
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Alexa adalah seorang wanita cantik berusia dua puluh tujuh tahun dengan perawakan tubuh yang langsing mungil, tapi tidak kecil-kecil amat, karena Amat saja tidak kecil. Mata yang berbinar dan hidung mancung yang runcing membuatnya dijuluki Mulan Jamila Pesisir. Sedikit banyaknya dia memang memiliki kemiripan dengan penyanyi K-Pop Mulan Jamila. Orang tidak mempermasalahkan apakah dia bisa menyanyi atau tidak, tetap yang orang permasalahkan itu apakah miripnya banyak atau sedikit.
Alexa mengenakan jilbab model instan dalam kesehariannya, yang kalau keluar rumah tinggal pasang, dan kalau masuk rumah tinggal buka. Maklum mantan seorang istri alias janda muda dan kembang pula. Usia menjandanya sudah cukup lama untuk ukuran muda dan cantik.
Kok bisa janda muda dan cantik bisa bertahan tetap sendiri selama lima tahun? Karena lelaki biasanya tidak akan memandang status jandanya jika sudah berbahan baku muda dan cantik, kaya pula, meski kekayaannya adalah milik ortu dan warisan mendiang suami. Untuk tahu alasannya, lebih baik tanya langsung kepada Alexa, kenapa memilih tetap sendiri. Itu agar keterangannya tidak ada yang ditambahkan dan dikurangi.
Alexa memiliki putri berusia sepuluh tahun yang sudah menjadi yatim pada usia lima tahun. Jika ibunya cantik, pastilah putrinya juga cantik, apalagi belum memiliki dosa yang bisa mengurangi kecantikan seorang wanita.
Candaria Flexy. Itulah nama putrinya.
Meski tubuhnya mungil, tetapi Alexa bisa mengendarai sepeda motor matic yang proporsional dengan dirinya. Sebenarnya membawa motor yang lebih gemukan juga bisa, asalkan salah satu ujung kakinya bisa sampai ke tanah.
Sebagaimana biasanya, setiap usai salat asar, Alexa pergi mengantar putri sematawayangnya pergi mengaji ke rumah Ustaz Rudi.
Sore ini, Alexa agak terlambat mengantar karena harus menuntaskan urusan kakus lebih dulu.
Ketika tiba, puluhan anak-anak yang mengaji di rumah Rudi sudah hampir selesai membaca doa-doa dan hafalan Al-Qurannya secara bersama-sama.
Hari ini, Rudi dibantu mengajar oleh Kulsum, putri Ustaz Barzanji. Anak-anak yang jumlahnya hampir tiga puluh orang dibagi dua kelompok berdasarkan gender. Yang laki-laki diajari oleh Rudi di teras dan yang perempuan diajari oleh Kulsum di ruang tamu. Kulsum akrab disebut “Ummi” oleh anak-anak, meski faktanya guru bantu itu masih gadis ning nong.
Kulsum membantu mengajar pada hari Sabtu dan Ahad, pada hari yang lain dia kuliah, kecuali tanggal merah atau kelasnya daring yang terkadang-kadang.
Sejak sekolah SMP, Kulsum sudah terbiasa membantu ayahnya mengajari anak-anak mengaji di Masjid Al-Fatah. Jadi dia sudah akrab dengan karakter anak-anak dan menjadi pengajar yang lebih handal dibandingkan Rudi sendiri.
Jika Kulsum absen dari membantu mengajar, maka Kamsiah yang akan mengajar murid-murid perempuan. Kamsiah sendiri dulu adalah guru ngaji bagi kedua putranya.
Dua dekade lalu, sebagian besar orangtua dalam budaya masyarakat Bugis masih menjadi guru ngaji bagi putra-putrinya sendiri. Akan menjadi aib bagi orangtua jika memiliki anak-anak yang buta aksara Arab. Jadi, meskipun dulu Rudi adalah anak yang jauh dari agama, tetapi dia tetap memiliki modal bisa mengaji, sama dengan Vina. Dia pandai mengaji Al-Quran.
Setiap sore, kecuali hari Jumat, rumah itu selalu sarat oleh anak-anak, sampai-sampai anak duduk hingga ke pintu ruang tengah karena memang ruangan dan teras luasnya terbatas untuk puluhan anak.
Sebenarnya, Ustaz Barzanji sudah menyarankan agar menggunakan masjid yang lebih lapang, tetapi Rudi menolak, dengan alasan dia ingin rumahnya bercahaya oleh bacaan Al-Quran.
Di lihat dari luar, Rudi dan Kulsum memang terlihat serasi sebagai pasangan pengajar Al-Quran. Jadi tidak heran jika masyarakat pun sudah menjodoh-jodohkan keduanya sebagai pasangan yang serasi.
Di halaman, ada empat ibu yang menunggu anak-anaknya.
__ADS_1
Alexa memarkir motornya. Dia tampil cantik dengan jilbab kuning, baju putih dan rok panjang kuning pula. Secantik telur rebus dibelah hangat-hangat.
“Ayo, Sayang Flexy. Aduuuh, sudah terlambat!” ucap Alexa setengah panik sambil meraih tangan putrinya yang berwajah seperti boneka dengan model hidung mancung. Rupanya sang ibu mewarisi model hidung putrinya.
Alexa berlari kecil sambil menarik tangan putrinya yang juga mengenakan baju Muslimah warna kuning dengan garis pemanis warna putih. Candaria Flexy ikut berlari lebih semangat dengan wajah agak tegang. Maklum, pikirnya bahwa dia akan mendapat hukuman dari Pak Ustaz Rudi.
Alexa berlari sambil tersenyum kepada empat emak-emak yang duduk sambil berbincang di kursi plastik. Mereka pun tersenyum kepada wanita yang mereka kenal sebagai janda kembang kaya tanpa raya.
“Assalamu ‘alaikuuum!” salam Alexa sebelum menaiki tangga teras.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Rudi, Kulsum dan anak-anak bersamaan.
Alexa mengajak putrinya buru-buru naik ke teras.
“Ayo cepat salim sama Ustaz!” suruh Alexa sambil mengulurkan tangannya kepada Rudi agar anaknya menyalim tangan Rudi.
Sambil tersenyum Rudi pun mengulurkan tangannya kepada tangan Flexy yang dipegang oleh ibunya.
Namun, Rudi Handrak terkejut, karena yang menyalim tangannya justru Alexa. Rudi sendiri sudah terlambat untuk menghindarkan tangannya. Untung hanya disalim ke jidat, bukan ke bibir Alexa. Sampai-sampai Flexy juga heran karena tangannya dilepas.
“Ayo salim, Nak!” suruh Alexa setelah melepas tangan Rudi yang tidak sempat menolak atau memang tidak menolak.
Alexa hanya tersenyum malu sambil memandang Rudi. Putrinya pun menyalim tangan Rudi.
“Yuk sana, salim sama Ummi!” suruh Alexa sambil menuntun putrinya beralih masuk ke dalam untuk menemui Kulsum.
“Sini, Sayang!” panggil Kulsum dengan senyum manisnya yang indah, seindah pohon surga.
Tidak seperti ketika salim kepada Rudi, kali ini Alexa melepas Flexy datang kepada Kulsum. Setelah itu, Alexa keluar dan pergi menunggu di kursi plastik bersama emak-emak yang lain.
“Alexa, memangnya boleh salim sama Ustaz?” tanya Bu Dina yang jauh lebih tua dari Alexa.
“Oh, memangnya tidak boleh ya, Bu?” tanya Alexa dengan mimik terkesiap. Entah, apakah memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.
“Ya enggak dong, kan bukan muhrim,” tandas Bu Dina.
“Oooh,” desah Alexa sambil mengangguk.
Sementara tiga ibu lainnya hanya menyimak. Memang tadi mereka melihat Alexa menyalim tangan Rudi. Namun, mereka pun melihat bahwa Rudi terkejut dengan tindakan Alexa yang terbilang tidak terduga. Karena itu, mereka hanya curiga bahwa Alexa sengaja. Terlebih selama ini sudah beredar gosip bahwa Alexa mengincar Rudi selaku “berondong bergizi”.
__ADS_1
Kegiatan mengaji pun terus berjalan dan ibu-ibu pun saling berbincang.
Sekitar setengah jam kemudian, dari luar halaman muncul Junita yang berjalan cepat masuk ke halaman rumah. Wajahnya menunjukkan ketegangan, memberi pesan tersirat bahwa tengah terjadi sesuatu yang mungkin gawat.
Kedatangan janda muda itu jelas menarik perhatian kelima emak-emak yang menunggu.
“Kenapa, Jun?” tanya Bu Dina lebih dulu. Dia sangat penasaran.
“Mau ketemu Rudi, Bu,” jawab Junita, jawaban yang bukan diharapkan Bu Dina.
Junita berhenti di tangga teras.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Junita sambil memandang kepada Rudi.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Rudi yang sedang duduk berhadapan dengan dua murid lelakinya yang sedang mengaji.
“Di, sini!” panggil Junita sambil melambaikan tangan. Dia tidak mungkin naik ke tengah anak-anak dengan tampilan biasa.
“Sebentar ya, Nak,” kata Rudi kepada kedua murid di depannya.
Rudi lalu bangkit dan mendatangi Junita. Kulsum hanya memandangi sebentar, lalu melanjutkan memerhatikan bacaan muridnya.
Setelah Rudi mendekat, Junita justru mengajaknya ke halaman, agak menjauh dari teras. Sepertinya dia tidak ingin pembicaraan yang akan ia sampaikan didengar oleh anak-anak dan emak-emak.
“Ada apa?” tanya Rudi akhirnya. Pelan.
“Kamu harus tolong Vina di rumahnya, Di. Mantan cowoknya datang dari Jakarta mau melamar Vina,” ujar Junita berbisik.
Terdiam Rudi mendengar berita itu. Sebenarnya dia terkejut di dalam hati. Akalnya langsung mencerna dan berpikir cepat.
“Tidak bisa begitu, Jun. Mana mungkin saya mencampuri urusan pinangan orang lain? Saya belum menjadi siapa-siapanya Vina. Mungkin memang orang itu jodohnya,” kata Rudi pelan tapi dengan ekspresi wajah yang serius.
“Tapi Vina sudah putus dengan cowok Jakarta itu,” kata Junita penuh harap kepada Rudi.
“Vina ada bapaknya, Jun. Maaf, saya enggak mau ikut campur,” ucap Rudi yang sebenarnya memendam rasa sakit di hatinya. Entah bagian mana yang membuatnya tersakiti. Lalu katanya lagi, “Maaf, saya harus mengajar.”
Rudi tidak menunggu balasan kata lagi. Dia segera berbalik dan kembali ke teras.
Junita hanya merengut kesal sambil memandangi Rudi yang sudah tidak memandang lagi kepadanya. Akhirnya dia memilih pergi. Dia tidak mengindahkan tatapan Alexa dan ibu-ibu yang lainnya. (RH)
__ADS_1