Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku
RAC 26:Anggukan Sang Bapak


__ADS_3

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*


 


Setelah tidak menangis lagi, Vina merapikan wajah cantiknya yang berantakan. Kemudian dia minta izin kepada ibunya untuk pergi ke Pelelangan Sinar Nelayan. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum biasanya pelelangan bubar atau menyepi dari kegiatan transaksi.


Meski jarak ke pelelangan tidak begitu jauh, Vina terpaksa pergi menggunakan mobilnya, karena sepeda motor yang ada akan dipakai pergi oleh Ferdy. Seperti hendak mengulang gaya pakaiannya di masa lalu, Vina mengenakan celana pendek dan baju kaos oblong.


Memasuki pelelangan, ternyata pusat perdagangan komoditi laut itu sudah mulai sepi. Area parkiran pun sudah tidak begitu ramai. Kondisi itu membuat mobil biru terang Vina bisa masuk lebih jauh ke dalam lelang yang ketika waktu ramai, mobil tidak bisa masuk.


Melihat ada mobil mewah berhenti di depan lapak, Ambo Dalle dan Tahang sebagai karyawan Haji Suharja berhenti bekerja. Mereka langsung tahu mobil siapa itu.


“Si Vina masih pakai rok pendek kayaknya,” kata Tahang berbisik.


“Pakai celana panjang,” tebak Ambo Dalle pula.


Sementara Haji Suharja Gendara yang sedang hitung-menghitung menggunakan kalkulator, hanya melirik sebentar, lalu menghitung lagi. Sementara satu tangannya menjepit rokok yang hampir habis.


“Hahaha!” tawa Ambo Dalle dan Tahang saat melihat kaki mulus Vina turun lebih dulu. Mereka tertawa bukan karena kaki mulus gadis cantik itu, tetapi karena tebakan mereka tidak ada yang benar, ternyata Vina memakai celana pendek, bukan rok pendek.


Ketika turun, Vina langsung memandang ke seberang. Dia tahu, dulu lapak alamarhum Daeng Tanri berseberangan dengan lapak ayahnya. Namun, Vina tidak melihat keberadaan sosok pemuda yang sedang mengganggu pikirannya. Dia hanya melihat keberadaan dua karyawan lapak yang sedang bekerja merapikan barang-barang dagangan, yang berupa berbagai peralatan dan perlengkapan nelayan. Salah satunya Vina kenal, yaitu Tawwa, pemuda yang masih berjidat lebar dan berambut keriting.


Tanpa pergi menyapa ayahnya lebih dulu, Vina pergi ke toko di seberang yang bernama “Tanri Damai”.


Tawwa tersenyum lebar melihat kedatangan si gadis cantik yang baru pulang dari Ibu Kota Negara.


“Vinaaa! Tambah cantik sekali kamu tinggal di Jakarta. Sudah jadi artiskah di sana?” sapa Tawwa.


“Terima kasih,” ucap Vina pula sambil tersenyum lebar. “Saya di Jakarta untuk kuliah dan membangun usaha, bukan buat masuk tivi.”


“Hahaha!” tawa Tawwa yang suaranya memancing Suharja untuk melirik dengan cara memandang ke atas karena kepalanya tertunduk ke buku perhitungan.


Setelah itu, Suharja kembali melanjutkan hitung-hitungannya setelah mengisap sigareteknya yang sudah habis.


“Di mana Rudi?” tanya Vina, tidak mau lama baso basi.


“Aaah! Belum beruntung kamu Vina. Pas Ustaz Rudi pergi, kamu datang. Enggak sampai selisih menit,” jawab Tawwa.


“Rudi pulang?” tanya Vina untuk memastikan.


“Iya, sekalian mengantar pesanan Kulsum ke rumahnya,” jawab Tawwa.


“Kulsum anaknya Ustaz Barzanji?” tanya Vina yang langsung berfirasat buruk. Maksudnya buruk dalam perkara cinta.

__ADS_1


“Iya. Ustaz Barzanji sekarang buka warung di rumahnya, mengambil barangnya itu kebanyakan di sini,” jelas Tawwa.


“Ya sudah, Tawwa. Terima kasih ya,” kata Vina.


“Iya,” jawab Tawwa sambil tersenyum lebar.


Vina lalu kembali menyeberang ke lapak tempat ayahnya berkantor, kantor tanpa kaca jendela dan ber-AC angin laut.


“Bapak, Vina pulang ya,” izin Vina kepada Suharja.


Suharja berhenti sejenak lalu menatap wajah putrinya dengan tatapan misteri arti.


“Buat apa mencari Rudi? Bukannya kamu sudah dilamar orang?” tanya Suharja.


“Yang terima Bibi Anti, tapi saya enggak mau. Saya kabur,” jawab Vina.


“Alhamdulillah kalau begitu,” ucap Suharja, tapi tanpak ekspresinya datar seperti pembunuh berdarah dingin.


Mendengar ucapan ayahnya, Vina tertawa kecil.


“Berarti Bapak setuju kalau saya menikah sama Rudi?” tanya Vina menyimpulkan.


Suharja hanya mengangguk sekali lalu beralih fokus kembali kepada pekerjaannya, seolah-olah memberi kode bahwa Vina sudah boleh pergi.


“Dapat hadiah apa dari Haji?” tanya Ambo Dalle kencang kepada Vina.


“Hadiah suami! Hahaha!” jawab Vina lalu tertawa.


Vina kemudian menyalakan mesin mobilnya, sepertinya dia buru-buru.


Setelah mobil diputar hadap, kendaraan mahal itupun langsung melesat pelan meninggalkan lapak ayahnya.


“Kenapa enggak tadi malam saya ke rumahmu,” pikir Vina.


Kabar gembira dari sang bapak membuat Vina semakin rindu kepada Rudi. Dia sangat penasaran, seperti apa perubahan wajah pemuda yang dicintainya itu.


“Pasti lebih bercahaya karena sering dibasuh air wudu. Penampilannya pasti pakai sarung melulu. Lebih gampang kalau mau dicolong-colong. Hahaha!” pikir Vina yang kemudian tertawa kencang sendiri di dalam mobil karena pikirannya rada nakal.


Selain sebagai seorang ustaz bagi anak-anak, Rudi Handrak kini mewarisi usaha almarhum ayahnya, yaitu sebagai Juragan Lelang termuda. Bisa disebut pengusaha muda meski warisan ayahnya hanya dua lapak. Bisa dibilang Rudi kini tulang pinggang keluarga karena selain kakaknya yang sering mengirim uang untuk ibunya, dialah satu-satunya yang menafkahi ibunya secara langsung.


Kini Rudi sering mengenakan baju koko dan peci budaya Bugis, meski sedang mengelolah usahanya di pelelangan yang identik bau amis. Kini pun, ada jenggot halus yang tumbuh di dagunya.


Setiap dia pergi ke pelelangan, Rudi mengendarai sepeda motor kesayangannya yang mulai usang. Bukan karena tidak sanggup beli yang baru dan lebih bergaya, tetapi karena sepeda motor itu punya banyak kenangan dan cerita. Yang membuat sepeda motor itu justru semakin mahal adalah ceritanya.

__ADS_1


Saat ini, Rudi mengendarai sepeda motornya dengan membawa dua kardus barang yang terikat rapi.


Sekalian jalan pulang, dia membawakan barang pesanan Kulsum yang sudah lebih dulu pulang dari lapaknya.


Tut tut!


Tiba-tiba ada suara klakson dua ketukan dari belakang Rudi yang sedang mengendara. Itu mengejutkan si pemuda. Rudi segera lebih menepi sambil mencuri pandang lewat kaca spion. Rudi agak terkejut kerena mengenali mobil yang sangat dekat di belakangnya.


Sebuah mobil merah bagus yang dikendarai oleh seorang wanita cantik. Mobil itu maju dan melesat seiringan dengan sepeda motor Rudi. Kaca pintu depan diturunkan.


“Assalamu ‘alaikum, Abang Ustaz!” sapa gadis berwajah cerah putih susu tersebut seraya tersenyum lebar, membuat sepasang matanya yang sedikit sipit semakin menyipit.


“Wa ‘alaikum salam!” sahut Rudi.


Daripada bahaya karena gadis berambut panjang itu mengambil posisi tengah jalan, Rudi memilih berhenti di pinggir jalan.


Gadis cantik berkemeja kuning itu lalu menepikan pula mobilnya tidak jauh di depan sepeda motor Rudi.


Setelah memarkirkan sepeda motornya, Rudi segera mendatangi mobil tersebut. Si gadis yang begitu cantik dengan model matanya yang kesipitan seperti gadis China, tapi seorang gadis asli Lampung, juga memilih keluar dari mobilnya. Ia mengenakan pakaian kemeja kuning dan celana hitam, model pakaian kantor.


“Mau ke mana, Bulan?” tanya Rudi seraya tersenyum ramah. Sepertinya dia sudah akrab dengan gadis cantik tersebut. “Rumah kamu kan sudah terlewat tadi?”


“Tadi saya lihat Abang Rudi keluar dari pelelangan, jadi saya ikuti. Sekalian ada perlu dengan Abang,” jawab gadis yang bernama Bulan Adinda yang rumahnya masih di daerah pesisir itu juga. Senyumnya sangat kental dengan kebahagiaan.


Tit tit tit tit!


Tiba-tiba obrolan pinggir jalan mereka diusik dan dikejutkan oleh klaksonan mobil biru terang yang melintas dan pergi. Mereka terkejut karena porsi klakson itu berlebihan dan mereka pun tidak mengganggu jalan raya. Lagipula, di depan sedan biru itu tidak ada kendaraan lain yang melaju sehingga seharusnya tidak perlu memberi klakson.


“Siapa, Bang?” tanya Bulan sambil bersama memandang kepergian mobil tersebut.


“Tidak tahu. Saya tidak kenal mobilnya,” jawab Rudi. Lalu dia alihkan kembali permbicaraan, “Oh iya, Bulan. Kamu mau ke rumah saya?”


“Iya, Bang.”


“Kamu ke rumah saja dulu ketemu ibu saya. Saya mau antar barang pesanan Ustaz Barzanji dulu. Nanti saya langsung pulang,” kata Rudi.


“Iya.”


“Tunggu di rumahku, jangan tunggu di rumah yang lain,” pesan Rudi berseloroh.


“Hihihi!” tawa cekikikan Bulan Adinda. Setiap kali Rudi mencandai dirinya, dia selalu merasa bahagia.


Rudi pun kembali ke sepeda motornya. Bulan tidak langsung masuk ke mobilnya, dia memilih berdiri dan menunggu Rudi berlalu.

__ADS_1


Rudi pun bergerak kembali ke jalan raya. Rudi memberi senyuman, Bulan memberi lambaian, meski sebentar lagi mereka akan bertemu lagi di rumah, bukan di pelaminan. (RH)


__ADS_2