
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
“Alhamdulillah!” ucap Rudi setelah tegukan minuman penutupnya habis dan sukses membuat perutnya menggendut beberapa mili.
“Alhamdulillah!” ucap Vina pula seraya tersenyum dan melirik Rudi, seolah-olah ucapannya sengaja minta perhatian. Bukan riya, tapi lebih kepada minta lebih dicintai.
Ucapan Vina itu justru membuat ayah dan ibunya memandang kepdanya. Vina hanya tersenyum-senyum dipandangi oleh kedua orangtuanya.
“Loh, kok sedikit sekali, Nak? Tambah lagi, ini daging rendangnya masih banyak,” kata Suharja yang nasinya masih separuh piring.
“Alhamdulillah, terima kasih, Daeng. Sudah cukup. Saya sudah makan banyak,” tolak Rudi santun.
“Kalu begitu, merokoklah dulu. Saya nanti mau bicara penting sama kamu,” kata Suharja.
Memang, di antara lauk pauk yang enak itu ada tumpukan dua kotak rokok yang sejak tadi diam saja.
“Maaf, Daeng. Saya sudah berhenti merokok,” kata Rudi.
“Oh!” kejut Suharja, refleks gerakan tangannya terhenti, padahal sudah menggenggam nasi.
Sebenarnya Vina juga terkejut, tetapi cukup bapaknya yang memekik.
“Bagus sekali itu bisa berhenti merokok. Saya baru tahu,” kata Suharja antusias, sampai lupa dia menyuap lagi. “Selama saya hidup di kampung ini, baru Pak Paleppe yang bisa berhenti merokok, itupun karena dia kena paru-paru.”
“Pak Paleppe yang tukang buat perahu itu, Daeng?” tanya Rudi.
“Iya. Tapi bisa ya kamu lepas dari rokok?” tanya Suharja.
“Perjuangan dan tekad kuat, Daeng. Apalagi saya ganti pakai permen,” jawab Rudi.
“Iya iya iya. Saya suka anak begini. Kita sebagai keturunan dari nenek moyang pelaut ….”
__ADS_1
Suharja menghentikan kata-katannya. Dia menyodorkan piringnya kepada istrinya.
“Simpan saja dulu, nanti saya habiskan lagi. Saya mau ngobrol dulu sama Rudi,” katanya kepada sang istri.
Suharja minum air putih sebagai penutup makannya. Air putih yang diminumnya adalah air yang digelas, bukan yang ada dikobokan.
“Kita bicara di depan, Nak!” ajak Suharja sambil bangkit lebih dulu. Ia pun mengambil dua kotak rokok yang lengkap dengan korek gasnya.
“Iya, Daeng,” ucap Rudi patuh.
Kedua lelaki itupun pergi ke ruang depan dan duduk berseberangan meja di sofa.
“Vina, buatkan teh manis dulu!” Suharja agak berteriak kepada wanita yang di dalam.
“Iya, Pak!” sahut Vina.
Setelah itu, Suharja mengeluarkan sebatang rokok dulu dari kotaknya lalu menyulutnya. Setelah mengisap dengan satu tarikan panjang, dia letakkan korek dengan rokok tetap terjepit di jarinya. Asap tanpa api mengebul tebal dari celah bibir dan lubang hidungnya. Tidak ada yang keluar lewat telinganya.
“Sebelumnya, Haji (saya) minta maaf ke kamu, Nak. Karena saya yang memisahkan kamu dengan Vina tiga tahun yang lalu,” ucap Suharja dengan nada yang berat, seakan-akan ucapan itu berkilo-kilo gram beratnya.
“Iya, Daeng. Enggak apa-apa itu. Sudah benar keputusan Daeng Haji untuk menyelamatkan kehormatan Vina dan keluarga. Mungkin waktu itu, saya saja yang terlalu terbawa perasaan sampai-sampai bikin banyak masalah. Maklum, Daeng, masih muda,” kata Rudi pula.
“Memangnya sekarang sudah tua?” tanya Suharja dengan tatapan yang ingin tertawa.
“Hahaha!” tawa Rudi yang segera diiringi oleh tawa Suharja.
“Namun, apa pun alasannya waktu itu, saya tetap salah, Nak. Alhamdulillah, sekarang bajingan Dendi itu sudah kena hukumannya. Yaaa, mungkin kamu enggak sependapat kalau saya minta bantuan Daeng Ambo Upe untuk membuat Dendi itu menderita. Dan terbukti bahwa apa yang dikirim Daeng Ambo itu berhasil. Kalau bukan dengan cara gaib seperti itu, susah rasanya bisa menghukum anak sialan itu,” kata Suharja, menceritakan upayanya dalam membalas dendam terhadap Dendi yang katanya telah memperkosa Vina tiga tahun yang lalu.
“Iya, Daeng,” ucap Rudi sambil manggut-manggut, meski sebenarnya dia tahu tentang apa yang sebenarnya menimpa Dendi.
“Saya dan keluarga sangat suka lihat perubahan kamu, walaupun itu terjadi setelah Puang Daeng Tanri sudah pergi. Apalagi kita berdua sama-sama Juragan Lelang yang bertetangga. Memang, apa yang mau saya sampaikan ada hubungannya dengan Vina. Vina sekarang sudah pulang dan dia masih sendiri, tidak punya pacar dan belum menikah pula. Sekarang dia sudah punya perusahaan sendiri di Jakarta, jadi sudah memiliki kemapanan dan modal untuk berumah tangga. Kamu juga, sudah mewarisi semua usaha puangmu dan juga punya usaha toko sepatu di Pasar Inpres, tentunya sudah enggak ada masalah untuk biaya pernikahan. Yaaah, saya dan emaknya Vina juga sadar diri bahwa sekarang kamu banyak dekat dengan gadis lain. Mungkin orangtua mana yang tidak senang kalau bermenantukan kamu, Nak. Jadi, kami hanya berharap, hubungan kamu dengan Vina yang dulu bisa dilanjutkan lagi ke jenjang pernikahan. Apakah kamu masih mau menerima Vina?” tutur Suharja cukup panjang yang memang sudah tertebak arahnya oleh Rudi.
Meski sudah menduga, tetap saja Rudi akhirnya dibuat bingung. Reaksi pertamanya adalah memberi senyuman, sambil berpikir.
__ADS_1
Rudi sebenarnya mengakui. Jika dihitung dan ditimbang dari sudut pandang seorang lelaki yang bertanggung jawab, seharusnya Rudi tidak punya alasan untuk menolak. Sebab, selama lima tahun dia “memakai” Vina nyaris seperti istri, hanya belum “keluar masuk” saja. Sepatutnya Rudi bertanggung jawab dengan menikahi Vina.
Namun, sekarang Rudi sudah punya wawasan dan ilmu lebih. Dia harus memilih calon istri yang tentunya berkwalitas menurut tolok ukur agama.
Bisa benar kata Sandro, jangan sampai nasib Rudi seperti dirinya yang berujung perceraian setelah berstatus pengantin baru hanya tiga hari.
Rudi juga tidak mau jika kepribadian yang telah dia bangun dan bentuk dalam beberapa tahun terakhir, menjadi rusak hanya karena memiliki istri berambut emas yang suka memakai celana pendek.
Melihat Rudi agak lama berpikir, Suharja berkesimpulan bahwa Rudi berat hati dan cenderung akan menolak. Karena itu, Suharja segera menyusulkan kalimat-kalimat untuk dipertimbangkan oleh Rudi.
“Memang, jika Vina disandingkan sama kamu yang sekarang, pastinya Vina enggak cocok. Tapi kamu sudah sangat mengenal Vina ….”
Kata-kata Suharja terputus saat Vina datang membawa dua gelas teh. Hanya teh tanpa kue. Dia masih bermukena lengkap. Dalam penampilan seperti itu, Vina terlihat benar-benar salehah.
Sejenak Suharja mengisap asap rokoknya.
“Vina, kamu mau kan kalau dibimbing berubah oleh Rudi? Supaya lebih dekat sama agama,” tanya Suharja kepada Vina yang sudah meletakkan minuman di meja kaca.
“Eh, i-iya,” jawab Vina agak terbata, tapi tersenyum kecil yang bikin malu. Maksudnya tersenyum malu yang kecil.
“Rudi, kamu kan sudah punya ilmunya, sudah lebih dewasa mengontrol emosi. Tentunya kamu bisa membimbing Vina biar lebih pantas menjadi istri seorang ustaz. Memang hari ini Vina masih pakai celana pendek ke mana-mana ….”
Melebarlah mata indah Vina disebut seperti itu di depan Rudi. Dia segera pergi dan duduk di lantai bersandar dinding, tepatnya di ambang pintu ruang tengah. Dia ingin mendengar jelas perbincangan antara ayahnya dengan Rudi. Pastinya, dia ingin mendengar apa jawaban Rudi.
“Terimalah, Rudi. Terimalah, Rudi!” rapal Vina di dalam hati seperti membaca mantera.
“Hari ini Vina memang masih seperti yang kamu lihat, seperti anak siluman yang rambutnya kuning kayak apa. Tapi, kalau sudah jadi istri, kan wajib patuh sama suami. Bukan begitu, Nak?” kata Suharja, lalu menggiring pembenaran.
“Iya, Daeng,” ucap Rudi.
“Jadi apa jawabanmu, Nak?” tanya Suharja.
Setelah itu, detik-detik berikutnya menjadi waktu yang begitu mendebarkan bagi Vina dan kedua orangtuanya. Sunirah juga menyimak dari ruang tengah. (RH)
__ADS_1