Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 22: Pengawalan Khusus


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


Matahari pagi masih cukup lama untuk terbit. Di bawah keremangan lampu-lampu permukiman yang masih menyala, Muttaqin dan Latifah berjalan keluar dari gang sempit di salah satu daerah padat di Jakarta, Ibu Kota Indonesia. Mereka mengenakan pakaian muslim muslimah yang rapi.


Muttaqin mengenakan koko putih dan celana cokelat, juga mengenakan peci hitam. Sedangkan Latifah yang mengenakan pakaian hitam dan jilbab hitam membuat wajah putihnya yang sejuk tampak bercahaya.


Muttaqin membawa sebuah tas jinjing berisi pakaian.


Ketika mereka keluar gang, seorang pemuda bertubuh tegap berjas hitam, berambut cepak dengan satu alat komunikasi canggih terpasang di telinga kanan, datang menyambut kedua orang tua separuh baya tersebut.


“Ustaz Muttaqin?” tanya pemuda berperawakan militer itu kepada Muttaqin.


“Benar,” jawab Muttaqin tanpa senyum kepada pemuda tampan tersebut, yang tangan kirinya memegang sebuah kacamata hitam.


“Saya Dodit, Pak. Datang menjemput Ustaz dan Ibu atas perintah Barada,” kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Muttaqin.


“Oh. Alhamdulillah,” ucap Muttaqin sambil menjabat tangan pemuda itu. Ia dan istrinya kini memberi senyum.


“Silakan, Ustaz, Bu,” kata Dodit mempersilakan sambil dengan sopan mengarahkan kedua orang tua itu kepada sebuah mobil hitam mewah. Pada plat yang berwarna merah dan ungu itu ada nomor kode 99. Pola platnya seperti plat kendaraan TNI, tetapi simbol instansi dan warna ungunya tidak dikenal.


Ternyata ada pula pemuda kedua yang berpenampilan sama di sisi mobil. Pemuda yang ini sudah memakai kacamata hitamnya, yang membuatnya terlihat terlalu gaya memakai kacamata hitam di waktu subuh.


Dodit dan rekannya melayani Muttaqin dan Latifah dengan membukakan pintu belakang kanan dan kiri. Tanpa ragu, Muttaqin mengajak istrinya untuk masuk.


Setelah Muttaqin dan Latifah duduk nyaman, kedua pemuda tegap itu masuk ke kursi depan.


“Mohon maaf, Ustaz, nanti mobilnya agak kencang. Tolong sabuk pengamannya dipakai,” kata pemuda teman Dodit yang duduk memegang stir kemudi.


Mobil sedan mewah hitam itu kemudian bergerak perlahan meninggalkan pinggir jalan. Setelah mengaspal, mobil langsung melesat cepat di jalan raya yang masih sepi.


Tidak pakai L, mobil telah memasuki jalan tol.


Meski kecepatan mobil terbilang kencang, tetapi Muttaqin dan istrinya yang baru pertama kali naik mobil semewah dan senyaman itu, tidak merasa bahwa mobil itu berlari ugal-ugalan. Sangat jarang mobil tersebut mengerem, meski sesekali ada momentum kendaraan cukup banyak. Cara pengereman dan penarikan gasnya begitu lembut, seolah-olah sudah tahu takarannya atau memang mobilnya terlalu mahal dan canggih.


“Orang Agung tiba 60 detik,” ucap Dodit sambil memegang alat komunikasi di telinganya dengan sentuhan telunjuk. Setelah itu hening.


Mobil kemudian keluar dari jalan tol dan memasuki sebuah tempat yang bangunannya di kelilingi oleh pohon cemara yang tinggi-tinggi, sehingga jika tempat itu tidak dimasuki, maka tidak akan terlihat dengan jelas ada bangunan apa di dalamnya dan seperti apa.


Di dalam ada kawasan yang luas dan sebuah bangunan tingkat dua berwarna ungu kehitaman. Bangunan itu biasa saja, malah terkesan seperti bangunan pabrik. Tempat itu juga jauh dari wilayah permukiman.


Mobil hitam masuk dan langsung menuju ke belakang bangunan. Ternyata di sana ada lapangan semen dan di tengah-tengahnya ada sebuah helikopter berwarna hitam dengan sedikit garis pemanis warna ungu.

__ADS_1


Baling-baling atasnya sudah berputar kencang, menimbulkan angin yang keras.


Mobil itu berhenti dalam jarak terukur dari helikopter. Di helikopter sudah ada pilot yang siap menerbangkan dan di sisi pesawat berdiri seorang lelaki berpakaian tentara lengkap berwarna hitam-hitam, bahkan lengkap dengan senjata api yang dalam posisi tidak siap pakai.


Dodit dan rekannya menggiring Muttaqin dan Latifah ke arah pesawat.


“Merunduk, Ustaz!” teriak Dodit karena suara baling-baling begitu keras.


Muttaqin harus berjalan setengah merunduk. Latifah harus memegangi jilbab dan pakaiannya agar tidak terbang seperti adegan-adegan film Bollywood.


Dodit menyerahkan tanggung jawab kepada pilot dan tentara hitam-hitam itu untuk membawa pasangan suami istri tersebut.


Meski Muttaqin dan Latifah baru kali ini bertemu orang-orang berperawakan militer seperti itu, tetapi mereka sudah diyakinkan bahwa orang-orang itu adalah anggota dari kesatuan tempat putri mereka bekerja dan bertugas.


Keduanya diarahkan masuk ke pesawat dan duduk. Setelah memberi kode jempol kepada Dodit dan rekannya, pilot pun menerbangkan pesawatnya naik secara vertikal, lalu melesat terbang.


Pengalaman perdana terbang dengan pesawat capung bagi Muttaqin dan Latifah. Mereka benar-benar seperti seorang pejabat penting.


Dari dalam capung mesin itu, Muttaqin dan Latifah bisa melihat keindahan alam Provinsi Banten, baik daerah perkotaannya, pedesaannya, maupun alam liarnya.


Setelah terbang cukup jauh, helikopter hitam itu kemudian terbang di atas lautan Selat Sunda. Sesuatu yang fantastis sekaligus membahagiakan bisa terbang di atas lautan. Mereka bisa melihat perahu-perahu nelayan, kapal fery penyeberangan, kapal cepat, pulau, dan beburungan yang bisa terbang.


Tidak perlu hitungan jam, akhirnya mereka bisa melihat dengan jelas daratan ujung Pulau Sumatera, yaitu Provinsi Lampung, Sai Bumi Ruwa Jurai. Jangan tanya apa artinya.


Akhirnya, pesawat itu bergerak merendah untuk turun ke suatu tempat.


Pesawat itu turun ke sebuah lapangan semen di dekat sebuah gedung kecil sederhana. Namun, tempat itu memiliki area kosong bersemen yang luas. Di salah satu sisi ada tumpukan-tumpukan petikemas yang cukup banyak.


Ketika kaki pesawat menyentuh landasan, sebuah mobil mewah warna kuning datang mendekati helikopter.


Meski sudah mendarat, pilot tidak mematikan mesin dan baling-balingnya. Muttaqin dan Latifah harus turun dengan hati-hati di bawah putaran baling-baling. Mereka turun lalu berjalan merunduk.


Dari dalam mobil kuning keluar seorang wanita cantik berjilbab kuning-kuning. Ia langsung tersenyum manis kepada kedua orang tua yang datang. Gadis berlesung pipi itu berjalan menyambut. Pakaiannya juga berkibar kencang oleh angin baling-baling.


“Hahaha! Assalamu 'alaikum!” tawa si gadis yang tidak lain adalah Barada, menyambut kedua orangtuanya.


"Wa 'alaikumussalam!" jawab suami istri tersebut seraya tersenyum.


Barada langsung menyalim tangan ayahnya.


“Bagaimana, Puang?” tanya Barada kepada Muttaqin.

__ADS_1


“Masyaallah, mendebarkan,” jawab Muttaqin seraya tersenyum biasa saja, mencoba cool.


Barada pun segera mencium tangan ibunya lalu memeluknya.


“Ayo, saudara-saudara pasti sudah menunggu,” ajak Barada.


Muttaqin dan Latifah mengikuti putrinya yang sudah menjadi seorang pejabat di bidang keamanan rahasia. Mereka masuk ke dalam mobil mewah yang mungkin harganya miliaran rupiah.


Tat tat!


Barada memberi kode klakson kepada dua orang anak buahnya di helikopter. Kedua lelaki itu hanya memberi jempol kepada mobil Barada yang bergerak menjauh.


Mobil pun pergi meninggalkan lokasi yang berada di satu titik lokasi di kaki Gunung Rajabasa. Ketika keluar ke jalan beraspal, ternyata daerah itu terpencil karena di kanan dan kiri jalan raya adalah hutan. Tembus-tembusnya, mobil kuning keluar ke jalan besar Trans Sumatera.


Mobil segera menuju ke Kecamatan Kalianda di pesisir.


Singkat cerita.


Sampailah Barada dan orangtuanya di desa nelayan.


Kedatangan mobil mewah mahal yang tidak dimiliki oleh seorang pun di daerah itu, bahkan di provinsi itu, jelas menarik perhatian semua orang yang ada di rumah duka Haji Daeng Tanri. Kelas yang dimiliki oleh si mobil membuat bibir sebagian dari para pelayat harus bercerai sementara.


“Wow!”


“Masyaallah!”


“Terlalu cantik.”


“Di sini masih ada bidadari rupanya.”


“Anak gadis siapa itu?”


“Ayam gulai!”


Itulah sejumlah ucapan yang tersebut saat Barada turun dengan berkacamata hitam yang tidak bisa dibantah kekerenannya. Apalagi dia turun dari kursi kemudi.


Awalnya, tidak ada yang mengenali siapa yang datang, meski Barada sudah keluar. Barulah setelah Muttaqin keluar dari mobil dan Barada membukakan pintu untuk ibunya, Herman Saddila, Daeng Marakka dan para orang tua, termasuk Haji Goli dan Haji Suharja mengenali siapa yang datang.


Di saat kedua orangtuanya disambut oleh para saudara dalam kesedihan, Barada pergi untuk memarkirkan mobilnya di tempat yang nyaman bagi si mobil.


Muttaqin langsung pergi menemui kakak kandungnya yang sudah menunggunya tanpa ruh lagi.

__ADS_1


Maka terjadilah duet dua ustaz dalam mengurusi jenazah almarhum Haji Daeng Tanri, yakni Ustaz Muttaqin dan Ustaz Barzanji. (RH)


__ADS_2