
Saat di rumah Laras yang lama...
Ana dibawa juga oleh Laras ke sana, tapi dia harus tidur di kamar pembantu pelayan mereka. Di saat Herman tiada Ana menjadi pelayan di rumah Laras untuk melayani Aldi anaknya.
Ana sedikit demi sedikit dapat melihat masa depan Laras di rumah itu. Dia melihat seorang pria akan menuntut pembalasan terhadap diri Laras karena dikecewakan. namun Ana tidak tahu siapa pria itu dan wajahnya juga tidak begitu nyata tanpa di dalam pikirannya.
Ternyata di saat Herman tidak ada di rumah, Haris menelpon Laras dan meminta dirinya untuk datang ke apartemen di tempat biasa dia menginap. Laras pun menyambut hangat permintaan hari tersebut, Laras juga ingin menyampaikan sesuatu kepada Haris.
Setelah sampai di apartemen Harris Ana mengetuk pintu apartemen tersebut, harus pun membuka pintu dan menyambut Laras saat itu.
"Hai sayang sudah datang rupanya?" Haris berkata.
Laras langsung masuk ke dalam apartemen Haris tanpa ragu-ragu, harus pun langsung menutup pintu apartemen itu. Sekarang hanya ada mereka berdua saja di dalam apartemen itu seperti biasanya.
"Iya mas aku sudah datang, dan ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu hari ini juga." Laras sedikit gugup namun harus tetap dikatakannya.
"Mengapa terlalu terburu-buru, masih banyak waktu yang bisa kita lakukan, dan masih banyak waktu untuk kita berbicara."
"Apa kau tidak merindukanku? Kalau aku sangat merindukanmu." ujar Haris sambil menggoda leher Laras yang jenjang dengan bibirnya.
Namun Laras menepis dan sedikit menjauh dari hadapan Haris. Kekasihnya itu sedikit heran dengan Laras, sikapnya berubah saat ini kepadanya. Namun Haris mencoba untuk tidak memperdulikan sikap Laras, dia terus menggoda Laras dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
"Mas ada yang ingin ku ucapkan sekarang. Aku sudah menikah dengan pria lain, tetapi aku tidak mencintainya."
"Ini kulakukan karena terpaksa, dan aku hanya menginginkan seluruh aset yang dimilikinya." ucap Laras kepada Haris yang terkejut mendengar berita itu.
"Apa maksudmu Laras? Kau sedang bercanda kan? Aku sangat terkejut dengan candaanmu." Haris seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan Laras.
"Aku berkata yang sebenarnya mas. tapi aku tidak pernah menghianati cinta kita berdua, aku hanya ingin balas dendam dan memiliki asetnya saja."
"Tidak ada maksud lebih dari itu bahkan hatiku sampai sekarang masih milikmu."ucap Laras untuk meyakinkan perasaan Haris kepadanya.
__ADS_1
Haris terdiam dan tidak menyangka, bahwa semua yang dikatakan oleh Laras itu benar adanya. Namun Haris tidak bisa marah kepada Laras karena dia amat sangat mencintai wanita itu.
Selama 8 tahun mereka sudah bersama dan Haris tak ingin putus begitu saja.
"Apa benar dengan yang kau katakan sayang? Bahwa kau tidak mencintainya hanya aku yang ada di dalam hatimu?!" harus bertanya kepada Laras dengan sedikit emosi.
"Ya aku benar. Jadi tolong jangan kau berfikir yang macam-macam tentang diriku."
"Setelah aku dapat mengambil semua aset dan harta kekayaannya, aku akan meninggalkan dia dan kita akan menikah."
"Bersabarlah sebentar mas aku pasti akan bersamamu, tunggu aku satu tahun ini lagi." kata Laras dengan lembut sambil menggoda harus agar Haris percaya kepada dirinya.
"Baiklah kalau memang begitu, aku sangat mencintaimu."
"Tolong jangan berdusta karena aku sudah lama menunggu dirimu, untuk bisa bersama." Haris berkata kepada Laras.
Lalu Haris dan Laras pun mulai menggoda hanyut dalam asmaranya. Laras sampai malam berada di apartemen Haris, karena Herman tidak di rumah, Laras terlalu bebas untuk keluar dan pergi kemanapun yang dia suka bersama Haris kekasihnya.
****
Dia sudah sampai beberapa hari di Sulawesi, melihat lahan yang begitu luas. Herman sudah merancang semua yang akan dibangunnya, Herman merasa impiannya akan memiliki perusahaan sendiri ada di depan mata.
Dia ingin membangun perusahaannya dengan harta dari papanya Winda. Winda yang mengetahui kelakuan Herman, dia mencari cara bagaimana caranya untuk mengatasi Herman. Agar tidak menjual aset-aset dari papanya, Herman sangat licik. Dia memberi perhatian kepada Ana agar bisa mendapat warisan dari Ana.
Herman dan temannya berada di sebuah cafe, lalu tiba-tiba datang seorang wanita cantik yang menyapa mereka berdua.
"Hai mas Roy...?!"
"Siapa lelaki yang berada di sampingmu itu dia sangat tampan."ucap wanita itu dengan genitnya memainkan matanya.
"Kau ini, kalau lihat lelaki tampan saja sudah begitu. Dia ini temanku kenali dong..," ucap Roy memperkenalkan Herman kepada wanita yang baru saja datang.
__ADS_1
"Sita!"
"Namaku Sita."
"Nama kamu siapa mas?" Sita memperkenalkan dirinya dengan sangat menggoda.
"Aku Herman temannya Roy." Herman sangat senang dan menyukai sita.
Sita dan Herman menjadi akrab, sita duduk bersama mereka menyantap makan siangnya juga. Tiba-tiba Roy mendapat telepon dari bosnya dan sekarang dia pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Kalian berdua makanlah dulu, aku ada urusan harus pergi."
Lain kali nanti kita akan makan bersama kembali."ucap Roy lalu pergi meninggalkan mereka.
Herman sangat antusias melihat Sita yang begitu cantik di matanya. Dan dia mencoba untuk mendekatkan diri menjerat Sita agar menjadi kekasihnya. Sita sudah tahu tentang Herman yang sebenarnya dari Roy, bahkan Sita sendiri yang meminta Roy untuk mengenalkan dirinya pada Herman teman bisnisnya itu.
Setelah makan siang Herman mengajak Sita ke penginapannya, padahal mereka baru saja kenal tetapi sudah sangat akrab bahkan terlalu intim. Selama dua Minggu di sana Sita selalu menemani Herman kemanapun dia pergi.
Sampai ketika Laras menelpon Herman pun, Herman tak menjawab telepon itu. Herman tak ingin diganggu oleh Laras dan bahkan dia sama sekali tidak menanyakan anaknya. Herman benar-benar sudah terpikat oleh Sita bahkan dia juga lupa dengan keluarga kecilnya yang ada di rumah menantinya.
****
Sore itu harus menelpon Laras berulang-ulang kali, namun tak satupun dari teleponnya yang Laras angkat atau dijawab. Laras sedang sibuk menelepon Herman, dia sedang bingung mengapa Herman tidak peduli kepadanya. Sudah dari kepergiannya sekalipun Herman tidak pernah meneleponnya, atau mengirimkan pesan bertanya tentang dirinya dan anaknya.
Haris menjadi kesal dan geram karena Laras tidak peduli dengan dirinya akhirnya Haris mencari Laras ke rumahnya malam itu. Haris pernah mengikuti Laras diam-diam saat Laras akan pulang ke rumahnya.
Mulai dari situ Winda mengetahui bahwa Laras memiliki kekasih, lalu Winda ingin mencoba rencana yang telah dipikirkannya beberapa hari ini.
Selain meneror Laras, Winda juga meneror Harris di apartemennya.
malam itu ketika Haris datang ke rumah Laras Winda tersenyum sinis melihat Haris dan Laras yang saling melepas rindu di ruang tamu.
__ADS_1
Saat itu Ana sudah tidur di dalam kamarnya, begitu juga dengan Aldi anak Laras. Bahkan art pun sudah terlelap dalam malam, lampu sudah padam namun Laras dan Haris masih berada di sana. Saat Haris ingin pulang Winda pun naik ke dalam mobil Harris dan ikut bersamanya ke apartemennya.
Winda sangat kesal melihat tingkah mereka berdua, bahkan mengetahui bahwa Laras tidak benar-benar cinta dengan suaminya. Melainkan dia juga ingin merebut harta warisan yang dimiliki Ana melalui Herman suaminya.