Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 16: Syukuran


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Tanpa adanya ponsel di tangan membuat Rudi tidak bisa menghubungi siapa pun untuk minta bantuan penjemputan. Terpaksa dia cari-cari ojek lokal yang nantinya bisa dibayar di lokasi tujuan.


Rudi pun pulang dengan menumpang ojek sampai ke desa pesisirnya.


“Eh! Rudi!” teriak Sandro yang mengobrol di pinggir jalan bersama dua nelayan yang sedang mengerjakan bambu. Dia terkejut sekaligus gembira. “Hahaha! Rudi bebas!”


Sandro cepat berlari mengejar ojek yang membawa Rudi. Sementara sahabatnya itu hanya tertawa melihat Sandro mengejar di belakang, seperti bocah mengejar kambing.


“Woi, Aziz! Rudi sudah bebas!” teriak Sandro sambil melintas di depan rumah Aziz.


Aziz yang sedang sibuk dengan pekerajaannya di laptop sejenak menengok dengan pikiran yang masih loading, terbukti dari dua bibirnya yang bercerai. Ia hanya memandangi Sandro yang berlari seperti orang mengejar maling. Aziz tadi tidak melihat ojek yang melintas membawa Rudi. Dia hanya mendengar suara mesin sepeda motor berlalu.


“Rudi bebas? Yang benar saja,” ucap Aziz masih berpikir. Lalu dia membantah sendiri pikirannya, “Eh, jangan-jangan memang benar Rudi sudah pulang.”


Buru-buru Aziz memasukkan laptopnya dan dia cepat keluar lagi. Memakai sandal pun terbirit-birit, seperti jemaah salat jumat yang mengejar pahala onta tunai.


Barulah ketika berlari di jalanan, Aziz tersadar ketika melihat sandalnya, ternyata belang, bukan pasangan setianya. Yang satu merah dan yang satu kuning. Yang kanan sandalnya, yang kiri sandal emaknya. Memang ukuran kakinya dengan kaki ibunya sama.


“Ah, bodoh banget!” rutuk Aziz yang terus berlari kencang, membuat lemak-lemak tubuhnya berguncang heboh.


Tingkah kedua pemuda itu menarik perhatian warga yang mereka lewati. Warga pun melihat Rudi yang lewat dengan si abang ojek.


Baru dua hari ini, warga memperbincangkan tentang Rudi yang menjadi kriminal dadakan terkenal. Bukan hanya se-Provinsi Lampung, tetapi juga se-Nusantara. Warga juga menerka-nerka bagaimana nasib Rudi di penjara.


“Polisi mau dipukul batu, bisa bonyok habis Rudi digebukin di penjara.”


Itu salah satu spekulasi kuat masyarakat mengenai nasib Rudi. Memang, sejak dulu tidak sedikit orang tua-orang tua menilai buruk tabiat Rudi.


Terlebih-lebih dalam lebih sepekan belakangan. Rudi yang setiap malam pulang mabuk sudah menjurus kepada perbuatan yang meresahkan. Dia seperti hantu gentayangan yang meneror warga.


Maka, banyak orang yang sebelumnya sudah tidak suka, menjadi senang ketika mendengar Rudi dipenjara.


“Baru tahu rasa tuh Rudi!” ucap sejumlah warga, yang tentunya itu diucapkan tidak di depan kedua orangtua Rudi atau kedua sahabatnya, yakni Aziz dan Sandro.


Kamsiah yang sedang memunguti jemuran yang tergantung, bukan yang terjatuh, menengok ke depan rumah ketika mendengar suara mesin sepeda motor yang berhenti.

__ADS_1


“Rudiii!” jerit Kamsiah seperti mendapat hadiah umroh mendadak, saat dia melihat wajah putra tersayangnya.


Jeritan itu ternyata mendorong Daeng Tanri yang sedang ada di dalam rumah muncul dengan cepat dan ekspresi setengah panik, seperti kelomang yang keluar dari cangkangnya karena ditiup. Dia takut jika istri satu-satunya itu kenapa-kenapa. Istrinya termasuk wanita langka, karena jarang ada wanita berkulit jenis putih bersih hidup di daerah pantai.


Kamsiah sampai membuang tumpukan pakaian yang ada di tangannya lalu dia berlari ke arah putranya dengan penuh kebahagiaan.


Namun, sebelum dia sampai kepada Rudi, putranya itu mengejutkannya.


“Daeng, itu jatuh semua!” teriak Rudi dengan ekspresi terkejut sambil menunjuk ke arah pakaian yang berceceran di tanah.


Teriakan Rudi itu sukses mengejutkan ibunya lagi dan membuatnya berhenti lalu menengok memandangi pakaian kering yang jatuh.


“Dasar Rudi!” rutuk Kamsiah yang segera sadar bahwa dia dikerjai oleh putranya.


Wanita gemuk itu kembali berlari dan memeluk putranya.


“Hahaha!” tawa Rudi yang melihat kebingungan ibunya.


“Rudi sudah bebas, Puang Haji!” teriak Sandro keras sambil datang berlari kencang. Pemberitahuan yang terlambat.


“Alhamdulillah,” ucap Daeng Tanri lirih dan tetap berdiri di teras rumah.


“Panjang umur kamu, Rudi!” teriak Aziz yang tiba belakangan. “Baru saja orang-orang sekampung menyebut-nyebut namamu, eeeh, kamu sudah bebas.”


“Iya, pasti nyebut saya yang enggak-enggak,” timpal Rudi yang membuat Aziz cengengesan.


Rudi sudah melepaskan diri dari pelukan ibunya.


Sementara itu, sejumlah tetangga juga datang mendekat, sekedar ingin tahu cerita kebebasan Rudi.


“Bayarkan dulu ongkos ojekku. Kamu punya hp enggak diangkat-angkat, jadi saya ngojek,” kata Rudi menggerutu.


“Eh, memangnya kamu telepon saya, Di?” tanya Aziz sambil mencabut dompetnya dari sarangnya.


“Enggak,” jawab Rudi enteng.


“Hahaha!” tawa Kamsiah dan Sandro.


“Bagaimana kamu bisa bebas. Di?” tanya Daeng Tanri tanpa beranjak dari posisinya.

__ADS_1


“Enggak tahu, Puang. Tahu-tahu saya dibebaskan. Polisinya juga enggak bilang,” jawab Rudi.


“Tapi kamu enggak kabur, kan?” tanya Aziz.


“Kamu pikir saya jagoan Bollywood?” ucap Rudi yang membuat mereka tertawa, demikian pula para tetangga yang mendekat.


“Kita syukuri saja kalau memang Rudi benar-benar dibebaskan,” kata Daeng Tanri bijak. Lalu perintahnya, “Sandro, pergi pesan nasi bakar seratus buat syukuran nanti malam!”


“Assuaaap, Puang Haji!” teriak Sandro penuh semangat. Lalu katanya kepada Aziz, “Ayo, Ziz!”


“Kamu saja sendirian, kamu kan sudah gede, mana berotot lagi. Saya lagi ada orderan nih,” kata Aziz yang berujung senyuman.


“Tapi jangan lupakan saya kalau sudah cair ya, Ziz,” kata Sandro sambil memberi kode alis kepada sahabat berlemaknya itu.


“Tenang saja, saya kasih satu persen,” kata Aziz.


“Banyakkah satu persen itu?” tanya Sandro senang.


“Banyaklah,” jawab Aziz meyakinkan.


“Hahaha!” tawa mereka santai.


Singkat ceritanya.


Menjelang magrib, pesanan seratus bungkus nasi bakar telah diantar ke kediaman Daeng Tanri. Ustaz Barzanji pun diundang untuk sekedar baca-baca doa, yang turut dihadiri oleh beberapa orang lelaki tetangga terdekat sebagai perwakilan. Adapun warga yang lain akan diantarkan nasi bakarnya ke pintu rumah masing-masing, tentunya diserahkan kepada penghuni rumah.


Perbedaan antara yang hadir di rumah Daeng Tanri dengan yang tidak adalah dari makanannya. Yang hadir mendapat jatah dua bungkus nasi, plus bisa makan kue dan buah serta teh manis di tempat. Sedangkan yang tidak hadir, hanya dapat satu bungkus nasi yang dibakar.


Bagi yang hadir dan menunggu sampai pembacaan doa selesai, mereka dijanjikan pahala karena ikut mengaminkan doa. Sedangkan yang tidak hadir tidak akan ketinggalan lanjutan cerita sinetron pelakor yang bangga jadi pelakor.


Usai pembacaan doa di sekeliling makanan yang melimpah, Aziz dan Sandro, serta beberapa tetangga bergerak cepat membagikan nasi bakarnya ke segala penjuru.


Tepat ketika azan salat isya berkumandang dari Masjid Al-Fatah, segala urusan bersedekah atas kebebasan Rudi selesai dilaksanakan. Ustaz Barzanji pun mengajak para batangan itu untuk salat berjemaah.


“Saya salat di rumah saja, Di,” kata Aziz kepada Rudi.


“Saya salat di bagang saja,” kata Sandro yang merujuk kepada tempat nelayan mencari ikan di tengah laut. Itu sekedar dalih bagi mereka yang menghindari urusan salat.


Sedangkan Rudi wajib ikut ayahnya salat di masjid, meski pada beberapa waktu salat lainnya dia tidak mengerjakan kewajibannya tersebut.

__ADS_1


Sekitar pukul sembilan, Aziz dan Sandro berkumpul bersama di teras rumah Rudi. Mereka berbincang dan bercerita banyak hal. Malam ini Sandro tidak turun melaut dengan dalih khusus untuk merayakan kebebasan Rudi. (RH)


__ADS_2