gua langsung kirim dari Pulau Sebesi. Lima belas perempuan. Sesuai permintaan, sepuluh perempuan utuh, lima bodi mulus.


Suara perempuan: Besok pagi gua transfer 70 persen pembayaran, lunasnya setelah barang sampai semua.


Suara Grandbo: Oke, beres, Bos.

__ADS_1


 


Itulah petunjuk-petunjuk yang Tim Badak Cula Emas dapatkan dari operasi penyadapan mereka terhadap Grandbo. (RH)


__ADS_2