
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Usai salat subuh, Rudi bersiap-siap berangkat ke pelelangan. Mengikuti kebiasaan ketika ayahnya masih hidup, pintu rumahnya juga kini terbuka setelah waktu salat subuh.
Ketika Rudi pulang, ibunya pun usai salat subuh di rumah. Sejak bangun jam setengah tiga dini hari, Rudi tidak tidur lagi.
Tadi di masjid, Rudi tidak melihat keberadaan Haji Suharja, padahal dia sempat mencarinya untuk menyampaikan bahwa keputusannya mungkin akan perlu dua hari lagi. Rudi merasa perlu salat istikharah sebanyak tiga malam untuk mengambil keputusan tentang Vina.
Namun ternyata, lelaki bertubuh gemuk itu tidak hadir di masjid untuk salat subuh.
“Mungkin sudah ke lelang,” pikir Rudi.
Lapak Suharja yang jual beli ikan dan udang memang perlu buka sebelum waktu subuh, tetapi biasanya dia berangkat setelah subuh karena karyawannya sudah ada di pelelangan lebih dulu sebelum waktu subuh.
Berbeda dengan toko Rudi yang tidak berhubungan langsung dengan komoditas hasil laut mentah, tetapi lebih kepada perlengkapan dan peralatan nelayan.
“Daeng, saya berangkat dulu,” ujar Rudi sambil mencium punggung tangan ibunya.
“Rudi!”
Bukan Kamsiah yang bertariak memanggil, tetapi dari arah depan rumah. Suaranya lelaki, tapi bukan suara Tawwa yang biasa datang mengambil mobil operasional. Itu adalah suara khas Haji Suharja.
Rudi segera berjalan ke luar. Kamsiah mengikuti di belakang. Heranlah anak dan ibu itu melihat Suharja telah berdiri di teras, di depan pintu dengan wajah yang menunjukkan kemarahan.
“Kamu lihat Vina, Nak?” tanya Suharja bernada cemas. Rupanya dia tidak marah kepada Rudi, tapi dia sedang cemas.
“Enggak sejak kemarin, Daeng,” jawab Rudi dengan wajah tidak baik-baik pula. Dia langsung bisa menerka bahwa suatu hal telah terjadi.
“Vina pergi enggak bilang-bilang. Anak itu sudah enggak ada di kamarnya, tapi anehnya mobilnya ada. Dia juga enggak pakai motor,” kata Suharja.
Dari luar datang Ferdy yang mengenakan celana bola dan kaos singlet.
“Di rumah-rumah saudara juga enggak ada, Pak!” kata Ferdy Seraja sebelum dia benar-benar tiba.
“Ke rumah Junita sudah?” tanya Rudi.
“Belum,” jawab Ferdy.
Pemuda bertubuh atletis itu lalu menelepon menggunakan hp-nya. Tidak butuh waktu lama.
“Jun, Kak Vina ada di rumah kamu? Vina hilang,” tanya Ferdy.
Sementara Suharja, Rudi dan Kamsiah menunggu dengan memandang Ferdy yang belum mandi dan belum salat subuh.
__ADS_1
“Ini saya sedang di rumah Ustaz Rudi,” kata Ferdy membalas perkataan Junita di ujung sambungan. Dia lalu diam sebentar, memberi kesempatan kepada Junita untuk bicara. Lalu katanya, “Iya.”
Ferdy menutup komunikasi paginya.
“Kata Junita, sebagai mantan pacar, mungkin Ustaz tahu tempat yang bisa jadi didatangi Vina?” tanya Ferdy.
Terdiamlah Rudi dalam berpikir. Dia mencoba mengingat-ingat.
“Dulu ada beberapa tempat yang serang kita datangi berdua, tapi kalau subuh-subuh begini, saya enggak yakin,” kata Rudi.
“Di mana?” tanya Suharja.
“Yang bisa didatangi di waktu subuh begini ya pantai, pelelangan, kalau gunung enggak mungkin, pasti Vina takut. Sama lari pagi di jalan raya,” jawab Rudi, berdasarkan kenangan yang pernah dia lakukan bersama Vina dulu. “Kalau tempat yang lain pastinya enggak akan buka pas waktu subuh.”
“Kalau ke pelelangan enggak mungkin, soalnya enggak mungkin dia jalan kaki ke sana, semua kendaraan ada di rumah,” kata Suharja.
“Bisa saja, Daeng. Kalau Vina mau ke pelelangan sambil olahraga pagi,” sangkal Rudi.
“Iya, Pak. Bisa aja Kak Vina jogging subuh-subuh ke pantai atau ke pelelangan. Kan tas sama hp-nya masih ada di kamar,” kata Ferdy kepada ayahnya.
“Bantu cari, Di,” perintah Kamsiah kepada putranya.
“Iye, Daeng,” jawab Rudi patuh. Lalu katanya kepada kedua tamunya, “Biar saya bantu cari ke pantai, Daeng.”
“Wa ‘alaikum salam!” jawab mereka yang berkumpul.
“Tawwa, nanti saya datang siangan atau bisa juga enggak. Kamu catat saja semua transaksinya ya!” perintah Rudi kepada karyawannya.
“Assiaaap, Ustaz!” sahut Tawwa yang tidak tahu berita terbaru. Lalu tanyanya kepada Suharja, “Mau ada acara apa ini, Ji? Tumben belum berangkat ke pelelangan.”
Suharja berbalik pergi tanpa menjawab pertanyaan Tawwa, membuat pemuda berambut keriting itu hilang senyumannya.
“Kalau ketemu, tolong telepon, Ustaz,” kata Ferdy.
“Insyaallah,” ucap Rudi.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Ferdy, tidak mau seperti bapaknya yang datang dan pergi seperti jalangkung.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Rudi dan Tawwa.
Tawwa hanya memandangi kepergian bapak dan anak itu. Ia lalu beralih kepada bosnya.
“Kenapa pada sensi sama saya?”
“Bukannya sensi, tapi suasana hatinya sedang tidak baik, jadi mengabaikan di luar dari radar kepedulian mereka,” bantah Rudi.
__ADS_1
“Oooh bulat,” ucap Tawwa. Lalu pintanya kepada Kamsiah, “Kunci mobil, Daeng Bos.”
“Ambil saja di laci biasa, Wa!” perintah Kamsiah.
“Assiap, Daeng Bos!” sahut Tawwa. Sebelum dia pergi masuk ke ruang tamu untuk mengambil kunci mobil, Tawwa masih sempat menahan diri. “Ustaz mau ke mana?”
“Mau jogging subuh,” jawab Rudi sambil naik ke sepeda motornya.
“Pakai motor?” tanya Tawwa lagi kepo. Setahu dia, jogging itu naik sepatu.
“Iya. Joggingnya ustaz itu lebih afdol pakai motor,” jawab Rudi mendadak sesat.
“Oooh bulat,” ucap Tawwa yang baru tahu ilmu itu.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Rudi.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Kamsiah dan Tawwa.
Pergilah Rudi menyusuri daerah pantai yang masih dalam wilayah desa tersebut dan ke desa tetangga. Dia mencari-cari di dalam kegelapan pantai yang hanya bercahaya langit yang mulai memutih. Memang, jarang ada lampu yang sengaja diperuntukkan untuk menerangi pantai.
Rudi menelepon Aziz dan Sandro untuk membantu mencari. Meski kedua sahabat Rudi itu sudah hilang rasa kepada Vina, tetapi mereka tetap turun kaki ikut mencari.
Suharja dan Ferdy juga mencari di jalan raya hingga sampai ke pelelangan. Khusus pagi ini, Suharja tidak membuka lapaknya. Karyawan lelakinya dia kerahkan untuk mencari keberadaan Vina.
Sementara Sunirah dan kerabat lainnya mencari di dalam desa dengan banyak bertanya dan melapor ke aparat lingkungan.
Namun, upaya ketiga sahabat itu nihil.
Cepat dan pasti, berita hilangnya Vina menyebar dan kembali menggemparkan warga. Aparat RT dan RW, serta personel keamanan kampung segera ikut bekerja berusaha mencari.
Namun, Vina benar-benar seperti hilang ditelan siluman. Tidak ada jejak sedikit pun yang bisa diambil sebagai awal dari penelusuran yang kemungkinan kuatnya Vina ke mana, kecuali satu, yaitu pintu rumah yang tidak dikunci.
“Jika ada saksi yang melihat Vina tadi malam, akan saya beri uang sebagai hadiah!” seru Suharja melakukan sayembara dadakan kepada warga ketika hari semakin siang.
Namun, memang dasarnya tidak ada seorang pun di desa itu yang pernah melihat Vina di waktu tengah malam atau subuh. Di desa nelayan itupun tidak punya kamera CCTV, kecuali beberapa toko yang ada di pinggir jalan raya.
Namun, ketika rekaman CCTV dilihat atas permintaan pihak keamanan, tidak ditemukan tanda-tanda bahwa ada sosok berciri-ciri Vina yang lewat atau terekam.
Di rumahnya, menangislah Sunirah setelah hingga hari siang Vina tidak kunjung ada bayangannya.
Suharja pun tidak lupa menelepon adiknya yang tinggal di Jakarta, tempat Vina tinggal selama tiga tahun terakhir. Mungkin saja, sebelum menghilang, Vina mengirim pesan atau telepon ke bibinya itu. Namun, Anti Puspa hanya terkejut dan tidak memiliki info apa-apa.
“Buat laporan orang hilang saja ke polisi,” saran Dodi Sudaka, purnawirawan TNI yang selalu tampil cepak, meski rambutnya sudah putih semua.
“Jangan dulu. Saya lebih percaya kepada Daeng Ambo Upe,” kata Suharja. Ia lebih yakin cara gaib daripada mengandalkan polisi. (RH)
__ADS_1