Rumah Tua Peninggalan Papa

Rumah Tua Peninggalan Papa
Bab 17.


__ADS_3

Saatnya pindah rumah...


Hari ini Romi sedang libur dari kantornya, dia juga sudah minta izin untuk 2 hari kedepannya ingin pindahan rumah. Hesty dan Romi sibuk memilah-milah barangnya, dan memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Hari ini mereka siap untuk pindah ke rumah yang telah mereka bayar.


Tak banyak barang yang mereka bawa, hanya beberapa baju dan juga perlengkapan yang sudah mereka beli selama berada di Jakarta. Hesti sangat senang karena akan pindah ke rumah itu, sepertinya dia sudah cocok dengan rumah itu rumahnya begitu cantik besar dan juga halamannya.


wanita paruh baya itu juga sudah membersihkan rumah dan merapikannya, dia akan menunggu Hesti dan Romi pada siang hari di depan rumah itu. Untuk memberikan kuncinya kepada mereka berdua, dan melihat apakah mereka juga memerlukan sesuatu di sana.


Hesti dan Romi tidak ada rasa curiga atau apapun kepada rumah itu, bahkan kepada wanita paruh baya itu.


Wanita paruh baya itu juga sudah menjelaskan bahwasanya rumah itu bukan miliknya, namun pemiliknya sudah mempercayainya untuk mengurusnya.


"Mas rumah itu bagus ya?!"


"Tapi apa nggak kemurahan?"


"Pemiliknya menawarkan harga segitu ke kita?" tanya Hesti yang begitu penasaran kepada suaminya.


"Ya mas juga nggak tahu?"


"Mungkin pemiliknya itu nggak terlalu mau ambil untung kali, sama rumahnya."


"Karena rumahnya juga sudah terlihat tua, tetapi masih kokoh dan menawan." ujar Romi suaminya Hesti.

__ADS_1


Romi pun terus mengemudikan mobilnya, Hesti pun duduk diam di sampingnya. Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di depan rumah itu. Hesti dengan senang dan tak sabar ingin segera tinggal di rumah itu bersama suaminya.


Terlebih lagi mereka baru saja nikah, dan ingin merasakan bagaimana sepasang suami istri yang baru saja menikah. Hesti dan Romi berencana akan pergi ke luar negeri, untuk berbulan madu. Di saat liburan akhir tahun nanti, mereka ingin menghabiskan waktu bersama berdua saja.


Romi juga ingin sekali mengajak istrinya untuk bisa berlibur, karena semenjak dari pacaran mereka tidak pernah pergi berlibur ke manapun. Agar bisa menabung untuk biaya pernikahan mereka saat itu.


Sekarang mereka mulai menabung lagi, agar bisa pergi berlibur berdua. Untuk menghabiskan waktu dan mendekatkan diri satu sama lainnya, mereka juga ingin cepat memiliki momongan.


Karena usia mereka berdua juga bukan dibilang masih muda lagi, jadi mereka ingin cepat memiliki momongan agar tidak terlambat nantinya.


Hesti dan Romi pun keluar dari mobil, lalu mengambil barang-barang dari bagasi mobil mereka. wanita paruh baya itu sudah menanti di depan rumah tersebut, wajahnya tetap sama selalu datar dan tak ada senyum di wajahnya.


Terkadang Hesti sangat takut melihat wajahnya, apalagi tatapan matanya yang begitu tajam dan ingin menerkam dirinya. Namun Hesti tidak terlalu memikirkan hal itu, dan hanya bersikap biasa saja.


Jadi Hesti dan Romi tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk membeli isian untuk rumah itu.


Semua sudah ada, mulai dari perlengkapan dapur sudah lengkap, kamar bahkan sofa-sofa dan tv-nya juga ada.


Mereka bisa lebih hemat tanpa harus mengeluarkan lagi biaya, wanita itu mengajak Resti dan Romi untuk berkeliling di dalamnya. Melihat semuanya mulai dari kamar, dapur, ruang tamu, ruang TV, bahkan halaman belakang.


Rumah itu bagaikan rumah impian bagi Hesti, Hesti benar-benar sangat suka dan kagum dengan rumah itu.


Dia terlihat senang dan juga tak hentinya tersenyum, Romi juga senang melihat istrinya yang suka dengan rumahnya.

__ADS_1


"Baiklah pak, saya akan pergi sekarang, karena masih ada pekerjaan lagi." ujar wanita paruh baya itu.


"Baiklah Bu, terima kasih sudah membersihkan rumah, dan juga mengantar kami untuk melihat-lihat sekelilingnya." ucap Romi dengan sopan.


"Dan nanti bila perlu apa-apa, telepon saja saya." kuncir wanita itu sambil berjalan pergi dari pintu depan.


Mereka berdua masih takjub dengan rumah itu, dan tidak bertanya di mana alamat wanita paruh baya itu. Hari hampir malam, Hesti dan Romi belum akan malam saat ini. Mereka berinisiatif akan makan di luar saja, karena Hesti belum sempat memasak makan malam.


Hesti dan Romi pun bersiap-siap, mereka mengambil handuk dan pergi untuk mandi. Hesti mandi di kamar mereka, sedangkan Romi mandi di kamar mandi tamu. Setelah keduanya selesai, mereka pun pergi berangkat untuk makan malam, di cafe sekitar pukul 20.00 malam.


Rumah besar itu sedikit masuk ke dalam, butuh waktu 5 menit untuk bisa keluar dan berjumpa dengan jalan raya. Walaupun begitu Hesti dan Romi tidak kecewa, bahkan mengeluh dengan keadaan rumah itu. Dari rumah ke kantor Romi cukup dengan 10 menit saja, jadi Romi bisa menghemat waktu dan tidak terlambat lagi sampai ke kantornya.


Mereka pun makan di luar dan menikmati suasana berdua saja, di cafe kecil namun enak makanannya.


Hesty dan Romi benar-benar menikmati kebersamaan mereka berdua malam itu. Suasana di cafe itu pun begitu romantis, dengan alunan musik yang melo dan syahdu.


Bla...... 🎶 bla..... 🎶 bla....🎶....


Hesti menikmati suasana dan alunan musik melow, sambil menikmati makan malamnya bersama Romi. Setelah selesai makan dari cafe itu, Romi dan Hesti pun pergi kembali dengan mobilnya ke suatu tempat. Karena besok masih cuti, Romi dan Hesti pun berjalan-jalan malam sampai mereka merasa lelah.


Romi membawa Hesti ke sebuah pantai yang tak jauh dari kantornya. Malam itu angin sepoi-sepoi, membelai rambut Hesti yang panjang. Di sana Romi dan Hesti berjalan-jalan di pinggir bibir pantai, sambil berpegangan tangan bagai kekasih yang belum menikah.


Mereka belum pernah melakukan kebersamaan itu, mereka menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Namun mereka sebenarnya sudah saling kenal, ketika mereka di universitas yang sama. Hanya saja mereka tidak akrab dan beda jurusan saat itu, mereka kenal saat pertama kali masuk di universitas tersebut. Berkumpul di ruang aula sesama anak baru, yang ingin belajar di universitas.

__ADS_1


Namun mereka tidak pernah saling menyapa, hanya mengenal begitu saja dan tidak akrab sama sekali. Ternyata mereka berjodoh melalui kedua orang tua, dan sudah digariskan untuk bersama. Walau dijodohkan, mereka sangat senang dan menerima pasangan mereka. Yang paling penting ternyata mereka saling cocok, tentang perasaan cinta dan kasih sayang seiring waktu akan tumbuh di dalam hati mereka masing-masing. Mereka tahu semua akan ada masanya, dan yang paling penting semua itu karena ridho dari orang tua.


__ADS_2