Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 27: Rudi Kabur


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Vina tersenyum-senyum di dalam mobil yang ia kendarai. Kerinduan dan informasi tentang perubahan baik yang terjadi pada Rudi membuatnya gembira.


Namun, tiba-tiba senyum sang gadis berubah dengan kerutan di dahi, saat dia melihat sosok lelaki berkoko dan bersongko Bugis, sedang berdiri berbincang di pinggir jalan raya. Melihat dari sepeda motor yang terparkir, Vina bisa langsung menduga bahwa lelaki yang memunggungi arah kedatangannya adalah Rudi Handrak, yang saat ini tidak bisa dia sebut sebagai pacarnya.


“Siapa cewek itu? Genit banget,” ucap Vina sinis dengan tatapan tidak suka.


Senyum bahagia Bulan Adinda yang dilihatnya saat berbicara kepada Rudi di pinggir jalan, menjadi tusukan di hati yang begitu menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi adalah wanita itu bukan gadis biasa, tapi dia punya mobil mewah juga seperti dirinya.


“Huh!” dengus Vina cemburu dengan ekspresi ingin menangis.


Vina menggigit bibir bawahnya. Dengan kesal dia memukul klakson mobilnya sebanyak empat kali.


Tit tit tit tit!


Klakson yang tidak biasa itu mengejutkan Rudi dan Bulan.


Sementara Vina terus memilih melintas bersama tetes air mata yang juga sudah melintas di pipi. Namun, tangis Vina tidak lama. Dia segera menyeka air matanya.


“Tidak. Cewek itu pasti bukan siapa-siapa Rudi. Sayalah pacar Rudi yang sebenarnya. Saya dan Rudi yang sudah lima tahun saling berbagi. Kita tinggal menikah saja, hanya itu yang saya dan Rudi belum lakukan,” kata Vina bicara sendiri seperti pemain sinetron, supaya ada yang mendengarnya, padahal dia hanya seorang diri di dalam mobil itu, tidak ada penampakan.


Vina benar-benar dilanda rasa cemburu. Sebab, jika benar gadis yang dilihatnya itu memiliki hubungan khusus dengan Rudi, pasti dia akan kalah saing untuk saat ini. Bagaimana tidak? Bulan juga memiliki kecantikan yang “wow” sama seperti dirinya, tapi Bulan lebih natural dibandingkan dirinya yang rambut saja dicat kuning. Bulan juga memiliki mobil mewah.


Yang membuat Bulan lebih unggul adalah kini perempuan itu mungkin lebih dekat dengan Rudi dibandingkan dirinya yang meninggalkan Rudi selama tiga tahun.


“Rudi mungkin sudah ilfil (hilang feel) sama saya. Pastinya buah yang baru lebih segar daripada yang lama. Lebih baik saya tunggu di depan rumah Ustaz Barzanji, dia kan mau ke sana membawa barang belanjaan,” pikir Vina.


Maka Vina pun memutuskan pergi ke rumah Ustaz Barzanji yang ada di bawah tebing dan di pinggir jalan raya.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Ustaz Barzanji yang modelnya rumah gedung sederhana, yang pada bagian belakangnya adalah tebing batu dari kaki Gunung Rajabasa. Namun, Vina memberhentikan mobilnya tidak tepat di depan rumah sang ustaz, tetapi sedikit lewat. Dari posisinya itu, Vina menunggu kedatangan Rudi dengan terus memantau lewat kaca spion.

__ADS_1


Ternyata tidak lama. Sebab, seiring terdengarnya suara sepeda motor yang mendekat, gambar sosok Rudi yang terlihat masih ganteng muncul di kaca spion mobil Vina.


Sementara Rudi sendiri, dia melihat keberadaan mobil biru yang tadi dilihatnya melintas, sedang parkir di depan sana. Memang timbul pertanyaan di dalam pikiran Rudi, tetapi dia terus berbelok masuk ke depan warung di rumah Ustaz Barzanji.


“Assalamu ‘alaikum!” salam Rudi Handrak sambil menstandarkan sepeda motornya.


“Wa ‘alaikum salaam!” jawab seorang gadis berjilbab yang ada di dalam warung dan Ustaz Barzanji yang sedang duduk di teras rumah sambil membaca sebuah kitab.


Gadis cantik berjilbab hitam besar berjalan keluar dari warung dan menghampiri Rudi. Gadis yang cantiknya pakai manis itu terbilang jauh lebih muda dari Rudi. Memang, ketika Rudi sudah berpacaran dengan Vina, gadis bernama Kulsum itu masih sekolah SMA. Saat ini dia sedang kuliah di sebuah universitas Islam yang ada di kecamatan itu juga.


“Terima kasih, Bang. Sampai diantar segala,” ucap Kulsum sambil tersenyum manis.


“Demi anak Ustaz, apa sih yang enggak,” gurau Rudi sambil memandang sejenak kepada gadis itu, membuat Kulsum semakin tertawa, memperlihatkan deretan gigi rapinya yang putih.


Rudi bekerja membuka ikatan-ikatan tali pada sepeda motornya. Setelahnya, dia mengangkat sendiri kardus yang lumayan berat tersebut ke dalam warung.


Clek!


“Aduh! Saya lupa. Masa iya saya ke rumah Ustaz Barzanji pakai celana pendek begini?” pikir Vina yang baru tersadar.


Ia pun kembali menutup rapat pintu mobilnya.


“Dasar sarjana ekonomi bego!” Vina memaki dirinya sendiri. Ia pun memilih menunggu sambil mengamati dari dalam mobil.


Vina bisa nelihat kebersamaan Rudi dengan Kulsum. Meski tidak bisa melihat begitu jelas, tapi lagi-lagi itu membuatnya cemburu dan kesal sendiri.


“Kenapa di mana-mana Rudi selalu ditemui cewek cantik. Benar kata Aziz, sepertinya semua cewek cantik melirik Rudi,” batin Vina.


“Ustaz Rudi, mari mampir ngopi dulu!” seru Ustaz Barzanji yang berjenggot lebat.


“Jazakallahu khairan, Ustaz. Mohon maaf, saya harus langsung pulang. Ada tamu yang menunggu!” sahut Rudi santun seraya tersenyum kepada guru yang selama dua tahun mendidiknya ilmu Al-Qur’an dan agama tersebut.


“Oooh. Silakan, Ustaz!” kata Ustaz Barzanji.

__ADS_1


Rudi sudah selesai membawakan barang-barang belanjaan ke dalam warung. Dia segera kembali menaiki sepeda motornya.


“Nanti sore Kulsum bantu mengajar, kan?” tanya Rudi.


“Insyaallah, Bang,” jawab Kulsum seraya tersenyum.


“Ustaz! Assalamu ‘alaikum!” seru Rudi kepada Ustaz Barzanji.


“Wa ‘alaikum salam!” jawab Ustaz Barzanji.


Rudi lalu mengeluarkan motornya ke jalan. Namun, Rudi tidak langsung pergi, tetapi dia justru menjalankan motornya mendekati mobil biru Vina.


Vina terkejut, tetapi senang. Tanpa dia kehendaki justru Rudi yang mendatangi mobilnya. Entah, apakah Rudi sudah tahu bahwa itu mobil Vina atau bukan.


Rudi menghentikan sepeda motornya tepat di sisi posisi duduk Vina. Alangkah senangnya Vina. Dia segera menurunkan kaca jendela pintu mobilnya yang berwarna gelap.


“Rudi!” sebut Vina sambil tersenyum semanis mungkin kepada Rudi, bermaksud memberi kejutan.


“Astaghfirullah!” ucap Rudi cukup kencang. Dia terkejut ketika mata dan pikirannya menyimpulkan bahwa itu adalah Vina versi rambut bule.


Keterkejutan Rudi sangat tertangkap oleh retina Vina.


Breem!


Setelah terkejut seperti melihat sosok penampakan di siang bolong, Rudi langsung tarik gas sepeda motornya dan berputar balik meninggalkan Vina bersama mobilnya.


Vina yang awalnya tersenyum senang, mendadak terperangah bingung dengan bibir merah yang menganga. Ia heran dan terkejut melihat respon Rudi ketika melihatnya. Ujung-ujungnya dia ingin menangis. Reaksi Rudi itu sangat di luar dari perkiraannya.


“Memangnya muka saya menakutkan?” tanya Vina kepada dirinya sendiri.


Dengan pikiran yang bingung yang dia sendiri tidak tahu “kenapa”, Vina segera menyalakan mobilnya untuk mengejar Rudi yang sudah menghilang, masuk ke dalam permukiman di desa nelayan yang berbatasan langsung dengan laut.


“Saya tidak terima, saya harus tanya ke Rudi, kenapa dia malah kabur lihat saya,” ucap Vina kepada dirinya sendiri. “Kalau saya datangi ke rumahnya, dia pasti enggak bisa kabur.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2