Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 37.


__ADS_3

Pucuk dicinta ulam pun tiba...


Tak beberapa lama Anna dan Hesti sudah berada di toko itu lalu Ana tanpa sengaja melihat sebuah mobil tepat di seberangnya berhenti. Di depan jalan itu pengemudinya tidak keluar dari dalam, dia hanya memperhatikan dari seberang gerak-gerik Ana yang berada di toko milik mamanya.


Namun ana masih diem saja dan belum melakukan apapun, Herman pun keluar dari mobilnya dengan kacamata dan juga topi di kepalanya. Dia ingin menutupi dirinya agar tidak ketahuan oleh Ana, padahal Ana sudah mengetahui identitas dia dari sejak mobilnya berhenti di depan toko seberang jalan.


"Akhirnya dia datang juga dan masuk perangkap kita." Ana berkata kepada Hesti dan mereka saling memberi kode satu sama lain.


Saat itu Ana masuk ke dalam dan Herman berpura-pura ke toko milik Anna. Lalu Hesti menghampiri melayani Herman dan merasa tidak mengetahui akan identitas diri Herman. Herman pun berpura-pura menjadi pembeli di tokonya itu sambil mencari informasi mengenai Ana.


Diam-diam Ana dan Hesti sudah memasang sebuah clip on dan alat perekam di tubuh Hesti. Anna yang berada di dalam, dapat mendengar pembicaraan Hesti dan Herman yang berada di luar toko itu.


"Selamat pagi pak... bapak mau beli apa? Di sini kita banyak barang-barang yang kita jual."


"Kebetulan semalam kita libur dan ini hari kita buka kembali, bapak mau beli apa? Bisa saya bantu untuk mencarikan barangnya?" Hesti dengan ramah melayani Herman, agar dia merasa tidak curiga.


Herman pun memulai aksinya dengan perlahan tapi pasti, namun dia tidak merasa curiga dengan kehadiran Hesti yang hanya sendirian di depan toko melayani dirinya.


Lalu Herman pun berpura-pura masuk lebih dalam lagi ke toko tersebut, dia memperhatikan sekeliling toko itu semua tampak tidak ada yang berubah. Dia pun tahu toko itu dirintis oleh Winda mantan istrinya dahulu bersama dengan dirinya.


"Kau karyawan baru ya? Di mana bosmu sekarang?" tanya Herman kepada Hesti.

__ADS_1


"Oh iya pak, saya karyawan baru dan sekarang masih magang di sini. Kebetulan bos kita sedang ada urusan di dalam, jadi saya yang disuruh untuk di depan melayani bapak sebagai pembeli." Hesti menjelaskan dengan sangat lancar, dan juga tanpa ada rasa kaku.


Lalu tiba-tiba Herman mendengar suara Ana yang begitu jelas dari dalam ruangan, yang memang khusus untuk pemilu toko.


"sudahlah, malam ini akan kita kerjakan rumah itu, harus rata dengan tanah. Sepulang aku dari menutup toko, kau juga harus berada di sana."


"Semua sudah kusiapkan dan rencana ini jangan sampai gagal. Aku tidak mau lagi melihat rumah itu." ucap Anna sengaja berbicara dengan suara keras, agar Herman dapat mendengarnya.


Saat itu Ana berpura-pura sedang menelpon seseorang yang merupakan orang suruhan Ana, untuk menghancurkan rumah tua antik milik mamanya tersebut.


Herman yang mendengar langsung terkejut, bahkan dia tak percaya bahwa anak akan melakukan aksinya malam ini juga.


Ana yang mengetahui akan hal itu, segera keluar dari ruangannya menemui Hesti yang berada di luar toko. Anna dan Hesti punya yakin bahwa nanti malam, Herman akan datang ke rumah tua milik Winda mamanya Ana.


"Rencana kita berjalan dengan lancar, Terima kasih bu.. sudah mau bekerjasama denganku hari ini." ujar Ana ke Hesti.


"Kau pasti akan terjebak oleh tindakanmu sendiri." Ana berkata dalam hatinya untuk Herman papanya.


****


Hari pun berganti menjadi senja...

__ADS_1


Dan... Ana serta Hesti sudah menyusun rencana, begitu juga dengan Farel dan Romi yang berada di kantor mereka. Mereka berempat sudah sepakat untuk menyusun rencana dan menjalankannya malam itu juga.


Farel dan Romi tak lupa untuk bersiap menelpon polisi, bila terjadi sesuatu atau Herman mengakui bahwa memang dirinya lah yang membunuh Laras. Namun malam itu, Ana yang duluan akan berada di depan rumah tersebut seorang diri. Baru nanti akan disusul oleh Hesti Farel dan Romi, agar Herman tidak mencurigai bahwa itu semua, adalah rencana dan juga taktik mereka untuk menjebak dirinya.


Sekarang sudah gelap dan tepat pukul 21.30 malam, Hesty Ana dan juga karyawan lainnya segera membereskan toko menyusun semua barang seperti biasanya. Setelah itu.. agar tidak menjadi kecurigaan, Ana menaiki sepeda motornya sendirian, untuk segera ke rumah tua tersebut.


Lalu Romi datang menjemput Hesti yang sedang berdiri di depan toko itu. Di tengah perjalanan ketika Ana sedang asyik mengendarai motornya menuju ke arah rumah tua itu, sebuah mobil mengikutinya dari belakang.


Dari balik kaca spion motornya, Ana dapat memperhatikan dan yakin bahwa mobil itu pastilah milik Herman papanya. Namun dengan rasa tidak mengetahui, Ana segera menancap kan laju jalan motornya. Agar segera cepat sampai ke depan rumah milik Winda mamanya.


Dan tak beberapa lama kemudian, Ana pun sampai di depan rumah besar tua itu. Dia segera memarkirkan motornya, ke pinggir jalan dan tidak langsung masuk ke dalam perkarangan rumah besar itu. Dengan rasa ke pura-puraannya, Ana mengambil ponselnya dan langsung berakting di depan mobil Herman.


Dia kembali berpura-pura menelpon seseorang, lalu berkata bahwa dirinya sudah sampai di depan rumah itu dan menunggu kehadiran mereka di sana. Herman semakin kesal dan Dia mengira bahwa Anna akan benar-benar menghancurkan rumah tua itu dan mengungkap rahasia yang telah disimpannya selama bertahun-tahun.


Herman tidak jauh memarkirkan mobilnya, dan dia dapat mendengar jelas dan melihat tindakan Ana dari dalam mobil tersebut. Dia tidak ingin segera keluar dan menghampiri Ana, dia ingin melihat dan memantau serta memastikan terlebih dahulu dari kejauhan saja. setelah itu datanglah beberapa orang menghampiri anak yang sebenarnya itu adalah sekelompok polisi yang memakai baju biasa untuk menutupi diri mereka.


Polisi-polisi itu menyamar sebagai seorang biasa, membantu rencana serta bekerjasama dengan Farel dan Romi malam ini. Ana pun tidak terkejut dihampiri oleh mereka, karena Farel dan Romi sudah memberitahukan kepada Ana, semua rencana dan jalan cerita yang akan mereka lakukan.


Di saat polisi-polisi itu datang menghampiri Ana, berpura-pura saling membahas tentang penghancuran rumah itu, Herman pun keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Ana secara langsung. Wajah Herman terlihat sangat tidak senang, bahkan dia seperti sudah menahan emosinya dari sejak pagi tadi. Ana yang melihat akan hal itu, sangat senang dan tertawa di dalam hatinya.


Kali ini Herman benar-benar sudah masuk ke dalam permainan mereka, terjebak untuk datang ke rumah tua itu malam ini. Seketika Herman marah-marah di depan Ana dan para polisi itu, menghalau diri Herman dengan menolak dirinya agar tidak mendekati Ana.

__ADS_1


__ADS_2