Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 58: Maaf, Janji dan Rayu


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


“Sama-sama, Dro. Yaaa, mungkin saya juga salah, tapi saya enggak bisa kasih hadiah,” kata Junita membalas ucapan permintaan maaf Sandro di malam itu.


Sebelumnya, karena mendapat nasihat dari Barada, Sandro jadi kepikiran. Meski dia cukup kecewa karena Barada terkesan menyalahkannya, tetapi setelah dia pikirkan baik-baik, dia membenarkan penilaian Barada.


Selama ini, sejak Sandro marah besar karena merasa ditipu bulat-bulat oleh Junita yang berujung menjatuhkan talak, hingga sebelum Barada menasihatinya, dia selalu menyalahkan perempuan yang terbilang cantik itu.


Entah kenapa, setelah membenarkan kata-kata Barada, Sandro jadi menaruh iba kepada Junita. Memang benar kata Barada, karena kemarahannyalah semua orang jadi tahu tentang aib Junita yang sudah tidak perawan sebelum pernikahan. Bukan hanya Junita yang menanggung malu, tetapi juga orangtua Junita dan keluarganya.


Malam setelah magrib itu, kini keduanya saling berdiri berhadapan setelah satu tahun lamanya. Padahal, sebelum-sebelumnya keduanya sangat anti untuk bertatap mata, apalagi sampai berdiri berhadapan seperti saat itu. Jika berpapasan di tengah jalan saja, satu akan berjalan minggir ke kiri, yang satu lagi berjalan minggir ke kanan, itupun saling buang muka.


“Bagaimana kabar kamu, Jun?” tanya Sandro dengan gestur tubuh yang kikuk.


“Alhamdulillah sehat.”


“Kamu sudah pacar lagi ya?”


“Enggak ada. Seperti yang kamu pernah bilang, mana ada yang mau sama perempuan murahan kayak saya. Apalagi sekarang saya janda,” kata Junita, seolah-olah ingin melempar obrolan mereka ke konflik masa lalu, di Mana dia sebagai orang yang tersalah.


“Enggak ... enggak begitu kok. Selama ini saya yang salah menilai. Saya minta maaf,” ucap Sandro, terlihat benar-benar tulus.


“Iya, saya maafkan. Cuma itu, kan? Terima kasih hadiahnya,” kata Junita dingin dan ketus, lalu berlagak mau berbalik pergi.


“Junita!” panggil Sandro sambil cepat menyambar pergelangan tangan Junita yang bebas beban dan biaya.


“Eh, bukan muhrim!” pekik Junita sambil menghentak lepas tangannya dari cekalan mantan suaminya itu. Bukannya Junita sekarang anti terhadap sentuhan nonmuhrim, tetapi dia ingin menyindir Sandro yang sekarang memang lebih agamis.


“Eh iya, maaf,” ucap Sandro jadi tidak enak hati karena melakukan dosa.


“Sebenarnya kamu maunya apa, Dro? Enggak enak nanti didengar tetangga,” kata Junita.


“Kalau kamu sudah maafin saya, kalau kamu belum mau menikah lagi, bagaimana kalau ... kita rujuk?” ujar Sandro terkesan ragu dan hati-hati.


“Saya sih mau saja, tapi saya trauma, Dro. Saya takut, pas saya bahagia-bahagianya, tahu-tahu saya dikasar-kasarin, dibilangin macam-macamlah. Saya enggak mau kayak begitu lagi, sakit banget rasanya,” jawab Junita.


Terdiamlah Sandro mendengar ungkapan hati Junita. Hatinya merasa terenyuh, seolah-olah dia baru tahu dan sadar bahwa perbuatannya terhadap wanita itu sungguh memberi sakit yang sangat walau tidak berdarah. Muncul rasa penyesalan yang kuat saat itu juga.


Sandro tertunduk dan terdiam sejenak, bingung harus berkata apa.


“Tapi ... tapi ... enggak adakah kesempatan kedua?” tanya Sandro pelan.


“Saya dulu itu seperti pelacur yang dibayar dimuka. Setelah dipakai saya dibuang,” tambah Junita yang ingin membuat Sandro semakin merasa bersalah, mumpung lelaki berotot itu sedang waras, pikirnya.


“Iya, saya minta maaf sekali lagi. Saya berjanji tidak akan seperti itu lagi. Insyaallah, saya akan terima kamu apa adanya. Kita bisa membangun rumah tangga yang sakina mawaddah wa rahmah,” tandas Sandro yang sudah menjurus kepada rayuan. “Berikan saya kesempatan kedua.”

__ADS_1


“Kalau enggak saya beri kesempatan kedua, saya juga susah mendapat kesempatan kedua,” jawab Junita.


“Maksudnya bagaimana?” tanya Sandro yang tidak paham maksud perkataan jandanya itu.


“Saya sih mau saja kita rujuk lagi. Tapi ... saya takut, pas malam pertama kamu marah-marah lagi karena saya rasa perawan, bukan rasa janda,” kata Junita.


“Hahaha!” tawa Sandro tiba-tiba mendengar perkataan Junita yang dimengertinya.


“Kenapa tertawa?” tanya Junita dengan lirikan tajam, merasa diejek.


“Enggak, enggak. Justru itu lebih bagus kalau janda rasa perawan. Hahaha!” kata Sandro.


“Hihihi!” tawa Junita pada akhirnya, setelah dia mencoba jual-jual mahal, lebih mahal dari harga pasaran.


“Jadi ... sepakat kita berbaikan?” tanya Sandro, ingin lebih memastikan.


“Iya. Tapi kalau kita rujuk, pakai nikah dulu atau langsung kawin saja?” jawab Junita seraya senyum-senyum malu, kemudian bertanya.


“Waduh, enggak tahu saya. Saya mau tanya Pak Ustaz dulu. Tapi, kalau pakai nikah lagi, tetap mau, kan?” kata Sandro sembari senyum-senyum bahagia.


“Iya,” jawab Junita dan tersenyum semakin lebar.


Sandro pun semakin gembira. Jika dibolehkan oleh khalayak ramai untuk memeluk, ingin rasanya Sandro memeluk Junita saat itu juga, sama seperti ketika dia memeluk saat Junita menerima lamarannya dulu.


Dulu, Sandro memeluk Junita di depan orangtua wanita itu tanpa sungkan.


“Enggak, cukup seratus ribulah sebagai syarat,” jawab Junita. “Tapi, kamu harus minta maaf juga ke Bapak sama Emak.”


“Nanti saja habis isya. Sekalian sambil saya bawakan ole-ole dari Jakarta,” kata Sandro.


“Siapa yang datang dari Jakarta?” tanya Junita.


“Saudaranya Rudi. Adiknya Almarhum,” jawab Sandro.


“Oooh.”


“Alhamdulillah. Terima kasih, Sayangku. Hahaha!” ucap Sandro gembira sambil tangannya nakal mencolek dagu Junita.


Junita hanya terkejut merengut, tapi kemudian tertawa tanpa suara.


Sandro lalu pergi berlari kecil sambil tertawa.


Junita sejenak berdiri mematung sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia kemudian melongok isi kantong plastik yang diberikan oleh Sandro. Setelah itu dia pergi masuk ke rumah.


“Bicara apa Sandro sama kamu? Senang kamu kelihatannya,” tanya sang ayah yang duduk menonton sambil merokok di kursi.


“Sandro ngajakin rujuk, Pak,” jawab Junita.

__ADS_1


“Terus, kamu terima begitu saja?” tanya sang ayah dengan wajah tidak suka. “Dia itu mempermalukan keluarga kita, bukan cuma kamu. Kenapa hanya kamu yang dia temui jika memang mau mengajak kamu rujuk? Apakah dia tidak menganggap saya dan emakmu sebagai orangtuamu?”


Suara keras sang ayah memancing ibunya Junita keluar dan bertanya-tanya, tapi tidak langsung bertanya-tanya. Sementara adik-adiknya hanya diam memandangi para orang dewasa itu.


“Nanti habis isya Sandro mau ke sini, ketemu sama Bapak dan Emak,” ujar Junita. “Pak, Sandro sudah minta maaf ke saya. Nanti mau datang minta maaf secara khusus kepada Bapak dan Emak.”


“Iya, Pak. Enggak usah diperpanjang. Kalau Juni rujuk lagi, mau enggak mau status jandanya hilang dengan sendirinya. Jadi selama ini dia enggak menjanda, hanya pisa rumah saja selama satu tahun,” kata sang ibu yang lebih suka berdamai dengan keadaan.


Sang ayah hanya diam tidak memberi tanggapan lagi.


“Eh, siapa yang pindahin sinetronnya?” tanya ayahnya Junita agak membentak kepada kedua anak lelakinya yang duduk di lantai di depan televisi.


Buru-buru adik Junita memindahkan channel televisi ke acara sinetron yang tadi ditonton bapak mereka.


Sementara itu, Sandro sudah datang kembali ke rumah Rudi yang sedang kedatangan tamu, yakni Ustaz Barzanji.


“Assalamu ‘alaikum!” salam Sandro.


“Wa ‘alaikum salam!” jawab Rudi, Ustaz Muttaqin dan Ustaz Barzanji yang sedang berbincang di teras.


Sandro pun menyalami ketiga lelaki itu seraya tersenyum-senyum. Maklum sedang bahagia seperti masa bujangan dulu.


“Duduk sini, Dro!” ajak Rudi sambil menepak kursi yang kosong.


“Terima kasih, Di. Anu, saya mau minta tolong, masih ada nggak ole-ole pakaian yang dari Jakarta?”


“Masih banyak. Puangku bawa banyak sekali, sampai saya kira mau dijual sebagian,” jawab Rudi. “Ambil saja, Dro.”


“Hahaha! Kalau habis, bilang saja sama Badar, nanti bisa dipesanin malam ini, besok sore bisa sampai,” kata Muttaqin.


“Hahaha!” tawa mereka bersama.


“Terima kasih, Di. Saya mau ambil satu pakaian muslimah sama satu buat lelaki,” kata Sandro.


“Minta saja sama Daeng di dalam, masih banyak,” kata Rudi.


Sandro segera beranjak hendak masuk ke dalam rumah. Namun, Rudi cepat memanggilnya.


“Dro!”


“Ya?” sahut Sandro sembari berhenti di ambang pintu.


“Tadi Bulan telepon saya. Katanya Linda tidak menolak jika kamu mau tembak dia,” kata Rudi.


Deg!


Seolah berhenti jantung Sandro mendengar kabar itu. Dia jadi mematung di ambang pintu karena tiba-tiba isi kepalanya kalut tujuh turunan.

__ADS_1


“Dro! Kenapa kamu?” tanya Rudi heran karena melihat Sandro terdiam seperti orang kesenggol setan. (RH)


__ADS_2