
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Delapan orang yang lolos ke putaran final dari perlombaan gangsing Raja Tendang malam ini, di antaranya: Pak RT Jaruddin, purnawirawan Dodi Sudaka, Abdussalam, Ferdy, Ambo Dalle, Tawwa, Jamal, dan Kepala Satlinmas Andu Marokko.
Malam itu sudah pukul sepuluh, tetapi suasana di rumah pernikahan masih ramai. Penonton pun tidak sedikit. Anak-anak ramai pula menonton. Untung besok hari libur sekolah, jadi mereka bisa terhindar dari anjuran tidur cepat dari orangtua.
Alexa yang rumahnya terbilang jauh ternyata hadir di malam itu. Dia duduk bersama Linda yang dikenalnya di rumah sakit. Bersamanya ada juga Kulsum.
Alexa tidak membawa Flexy. Dia datang pada malam itu lebih condong untuk mendukung lelaki pujaannya berlaga, yaitu Abdussalam alias kakak dari Kulsum.
“Kamu mendukung siapa, Lin?” tanya Alexa.
“Tidak ada, hanya menonton,” jawab Linda sembari tersenyum.
“Waaah, tidak seru kalau tidak memegang satu pun cowok yang ada. Sembarang saja pilih, siapa di antara mereka yang kira-kira akan menang. Coba pilih Pak Dodi, meski sudah tua, tetapi masih perkasa,” kata Alexa.
“Hihihi!” tawa Kulsum mendengar anjuran janda muda itu. “Yang benar saja, Bu. Ya yang ditawarkan yang mudaan lah, masa yang tua.”
“Hihihi!” tawa Alexa. “Ya enggak apa-apa kalau mau yang muda, Ummi. Asal jangan Bang Abdussalam, sudah saya kasih segel.”
Tertawa rendahlah ketiga wanita cantik itu. Keriuhan mereka bahkan mengundang perhatian orang sekitar juga.
“Tuuuh, pilih pesepak bola kita, Ferdy. Orangnya gagah loh, Lin,” kata Alexa lagi.
“Ih, enggak usahlah, Bu,” tolak Linda yang merasa jadi malu sendiri.
“Kalau Ummi pegang siapa?” tanya Alexa.
“Saya pegang Pak RT,” jawab Ummi meladeni.
“Cie cie cieee, Ummi pegang Pak RT,” goda Alexa.
“Iiih, kok jadi begitu?” pekik Kulsum terkejut dengan ulah Alexa.
“Hihihi ...!” Akhirnya ketiga wanita cantik itu saling tertawa ramai, sehingga orang-orang menengok kepada mereka.
Abdussalam, Ferdy dan Pak RT jadi melirik kepada mereka sebentar, karena terdengar heboh.
Akhirnya ketiga wanita itu menahan tawanya karena jadi pusat perhatian. Mereka jadi memendam malu sendiri. Untung masing-masing punya malu, jadi tidak perlu memendam malunya orang lain.
“Mulai!” teriak Sandro keras menggelegar.
Delapan pemain final serentak melemparkan gangsingnya masing-masing keluar dari cekikan tali pelontar. Delapan gangsing berputar kencang di tanah untuk menjadi yang paling lama berputar tegak berdiri.
__ADS_1
Semua gangsing lelaki itu bisa tegak berdiri. Bahkan ada yang tidur, yaitu gangsing milik sang purnawirawan. Maksud tidur di sini adalah gangsing berputar sangat cepat dan saking cepatnya sampai-sampai terlihat tidak bergerak dalam putarannya.
“Jamal nomor 1!” teriak Sandro saat gangsing milik Jamal mati lebih dulu. Sebentar kemudian, “Tawwa 2! Ambo Dalle 3! Pak RT 4! Ferdy 5! Abdussalam 6!”
“Yeee!” sorak Alexa sambil tepuk tangan sendiri.
Jangan heran kalau gosip kedekatan si janda muda dengan guru silat sudah santer menyebar.
“Andu 7! Pak Dodi rajaaa!” teriak Sandro.
Setelah penentuan nomor urut itu, permainan Final Raja Tendang pun dimulai. Ini adalah acara terakhir di malam itu sebelum masa tenang karena besok pagi akan akad nikah antara Rudi Handrak dan Bulan Adinda.
Jamal lalu melempar gangsingnya berputar sendiri di lingkaran pertama. Semua pemain lain sudah melilit kembali leher gangsingnya dan siap membantingnya.
Dak!
Terdengar suara peraduan dua gangsing yang keras ketika Tawwa berhasil menghantamkan gangsingnya ke gangsing Jamal yang sedang berputar.
Gangsing Jamal terpental, demikian juga gangsing Tawwa. Keduanya berputar di zona lingkaran yang sama, yaitu di lingkaran kedua. Karena sama-sama berputar di zona yang sama, jadi harus ditunggu siapa yang paling lama bertahan.
Setelah semua mata tertuju pada kedua gangsing, sebentar kemudian bisa dilihat gelagatnya siapa yang akan mati lebih dulu. Ternyata, justru gangsing Tawwa yang mati lebih dulu.
“Jamal naik ke nomor 2!” teriak Sandro.
Setelah gangsing Tawwa mati, Ambo Dalle cepat membanting gangsingnya dengan ayunan yang keras sambil melempar badannya ke samping sebagai gaya.
Dak!
Yang membuat tertawa adalah gangsing Jamal terpental jauh ke zona lingkar tiga.
“Jamal gugur!” teriak Sandro keras.
“Minggir, minggir! Penguasa mau jalan!” teriak Pak RT bersemangat sambil maju siap menghantam gangsing Ambo Dalle yang berputar kencang di zona dua.
Siit!
“Hahaha!” tawa khalayak lagi ketika bantingan gangsing Pak RT Jaruddin gagal mengenai gangsing Ambo Dalle.
“Pak RT mah jagonya di ranjang, bukan di lapangan! Hahaha!” teriak Dodi Sudaka mengejek, membuat Jaruddin tertawa sendiri, diiringi oleh tawa warganya.
“Ambo Dalle naik!” teriak Sandro lagi.
“Giliran jagoan nih. Lihat, nih!” seru Ferdy sesumbar pula, lalu dia membanting keras gangsingnya.
__ADS_1
Dak!
Keras sekali gangsing hitam Ferdy menghantam gangsing Ambo Dalle. Gangsing Ambo Dalle sampai terlompat seperti kucing kaget. Namun, tangguhnya gangsing Ambo Dalle, dia tetap masih berputar memberi perlawanan.
Sayang, durasi putar gangsing Ambo Dalle sudah lebih lama duluan, sehingga dia sudah lemah dalam berputar dan mati lebih cepat. Sementara gangsing Ferdy masih gagah berputar.
Giliran Abdussalam yang maju untuk menyerang gangsing Ferdy.
Dak!
“Waw!” pekik beberapa penonton.
“Yess!” pekik Alexa kencang, girang saat melihat gangsing Abdussalam dengan perkasa melempar gangsing Ferdy pergi ke zona tiga.
“Jampi-jampi anak ustaz kuat banget,” ucap Ferdy sambil tersenyum dan geleng-geleng melihat nasib gangsingnya yang dikirim ke Hong Kong.
“Saya kirim kamu Abdussalam ke pelaminan! Hiaaat!” teriak Andu Marokko laksana karakter animasi manga beyblade yang sedang bertarung.
Gangsing kepala keamanan lingkungan itu melesat kencang dan menyerang gangsing Abdussalam.
Tak!
“Hahaha ...!” Meledak tawa para pemain dan penonton.
“Hihihi ...!” Alexa pun tertawa nyaring melihat peraduan itu.
Gangsing Andu Marokko memang mengenai gangsing Abdussalam, tetapi hanya sekedar pantat menyambar pucuk kepala. Namun akibatnya, justru gangsing Andu Marokko terpelanting dan berguling seperti gelindingan drum dan masuk ke zona lingkaran ketiga.
“Andu gugur!” teriak Sandro.
“Memang benar-benar. Doa anak ustaz enggak ada lawan,” kata Andu lemas.
“Hahaha!” Abdussalam hanya tertawa.
“Tetap saja orang tua yang lebih menang pengalaman,” kata Dodi Sudaka enteng, lalu dengan kuda-kuda yang kuat dia menghantamkan gangsingnya kepada gangsing Abdussalam.
Dak!
Gangsing Abdussalam terpental dan langsung mati dengan menggelinding menuju zona tiga, membuat Sandro buru-buru berteriak. Pendukung sang guru silat pun menjadi tegang dan siap kecewa.
“Abdussalam guuu .... Eh, tidak jadi gugur!” teriak Sandro.
Gangsing Abdussalam ternyata berhenti tepat di sisi dalam garis, belum menyeberang ke zona tiga. Maka itu membuat Abdussalam masih bermain dengan posisi masih di bawah Dodi Sudaka.
__ADS_1
“Calon bapak anakku memang jagoan sejati,” ucap Alexa kepada calon adik iparnya, Kulsum.
Dengan gugurnya tiga pemain, maka tinggal lima kontestan yang bertahan dan kembali melanjutkan permainan putaran berikutnya dengan Tawwa nomor 1, Pak RT Jaruddin no 2, Ambo Dalle nomor 3, Abdussalam nomor 4, dan Dodi Sudaka nomor 5. (RH)