
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Tiiit! Tiiit! Tiiit!
Itu bukan suara klakson mobilnya Vina, tetapi itu suara dari sebuah ponsel yang tergeletak di atas sebuah nakas di samping ranjang.
Dari balik selimut putih yang bergerak naik turun seperti menutupi sesosok hantu, keluar sebuah kepala wanita cantik berambut sebahu dan mengulurkan tangannya untuk menggapai ponsel di atas nakas. Tangannya yang terlihat tanpa lengan baju hingga pundak, memberi pesan bahwa wanita muda yang adalah Nita Talia itu sedang tidak berbaju di bawah selimut yang tebal.
Nita Talia yang wajahnya agak berkeringat di dalam kamar yang dingin, melihat layar ponselnya. Dilihatnya ada nama “Jenderal Kilat” yang menelepon.
“Assalamu ‘alaikum, Jenderal!” salam Nita tanpa menempelkan hp-nya di telinga. Dia mengaktifkan speaker ponselnya.
“Wa ‘alaikum salam. Saya sudah kirim dua nama di pesan. Tugas saya serahkan kepada Badak Cula Emas untuk segera mengumpulkan informasi tentang orang-orang yang namanya sudah saya kirim,” kata suara wanita yang terdengar jelas.
“Siap, Jenderal!” jawab Nita Talia layaknya seorang prajurit wanita.
“Sore ini harus sudah ada laporan dari kamu, Merpati Putih.”
“Siap, Jenderal!”
“Assalamu ‘alaikum!”
“Wa ‘alaikum salam, Jenderal!”
Setelah itu, sambungan telepon berakhir.
Nita Talia lalu bergerak berdiri sambil memegang hp-nya. Dia berdiri sambil menarik selimut agar tetap menutupi tubuhnya. Sekedar memberitahuan bahwa Nita saat itu tidak berpakaian atas dan bawah.
Dan ketika dia menarik semua selimut, maka tersingkaplah sesosok lelaki muda tanpa busana sehelai pun alias buto.
“Eh eh eh! Lu mau ke mana, Nita?” tanya pemuda tampan itu sambil cepat menutupi bawah perutnya dengan bantal. Dia tidak mau amunisi tunggalnya masuk rekaman CCTV.
“Aku mau mandi. Ada tugas,” jawab Nita sambil meninggalkan ranjang dengan tubuh tetap berselimut.
Setelah meletakkan ponselnya di nakas, Nita pergi menuju pintu kamar mandi.
“Tapi gua belum keluar!” protes si pemuda yang seolah-olah tidak bisa ke mana-mana.
__ADS_1
“Tapi kan elu sudah masuk. Nanti kalau gua libur lagi!” sahut Nita tanpa menoleh.
Di pintu kamar mandi, Nita menanggalkan selimutnya begitu saja dang langsung menutup pintu kamar mandi, tapi tidak rapat karena terganjal oleh selimut.
Melihat itu, si pemuda segera turun dari ranjang dengan tetap menutupi anunya dengan bantal. Dia lalu berlari kecil ke pintu kamar mandi. Saat dia masuk, bantal dia lempar begitu saja ke belakang.
Sejam kemudian, di tempat lain.
Wijoyo yang mengenakan jaket dan helm ojol sedang duduk di atas sepeda motornya yang parkir di pinggir jalan raya besar Ibu Kota DKI Jakarta. Dia sedang makan gorengan dengan tangan kiri memegang cabe rawit yang sudah buntung. Tangan kanannya, selain memegang gorengan yang sedang dimakannya, juga memegang ponsel pintarnya.
Ada sebuah kantong plastik putih bening berisi gorengan menggantung di pegangan stang kiri.
Wijoyo adalah pemuda setengah ganteng yang memiliki wajah khas etnis Jawa. Ada tas selempangan warna hitam di badan depannya.
Prooot!
Tiba-tiba terdengar suara klakson besar, seiring sebuah truk kontainer berwarna hitam-hitam lewat di jalan besar itu.
Hal itu membuat Wijoyo buru-buru membuang potongan gorengan di tangannya. Dia segera menyalakan sepeda motornya dan langsung tarik gas kencang mengejar truk kontainer.
Wijoyo dan sepeda motornya melesat beberapa meter tepat di belakang truk kontainer.
Tit tit tit!
Jreg!
Tiba-tiba sisi belakang peti kemas hitam bergerak membuka. Bukan terbuka seperti dua daun pintu, tetapi membuka bergerak dari bawah ke atas. Seiring itu, dari celah yang terbuka keluar menjulur benda panjang seperti jembatan.
Sehingga, ketika pintu belakang peti kemas terbuka lebar, jembatan yang turun sudah mencapai aspal dan terseret di depan laju motor Wijoyo. Pada bagian ujung jembatan itu ada roda kecilnya, sehingga tidak menggesek aspal.
Di pinggiran peti kemas ada seorang pemuda berkaos hitam dan bercelana militer sedang berdiri.
Ngeeeng!
Wijoyo menarik gas kencang, membuat sepeda motornya melesat lebih kencang dan menaiki jembatan untuk masuk ke dalam peti kemas. Para pengendara jalan raya yang lain hanya melihat kejadian tidak biasa itu.
Setelah Wijoyo naik dan masuk, jembatan kembali tertarik secara otomatis dan pintu peti kemas bergerak turun untuk menutup.
Wijoyo berhenti di dalam peti kemas dan mematikan mesin sepeda motornya.
__ADS_1
“Siapa mau gorengan?” tanya Wijoyo kepada beberapa orang muda yang ternyata sudah duduk nyaman di dalam peti kemas panjang tersebut. Aksen jawab timurnya terdengar medok.
Di dalam peti kemas itu sudah ada empat lelaki dan tiga wanita yang semuanya kategori muda. Para pemuda itu berpenampilan seperti tentara, demikian pula para wanitanya yang menggunakan atribut dan simbol-simbol militer.
Di tengah-tengah mereka ada sebuah meja. Di atasnya ada dua laptop dan seloyang kue basah pandan warna kuning. Lengkap dengan sejumlah kaleng minuman.
“Nah, cocok nih, gorengan sama kue pandan bule. Hahaha!” kata pemuda berkepala botak yang berjaket loreng corak tentara. Dia segera mengambil kantong plastik di stang sepeda motor Wijoyo.
“Ada tugas apa nih? Hari libur kita kan satu hari lagi,” tanya Wijoyo plus protes. Dia membuka helm dan jaket ojek ojolnya.
Jleg!
Sebelum ada yang menjawab pertanyaan Wijoyo, tiba-tiba dinding depan terbuka. Ternyata ada sebuah pintu yang tersambung dengan ruang di kepala truk.
Masuklah seorang gadis cantik berkaos oblong merah yang pada bagian dadanya ada sablonan wajah monyet sedang nyengir kuda pamer gigi. Bajunya dimasukkan ke dalam celana militer yang bergesper kulit berkepala besi berat.
Wanita itu tidak lain adalah Nita Talia yang nama sandinya adalah Merpati Putih. Statusnya adalah Komandan Badak Cula Emas.
Badak Cula Emas sendiri adalah salah satu tim di dalam Tentara Ilusi yang sekarang dipimpin oleh Barada.
“Oke, Tim!” sapa Nita Talia lalu duduk di space kursi sofa yang masih tersedia.
“Siap, Komandan!” jawab kedelapan orang muda lainnya kompak.
Orang-orang itu menjadi serius.
“Buka akun kalian masing-masing!” perintah Nita Talia.
Kelima pemuda dan ketiga pemudi itu lalu membuka ponsel mereka masing-masing untuk mengecek apa yang ada. Dua wanita membuka laptop yang ada di meja.
Yang mereka buka pastinya bukan akun sosial mereka, tetapi akun khusus yang berkaitan dengan status mereka sebagai agen atau personel Tentara Ilusi, sebuah lembaga keamanan rahasia berskala nasional.
Dalam pesan yang masuk di akun masing-masing, ada dua nama yang tertera, lengkap dengan biodata dan fotonya masing-masing. Dua nama dan foto itu adalah Vina Seruni dan Grandbo Budisakro.
“Peri Data sudah mengirim kita biodata lengkap dua orang ini. Vina Seruni adalah Burung Emas dan Grandbo adalah Biawak Perak. Seperti data yang kalian lihat, Burung Emas adalah pemimpin perusahaan PT. Aromasur. Biawak Perak adalah mantan pacarnya yang lamarannya ditolak. Dia putra kedua Budisakro, pengusaha hotel dan restoran. Beberapa pekan lalu Burung Emas pulang ke kampungnya di desa nelayan di Kalianda. Beberapa hari di sana, Biawak Perak datang bersama para pengawal. Terjadi keributan karena lamarannya ditolak. Biawak Perak kemudian pulang. Namun, malamnya Burung Emas hilang dengan kondisi pintu sudah tidak terkunci. Hingga saat ini tidak ada jejak, bahkan kepolisian pun masih nihil informasi. Karena tidak ada bukti, jadi kita hanya bisa memulai dengan menarik benang merah dari kasus hilangnya Burung Emas kepada konflik yang sebelumnya terjadi. Dengan keberadaan para pengawal di sekitar Biawak Perak dan mereka memiliki senjata api, bisa saja Biawak Perak memiliki kemampuan untuk bisa menculik seseorang dengan sangat bersih. Kesimpulannya, misi hari ini adalah kalian harus sudah bisa meretas ponsel Biawak Perak, memasang alat penyadap dan kamera di kantor, rumah dan kamarnya. Paham?” kata Nita setengah panjang.
“Paham, Komandan!” jawab mereka serentak, tanpa berteriak.
“Sebelum magrib. Kerja kalian harus sudah selesai atau ada laporan yang jelas,” kata Nita lagi.
__ADS_1
“Baik, Ketua!”
“Silakan kalian atur operasinya,” perintah Nita Talia. (RH)